Anna & Dream

Anna & Dream
22. Apel Wiht Love


__ADS_3

Semua orang berkumpul


di meja makan untuk sarapan, di sana sudah tersediah sebuah kue ulang tahun


yang besar dan tampak lilin berbentuk angkah dua dan tujuh berdiri di sana.


“Ayo kak tiup lilinya.”


Lucy tampak bersemangat.


“Jangan lupa berdo’a.”


Maria menambahkan, sesaat kemudia Julian memejamkan matanya, kemudian


membukanya kembali ia meniup lilin itu, tampak semua orang tersenyum dan


bertepuk tangan.


“Apa yang kau minta?”


Rudy bertanya, ia akan mengabulkan semua permintaan anaknya.


“Aku hanya ingin gadis


yang aku cintai bahagia.” jawab Julian datar sambil metap Anna dalam, semua


orang yang ada di sana terdiam mereka semua tahu Julian sangat mencintai Anna,


sedangkan Anna hanya menunduk mendengar ucapan itu, entah mengapa hatinya juga terasa


sakit saat ini.


“Ayo potong kuenya.”


Maria memecah kesunyian.


****


Nicko membawa


tunanganya ke sebuah toko perhiasana  di


salah satu Mall ternama di Jakarta, hari ini mereka akan memilih cincin yang


akan mereka gunakan untuk pernikahan mereka dua bulan lagi.


Beberapa kali mereka


mencoba cincin yang ada di sana sampai akhirnya pilihan jatuh pada sepasang


cincing yang terbuat dari mas putih yang bertahtakan berlian kecil di


tengahnya, cukup indah dan sederhana, tapi Anna harus kecewa karena ukuranya terlalu


besar untuk melingkar di jari manis nya.


Nicko akhirnya


memutuskan untuk memesan cincin yang sama tapi dengan ukuran yang sesuai dengan


jari manis Anna perlu waktu sebulan menunggu hingga pesanan mereka jadi.


Nicko memeluk pinggang


tunanganya dengan erat saat keluar dari tokoh tersebut, semua orang bisa


melihat kalau mereka saling mencintai satu sama lain. Anna memberhentikan


langkahnya saat melihat sosok laki-laki yang berdiri di hadapan mereka menatap


mereka dengan dalam tanpa mengatakan apapun.


“Hai Julian,” Sapa


Nicko sambil menjabat tangan laki-laki itu.


“Hai Nicko, Anna.”Julian


kemudian menyalami mereka satu persatu.


Julian ingin sekali


menarik gadis itu membawanya ke dalam pelukannya dan memberi pelajaran pada


orang yang menyentuh Anna, tapi niat itu ia urungkan karena ia tahu Anna tidak


mencintainya walau Julian sangat mencintai gadis itu hingga membuatnya tersiksa


selama sebulan ini sejak kepergian wanita itu dari kediaman Alexander.


Anna bisa melihat


tatapan terluka yang di rasakan Julian saat melihanya dengan Nicko, sedangkan


Nicko laki-laki itu sepertinya sengaja membuat Julian kesal dengan cara terus


menciumi pipi Anna membaut gadis itu tidak merasa nyaman.


Julian memutuskan untuk


pergi setelah pertemuan singkat itu, tapi ada yang aneh dengan Anna hatinya


terasa sakit saat melihat mata itu, mata yang selalu menatapanya tajam sekarang


terluka dan punggung itu menjauh darinya, sungguh Anna ingin Julian tidak pergi

__ADS_1


meninggalkannya, Anna merasa bahwa laki-laki itu seakan ingin meninggalkannya


selamanya. Anna selalu merasa nyama bersama Julian tapi ia sudah memiliki Nicko


sebagai tunanganya dan mereka saling mencintai.


Sunggu perasaan ini


aneh, mengapa Julian harus datang saat Anna telah bertunangan dan mengapa


Julian mengatakan cinta padanya sedang laki-laki itu tahu Anna sudah terikat


pada orang lain, perasaan ini menyiksa Anna seperti ada ribuan jarum menusuk


hatinya.


****


“Kak kalungnya mana?”


tanya  Lucy  tiba-tiba sudah berada diapartemen Julian.


“Belum jadi.” Jawab


Julian malas, lalu kembali kekamar tidurnya tampa menghiraukan ucapan Lucy


bahwa pegawai tokoh tersebut telah menelponya dan mengatakan pesananya sudah


jadi.


Bagaimana Juliana tahu


kalung tersebut sudah jadi atau belum ia bahkan belum sempat masuk ke tokoh itu


ketika melihat pasangan itu bahagia sambil memilih cincin pernikahan mereka.


Julian merasakan sakit


yang teramat di hatinya dan jantungnya seakan terhenti melihat itu semua, ia


selalu berdo’a agar bisa melihat Anna lagi tapi tidak saat gadis itu dalam


pelukan laki-laki lain.


