Anna & Dream

Anna & Dream
Episode 18 MAAF


__ADS_3

Tampak ruang makan itu tidak terlalu besar terdapat perapian tidak jauh dari meja makan yang terbuat dari kayu dan dua buah kursi kayu panjang di sampinya. Lian sudah duduk menunggu mereka.



“Ayo makan, aku sudah sangat lapar.” Lian mengambil beberapa kentang rebus dan ikan yang di bakar, begitu juga dengan Lily dan Anna.



“Jack mana?” Lily bertanya, Lian hanya mengangkat bahu. Anna tidak perduli ia masih terlihat kesal karena ciuman Jack, tapi ia juga merasa bersalah karena menamparnya ia


tahu Jack melakukansemua itu demi kebaikannya.



“Kita harus melanjutkan perjalan” Anna memecah kesunyian di meja makan.



“ Tentu saja.” jawab Lily dengan penuh keyakinan.



“Bisakah besok kita berangkat.” Lian menyarankan. Anna tampak mengangguk setujuh,


bagaimanapun ia harus meletakan kalungnya pada tempatnya.



“Apakah kita sudah menyiapakan bekal selama di perjalanan?”



“Kau tidak usah memikirkan itu Anna, aku akan menyiapkan segala sesuatunya.” Lily meyakinkan.



Hari semakin gelap tapi Anna masih tidak melihat sosok pria yang telah menciumnya, saat makan malampun gadis itu tidak melihat keberadaan Jack. Anna memutuskan untuk keluar rumah mencari laki-laki yang setia selama empat tahun memberikanya obat, bagaimanapun ia harus memberitahu pria itu kalau besok mereka harus melanjutkan perjalanan.



Tepat di depan air terjun terlihat seseorang sedang duduk menatap langit sambil meremdam kakinya, Anna mencoba menghampiri dan duduk di sampinya ia harus meminta maaf pada Jack karena telah menamparnya tadi siang.



“Kau tidak makan?” Anna bertanya tanpa melihat kearah Jack, pria itu hanya diam.


“Kita akan melanjutkan perjalan besok.” Anna melanjutkan ucapanya, tapi Jack masih tidak membalas ucapannya.



“Aku minta maaf karena menamparmu” Jack menolah pada gadis di sampingnya, lalu tersenyum lembut.



“Maafkan aku tidak bisa menjagamu dengan baik.” balas Jack ”Seharusnya aku tidak menciumu tadi.” tambahnya



“Kuanggap itu bukan ciuman, kau melakukannya hanya untuk membatuku minum obat.”



“Aku seharusnya tidak melakukan apa yang tidak kau sukai.” Jack kemudian menatap langit.



“Apakah kau benar-benar tidak ingin makan Jack?” Jack tidak menjawab pertanyaaan Anna. ‘Ya ampun, laki-laki ini benar- benar keras kepala’ Anna sangat kesal. “Aku benar-benar akan marah padamu jika kau tidak mendengarkanku.” kemudian gadis itu menarik tangan Jack dan menyeretnya untuk pulang.



Jack hanya mengikuti jalan Anna sambil tersenyum. Laki-laki itu merasa bahagia Anna kembali, ia yakin Anna akan menemuinya kembali, walau ia harus bersabar menunggunya.



***



Rumah itu tampak sepih, hanya ada beberapa obor sebagai penerangnya tidak ada listrik disana apa lagi televisi atau dvd player untuk, sudahlah jangan di pikirkan.



Jack menatap tangan mungil yang dari tadi mengenggam tangannya yang kasar sebuah aliran listrik seolah menjalar dari tangan mungil itu membuat sensasi aneh pada tubuh Jack, ia merasa jantungnya berdetak dengan cepat seakan ia sedang berada dalam bahaya sekarang.



Tapi tidak ada rasa khawatir atau takut di dalam hatinya yang ada hanya perasaan senang dan gembira seperti ada bunga yang sedang mekar dalam hatinya.



