Anna & Dream

Anna & Dream
6. Apel With Love


__ADS_3

Lucy menangis memeluk ibunya,


Maria tahu anaknya itu sangat khawatir melihat Anna kesakitan saat mencobah


bersalaman denganya dan ia tahu juga kalau Anna harus melakukan terapi selama


enam bulan.


Tapi jika Anna tidak sembuh bagaimana? Jika


Anna cacat bagaimana? Sungguh Lucy membenci dirinya  sekarang ini.


“Tenangla Lucy, Anna


akan baik-baik saja.” Bisik Rudy pada gadis yang masih di peluk ibunya.


“Daddy, hiks... Anna


hiks..., Aku hiks, aku ingin merawatnya di rumah ini, aku akan menjaganya. Daddy


aku yang menyebabkan semua ini.”


“Apa kamu yakin akan


merawat Anna?” Lucy mengangguk mendengar pertanyaan ayahnya.


“Tapi orang tua Anna


akan membawanya ke Sumatra, mereka akan merawat Anna di sana.” Maria


menjelaskan, membuat Lucy semakin terisak.


“Aku ingin merawatnya Mom,


aku akan bertanggung jawab atas kebodohanku!” Lucy terisak.


***


Keempat orang paru baya


sedang membicarakan kondisi Anna, kedua orang tua Anna menolak Lucy merawat


Anna, Lucy tidak harus melakukan itu, mereka sudah berterimakasih karena selama


ini Lucy juga ikut menjaga Anna. Tapi kedua orang tua Lucy menyarankan orang


tua Anna untuk menemui Lucy, anak itu sudah tiga hari tidak keluar kamar, ia


tampak depresi.


Pintu kamar Lucy


terbuka tampak dua sosok paru baya masuk melangkahkan kaki mereka, gadis itu


langsung berlari dan memeluk kaki sepasang paru baya itu.


“Maafkan aku, tante om,


aku membuat Anna menderita.” Lucy terisak.


“Sudah, tidak apa-apa Lucy,


Anna akan baik-baik saja kami akan merawatnya.” jawab  ibu Anna sambil memeluk Lucy menenangkan


gadis itu yang tampak kacau, dari terakhir mereka bertemu seminggu lalu,


matanya tampak bengkak karena menangis, rambutnya berantakan dan mukanya agak


pucat.


“Tidak tante, aku akan


merawat Anna.” Lucy yang masih teriksak.


“Tidak apa-apa nak,


kami akan merawat Anna.”  ayah Anna


membuka suaranya menatap Lucy dengan kasihan, gadis itu semakin terisak mendengar


jawab dari kedua orang tua Anna.


”Aku berjanji akan


menjaga Anna, aku akan merawatnya dengan baik, aku tidak ingin Anna mati.”


sesaat kemudia gadis itu tidak sadarkan diri, membuat semua orang yang berada


di sana panik.


Rudy dan Maria


menceritakan kejadian empat tahun silam, saat itu Lucy pernah menabrak orang


hingga tewas, ia mengalami depresi selama setahun dan baru bisa untuk menyetir


mobil dua tahun kemudian, karena itu ia benar-benar merasa bersalah saat


menabrak Anna.


Rudy dan Maria berjanji


akan merawat Anna dengan baik dan mengabarkan semua kondisi Anna secarah


berkala, dengan terpaksa kedua orang tua Anna menyetujuai Lucy merawat Anna,


selama itu Anna akan tinggal di rumah keluaraga Alexander.


Kedua orang tua Anna menjelaskan


semua tentang Lucy pada Anna, awalnya gadis itu menolak, tapi pada akhirnya ia


setuju dan tidak ingin membuat kedua orang tuanya cemas, begitu juga pada Lucy.


***


“Anna, Ibu dan Bapak


pamit ya, kamu jaga diri rumah Lucy nanti.” ucap ibu Anna sambil memeluk


anaknya dengan penuh kasih sayang.


“Maafkan Bapak tidak


bisa lama di sini sudah empat minggu Bapak mangkir kerja.” jelas ayah Anna dengan


raut sedih, sungguh ia ingin lebih lama menjaga anaknya disini, tapi karena


ikatan kerja yang membuat ia harus mengurungkan niatnya.


“Tidak apa-apa Pak-Buk,


kalian hati-hati di jalan ya. Nanti kabari kalau sudah sampai, salam untuk Dimetri.


” Anna menjawab, Dimetri adalah adik laki-laki Anna yang berumur sembilan belas


tahun.


Keluarga Alexander


mengantar kepulangan keluarga Anna hingga ke bandara. Kedua orang tua Anna


berharap keputusannya benar untuk membiarkan Lucy menjaga Anna, karena mereka


tidak ingin Lucy depresi lagi terlebih kedua orang tua Lucy juga memohon untuk


itu, kedua orang tua Anna percaya mereka adalah orang yang baik.


Gadis itu belum boleh


keluar dari rumah sakit, kondisi tangan dan punggung sebelah kanannya masih


belum terlalu baik, ia tampak membuka ponselnya memeriksa beberapa panggilan


masuk dan pesan singkat, tampak semua berasal dari teman-temanya.


