
Julian segera melajukan
mobilnya, ia tampak kesal melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi,
laki-laki itu sedang berusaha mencari pelampiasan atas kekesalan hatinya.
“Gadis itu akan
menikah?” gumam Julian liri, sesaat kemudian ia tertawa, tapi bukan tawa
bahagia, tampak kesedihan terpancar dari tawanya.
****
Seorang wanita datang keruangan, yang bertuliskan CEO.
“Hai Julian,” sapa sang
wanita dengan rama.
“Ada apa?”
“Aku hanya ingin menjengukmu,”
“Apa kau tidak bosan
setiap hari ke sini?” Tanya Julia menyindir, ia benar-benar bosan melihat
wanita ini.
“Tidak, aku tidak akan
pernah bosan denganmu,” jawab sang wanita sambil duduk tepat di kursi di
hadapan meja Julian.
“Pergilah aku sibuk, Melisa.”
jawab Julian, tampak Julian sedang membolak balik berkasanya.
Melisa adalah seorang
wanita yang cantik, tubuhnya proposinal, rambutnya sebahu berwarna hitam,
sehinggan menampakkan leher jenjangnya, ia juga adalah anak dari seorang
direktur perusaan yang berkerjasama dengan perusahaan milik keluarga Alexander.
Mereka
sebenarnya berteman baik sejak kecil, tidak ada rasa lebih yang Julian rasakan
terhadap Melisa, walau ia tahu wanita itu selalu mengejarnya.
“Apa kau tidak bosan
setiap hari mengusirku?” Melisa bertanya, Julian hanya diam, ia sangat bosan
meladenin wanita ini.“Baiklah aku akan pergi, tapi aku tidak akan menyerah.” bisik
Melisa meninggalkan Julian.
Melisa sangat tertarik
pada Julian ia ingin mengenal laki-laki itu lebih dekat, sebelumnya kedua
keluarga mereka menjodohkan mereka berdua tapi Julian menolak karena mereka
berteman sejak kecil.
Saat itu Melisa kesal, tidak ada satu
laki-laki yang bisa menolaknya terkecuali Julian, ia bertekat untuk mendapatkan
hati pria itu.
“Terserah
kau saja.” gumam Julian dalam hati, laki-laki itu bahkan tidak menoleh
sedikitpun pada wanita itu.
Tidak berapa lama
Melisa masuk kembali keruanga Julian,
tampak kepalanya mencul dari balik pintu.
“Besok aku ulang tahun,
aku mengundangmu.” teriak melisa
“Aku tidak akan datang.”
Jawab Julian cepat.
“Aku menunggu mu.” Julian
tidak menjawab ia masih sibuk membaca beberapa laporan di tanganya.
“Julian aku serius!” Melisa
tampak kesal karena merasa tidak diangap oleh Julian, walau itu bukan hal baru
bagi Melisa.
“Apa aku terlihat
bencanda? jika kau tidak pergi sekarang aku akan menelpon scuriti.” balas Julian.
“Kau tidak akan
melakukanya.” jawab Melisa, Julian tidak menjawab ia segerah menekan tombol di
__ADS_1
telpon kantornya.
“Ada seorang pengganggu
di ruanganku, apa kalian hanya memakan gaji buta ha!” teriak Julian dari
telponnya.
Seketika Melisa menelan
ludahnya dengan susah paya, ia segerah berlari meninggalkan ruangan itu, Melisa
bahkan melihat dua orang scuriti sedang berlarih kearah ruangan Julian sesaat sebelum Melisa masuk lift, “Laki-laki itu tidak bercanda
ternyata.” gumam Melisa dalam hati.
***
Laki-laki itu
mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tiada keraguan disana, tampak gadis di sebelahnya memintah untuk
memberhentikan tindakanya.
“Julian, hentikan!” teriak
Anna.
“Kenapa ha? Kau takut
mati?” jawab Julian sisnis
“Tidak, aku tidak tekut
mati, tapi aku takut kau mati, sudah cukup aku melihatmu mati dua kali.” Jawab
Anna tampak gemetar, tanpa ia sadari butiran keristal menetes di pipinya.
Laki-laki itu segerah
memelankan laju mobilnya, perlahan ia menepihkan mobil itu di tepi jalan “Kenapa wanita ini berkata seolah ia telah
mengenalku sangat lama?”
Laki-laki itu
memukul-mukul stir mobilnya, ia tampak berteriak kesal. Anna turun dari mobil
itu, ia segerah melangkahkan kakinya, laki-laki itu segerah menyusul Anna.
“Kau mau kenama?!”
teriak sang laki-laki.
“Aku mau pulang ini
sudah malam.” jawab Anna tampa memperhentikan langkahnya, laki-laki itu segerah
seseorang memeluknya dari belakang dengan erat, Daddya lelaki itu menempel erat
di punggung Anna, ia bisa merasakan detakan jantung laki-laki itu yang tampak
sangat kencang.
