
Seorang wanita sedang tidak
sadarkan diri di dalam ruangan salah satu rumah sakit itu, tetesan inpus
mengalir dari tangannya. Anna terlihat sedang tertidur dengan damai disana, tiga
orang laki-laki sedang berdiri di hadapannya.
Julian menarik napas
dalam merasa kasihan pada gadis itu, tapi ada yang aneh Julian merasa pernah
melihat wanita itu, tapi di mana?
“Ben bagaimana
keadaanya sekarang?” Julian bertanya setelah
diam cukup lama pandanganya tidak pernah lepas pada sosok yang sedang koma
tersebut
“Sejauh ini stabil, ia
telah melewati masa kritisnya, tapi benturan keras itu tampaknya membuat
punggung kananya cederah, kita harus memastikan saat ia sadar.”
“Kepalanya?” Julian
bertanyatakut-takut sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.
“Tidak ada yang perlu
di khawatirkan tidak ada gegar otak di sana hanya luka robek di keningya yang
cukup dalam, dan sedikit cederah pada
kaki tapi tidak sampai patah, hanya retak sedikit pada bagian kaki kirinya.”
jelas Ben panjang lebar lalu memberikan laporan hasil pemeriksaan pada Julian
untuk membacanya secara langsung, Julian hanya menganguk setelah selesai dengan laporan itu.
“Panggil semua dokter
terbaik disini, aku tidak mau wanita ini meninggal, itu gunanya aku membeli rumah
sakit ini!” Rudy menegaskan.
Ben mengangguk sembari
tersenyum, benar rumah sakit itu adalah milik keluarga Alexander sejak lima
tahun silam, mereka membeli rumah sakit itu karena Julian saat itu ingin
menjadi dokter, sebenarnya ia sudah menamatkan pendidikan dokternya pada usia
dua puluh tahun dan melakukan praktek selama dua tahun, tapi keluarganya
membeli rumah sakit tempat Julian praktek, mereka melarang Julian menjadi
dokter agar laki-laki itu fokus pada perusahaan.
Diluar ruangan Lucy
sedang menangis sudah tiga hari dari kejadian itu, wanita yang di tabraknya
belum sadarkan diri, Lucy takut Anna akan meninggal, selama itu pulah ia tidak
kembali kerumah, ia lebih memilih menjaga wanita yang tabraknya, walau
teman-teman Anna dan keluarganya menyarankan ia pulang, karena teman-teman dan
keluarga Anna akan menungguinya, tapi Lucy menolak.
Rudy dan Maria tahu
kalau Lucy merasa bersalah begitu juga Julian, mereka tidak bisa memaksa Lucy
pulang.
Keluarga Lucy telah
meminta maaf pada keluarga Anna yang datang pada besok harinya setelah di
hubungi Rudy. Keluarga Anna telah memaafkan Lucy atas kejadian itu, karena itu
musibah siapapun pasti tidak ingin mengalami hal itu, Rudy berjanji akan
menanggung semua pengobatan Anna hingga sembuh total.
Meski Rudy tahu uang
bukan segalanya untuk menyembuhkan Anna, tapi ia mencobah melakukan yang
terbaik untuk gadis itu, Rudy bisa merasakan jika keluarga Anna sangat khawatir
saat ini, sama seperti dirinya.
Sesekali Julian melihat
laki-laki di hadapanya yang ia tahu dari orang tuan gadis itu, laki-laki itu
bernama Nicko adalah tunangan Anna. Pada minggu pertama Nicko setiap hari
datang dan membawakanya bunga tapi pada minggu kedua dan ketiga laki-laki itu
tidak pernah muncul lagi.
“Apa
ini yang di bilang tuangan?”gumam Julian dalah
__ADS_1
hati, Julian sendiri setiap hari kerumah sakit untuk mengantar Lucy, meski
hanya sesekali ikut menjaga Anna.
***
“Anna bangun nak,
jangan tidur lagi.” bisik wanita paru baya di samping nya, wanita itu tidak
pernah meninggalkan anak perempuan yang terbaring
tidak sadarkan diri, “Bangunlah nak.” bisiknya, tapi tidak ada respon apapun
dari Anna.
Julian memberanikan
diri untuk memnyentuh bahu wanita paru baya itu, bagaimanapun mereka sudah dekat dalam tiga
minggu ini, sesekali keluarga bercerita tentang kehidupan Anna, Julian selalu
menjadi pendengar yang baik.
“Bu, Anna pasti bangung.”
bisik Julian menenangkan, wanita itu hanya tersenyum lemah berharap hal itu
benar-benar terjadi, ia hanya bisa berdo’a untuk keselamatan dan kesembuhan
putrinya.