Gadis itu beberapa kali


mengirimkan pesan singkat pada Nicko tapi belum mendapat balasan sudah hampir


empat jam sejak mengirimnya.


***


Jam binding sudah


menunjukan jarumnya tepat diangkah tujuh, tampak malam ini sangat cerah ia

__ADS_1


memetuskan untuk berjalan ke dekat jendelah walau langkahnya masih pincang


sesekali ia menghentikan langkahnya karena kakinya terasa nyeri. Cairan impus


di tanganya masih terpasang, dan menetes dengan perlahan, sebenarnya ia bisa


saja menonton televisi di ruangan itu, tapi malam ini gadis itu merasa bosan,


makan malamnya bahkan belum ia sentuh.


Anna berdiri manatap


beberapa bintang yang berkelip di langit membuat ia  tersenyum sendiri, menginggatkanya pada


mimpinya dua tahun lalu saat ia, Jack, Lily dan Roberto terjebak di gurun


pasir.


***


Seorang laki-laki


membuka pintu kamar Anna dan melangkah masuk, gadis itu belum menyadarinya, ia


masih terlihat menatap bintang dilangit.


“Hai,” sampa laki-laki


itu, membuat Anna menoleh dan berguam pelan tapi mampu di dengar sosok yang


berdiri dengan jarak dua meter di sampingnya.


“Jack.”


“Maaf kita belum


berkenalan, walau aku sudah tahu nama mu,” jawab laki-laki itu “Namaku Julian,”


laki-laki itu nyodorkan tangannya, dengan susah payah, Anna mencobah mengankat


sedikit tanganya dan menyalami Julian


“Berliana, kau bisa


memanggilku Anna.”


“Senang bisa berkenalan


denganmu Anna,” Julian tersenyum “Apakah kita pernah bertemu? Maaf maksudku aku merasa pernah


melihatmu tapi aku lupa.” Jelas Julian sambil mengaruk tunguknya yang tidak


gatal.


“Iya, kau pernah


membanting pintuh mobilmu karena bensinya habis, dan mengatakan kau ketinggalan


dompet dan-” belum sempat Anna menyelesaikan kalimatnya.


“Jadi


itu kau, aku sudah mencarimu,” jawab Julian sambil tersenyum.


“Mencari?” Anna


terlihat binggung, mengapa Julian mencarinya.


“Maafkan aku, aku hanya


berniat mengembalikan uangmu.” Julian mengeluarkan dompetnya bermaksud


mengeluarkan uannya.


“Aku


tidak perlu uangmu,” membuat Julian menatap gadis di hadapanya.


Anna berusaha berjalan


ke tempat tidurnya dengan kaki pincang, Julian memegang bahu Anna, membuat


gadis itu memberhentikan langkahnya, jantungnya bedegup kencang, setelah sekian


lama ia tidak pernah merasa hal semacam ini terakhir kejadian itu terjadi, saat


dalam mimpi itu.


Anna tidak merasa nyaman ia segera melepaskan bahu gadis itu dan berucap.“Maaf,


aku tidak bermaksud-“


“Tidak apa-apa,” jawab


Anna, gadis itu langsung melangkahkan kakinya ketempat tidur dan duduk disana. Bahkan


beberapa kali ia meringis.


Baru kali ini Julian merasa


canggung dengan seseorang, rasanya benar-benar membuatnya salah tingkah, ia


lebih memilih berhadapan dengan seorang kolagen-kolagen ayahnya yang tidak ia


kenal atau menghadapi staf-stapnya.


“Lucy, Lucy sedang


sakit, ia tidak bisa kesini.” Julian menjelaskan alasan ia datang ke sana.


“Tidak apa-apa.” jawab


Anna lemah.


***


Flas Back On


Seorang gadis sedang


merengek mengetuk-ngetuk pintu kamar itu, membuat si pemilik kamar kesal “Ada


apa ha? Bisakah kau tidak mengangguku, aku sangat lelah.” jawab si pemilik


kamar dengan nada kesal.


Tapi ia juga salah


karena memberitahu Lucy kode pintu apartemennye membuat gadis itu bisa datang


seenaknya kesini, “Aku harus mengantinya


nanti.” gumam Julian dengan kesal.


“Kak aku pusing, aku


tidak bisa kerumah sakit malam ini.” jawab si gadis sambil merengek.


“Terus?”


“Bisakah kakak


mengantikan aku malam ini?” pinta Lucy memohon


“Aku tidak mau.” Julian


kembali ke tempat tidurnya.


“Kak aku mohon, Anna


sendirian malam ini, kasihan dia. Jika kepalaku tidak pusing, aku pasti ke rumah


sakit sekarang, aku mohon kak.” tampak Lucy memelas sekali lagi pada kakaknya


sambil duduk  di samping ranjang


kakaknya. Julian menyentuh kening adiknya, benar badanya terasa panas.


“Kau sakit Lucy, minum


obatmu, terus tidur.” jawab Julian


“Tapi kak, Anna?” Lucy


protes.


