
Seorang laki-laki masuk
ke kamar Anna sambil membawa seikat bunga mawar merah, tampak senyum mengembang
dari bibirnya.
“Hai sayang.”
“Nick, aku sangat
merindukanmu.” Anna langsung memeluk laki-laki itu sungguh hatinya sangat
senang sekarang melihat sosok tunanganya.
]“Aku juga merindukan mu,”
bisik Nicko sambil membalas pelukan tunangannya erat, Nicko juga merindukan
Anna merindukan senyumanya, suaranya dan perhatianya, sungguh Nicko tidak habis
pikir apa yang terjadi padanya jika Anna memutuskan pertunangan ini, Nicko
terlalu mencintai Anna, sangat mencintainya.
Sudah dua Minggu mereka
tidak bertemu, Nicko mememutuskan saat tiba di Jakarta ia akan langsung menemui
Anna, karena hari ini Anna akan keluar dari rumah sakit.
“Ehem...“ tampak suara
seorang wanita di samping mereka “Mulai deh, jadi obat nyamuk ni sekarang. Lucy
Ayo kita bawa barang-barang Anna ke mobil mu” suara Xiang membuat Nicko dan
Anna melepaskan pelukannya lalu tersenyum.
T
iba-tiba Nicko mencium
kilat bibir Anna, sebelum berkata “Maaf Xiang, sini biar aku yang membawa bawa
barang-barang Anna.” Nicko langsung beranjak mengikuti Lucy kemobilnya.
Ciuman itu berdampak
hebat bagi Anna darahnya seakan berhenti mengalir di tubuhnya, bahkan napasnya
terasa sesak ini pertama kali mereka berciuman, walau tidak seperti Julian yang
menciumnya lama, tapi Anna sangat senang ia berharap hubungan ini tetap
terjalin dan mereka akan menikah secepatnya.
Anna sangat mencintai
Nicko sungguh sangat laki-laki itu menerima semua kekuranganya dia tidak pernah
memaksa Anna macam-macam, Nicko sangat menjaga dan menghormati Anna, begitu
juga sebaliknya.
Hubungan mereka
benar-benar hubungan yang tulus bukan berdasarkan napsu belaka, itu yang membuat
mereka
bertahan hingga saat ini.
“Anna kau akan ikut Lucy
atau Nicko?” Xiang bertanya sembaring membantu Anna menuju loby rumah sakit.
“Aku akan ikut Nicko,
kami akan mengikuti Lucy dari belakang.” jawab Anna sambil tersenyum sambil
berusaha menguasai dirinya.
“Baikla aku akan ikut Lucy
kalau begitu, sayang Jesika dan Wil tidak bisa datang hari ini.” Jelas Xiang.
“Tidak apa-apa, Wil
juga harus mengurus suaminya, dan Jesika diakan akan menikah sebentara lagi,
pasti repot sekarang ini.”
***
Dua mobil itu melunjuh
dengan kecepatan sedang menuju komplek perumahan elit tempat kediaman keluaraga
Alexander. Selama dalam perjalan Nicko bercerita tentang pekerjaaannya di Kalimantan,
begitupun Anna ia bercerita tentang kondisinya dan semua kejadian di rumah
sakit, kecuali soal ciuman dengan Julian.
“Sayang, kamu jaga diri
ya, jangan macam-macam di sana,” Nicko berucap.
“Iya, sayang, memang
aku bisa berbuat apa? Lucy tinggal bersama kedua orang tuanya,” jawab Anna
menjelaskan. Lucy telah bercerita tentang keluarganya.
“Tapi ada kakaknya Lucy,”
Nicko khawatir
“Kita sudah bertunangan
Nicko, aku sama sekali tidak berniat selingkuh darimu.” jawab Anna sambil
tersenyum penuh keyakinan.
Anna tahu Nicko cemburu
pada Julian sekarang, dan ia senang akan hal itu, dengan demikian Nicko secara
tidak langsung menunjukan rasa cintanya yang besar pada Anna.
“Aku percaya padamu.”
