Anna & Dream

Anna & Dream
12. Apel With Love


__ADS_3

Seorang laki-laki masuk


ke kamar Anna sambil membawa seikat bunga mawar merah, tampak senyum mengembang


dari bibirnya.


“Hai sayang.”


“Nick, aku sangat


merindukanmu.” Anna langsung memeluk laki-laki itu sungguh hatinya sangat


senang sekarang melihat sosok tunanganya.


]“Aku juga merindukan mu,”


bisik Nicko sambil membalas pelukan tunangannya erat, Nicko juga merindukan


Anna merindukan senyumanya, suaranya dan perhatianya, sungguh Nicko tidak habis


pikir apa yang terjadi padanya jika Anna memutuskan pertunangan ini, Nicko


terlalu mencintai Anna, sangat mencintainya.


Sudah dua Minggu mereka


tidak bertemu, Nicko mememutuskan saat tiba di Jakarta ia akan langsung menemui


Anna, karena hari ini Anna akan keluar dari rumah sakit.


“Ehem...“ tampak suara


seorang wanita di samping mereka “Mulai deh, jadi obat nyamuk ni sekarang. Lucy


Ayo kita bawa barang-barang Anna ke mobil mu” suara Xiang membuat Nicko dan


Anna melepaskan pelukannya lalu tersenyum.


T


iba-tiba Nicko mencium


kilat bibir Anna, sebelum berkata “Maaf Xiang, sini biar aku yang membawa bawa


barang-barang Anna.” Nicko langsung beranjak mengikuti Lucy kemobilnya.


Ciuman itu berdampak


hebat bagi Anna darahnya seakan berhenti mengalir di tubuhnya, bahkan napasnya


terasa sesak ini pertama kali mereka berciuman, walau tidak seperti Julian yang


menciumnya lama, tapi Anna sangat senang ia berharap hubungan ini tetap


terjalin dan mereka akan menikah secepatnya.


Anna sangat mencintai


Nicko sungguh sangat laki-laki itu menerima semua kekuranganya dia tidak pernah


memaksa Anna macam-macam, Nicko sangat menjaga dan menghormati Anna, begitu


juga sebaliknya.


Hubungan mereka


benar-benar hubungan yang tulus bukan berdasarkan napsu belaka, itu yang membuat


mereka


bertahan hingga saat ini.


“Anna kau akan ikut Lucy


atau Nicko?” Xiang bertanya sembaring membantu Anna menuju loby rumah sakit.


“Aku akan ikut Nicko,


kami akan mengikuti Lucy dari belakang.” jawab Anna sambil tersenyum sambil


berusaha menguasai dirinya.


“Baikla aku akan ikut Lucy


kalau begitu, sayang Jesika dan Wil tidak bisa datang hari ini.” Jelas Xiang.


“Tidak apa-apa, Wil


juga harus mengurus suaminya, dan Jesika diakan akan menikah sebentara lagi,


pasti repot sekarang ini.”


***


Dua mobil itu melunjuh


dengan kecepatan sedang menuju komplek perumahan elit tempat kediaman keluaraga


Alexander. Selama dalam perjalan Nicko bercerita tentang pekerjaaannya di Kalimantan,


begitupun Anna ia bercerita tentang kondisinya dan semua kejadian di rumah


sakit, kecuali soal ciuman dengan Julian.


“Sayang, kamu jaga diri


ya, jangan macam-macam di sana,” Nicko berucap.


“Iya, sayang, memang


aku bisa berbuat apa? Lucy tinggal bersama kedua orang tuanya,” jawab Anna


menjelaskan. Lucy telah bercerita tentang keluarganya.


“Tapi ada kakaknya Lucy,”


Nicko khawatir


“Kita sudah bertunangan


Nicko, aku sama sekali tidak berniat selingkuh darimu.” jawab Anna sambil


tersenyum penuh keyakinan.


Anna tahu Nicko cemburu


pada Julian sekarang, dan ia senang akan hal itu, dengan demikian Nicko secara


tidak langsung menunjukan rasa cintanya yang besar pada Anna.


