Anna & Dream

Anna & Dream
19. Apel With Love


__ADS_3

Julian segera melajukan


mobilnya, ia tampak kesal melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi,


laki-laki itu sedang berusaha mencari pelampiasan atas kekesalan hatinya.


“Gadis itu akan


menikah?” gumam Julian liri, sesaat kemudian ia tertawa, tapi bukan tawa


bahagia, tampak kesedihan terpancar dari tawanya.


****


Seorang wanita datang keruangan,  yang bertuliskan CEO.


“Hai Julian,” sapa sang


wanita dengan rama.


“Ada apa?”


“Aku hanya ingin menjengukmu,”


“Apa kau tidak bosan


setiap hari ke sini?” Tanya Julia menyindir, ia benar-benar bosan melihat


wanita ini.


“Tidak, aku tidak akan


pernah bosan denganmu,” jawab sang wanita sambil duduk tepat di kursi di


hadapan meja Julian.


“Pergilah aku sibuk, Melisa.”


jawab Julian, tampak Julian sedang membolak balik berkasanya.


Melisa adalah seorang


wanita yang cantik, tubuhnya proposinal, rambutnya sebahu berwarna hitam,


sehinggan menampakkan leher jenjangnya, ia juga adalah anak dari seorang


direktur perusaan yang berkerjasama dengan perusahaan milik keluarga Alexander.


Mereka


sebenarnya berteman baik sejak kecil, tidak ada rasa lebih yang Julian rasakan


terhadap Melisa, walau ia tahu wanita itu selalu mengejarnya.


“Apa kau tidak bosan


setiap hari mengusirku?” Melisa bertanya, Julian hanya diam, ia sangat bosan


meladenin wanita ini.“Baiklah aku akan pergi, tapi aku tidak akan menyerah.” bisik


Melisa meninggalkan Julian.


Melisa sangat tertarik


pada Julian ia ingin mengenal laki-laki itu lebih dekat, sebelumnya kedua


keluarga mereka menjodohkan mereka berdua tapi Julian menolak karena mereka


berteman sejak kecil.


 Saat itu Melisa kesal, tidak ada satu


laki-laki yang bisa menolaknya terkecuali Julian, ia bertekat untuk mendapatkan


hati pria itu.


“Terserah


kau saja.” gumam Julian dalam hati, laki-laki itu bahkan tidak menoleh


sedikitpun pada wanita itu.


Tidak berapa lama


Melisa masuk kembali keruanga  Julian,


tampak kepalanya mencul dari balik pintu.


“Besok aku ulang tahun,


aku mengundangmu.” teriak melisa


“Aku tidak akan datang.”


Jawab Julian cepat.


“Aku menunggu mu.” Julian


tidak menjawab ia masih sibuk membaca beberapa laporan di tanganya.


“Julian aku serius!” Melisa


tampak kesal karena merasa tidak diangap oleh Julian, walau itu bukan hal baru


bagi Melisa.


“Apa aku terlihat


bencanda? jika kau tidak pergi sekarang aku akan menelpon scuriti.” balas Julian.


“Kau tidak akan


melakukanya.” jawab Melisa, Julian tidak menjawab ia segerah menekan tombol di

__ADS_1


telpon kantornya.


“Ada seorang pengganggu


di ruanganku, apa kalian hanya memakan gaji buta ha!” teriak Julian dari


telponnya.


Seketika Melisa menelan


ludahnya dengan susah paya, ia segerah berlari meninggalkan ruangan itu, Melisa


bahkan melihat dua orang scuriti sedang berlarih kearah ruangan Julian sesaat sebelum Melisa masuk lift, “Laki-laki itu tidak bercanda


ternyata.” gumam Melisa dalam hati.


***


Laki-laki itu


mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tiada keraguan disana,  tampak gadis di sebelahnya memintah untuk


memberhentikan tindakanya.


“Julian, hentikan!” teriak


Anna.


“Kenapa ha? Kau takut


mati?” jawab Julian sisnis


“Tidak, aku tidak tekut


mati, tapi aku takut kau mati, sudah cukup aku melihatmu mati dua kali.” Jawab


Anna tampak gemetar, tanpa ia sadari butiran keristal menetes di pipinya.


Laki-laki itu segerah


memelankan laju mobilnya, perlahan ia menepihkan mobil itu di tepi jalan “Kenapa wanita ini berkata seolah ia telah


mengenalku sangat lama?”


Laki-laki itu


memukul-mukul stir mobilnya, ia tampak berteriak kesal. Anna turun dari mobil


itu, ia segerah melangkahkan kakinya, laki-laki itu segerah menyusul Anna.


“Kau mau kenama?!”


teriak sang laki-laki.


“Aku mau pulang ini


sudah malam.” jawab Anna tampa memperhentikan langkahnya, laki-laki itu segerah


seseorang memeluknya dari belakang dengan erat, Daddya lelaki itu menempel erat


di punggung Anna, ia bisa merasakan detakan jantung laki-laki itu yang tampak


sangat kencang.