“Aku akan menemaninya

__ADS_1


malam ini.” Julian menganti pakaianya, sesaat kemudian sudah meluncur kerumah


sakit menggunakan mobil sport hitam


miliknya. Kalau bukan karena Lucy sakit ia tidak akan mau pergi kesana,


sebenarnya tubuhnya juga tampak terasa lelah.


Flas Back Off


“Kua boleh pulang


sekarang.“ Anna berkata pada Julian,


“Kau mengusirku?”


laki-laki itu menatap Anna dengan tajam, mata coklat itu seakan sedang


mengintimidasi Anna membuat gadis itu menelan ludah, ia mencobah menguasai


diri.


“Bukan, bukan itu, tapi


kau terlihat lelah, kau setiap hari kesini mengantar Lucy, aku yakin kau lelah,”


jawab Anna melihat muka Julian yang tampak kusut “Kalian tidak harus melakukan


itu.” tambah Anna pada akhirnya.


Julian hanya diam tidak


menangapi perkataan Anna, dia melihat kesekiling kamar, tampak makan malam itu


belum di sentu “Kau belum makan?’’


“Nanti aku makan.”


jawab Anna cepat.


“Ini sudah jam berapa? Kau


sedang sakit, kau harus makan sekarang.” Julian tampak mengambil nampan dan


memberikan pada Anna. “Makanlah.” Julian menyarankan, tampak gadis itu masih


diam menatap makanan di hadapanya. “Kau tidak suka Anna?”


Gadis itu hanya


mengeleng, bukan itu masalahnya, tangan kananya sedang sakit, ia malu di lihat makan


menggunakan tanggan kiri, ia akan makan mengunakan tangan kiri saat tidak ada


orang disana.


Berlahan gadis itu


berusaha menyendok makan malamnya, tanganya benar-benar terasa sakit, ia


menghentikan geraknya, meletakkan kembali sendoknya.


“Sini,” Julian menarik


nampan makanan itu, lalu mulai menyendokan makanya “Buka mulutmu.” Anna hanya


mengeleng.


“Aku bilang buka


mulutmu Anna!” Julian memaksa dan menatap Anna tajam, sungguh membuat gadis itu


tidak berkutik seolah tersihir pada mata itu dan aurah berkuasa yang di


pancarkan Julian, berlahan ia membuka mulutnya.


Julian dengan sabar


menyendokan makanan untuk Anna, walau laki-laki itu hanya menampilakan raut


wajah datar, Anna merasa laki-laki itu sedang marah?


“Aku sudah kenyang,”


Anna membuka suaranya.


“Tapi ini belum habis


Anna!” suara Julian terdengar lembut dan tegas.


“Kalau kau mau, kau


bisa menghabiskanya.” Anna kemudian mengambil Apel di nampan itu dengan tangan


kirinya,  gadis itu memperhatikannya


sambil tersenyum.


Laki-laki itu tampak


menarik napas dalam, ia sangat kesal dengan tingkah gadis di hadapanya, belum


ada orang yang melawan perintahnya selama ini.


“Setidaknya


Anna makan malam ini, walau hanya sedikit.”gumanya dalam


hati. Julian lalu memberikan gadis itu obat yang harus Anna minum setelah


makan, Anna menggangguk patuh saat Julian menyuruhnya menelan semua obat itu.


Malam semakin larut,


gadis itu telah memejamkan matanya, tangan kirinya masih mengengam apel. Julian


memperhatiakannya, membuat ia tersenyum sendiri, aneh gadis ini tidak memakanya,


perlahan laki-laki itu merai apel di tanggan Anna, tanpa Julian sadari Anna


menatapnya.


“Pencuri.” gumam Anna,


membuat Julian terkejut, ia benar seperti pencuri yang tertangkap basah,


laki-laki itu mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Aku, aku tidak men-”


Julian tampak gugup


“Ambilah itu untuk mu,


terimakasih telah membantuku makan tadi.” Anna kemudian tersenyum, gadis itu


kembali memejamkan matanya, tapi bibirnya terus tersenyum.


Laki-laki itu


menatapnya, seketika jantungnya berdegup sangat cepat seakan ingin melompat


dari dadanya, ia berusaha memalingkan mukanya, tapi tidak bisa tubuhnya tidak


mau berkerja sama dengan apa yang ia ingikan.


Semakin lama senyum itu


menghilang dan napas Anna terlihat teratur, gadis itu sudah terlelap.


Julian menatap apel di


tangannya, sudah hampir satu jam, ia berusaha menguasai diri, agar jantungnya


berhenti berdetak dengan cepat. Laki-laki itu terus menatap bibir yang tadi


tersenyum padanya, perlahan Julian mendekatkan bibirnya, menempelkan bibirnya


pada gadis yang terbaring di sana, benar hanya sebuah kecupan singkat tapi


hangat.


Dengan susah payah ia


menelah ludahnya, tengorokanya terasa kering, ini pertama kalinya tubuhnya


tidak bisa di kendalikan, ia tidak tahu mengapa ia harus mencuri ciuman gadis

__ADS_1


itu?


***


__ADS_2