“Apakah kau cemburuh
Nick?”
“Ya, aku sangat
cemburuh.” Nicko mengengam tangan kanan Anna dengan lembut, membuat Anna seakan
__ADS_1
melayang.
***
Hanya perlu waktu tiga
puluh menit dari rumah sakit, mereka telah berada di halam kediaman keluarga
Alexander, tampak gerbang berwarna hitam setinggi dua meter, gerbang itu
terbuka secara otomatis.
Di hadapan mereka tampak sebuah rumah megah berwarna
putih dengan halaman yang lusa, terdapat air mancur di depannya dan ada kolam
renang yang cukup luas di sampingnya.Mereka segerah di sambut Maria dan Rudy.
“Selamat datang Anna.” Maria
segera memeluk gadis itu yang tampak masih tercengang melihat kemegahan rumah
itu.
“Istanah.” gumam Xiang
membuat Lucy cekikikan mendengarnya.
“Ayo
masuk.” Rudy segera membawa mereka ke ruang tamu.
Di dalam rumah itu
terdapat lampu gantung yang sangat besar semua perabotanya terlihat mahal,
beberapa kristal menghiasi rumah itu.
“Anna Aku akan
menunjukan kamarmu.” Anna dan Xiang mengikuti Lucy begitu juga dengan Nicko
sambil membawah barang-barang Anna.
“Nak Nicko biarkan saja,
Pak Ujang yang akan membawah barang Anna, kalian ke kamar saja.” Rudy langsung
memerintahkan salah satu asisten rumah tangganya untuk membawah barang gadis
itu.
Mereka berempat beranjak
ke lantai dua rumah itu, Lucy langsung membuka pintu kamar yang akan di tempati
Anna. Kamar itu sangat besar dengan warna ungu mudah, tedapat sebuah tempat
tidur berukuran king, sebuah lemari pakaian yang besar, meja hias yang indah
dan terdapat sebuah sopa besar berwarna putih dan tidak lupa sebuah telepisi
dan kulkas berukuran sedang di sana.
“Anna ini kamarmu.”
Anna, Xiang dan Nicko
tampak tercengang, melihat kamar itu, bahkanmereka tidak menyadari saat Lucy
meninggalkan mereka bertiga.
kali lipat kamar kita.” Xiang membuka mulutnya, Anna tampak mengangguk setuju.
“Anna mungkin aku tidak
akan pernah memberikan kamar sebagus ini untukmu,Nicko membuka suaranya dengan
lemah.
“Apa yang kau bicarakan
Nicko,” Anna tampak terkejut mendengarnya.
“Kau tau aku tidak sekaya
mereka.” Jawab Niko
“Nick, aku hanya
tinggal sebentar disini, hanya sampai aku menyelesaikan terapi itu. Kau tahu,
aku tidak pernah mempersoalakan tentang hartamu.” Anna menunduk lemas, ia tidak
pernah menyangkah Nocko akan mengatakan itu padanya
“Aku tahu, karena itu
aku sangat mencintaimu.”
Nick mencium kening
Anna menyelurkan rasa cintanya pada tunaganya itu, sungguh gadis itu sangat
sederhana dan salah satu alasanNicko memilih Anna adalah karena kesederhanaan
yang ia miliki.
“Bisakah kalian
membicarakan itu saat aku tidak ada, maksudku saat kalian berdua saja.” Xiang
membuka mulutnya.
Semua ucapan dan
tindakan yang Anna dan Nicko lakukan membuat Xiang cemburu. Andai saja Delon
ada di sini mungkin Xiang akan melakukan hal yang sama dengan Nicko, mencium
kekasinya dan mengatakan cinta berulang kali hingga Delon menutup telingahnya
karena kesal mendengar semua ucapan Xiang, gadis gitu tersenyum getir
membayangkan itu semua.
“Baiklah Anna sebaiknya
aku kembali ke kantor, sekarang waktu makan siang sudah hampir habis. Ibu
Margaret akan ngamuk nanti.” Xiang berpamitan.