“Lepaskan.” bisik Anna


“Aku sangat


merindukanmu,” bisik Julian dengan suara serak.


“Julian Aku mohon


lepaskan.” pintah Anna lirih, seketika laki-laki itu melepaskan pelukannya pada


sang gadis, ia segerah memutar tubuh Anna hingga menghadapnya.


“Bisakah kau tidak


pergi,” pinta sang lelaki


“Aku harus permph-” tiba-tiba


sang lelaki langsung mempelkan bibirnya, ia segerah melumat bibir gadis di


hadapanya, perlahan tangan memegang tungkuk sang wanita sedangkan satu


tangannya lagi, memeluk pingang si gadis dengan erat.


Anna mencobah mendorong


Daddya Julian tapi tidak bisa, Julian memegang tangan itu dengan lembut, ia


menuntun tangan wanita itu untuk melingkar di helernya, sang wanita hanya bisa


mengikuti, seakan terhipnotis dengan tindakan Julian.


Wanita itu membalas


lumatan bibir Julian, ia juga membuka mulutnya, sehingga memberikan akses bebas


untuk menyelusuri mulut Anna dengan lidahnya, gadis itu membiarkan hal itu


terjadi, ini pertama kalinya ia berciuman sangat hebat dengan seorang


laki-laki.


Mereka tampak menikmati


ciuman itu sangat lama, keduanya tidak mau ini semua berakhir, sampai mereka


tersengal-sengal hingga keduanya bersama-sama menarik bibir mereka.


Julian segerah mengelus

__ADS_1


bibir  dengan jari jempol tangan kananya,


laki-laki itu tersenyum ia melihat bibir Anna yang tampak meemerah dan bengkak


karena ulahnya.


“Ayo.” laki-laki itu


menarik wanita di hadapanya dengan lembut membawahnya kedalam mobilnya, Anna


hanya menuruti, laki-laki itu melihat muka Anna yang tampak seperti tomat saat


ini mungkin  Anna malu.


 Di dalam mobil Julian kembali melumat bibir


gadis itu, perlahan tanganya menyelusuri Daddya gadis itu, tangan itu tampak


nakal.


Julian semakin


bersemangat melancarkan aksinya saat suara desahan muncul dari bibir Anna dan


berkali-kali memangil namanya, ciuman itu bukan hanya di bibi tapi telah


beralih menuju rahang dan leher Anna, tangan Julian mulai meremas payudarah


Anna yang tersembunyi di balik bajunya.


“Julian!” Anna menyebut


nama Julian semakin lama semakin jelas suara itu terdengar seperti berteriak,


Julian sempat menyerengitkan alisnya, mengapa Anna berteriak memanggil namanya?


Bahkan Julian mendengar Anna  seperti


tertawa?


***


“Julian, bangun kau


harus ke kantor!” tempak seorang wanita sedang memanggilnya dengan nada


berteriak, wanita itu tampak tertawah melihat Julian yang sedang menciumi


gulingnya.


“Ya ampun,  Julian dasar mesum cepat bangun!” teriak


gadis itu.


“Anna.” bisik Julian,


ia mencobah membuka matanya perlahan, benar wanita itu berada di sampingnya


tapi bukanya seharusnya mereka sedang di dalam mobil?


 Anna tertawa disana sambil berkecak pinggal


ini pengalaman pertamanya membangunkan seorang laki-laki dan laki-laki itu


sepertinya sedang bermimpi mesum, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk


membangunkan sosok Julian.


“Kau harus ke kantor


sekarang, ini sudah jam delapan!” teriak Anna sambil menahan tawanya.


“Apa Jam delapan? tapi


tadi aku di mobil, ah sial!” teriak Julian tampak wajah laki-laki itu memerah


saat tahu kalau itu semua hanya mimpi.


Anna segerah pergi


kemeja makan tanpa menghiraukan teriakan Julian yang seakan mengutuk dirinya sendiri.


“Sudah bangun?” Lucy


bertanya, Anna mengangguk dan mulai menyendok nasi goreng di mejahnya.


“Sukurlah kau berhasil


membangunkanya, sudah satu jam aku berteriak, dia tidur seperti mayat.” Anna


hanya tertawa mendengar ucapan Lucy, ia ingat bagaimana kesalnya Lucy membangunkan


Julian, bahkan suara Lucy sampai ke kamarnya tapi sepertinya Julian tidak


terpengaruh sedikitpun.


Julian


merasakan sesuatu yang hangat di celananya, laki-laki itu memperhatikan sesuatu


yang basah di celananya


“Sial!” Teriak Julian,


ia segerah memasuki kamar mandi, “Bagaimana bisa aku memimpikan melakukan itu


dengan Anna.” Julian tampak mengutuk dirinya, ia malu terhadap Anna yang melihatnya


sedang bermimpih cabul. “Semoga


Anna, tidak tahu kalau aku sedang bermimpi melakukanya dengan dirinya.”gumam Julian dalam hati lalu tertawa mengingat mimpi indahnya tadi.


****

__ADS_1


__ADS_2