Semua orang akan


mengatakan Julian bodoh karena mencintai wanita yang sudah bertunangan dan akan


menikah, tapi laki-laki itu tidak bisa membohongi hatinya, semakin ia berusaha


melupakan wajah itu, senyum itu, suara itu dan punggung itu dan ciuman itu


semakin membuatnya tersiksa.


****


pindah dari kediaman Alexander, Julian masih tampak sibuk dengan tugasnya,


sikapnya masih sama bahkan bertambah parah setahun belakangan ini.


“Hai, tampan.” Goda


seorang wanita


“Apa yang kau inginkan?”


Julian menjawab cepat tanpa mengalikan matanya dari laptopnya.


“Ini,” wanita itu


menyodorkan amplok berwarna coklat, Julian membukanya dengan malas.


“Perusahaanmu?” Julian


bertanya wanita itu mengangguk.


“Aku ingin kau membeli


saham perusahaanku di cabang Sumatra,” wanita itu tersenyum.


“Aku tidak tertarik


dengan perusahaan yang hampir bangkrut.” Julian melempar map itu dengan kasar


“Kau akan tertarik,


jika tau siapa yang berkerja di sana.”


Melisa dengan segera


membuka lembar terakhir lalu menyodorkannya pada Julian.


“Berliana,“ gumam


Julian sambil tersenyum ia sangat merinduka wanita itu, wanita yang menolaknya


dan memilih laki-laki lain.


“Bagaimana kau mau


tertarik?” Melisa tampak tersenyum.


“Tidak, sekalipun yang


berkerja disana Anna, aku sudah tidak peduli.” Julian kembali menatap

__ADS_1


laptopnya, sudah setahun ia terus berusaha mencobah melupakan gadis itu tapi


gagal, walau hatinya sangat sakit saat ini ia selalu berpikir positif  untuk Anna setidaknya  pasti wanita itu sudah bahagia saat ini.


Membayangkan Anna hidup


bahagia dengan orang lain membuatnya merasa semakin sakit tapi Julian memilih


tetap bertahan di sini, menyibukan diri dengan pekerjaanya, hingga waktu


membantunya melupakan sosok Anna.


“Tidak peduli? kau


bahkan tidak bisa fokus dalam pekerjaanmu, kau menyebabkan banyak kerugian,


melewatkan beberapa tender besar, hanya karena gadis itu menolakmu.” Melisa


tertawa mengejek Julian, jelas Melisa tahu itu semua, ia tidak menyangkah


laki-laki seperti Julian bisa takluk pada Anna hanya karena cinta.


“Pergi dari ruanganku.”


Julian membuka suaranya dengan suara yang sangat dingin bahkan Melisa merasa


merinding mendengarnya, tapi itu tidak menurunkan niatnya supaya tidak rugi dalam


bisnis.


“Dasar pria bodoh,


untung aku sekarang sudah punya Sony, aku menyesal pernah suka padamu.” Melisa


mulai mengejek Julian yang memasang wajah datar seakan tidak terpengaruh pada


semua ucapan Melisa.


“Baca baik-baik ini,


data ini selalu di perbaharui setiap tiga bulan, dan ini baru di isi minggu


lalu.” Melisa melemparkan CV Anna.


“Belum menikah?” gumam


Julian yang tampak binggung, ‘Bukakah


waktu itu Anna mengatakan Nicko sudah melamarnya, tapi mengapa mereka belum


menikah?


“Tunanganya menikah


dengan wanita lain, bodoh!” teriak Melisa bahkan ia hampir tertawa melihat raut


wajah Julian yang terlihat sangat bingung “Jadi kau mau membeli sahamku? jika


kau membeli sahamku kupastikan kau bisa membalas demdam pada gadis itu,” Melisa


tersenyum lebar, ‘Maafkan aku Berliana


aku terpaksa melakukannya demi perusahaanku, laki-laki ini harus di beri


sedikit pelajaran.’


“Ceritakan?” Julian


menatap Melisa dengan pandangan menusuk membuat Melisa sedikit  mundur, tapi dengan cepat ia menguasai diri.


“Tanda tangan dulu?”


Melisa menantang, “Di sini, di sini dan disini.” wanita itu nunjuk setiap lembar


halaman yang telah tertempel matrai di sana, ya sekarang Julian telah membeli


sahan di perusahann Melisa.


“Nicko tidak jadi


menikahi Anna karena ia menghamili Margaret, tepat dua bulan sebelum mereka


menikah itu berati delapan bulan lalu, dan Anna kembali ke Sumatra setelah kejadian


itu.” Melisa menjelaskan apa yang ia tahu.


“Sejak kapan kau tahu?”


Julian menyelidik


“Sebulan setelah kejadian


itu.” Melisa menjawab acu itu bearti ia sudah tahu sejak sembilan bulan yang


lalu.


“Kenapa tidak


memberitahuku?” Julian tampak kesal.


“Kau harus merasakan


bagaimana rasanya di tolak.” Melisa mengejek sambil membawah surat


perjanjiannya.

__ADS_1


****


__ADS_2