“Benar katamu Xiang,
Aku juga pamit sayang, kamu baik-baik disini ya.”
Nicko dan Xiang
meninggalkan kamar Anna, gadis itu tahu tadi Xiang dan Nicko datang
__ADS_1
menyempatkan diri untuk mengantar Anna di selah jam kantor mereka. Ada sedikit
rasa kehilangan saat Anna menatap punggung Nicko yang menghilang dari balik
pintu kamarnya.
“Aku mencintaimu Nick.”
***
Beberapa orang yang duduk
di meja makan tampak santai. Rudy duduk
bagian kelapa meja, Maria duduk di sebelah kanan dan Lucy di sebelah kiri meja,
Anna duduk di samping Lucy.
Tapi ada yang aneh
kenapa hanya terdapat empat piring, harusnya terdapat satu ping lagi untuk
Julian pikir Anna dalam hati.
“Anna semoga kamu betah
tinggal disini,” Rudy membuka suaranya.
“Ya, terimakasih Pak.”
“Apa, bapak?” jawab
Rudy, membuat Margaret dan Lucy tertawa,
Anna binggung apa dia salah berucap?
“Kamu boleh memanggilku
Om atau Dady” jawab Rudy “Kamu anggap
saja ini rumah sendiri.” tambahnya.
“Ba-baik om.” Jawab
Anna gugup, mungkin benar ia sudah salah berucap tadi.
“Anna aku tidak mau kau
memanggilku ibu atau tante, kau harus memanggilku Mom titik!” Maria membuka
suaranya dengan penuh penekanan.
“Tapi tante,” Anna
masih tampak terkejut.
“Tidak ada tapi, tapian.”
Margaret menegasakan membuat nyali Anna ciut untuk membantah ucapan wanita paru
baya itu.
“Sudah ikuti saja apa
kata mereka.” Lucy menjelaskan.
Anna hanya menggangguk
pelan menuruti apa yang Lucy katakan,walau ia masih sangat bingung mengapa
Maria memaksanya memanggil ia Mom, mungkin karena Maria tidak mau terlihat tua.
Apapun alasanya kini Anna merasa sangat senang, mereka sangat baik padanya
obrolanpun mengalir dengan sendirinya di meja makan itu. Tapi semuanya terdiam
saat tiba-tiba seseorang datang ke ruang makan itu.
“Julian,” Maria
terkejut melihat anak laki-lakinya datang.
“Hai Dad-Mom.” jawab
Julian kemudian duduk di samping ibunya, sehingga membuat Julian tepat berada
di hadapan Anna.
“Tumben kakak datang,” Lucy
ikut terkejut
“Apa aku tidak boleh
datang kesini?” jawab Julian sinis.
“Bukan begitu kak,
masudku-”
“Sudah, sudah, tidak
baik berdebat di meja makan, apa kalian tidak malu dengan Anna.” Rudy menginggatkan,
jika tidak ia sangat yakin kedua anaknya akan berdebat sepanjang malam.
“Sebentar, Mom ambilkan
piring untuk mu.” Maria segera beranjak dari tempat duduknya.
Suasana ruang makan
tampak sunyi sekarang semua fokus dengan makanan masing-masing, terkecuali
Julian yang sekali-kali menatap gadis di hadapannya.
“Aku pulang dulu.” Julian
telah menyelesaikan makannya, laki-laki itu segera pergi.
“Pulang?” guma Anna
pelan namun mampu di dengar Lucy. Tentu saja itu membuat Anna bingung mengapa
Julian mengatakan ia akan pulang sedangkan itu adalah rumanya juga. Selain itu
rumah itu sangat besar kalau hanya di huni empai sampai lima orang, bahkan Anna
bisa memperkirakan jika kalau rumah itu bisa menampung lebih dari dua puluh
orang atau lebih bahkan .
“Iya, kak Julian tidak
tinggal disini, dia tingggal di apartemen.” Lucy menjelaskan, sekarang Anna
mengangguk mengerti sekarang.
***
__ADS_1