“Lepaskan.” bisik Anna
“Aku sangat
merindukanmu,” bisik Julian dengan suara serak.
“Julian Aku mohon
lepaskan.” pintah Anna lirih, seketika laki-laki itu melepaskan pelukannya pada
sang gadis, ia segerah memutar tubuh Anna hingga menghadapnya.
“Bisakah kau tidak
pergi,” pinta sang lelaki
“Aku harus permph-” tiba-tiba
sang lelaki langsung mempelkan bibirnya, ia segerah melumat bibir gadis di
hadapanya, perlahan tangan memegang tungkuk sang wanita sedangkan satu
tangannya lagi, memeluk pingang si gadis dengan erat.
Anna mencobah mendorong
Daddya Julian tapi tidak bisa, Julian memegang tangan itu dengan lembut, ia
menuntun tangan wanita itu untuk melingkar di helernya, sang wanita hanya bisa
mengikuti, seakan terhipnotis dengan tindakan Julian.
Wanita itu membalas
lumatan bibir Julian, ia juga membuka mulutnya, sehingga memberikan akses bebas
untuk menyelusuri mulut Anna dengan lidahnya, gadis itu membiarkan hal itu
terjadi, ini pertama kalinya ia berciuman sangat hebat dengan seorang
laki-laki.
Mereka tampak menikmati
ciuman itu sangat lama, keduanya tidak mau ini semua berakhir, sampai mereka
tersengal-sengal hingga keduanya bersama-sama menarik bibir mereka.
Julian segerah mengelus
__ADS_1
bibir dengan jari jempol tangan kananya,
laki-laki itu tersenyum ia melihat bibir Anna yang tampak meemerah dan bengkak
karena ulahnya.
“Ayo.” laki-laki itu
menarik wanita di hadapanya dengan lembut membawahnya kedalam mobilnya, Anna
hanya menuruti, laki-laki itu melihat muka Anna yang tampak seperti tomat saat
ini mungkin Anna malu.
Di dalam mobil Julian kembali melumat bibir
gadis itu, perlahan tanganya menyelusuri Daddya gadis itu, tangan itu tampak
nakal.
Julian semakin
bersemangat melancarkan aksinya saat suara desahan muncul dari bibir Anna dan
berkali-kali memangil namanya, ciuman itu bukan hanya di bibi tapi telah
beralih menuju rahang dan leher Anna, tangan Julian mulai meremas payudarah
Anna yang tersembunyi di balik bajunya.
“Julian!” Anna menyebut
nama Julian semakin lama semakin jelas suara itu terdengar seperti berteriak,
Julian sempat menyerengitkan alisnya, mengapa Anna berteriak memanggil namanya?
Bahkan Julian mendengar Anna seperti
tertawa?
***
“Julian, bangun kau
harus ke kantor!” tempak seorang wanita sedang memanggilnya dengan nada
berteriak, wanita itu tampak tertawah melihat Julian yang sedang menciumi
gulingnya.
“Ya ampun, Julian dasar mesum cepat bangun!” teriak
gadis itu.
“Anna.” bisik Julian,
ia mencobah membuka matanya perlahan, benar wanita itu berada di sampingnya
tapi bukanya seharusnya mereka sedang di dalam mobil?
Anna tertawa disana sambil berkecak pinggal
ini pengalaman pertamanya membangunkan seorang laki-laki dan laki-laki itu
sepertinya sedang bermimpi mesum, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk
membangunkan sosok Julian.
“Kau harus ke kantor
sekarang, ini sudah jam delapan!” teriak Anna sambil menahan tawanya.
“Apa Jam delapan? tapi
tadi aku di mobil, ah sial!” teriak Julian tampak wajah laki-laki itu memerah
saat tahu kalau itu semua hanya mimpi.
Anna segerah pergi
kemeja makan tanpa menghiraukan teriakan Julian yang seakan mengutuk dirinya sendiri.
“Sudah bangun?” Lucy
bertanya, Anna mengangguk dan mulai menyendok nasi goreng di mejahnya.
“Sukurlah kau berhasil
membangunkanya, sudah satu jam aku berteriak, dia tidur seperti mayat.” Anna
hanya tertawa mendengar ucapan Lucy, ia ingat bagaimana kesalnya Lucy membangunkan
Julian, bahkan suara Lucy sampai ke kamarnya tapi sepertinya Julian tidak
terpengaruh sedikitpun.
Julian
merasakan sesuatu yang hangat di celananya, laki-laki itu memperhatikan sesuatu
yang basah di celananya
“Sial!” Teriak Julian,
ia segerah memasuki kamar mandi, “Bagaimana bisa aku memimpikan melakukan itu
dengan Anna.” Julian tampak mengutuk dirinya, ia malu terhadap Anna yang melihatnya
sedang bermimpih cabul. “Semoga
Anna, tidak tahu kalau aku sedang bermimpi melakukanya dengan dirinya.”gumam Julian dalam hati lalu tertawa mengingat mimpi indahnya tadi.
****
__ADS_1