
Semua orang berkumpul
di meja makan untuk sarapan, di sana sudah tersediah sebuah kue ulang tahun
yang besar dan tampak lilin berbentuk angkah dua dan tujuh berdiri di sana.
“Ayo kak tiup lilinya.”
Lucy tampak bersemangat.
“Jangan lupa berdo’a.”
Maria menambahkan, sesaat kemudia Julian memejamkan matanya, kemudian
membukanya kembali ia meniup lilin itu, tampak semua orang tersenyum dan
bertepuk tangan.
“Apa yang kau minta?”
Rudy bertanya, ia akan mengabulkan semua permintaan anaknya.
“Aku hanya ingin gadis
yang aku cintai bahagia.” jawab Julian datar sambil metap Anna dalam, semua
orang yang ada di sana terdiam mereka semua tahu Julian sangat mencintai Anna,
sedangkan Anna hanya menunduk mendengar ucapan itu, entah mengapa hatinya juga terasa
sakit saat ini.
“Ayo potong kuenya.”
Maria memecah kesunyian.
****
Nicko membawa
tunanganya ke sebuah toko perhiasana di
salah satu Mall ternama di Jakarta, hari ini mereka akan memilih cincin yang
akan mereka gunakan untuk pernikahan mereka dua bulan lagi.
Beberapa kali mereka
mencoba cincin yang ada di sana sampai akhirnya pilihan jatuh pada sepasang
cincing yang terbuat dari mas putih yang bertahtakan berlian kecil di
tengahnya, cukup indah dan sederhana, tapi Anna harus kecewa karena ukuranya terlalu
besar untuk melingkar di jari manis nya.
Nicko akhirnya
memutuskan untuk memesan cincin yang sama tapi dengan ukuran yang sesuai dengan
jari manis Anna perlu waktu sebulan menunggu hingga pesanan mereka jadi.
Nicko memeluk pinggang
tunanganya dengan erat saat keluar dari tokoh tersebut, semua orang bisa
melihat kalau mereka saling mencintai satu sama lain. Anna memberhentikan
langkahnya saat melihat sosok laki-laki yang berdiri di hadapan mereka menatap
mereka dengan dalam tanpa mengatakan apapun.
“Hai Julian,” Sapa
Nicko sambil menjabat tangan laki-laki itu.
“Hai Nicko, Anna.”Julian
kemudian menyalami mereka satu persatu.
Julian ingin sekali
menarik gadis itu membawanya ke dalam pelukannya dan memberi pelajaran pada
orang yang menyentuh Anna, tapi niat itu ia urungkan karena ia tahu Anna tidak
mencintainya walau Julian sangat mencintai gadis itu hingga membuatnya tersiksa
selama sebulan ini sejak kepergian wanita itu dari kediaman Alexander.
Anna bisa melihat
tatapan terluka yang di rasakan Julian saat melihanya dengan Nicko, sedangkan
Nicko laki-laki itu sepertinya sengaja membuat Julian kesal dengan cara terus
menciumi pipi Anna membaut gadis itu tidak merasa nyaman.
Julian memutuskan untuk
pergi setelah pertemuan singkat itu, tapi ada yang aneh dengan Anna hatinya
terasa sakit saat melihat mata itu, mata yang selalu menatapanya tajam sekarang
terluka dan punggung itu menjauh darinya, sungguh Anna ingin Julian tidak pergi
__ADS_1
meninggalkannya, Anna merasa bahwa laki-laki itu seakan ingin meninggalkannya
selamanya. Anna selalu merasa nyama bersama Julian tapi ia sudah memiliki Nicko
sebagai tunanganya dan mereka saling mencintai.
Sunggu perasaan ini
aneh, mengapa Julian harus datang saat Anna telah bertunangan dan mengapa
Julian mengatakan cinta padanya sedang laki-laki itu tahu Anna sudah terikat
pada orang lain, perasaan ini menyiksa Anna seperti ada ribuan jarum menusuk
hatinya.
****
“Kak kalungnya mana?”
tanya Lucy tiba-tiba sudah berada diapartemen Julian.
“Belum jadi.” Jawab
Julian malas, lalu kembali kekamar tidurnya tampa menghiraukan ucapan Lucy
bahwa pegawai tokoh tersebut telah menelponya dan mengatakan pesananya sudah
jadi.
Bagaimana Juliana tahu
kalung tersebut sudah jadi atau belum ia bahkan belum sempat masuk ke tokoh itu
ketika melihat pasangan itu bahagia sambil memilih cincin pernikahan mereka.
Julian merasakan sakit
yang teramat di hatinya dan jantungnya seakan terhenti melihat itu semua, ia
selalu berdo’a agar bisa melihat Anna lagi tapi tidak saat gadis itu dalam
pelukan laki-laki lain.
