
Lucy menangis memeluk ibunya,
Maria tahu anaknya itu sangat khawatir melihat Anna kesakitan saat mencobah
bersalaman denganya dan ia tahu juga kalau Anna harus melakukan terapi selama
enam bulan.
Tapi jika Anna tidak sembuh bagaimana? Jika
Anna cacat bagaimana? Sungguh Lucy membenci dirinya sekarang ini.
“Tenangla Lucy, Anna
akan baik-baik saja.” Bisik Rudy pada gadis yang masih di peluk ibunya.
“Daddy, hiks... Anna
hiks..., Aku hiks, aku ingin merawatnya di rumah ini, aku akan menjaganya. Daddy
aku yang menyebabkan semua ini.”
“Apa kamu yakin akan
merawat Anna?” Lucy mengangguk mendengar pertanyaan ayahnya.
“Tapi orang tua Anna
akan membawanya ke Sumatra, mereka akan merawat Anna di sana.” Maria
menjelaskan, membuat Lucy semakin terisak.
“Aku ingin merawatnya Mom,
aku akan bertanggung jawab atas kebodohanku!” Lucy terisak.
***
Keempat orang paru baya
sedang membicarakan kondisi Anna, kedua orang tua Anna menolak Lucy merawat
Anna, Lucy tidak harus melakukan itu, mereka sudah berterimakasih karena selama
ini Lucy juga ikut menjaga Anna. Tapi kedua orang tua Lucy menyarankan orang
tua Anna untuk menemui Lucy, anak itu sudah tiga hari tidak keluar kamar, ia
tampak depresi.
Pintu kamar Lucy
terbuka tampak dua sosok paru baya masuk melangkahkan kaki mereka, gadis itu
langsung berlari dan memeluk kaki sepasang paru baya itu.
“Maafkan aku, tante om,
aku membuat Anna menderita.” Lucy terisak.
“Sudah, tidak apa-apa Lucy,
Anna akan baik-baik saja kami akan merawatnya.” jawab ibu Anna sambil memeluk Lucy menenangkan
gadis itu yang tampak kacau, dari terakhir mereka bertemu seminggu lalu,
matanya tampak bengkak karena menangis, rambutnya berantakan dan mukanya agak
pucat.
“Tidak tante, aku akan
merawat Anna.” Lucy yang masih teriksak.
“Tidak apa-apa nak,
kami akan merawat Anna.” ayah Anna
membuka suaranya menatap Lucy dengan kasihan, gadis itu semakin terisak mendengar
jawab dari kedua orang tua Anna.
”Aku berjanji akan
menjaga Anna, aku akan merawatnya dengan baik, aku tidak ingin Anna mati.”
sesaat kemudia gadis itu tidak sadarkan diri, membuat semua orang yang berada
di sana panik.
Rudy dan Maria
menceritakan kejadian empat tahun silam, saat itu Lucy pernah menabrak orang
hingga tewas, ia mengalami depresi selama setahun dan baru bisa untuk menyetir
mobil dua tahun kemudian, karena itu ia benar-benar merasa bersalah saat
menabrak Anna.
Rudy dan Maria berjanji
akan merawat Anna dengan baik dan mengabarkan semua kondisi Anna secarah
berkala, dengan terpaksa kedua orang tua Anna menyetujuai Lucy merawat Anna,
selama itu Anna akan tinggal di rumah keluaraga Alexander.
Kedua orang tua Anna menjelaskan
semua tentang Lucy pada Anna, awalnya gadis itu menolak, tapi pada akhirnya ia
setuju dan tidak ingin membuat kedua orang tuanya cemas, begitu juga pada Lucy.
***
“Anna, Ibu dan Bapak
pamit ya, kamu jaga diri rumah Lucy nanti.” ucap ibu Anna sambil memeluk
anaknya dengan penuh kasih sayang.
“Maafkan Bapak tidak
bisa lama di sini sudah empat minggu Bapak mangkir kerja.” jelas ayah Anna dengan
raut sedih, sungguh ia ingin lebih lama menjaga anaknya disini, tapi karena
ikatan kerja yang membuat ia harus mengurungkan niatnya.
“Tidak apa-apa Pak-Buk,
kalian hati-hati di jalan ya. Nanti kabari kalau sudah sampai, salam untuk Dimetri.
” Anna menjawab, Dimetri adalah adik laki-laki Anna yang berumur sembilan belas
tahun.
Keluarga Alexander
mengantar kepulangan keluarga Anna hingga ke bandara. Kedua orang tua Anna
berharap keputusannya benar untuk membiarkan Lucy menjaga Anna, karena mereka
tidak ingin Lucy depresi lagi terlebih kedua orang tua Lucy juga memohon untuk
itu, kedua orang tua Anna percaya mereka adalah orang yang baik.
Gadis itu belum boleh
keluar dari rumah sakit, kondisi tangan dan punggung sebelah kanannya masih
belum terlalu baik, ia tampak membuka ponselnya memeriksa beberapa panggilan
masuk dan pesan singkat, tampak semua berasal dari teman-temanya.