“Aku percaya padamu.”


“Apakah kau cemburuh


Nick?”


“Ya, aku sangat


cemburuh.” Nicko mengengam tangan kanan Anna dengan lembut, membuat Anna seakan

__ADS_1


melayang.


***


Hanya perlu waktu tiga


puluh menit dari rumah sakit, mereka telah berada di halam kediaman keluarga


Alexander, tampak gerbang berwarna hitam setinggi dua meter, gerbang itu


terbuka secara otomatis.


Di hadapan mereka tampak sebuah rumah megah berwarna


putih dengan halaman yang lusa, terdapat air mancur di depannya dan ada kolam


renang yang cukup luas di sampingnya.Mereka segerah di sambut Maria dan Rudy.


“Selamat datang Anna.” Maria


segera memeluk gadis itu yang tampak masih tercengang melihat kemegahan rumah


itu.


“Istanah.” gumam Xiang


membuat Lucy cekikikan mendengarnya.


“Ayo


masuk.” Rudy segera membawa mereka ke ruang tamu.


Di dalam rumah itu


terdapat lampu gantung yang sangat besar semua perabotanya terlihat mahal,


beberapa kristal menghiasi rumah itu.


“Anna Aku akan


menunjukan kamarmu.” Anna dan Xiang mengikuti Lucy begitu juga dengan Nicko


sambil membawah barang-barang Anna.


“Nak Nicko biarkan saja,


Pak Ujang yang akan membawah barang Anna, kalian ke kamar saja.” Rudy langsung


memerintahkan salah satu asisten rumah tangganya untuk membawah barang gadis


itu.


Mereka berempat beranjak


ke lantai dua rumah itu, Lucy langsung membuka pintu kamar yang akan di tempati


Anna. Kamar itu sangat besar dengan warna ungu mudah, tedapat sebuah tempat


tidur berukuran king, sebuah lemari pakaian yang besar, meja hias yang indah


dan terdapat sebuah sopa besar berwarna putih dan tidak lupa sebuah telepisi


dan kulkas berukuran sedang di sana.


“Anna ini kamarmu.”


Anna, Xiang dan Nicko


tampak tercengang, melihat kamar itu, bahkanmereka tidak menyadari saat Lucy


meninggalkan mereka bertiga.


kali lipat kamar kita.” Xiang membuka mulutnya, Anna tampak mengangguk setuju.


“Anna mungkin aku tidak


akan pernah memberikan kamar sebagus ini untukmu,Nicko membuka suaranya dengan


lemah.


“Apa yang kau bicarakan


Nicko,” Anna tampak terkejut mendengarnya.


“Kau tau aku tidak sekaya


mereka.” Jawab Niko


“Nick, aku hanya


tinggal sebentar disini, hanya sampai aku menyelesaikan terapi itu. Kau tahu,


aku tidak pernah mempersoalakan tentang hartamu.” Anna menunduk lemas, ia tidak


pernah menyangkah Nocko akan mengatakan itu padanya


“Aku tahu, karena itu


aku sangat mencintaimu.”


Nick mencium kening


Anna menyelurkan rasa cintanya pada tunaganya itu, sungguh gadis itu sangat


sederhana dan salah satu alasanNicko memilih Anna adalah karena kesederhanaan


yang ia miliki.


“Bisakah kalian


membicarakan itu saat aku tidak ada, maksudku saat kalian berdua saja.” Xiang


membuka mulutnya.


Semua ucapan dan


tindakan yang Anna dan Nicko lakukan membuat Xiang cemburu. Andai saja Delon


ada di sini mungkin Xiang akan melakukan hal yang sama dengan Nicko, mencium


kekasinya dan mengatakan cinta berulang kali hingga Delon menutup telingahnya


karena kesal mendengar semua ucapan Xiang, gadis gitu tersenyum getir


membayangkan itu semua.


“Baiklah Anna sebaiknya


aku kembali ke kantor, sekarang waktu makan siang sudah hampir habis. Ibu


Margaret akan ngamuk nanti.” Xiang berpamitan.