Semua orang akan
mengatakan Julian bodoh karena mencintai wanita yang sudah bertunangan dan akan
menikah, tapi laki-laki itu tidak bisa membohongi hatinya, semakin ia berusaha
melupakan wajah itu, senyum itu, suara itu dan punggung itu dan ciuman itu
semakin membuatnya tersiksa.
****
pindah dari kediaman Alexander, Julian masih tampak sibuk dengan tugasnya,
sikapnya masih sama bahkan bertambah parah setahun belakangan ini.
“Hai, tampan.” Goda
seorang wanita
“Apa yang kau inginkan?”
Julian menjawab cepat tanpa mengalikan matanya dari laptopnya.
“Ini,” wanita itu
menyodorkan amplok berwarna coklat, Julian membukanya dengan malas.
“Perusahaanmu?” Julian
bertanya wanita itu mengangguk.
“Aku ingin kau membeli
saham perusahaanku di cabang Sumatra,” wanita itu tersenyum.
“Aku tidak tertarik
dengan perusahaan yang hampir bangkrut.” Julian melempar map itu dengan kasar
“Kau akan tertarik,
jika tau siapa yang berkerja di sana.”
Melisa dengan segera
membuka lembar terakhir lalu menyodorkannya pada Julian.
“Berliana,“ gumam
Julian sambil tersenyum ia sangat merinduka wanita itu, wanita yang menolaknya
dan memilih laki-laki lain.
“Bagaimana kau mau
tertarik?” Melisa tampak tersenyum.
“Tidak, sekalipun yang
berkerja disana Anna, aku sudah tidak peduli.” Julian kembali menatap
__ADS_1
laptopnya, sudah setahun ia terus berusaha mencobah melupakan gadis itu tapi
gagal, walau hatinya sangat sakit saat ini ia selalu berpikir positif untuk Anna setidaknya pasti wanita itu sudah bahagia saat ini.
Membayangkan Anna hidup
bahagia dengan orang lain membuatnya merasa semakin sakit tapi Julian memilih
tetap bertahan di sini, menyibukan diri dengan pekerjaanya, hingga waktu
membantunya melupakan sosok Anna.
“Tidak peduli? kau
bahkan tidak bisa fokus dalam pekerjaanmu, kau menyebabkan banyak kerugian,
melewatkan beberapa tender besar, hanya karena gadis itu menolakmu.” Melisa
tertawa mengejek Julian, jelas Melisa tahu itu semua, ia tidak menyangkah
laki-laki seperti Julian bisa takluk pada Anna hanya karena cinta.
“Pergi dari ruanganku.”
Julian membuka suaranya dengan suara yang sangat dingin bahkan Melisa merasa
merinding mendengarnya, tapi itu tidak menurunkan niatnya supaya tidak rugi dalam
bisnis.
“Dasar pria bodoh,
untung aku sekarang sudah punya Sony, aku menyesal pernah suka padamu.” Melisa
mulai mengejek Julian yang memasang wajah datar seakan tidak terpengaruh pada
semua ucapan Melisa.
“Baca baik-baik ini,
data ini selalu di perbaharui setiap tiga bulan, dan ini baru di isi minggu
lalu.” Melisa melemparkan CV Anna.
“Belum menikah?” gumam
Julian yang tampak binggung, ‘Bukakah
waktu itu Anna mengatakan Nicko sudah melamarnya, tapi mengapa mereka belum
menikah?
“Tunanganya menikah
dengan wanita lain, bodoh!” teriak Melisa bahkan ia hampir tertawa melihat raut
wajah Julian yang terlihat sangat bingung “Jadi kau mau membeli sahamku? jika
kau membeli sahamku kupastikan kau bisa membalas demdam pada gadis itu,” Melisa
tersenyum lebar, ‘Maafkan aku Berliana
aku terpaksa melakukannya demi perusahaanku, laki-laki ini harus di beri
sedikit pelajaran.’
“Ceritakan?” Julian
menatap Melisa dengan pandangan menusuk membuat Melisa sedikit mundur, tapi dengan cepat ia menguasai diri.
“Tanda tangan dulu?”
Melisa menantang, “Di sini, di sini dan disini.” wanita itu nunjuk setiap lembar
halaman yang telah tertempel matrai di sana, ya sekarang Julian telah membeli
sahan di perusahann Melisa.
“Nicko tidak jadi
menikahi Anna karena ia menghamili Margaret, tepat dua bulan sebelum mereka
menikah itu berati delapan bulan lalu, dan Anna kembali ke Sumatra setelah kejadian
itu.” Melisa menjelaskan apa yang ia tahu.
“Sejak kapan kau tahu?”
Julian menyelidik
“Sebulan setelah kejadian
itu.” Melisa menjawab acu itu bearti ia sudah tahu sejak sembilan bulan yang
lalu.
“Kenapa tidak
memberitahuku?” Julian tampak kesal.
“Kau harus merasakan
bagaimana rasanya di tolak.” Melisa mengejek sambil membawah surat
perjanjiannya.
__ADS_1
****