Senyum terukir indah dari bibir indah pria itu dari tadi ia tidak berhenti tersenyum seperti orang gila, mungkin benar Jack sudah gila, gila karena terlalu lama menunggun Anna, gila karena ia masih tidak percaya gadis itu membuka mata dan sekarang berjalan bersamanya sambil memegang erat tangan Jack.



Seandainya waktu bisa di hentikan Jack sangat ingin bersama dengan Anna, dalam hati terdalam ia tidak ingin berpisah dengan gadis itu, gadis yang telah menghidupkanya dua


kali.



“Apa yang kalian lakukan?” Lian terlihat terkejut karena Anna menggenggam tangan Jack, tepatnya mengandeng tangna saingan beratnya untuk mendapatkan cinta Anna. Lily tanya tertawa melihat Lian yang terlihat kesal atau cemburu? entahla.



“Cepat lepaskan sayangku!” Lian membentak Jack yang terlihat santai, ia sama sekali tidak terganggu dengan teriakan remaja itu.



“Ini, ini bukan pegangan tangan aku hanya menyeretnya pulang untuk makan.” bela Anna kemudian melepaskan tangan Jack, laki-laki itu masih diam hanya sebuah tersenyum terukir indah dari bibirnya.



“Cepat makan!” Anna mendorong Jack kemeja makan.



Lian duduk di samping Anna dan menatap Jack dengan kesal bagaimana mungkin Anna dengan nyamanya mengenggam tangan Jack.



‘Jack kau keterlaluan, kau mendahuluiku, aku akan membalasmu nanti.’ gumam Lian dalam hati. “Kalian tidak melakukan hal yang macam-macam kan?” selidik Lian

__ADS_1



“Apa?” Anna terkejut bagaimana mungkin Lian berpikiran seburuk itu padanya hanya karena tadi dia memegang tangan Jack.



“Sebenarnya tadi, kami bercumbuh “ jawab Jack santai kemudian mengunya makan malamnya



“Apa?!” gadis itu lebih terkejut dengan ucapan Jack ‘Jack kau keterlaluan, kau mencemarkan nama baikku!’ gadis itu mendengus kesal.



“Sudahla, jangan dengarkan mereka Anna, mereka bedua sudah gila.” Lily kemudian duduk di samping Jack.



Lily sudah terbiasa dengan pertengkaran dua lelaki tampan itu, setiap hari selama Anna tidak sadarkan diri mereka selalu berebut untuk memberikan obat, kadang mereka bertarung hanya untuk itu tapi selalu Jack yang menang.



Pernah sekali waktu Lian mencobah memberikan obat pada Anna saat Jack pergi berburu dan pulang terlambat, tapi remaja itu mengurungkan niatnya setelah mencicip rasa obat yang sangat pahit, seharian Lian memuntahkan isi perutnya walau ia sudah meminum banyak air tetap saja ia tidak berhenti muntah, padahal ia tidak menelan obat itu, sejak saat itu Lian dengan senang hati memberikan tugas itu pada Jack, sampai sekarang ia heran mungkin lidah Jack sudah mati rasa?



“Aku tidak bercumbuh dengan Jack, Lily.” ia mencobah menjelaskan, Lian tersenyum mendengar ucapan Anna.



“Ya, kami memamang tidak bercumbuh, tapi akan!“ jelas Jack kemudian melanjutkan makan malamnya.



“Kau..., Jack, kau benar-benar” belum sempat Anna menyelesaikan ucapanya.



“Sudahlah Anna jangan dengarkan Jack, dia hanya mencoba memanasi Lian.” Lily mencairkan suasana, Lian masih metatap Jack dengan kesal.



‘Kenapa kalau kita bercumbuh? kita sudah dewasa Anna, aku sangat mencintaimu, tapi kau? Ya, mungkin hanya aku saja yang mencintaimu dan kau tidak, maaf atas kelancanganku.’ pikir Jack.