Gadis itu beberapa kali
mengirimkan pesan singkat pada Nicko tapi belum mendapat balasan sudah hampir
empat jam sejak mengirimnya.
***
Jam binding sudah
menunjukan jarumnya tepat diangkah tujuh, tampak malam ini sangat cerah ia
__ADS_1
memetuskan untuk berjalan ke dekat jendelah walau langkahnya masih pincang
sesekali ia menghentikan langkahnya karena kakinya terasa nyeri. Cairan impus
di tanganya masih terpasang, dan menetes dengan perlahan, sebenarnya ia bisa
saja menonton televisi di ruangan itu, tapi malam ini gadis itu merasa bosan,
makan malamnya bahkan belum ia sentuh.
Anna berdiri manatap
beberapa bintang yang berkelip di langit membuat ia tersenyum sendiri, menginggatkanya pada
mimpinya dua tahun lalu saat ia, Jack, Lily dan Roberto terjebak di gurun
pasir.
***
Seorang laki-laki
membuka pintu kamar Anna dan melangkah masuk, gadis itu belum menyadarinya, ia
masih terlihat menatap bintang dilangit.
“Hai,” sampa laki-laki
itu, membuat Anna menoleh dan berguam pelan tapi mampu di dengar sosok yang
berdiri dengan jarak dua meter di sampingnya.
“Jack.”
“Maaf kita belum
berkenalan, walau aku sudah tahu nama mu,” jawab laki-laki itu “Namaku Julian,”
laki-laki itu nyodorkan tangannya, dengan susah payah, Anna mencobah mengankat
sedikit tanganya dan menyalami Julian
“Berliana, kau bisa
memanggilku Anna.”
“Senang bisa berkenalan
denganmu Anna,” Julian tersenyum “Apakah kita pernah bertemu? Maaf maksudku aku merasa pernah
melihatmu tapi aku lupa.” Jelas Julian sambil mengaruk tunguknya yang tidak
gatal.
“Iya, kau pernah
membanting pintuh mobilmu karena bensinya habis, dan mengatakan kau ketinggalan
dompet dan-” belum sempat Anna menyelesaikan kalimatnya.
“Jadi
itu kau, aku sudah mencarimu,” jawab Julian sambil tersenyum.
“Mencari?” Anna
terlihat binggung, mengapa Julian mencarinya.
“Maafkan aku, aku hanya
berniat mengembalikan uangmu.” Julian mengeluarkan dompetnya bermaksud
mengeluarkan uannya.
“Aku
tidak perlu uangmu,” membuat Julian menatap gadis di hadapanya.
Anna berusaha berjalan
ke tempat tidurnya dengan kaki pincang, Julian memegang bahu Anna, membuat
gadis itu memberhentikan langkahnya, jantungnya bedegup kencang, setelah sekian
lama ia tidak pernah merasa hal semacam ini terakhir kejadian itu terjadi, saat
dalam mimpi itu.
Anna tidak merasa nyaman ia segera melepaskan bahu gadis itu dan berucap.“Maaf,
aku tidak bermaksud-“
“Tidak apa-apa,” jawab
Anna, gadis itu langsung melangkahkan kakinya ketempat tidur dan duduk disana. Bahkan
beberapa kali ia meringis.
Baru kali ini Julian merasa
canggung dengan seseorang, rasanya benar-benar membuatnya salah tingkah, ia
lebih memilih berhadapan dengan seorang kolagen-kolagen ayahnya yang tidak ia
kenal atau menghadapi staf-stapnya.
“Lucy, Lucy sedang
sakit, ia tidak bisa kesini.” Julian menjelaskan alasan ia datang ke sana.
“Tidak apa-apa.” jawab
Anna lemah.
***
Flas Back On
Seorang gadis sedang
merengek mengetuk-ngetuk pintu kamar itu, membuat si pemilik kamar kesal “Ada
apa ha? Bisakah kau tidak mengangguku, aku sangat lelah.” jawab si pemilik
kamar dengan nada kesal.
Tapi ia juga salah
karena memberitahu Lucy kode pintu apartemennye membuat gadis itu bisa datang
seenaknya kesini, “Aku harus mengantinya
nanti.” gumam Julian dengan kesal.
“Kak aku pusing, aku
tidak bisa kerumah sakit malam ini.” jawab si gadis sambil merengek.
“Terus?”
“Bisakah kakak
mengantikan aku malam ini?” pinta Lucy memohon
“Aku tidak mau.” Julian
kembali ke tempat tidurnya.
“Kak aku mohon, Anna
sendirian malam ini, kasihan dia. Jika kepalaku tidak pusing, aku pasti ke rumah
sakit sekarang, aku mohon kak.” tampak Lucy memelas sekali lagi pada kakaknya
sambil duduk di samping ranjang
kakaknya. Julian menyentuh kening adiknya, benar badanya terasa panas.
“Kau sakit Lucy, minum
obatmu, terus tidur.” jawab Julian
“Tapi kak, Anna?” Lucy
protes.