“Benar katamu Xiang,


Aku juga pamit sayang, kamu baik-baik disini ya.”


Nicko dan Xiang


meninggalkan kamar Anna, gadis itu tahu tadi Xiang dan Nicko datang

__ADS_1


menyempatkan diri untuk mengantar Anna di selah jam kantor mereka. Ada sedikit


rasa kehilangan saat Anna menatap punggung Nicko yang menghilang dari balik


pintu kamarnya.


“Aku mencintaimu Nick.”


***


Beberapa orang yang duduk


di meja makan tampak santai.  Rudy duduk


bagian kelapa meja, Maria duduk di sebelah kanan dan Lucy di sebelah kiri meja,


Anna duduk di samping Lucy.


Tapi ada yang aneh


kenapa hanya terdapat empat piring, harusnya terdapat satu ping lagi untuk


Julian pikir Anna dalam hati.


“Anna semoga kamu betah


tinggal disini,” Rudy membuka suaranya.


“Ya, terimakasih Pak.”


“Apa, bapak?” jawab


Rudy,  membuat Margaret dan Lucy tertawa,


Anna binggung apa dia salah berucap?


“Kamu boleh memanggilku


Om atau Dady” jawab Rudy  “Kamu anggap


saja ini rumah sendiri.” tambahnya.


“Ba-baik om.” Jawab


Anna gugup, mungkin benar ia sudah salah berucap tadi.


“Anna aku tidak mau kau


memanggilku ibu atau tante, kau harus memanggilku Mom titik!” Maria membuka


suaranya dengan penuh penekanan.


“Tapi tante,” Anna


masih tampak terkejut.


“Tidak ada tapi, tapian.”


Margaret menegasakan membuat nyali Anna ciut untuk membantah ucapan wanita paru


baya itu.


“Sudah ikuti saja apa


kata mereka.” Lucy menjelaskan.


Anna hanya menggangguk


pelan menuruti apa yang Lucy katakan,walau ia masih sangat bingung mengapa


Maria memaksanya memanggil ia Mom, mungkin karena Maria tidak mau terlihat tua.


Apapun alasanya kini Anna merasa sangat senang, mereka sangat baik padanya


obrolanpun mengalir dengan sendirinya di meja makan itu. Tapi semuanya terdiam


saat tiba-tiba seseorang datang ke ruang makan itu.


“Julian,” Maria


terkejut melihat anak laki-lakinya datang.


“Hai Dad-Mom.” jawab


Julian kemudian duduk di samping ibunya, sehingga membuat Julian tepat berada


di hadapan Anna.


“Tumben kakak datang,” Lucy


ikut terkejut


“Apa aku tidak boleh


datang kesini?” jawab Julian sinis.


“Bukan begitu kak,


masudku-”


“Sudah, sudah, tidak


baik berdebat di meja makan, apa kalian tidak malu dengan Anna.” Rudy menginggatkan,


jika tidak ia sangat yakin kedua anaknya akan berdebat sepanjang malam.


“Sebentar, Mom ambilkan


piring untuk mu.” Maria segera beranjak dari tempat duduknya.


Suasana ruang makan


tampak sunyi sekarang semua fokus dengan makanan masing-masing, terkecuali


Julian yang sekali-kali menatap gadis di hadapannya.


“Aku pulang dulu.” Julian


telah menyelesaikan makannya, laki-laki itu segera pergi.


“Pulang?” guma Anna


pelan namun mampu di dengar Lucy. Tentu saja itu membuat Anna bingung mengapa


Julian mengatakan ia akan pulang sedangkan itu adalah rumanya juga. Selain itu


rumah itu sangat besar kalau hanya di huni empai sampai lima orang, bahkan Anna


bisa memperkirakan jika kalau rumah itu bisa menampung lebih dari dua puluh


orang atau lebih bahkan .


“Iya, kak Julian tidak


tinggal disini, dia tingggal di apartemen.” Lucy menjelaskan, sekarang Anna


mengangguk mengerti sekarang.


***

__ADS_1


__ADS_2