Sebuah perasaan kecewa muncul dari dalam hatinya, ‘Maafkan keegoisanku, aku akan mengantarmu pulang aku berjanji.’ Jack mengunya makannanya dengan pelan, entah mengapa perasaan ini terasa sangat aneh.



***



Suarah jangkrik dan gemericik air mememani suasama makam, pria itu sangat senang setelah empat tahun menunggu ia bisa melihat wajah kesal Anna dan mendengar suarahnya, begitu juga yang di rasakan Lily dan Lian, sudah cukup Anna menangis karena kematian Roberto.



“Jadi ceritakan apa yang terjadi selama kau tertidur.” Jack membuka suarahnya, dari tadi laki-laki itu mencuri pandang pada gadis di hadapanya, gadis yang tadi terlihat kesal padanya.




“Kalian tahu saat aku terbangun, aku membuat keributan di kamarku dan membangunkan tema-temanku di sana jam lima pagi, mereka semua terlihat bingung dan kesal, tapi aku senang bertemu mereka, aku juga menghubungi keluargaku seakan aku sudah bertahun-tahun tidak menghubungi mereka.” Lily dan Lian terlihat antusias mendengar cerita Anna, kecuali jack hanya diam menatap gadis dihadapannya.



“Dan seperti biasa aku melanjutkan tugas kuliaku menyusun skripsi dan..”



“Kulia? Menyusun skripsi?” Lian memotong remaja itu terlihat binggung, Anna berpikir ia lupa di negeri Londerves berbeda dengan dunia Anna, gadis itu tersenyum kaku.



“Kulia adalah sejenis sekolah tempat semua orang belajar, sama seperti sini ada guru yang mengajari muridnya dan skripsi itu adalah sejenis tugas, seperti Roberto menulis sebuah buku yang terdapat banyak ilmu yang ia kuasainya, ya sejenis itulah.” Anna mencobah menjelaskan dengan bahasa yang mudah di mengerti Lian dan lainya.



“Terus” Lily bertanya, ia masih penasaran dengan kelanjutan cerita Anna.



“Aku sudah melakukan sidang dan aku lulus.” Anna terlihat bahagia dan bangga, ingin sekali rasanya Anna melompat-lompat karena senang atas prestasinya itu.



“Sidang?” Lily terlihat binggung.



Anna menarik napas dalam sejenak



“Sidang itu, itu, itu sejenis ujian yang di lakukan gurumu padamu, setelah kau belajar satu ilmu maka gurumu akan melakukan tes atau ujian.” Anna menjelaskan



“Oh...” jawab Lily dan Lian bersamaan.



Anna menatap satu persatu sahabatnya itu, ia menerawang sejenak perlahan ia tersenyum lemah “Aku pergi ketokoh buku, kau tahu Jack toko buku itu?” Jack menganggu dan tersenyum lembut.



“Toko buku dimana aku bisa melihat Roberto di masa depan.” semuanya tersenyum mendengarnya, setidaknya Anna bisa bahagia bertemu dengan Roberto di dunianya.



“Dan ada satu hal yang sangat istimewah.” Anna kemudian menatap pria di sampinya “A.ku melihatmu” Anna kemudian tersenyum jahil



“Benarkah?” mata Lian membulat remaja terlihat senang,



“Apakah aku terlihat tampan?” Lian sangat penasaran, Anna menggeleng cepat.

__ADS_1



“Jadi, aku jelek?” Lian terlihat kecewa, remaja itu tertunduk lemas, bagaimana mungkin mukanya jadi jelek, padahal gadis di desa itu banyak yang menyukainya.



Anna mulai terkekeh melihat tingkah Lian, dia bener-benar seperti anak-anak sekarang, entah mengapa ada sebuah rasa rindu muncul dari dalam hatinya, rindu akan adik lelakinya, mungkin sekarang ia sudah setinggi Lian, umur merekapun tidak berbedah


jauh dari Lian.



“Kau memeluku dan menciumku.” ucapan Anna membuat Jack terkejut dan marah, pria itu memberhentikan makannya.