“Aku akan menemaninya
__ADS_1
malam ini.” Julian menganti pakaianya, sesaat kemudian sudah meluncur kerumah
sakit menggunakan mobil sport hitam
miliknya. Kalau bukan karena Lucy sakit ia tidak akan mau pergi kesana,
sebenarnya tubuhnya juga tampak terasa lelah.
Flas Back Off
“Kua boleh pulang
sekarang.“ Anna berkata pada Julian,
“Kau mengusirku?”
laki-laki itu menatap Anna dengan tajam, mata coklat itu seakan sedang
mengintimidasi Anna membuat gadis itu menelan ludah, ia mencobah menguasai
diri.
“Bukan, bukan itu, tapi
kau terlihat lelah, kau setiap hari kesini mengantar Lucy, aku yakin kau lelah,”
jawab Anna melihat muka Julian yang tampak kusut “Kalian tidak harus melakukan
itu.” tambah Anna pada akhirnya.
Julian hanya diam tidak
menangapi perkataan Anna, dia melihat kesekiling kamar, tampak makan malam itu
belum di sentu “Kau belum makan?’’
“Nanti aku makan.”
jawab Anna cepat.
“Ini sudah jam berapa? Kau
sedang sakit, kau harus makan sekarang.” Julian tampak mengambil nampan dan
memberikan pada Anna. “Makanlah.” Julian menyarankan, tampak gadis itu masih
diam menatap makanan di hadapanya. “Kau tidak suka Anna?”
Gadis itu hanya
mengeleng, bukan itu masalahnya, tangan kananya sedang sakit, ia malu di lihat makan
menggunakan tanggan kiri, ia akan makan mengunakan tangan kiri saat tidak ada
orang disana.
Berlahan gadis itu
berusaha menyendok makan malamnya, tanganya benar-benar terasa sakit, ia
menghentikan geraknya, meletakkan kembali sendoknya.
“Sini,” Julian menarik
nampan makanan itu, lalu mulai menyendokan makanya “Buka mulutmu.” Anna hanya
mengeleng.
“Aku bilang buka
mulutmu Anna!” Julian memaksa dan menatap Anna tajam, sungguh membuat gadis itu
tidak berkutik seolah tersihir pada mata itu dan aurah berkuasa yang di
pancarkan Julian, berlahan ia membuka mulutnya.
Julian dengan sabar
menyendokan makanan untuk Anna, walau laki-laki itu hanya menampilakan raut
wajah datar, Anna merasa laki-laki itu sedang marah?
“Aku sudah kenyang,”
Anna membuka suaranya.
“Tapi ini belum habis
Anna!” suara Julian terdengar lembut dan tegas.
“Kalau kau mau, kau
bisa menghabiskanya.” Anna kemudian mengambil Apel di nampan itu dengan tangan
kirinya, gadis itu memperhatikannya
sambil tersenyum.
Laki-laki itu tampak
menarik napas dalam, ia sangat kesal dengan tingkah gadis di hadapanya, belum
ada orang yang melawan perintahnya selama ini.
“Setidaknya
Anna makan malam ini, walau hanya sedikit.”gumanya dalam
hati. Julian lalu memberikan gadis itu obat yang harus Anna minum setelah
makan, Anna menggangguk patuh saat Julian menyuruhnya menelan semua obat itu.
Malam semakin larut,
gadis itu telah memejamkan matanya, tangan kirinya masih mengengam apel. Julian
memperhatiakannya, membuat ia tersenyum sendiri, aneh gadis ini tidak memakanya,
perlahan laki-laki itu merai apel di tanggan Anna, tanpa Julian sadari Anna
menatapnya.
“Pencuri.” gumam Anna,
membuat Julian terkejut, ia benar seperti pencuri yang tertangkap basah,
laki-laki itu mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Aku, aku tidak men-”
Julian tampak gugup
“Ambilah itu untuk mu,
terimakasih telah membantuku makan tadi.” Anna kemudian tersenyum, gadis itu
kembali memejamkan matanya, tapi bibirnya terus tersenyum.
Laki-laki itu
menatapnya, seketika jantungnya berdegup sangat cepat seakan ingin melompat
dari dadanya, ia berusaha memalingkan mukanya, tapi tidak bisa tubuhnya tidak
mau berkerja sama dengan apa yang ia ingikan.
Semakin lama senyum itu
menghilang dan napas Anna terlihat teratur, gadis itu sudah terlelap.
Julian menatap apel di
tangannya, sudah hampir satu jam, ia berusaha menguasai diri, agar jantungnya
berhenti berdetak dengan cepat. Laki-laki itu terus menatap bibir yang tadi
tersenyum padanya, perlahan Julian mendekatkan bibirnya, menempelkan bibirnya
pada gadis yang terbaring di sana, benar hanya sebuah kecupan singkat tapi
hangat.
Dengan susah payah ia
menelah ludahnya, tengorokanya terasa kering, ini pertama kalinya tubuhnya
tidak bisa di kendalikan, ia tidak tahu mengapa ia harus mencuri ciuman gadis
__ADS_1
itu?
***