“Sudah kubilang Jack aku akan mengalahkanmu” Lian terlihat senang.


Jack bangun dari meja makannya pergi meninggalkan mereka bertiga menuju kamarnya.



’Jack kenapa kau bersikap aneh? Kau membuatku binggung Jack.’ gumam Anna sambil menatap punggung laki-laki itu.



“Hei, aku bahkan belum menyelesaikan ceritaku kenapa kau marah dan pergi?” Terdengar suarah seorang wanita dari balik pintu kamar itu, gadis itu melangkah menghampiri Jack


lalu duduk di sampingnya.



“Kau mau mendengar kelanjutannya, Jack?” Jack hanya diam tertunduk, entahla perasaanya sekarang sedang tidak menentu.



‘Kau tahu Anna hatiku terasa sakit saat kau mengatakan memeluk dan mencium Lian. Aku senang kau bertemu denganya di negerimu, apakah aku bisa bertemu denganmu nanti?’



“Yasudah kalau tidak mau.” Anna bangkit dari tempat duduknya dan beranjak meninggalkan Jack tapi tanganya terlebih dulu di tahan Jack.



“Lanjutkan certanya.” bisik Jack pelan.



“Baikla ternyata kau penasaran juga.” gadis itu mencibir Jack dan kembali duduk di sampingnya.



Seseorang wanita tampak berdiri di pintu kamar itu. “Apakah kami boleh ikut?”



“Masukla Lily.” Wanita itu lalu duduk di hadapan Anna tepat di kasur Lian begitupun dengan si pemilik kasur.



Kamar ini tidak terlalu besar, tapi sangat nyaman terdapat sebuah jendelah di sisi dinding kamar yang tampak terbuka, membuat angin bisa berlalu lalang di dalam kamar itu, sehingga membuat mereka berempat terasa sejuk.



“Baikla aku akan melanjutkannya,” Anna kemudian menarik napas dalam “Selain memeluk dan menciumku, Lian juga duduk di pangkuanku.”



“Duduk di pangkuan?” gumam Lily binggung. Bagaimana mungkin Anna kuat memangku Lian sedangkan tubuh Lian jauh lebih besar dari Anna, mungkin kalau empat tahun lalu itu terjadi Lily bisa percaya.



“Iya, Lian duduk di pangkuanku dan aku menemaninya mengambar dan dia juga menangis sambil memeluku.” Anna tersenyum melihat mereka bertiga berpikir.



“Lian berumur tiga tahun.” jawab Anna. Sontak membuat Lily dan Jack tertawa terbahak bahak-bahak, gadis itupun ikut tertawa. Lian terlihat kesal dan meninggalkan mereka bertiga.



“Lian kau mau kemana? jangan marah, kemarilah.” Anna menarik tangan Lian.



“Kau harus tidur besok kita akan melanjutkan perjalanan” tambah Anna.



“Anna bolehkah aku, emm, aku memelukmu?” Lian memohon dengan sangat,Lily dan Anna terlihat terkejut.



“Tentu saja” Anna kemudian memeluk Lian, ‘Kau mengingatku pada adikku Demitri.’ gumam Anna dalam hati.



“Aku menyanyangimu Anna.” bisik pria berumur empat belas tahun itu.



“Kau tahu, waktu kau memelukku, kau juga mengatakan sayang pada ku.” Anna kemudian melepaskan pelukannya, gadis itu menAtap sayang pada Lian.



“Kau tidak ingin memeluku?” Lily kemudian menarik Lian dan memeluknya dengan paksa.



“Lepaskan!” Lian berteriak mencobah melepas diri.



“Kau tidak menyayangiku ha?!” Lily terlihat kecewa, padahal wanita itu sangat menyayangi Lian.



“Aku menyangimu Lily, baikla aku akan memelukmu” Jawab Lian



“Tidurlah ini sudah malam sayang.” bisik Lily.

__ADS_1


__ADS_2