***
Malam ini Julian dan Lucy
memutuskan untuk menjaga Anna dan di setujui keluarga wanita itu, keluarga Anna
memutuskan untuk beristirahat di apartemen Anna, sedangkan adik Anna, pria itu
sudah pulang lebih dulu ke Sumatra karena harus kuliah.
Julian bahkan ingat
bagimana pertama kali keluarga Anna datang, mereka tampak terkejut begitu juga
adik laki-lakinya yang awalnya bersikap cuek tiba-tiba menangis saat orang-orang
di sana keluar, Julian tidak sengaja melihat itu, bahkan bebepakali Demitri mencium
tangan Anna dan mengatakan bahwa Anna harus sembuh dan membuka mata jika tidak
Demitri tidak ingin menganggap Anna sebagai Ayuk nya lagi. (Ayuk paggilan untuk kakak perempuandi daerah
Sumatra Selatan)
Julian memperhatikan
Anna selaku datang membawakanya beberapa novel dan komik kesukaan Anna, sebagai
bentuk dukungan mereka pada Anna, dan berharap Anna membuka matanya.
Lucy sudah tertidur di
sofa, tepat di samping tempat tidur
Anna, gadis itu sangat kelehan, ia harus bolak balik rumah, kampus dan rumah
sakit setiap hari, mengingat Lucy tercatat sebagai mahasiswa di salah satu
universitas di Jakarta.
Laki-laki itu
tersenyum, menatap wanita yang masih tidak sadarkan diri di hadapanya.
“Cantik.”gumamnya dalam hati, ia mengambil novel petualangan, dan menbacanya dengan suara
pelan, seperti yang sering teman-teman Anna lakukan.
“Bagunlah Anna, sumua
orang menunggu mu,” bisik laki-laki itu sambil meletakkan novel kembali pada
tempatnya. “Bangunlah, Anna, kau sudah terlalu lama tertidur.” bisiknya sekali lagi.
Hampir jam dua malam, Julian
mencobah memejamkan matanya di kursih tepak di samping Anna, pria itu melipat
dua tangannya di depan dadanya, ia benar-benar lelah sekarang.
Julian merasakan seseorang sedang
menatapnya, laki-laki itu mencobah membuka mata yang terasa berat, dia melihat
wanita di hadapannya. Julian masih tidak percaya wanita itu membuka matanya,
hampir lima detik Julian tidak berkijap sedikitpun melihat tatapan Anna.
“Jack,” gumam wanita itu pelan tapi
mampu di dengar Julian.
Laki-laki itu tersadar dari
kebiinggunganya, ia langsung menekan tobol merah di samping tempat tidur Anna. Julian
tersenyum melihatnya, tampak wanita itu tidak berhenti menatap Julian, sesaat
kemudian dokter datang untuk memeriksa kondisi Anna.
__ADS_1
“Kondisinya, stabil, tapih masih
lemah.” Ben menjelaskan pada Julian, laki-laki itu hanya mengangguk sesaat
kemudian senyum di bibir Julian kembali tertarik ketika Anna menatapnya.
***
“Sayang
kamu sudah sadar?” seorang laki-laki mendekati Anna, wanita itu hanya tersenyum
lemah.
“Kemana aja pak dua
minggu menghilang, tiba-tiba datang saat Anna sudah sadar.” Jesika tampak
menyindir Nicko yang sekarang sedang menggenggam tangan kanan Anna dengan lembut.
Nicko tidak ingin menyakiti tubuh tunanganya, ia tahu Anna pasti sedang menahan
rasa sakitnya sekarang.
“Aku sibuk Jes.” jawab
Nicko dengan datar, ia memang bersalah meninggalkan Anna selama dua minggu ini
tapi itu semua karena Margaret yang selalu memberikanya banyak tugas yang harus
ia selesaikan.
“Sibuk? Perasaan kantor
kita sama, aku sendiri hampir tiap hari membesuk Anna.” Xiang kembali menyindir
Nicko, membuat laki-laki itu menarik napas dalam.
“Tidak apa-apa,” suara
Anna pelan lalu menatap Nicko seakan mengatakan kalau ia mengerti atas semua
kesibukan yang Nicko kerjakan selama ini.
Lucy langsung berjalan
mendekati Anna, dengan ragu-ragu membuat semua orang di ruangan itu mentapnya.“Ma-maafkan
aku Anna, aku-aku tidak sengaja
menabrakmu.”
“Tidak apa-apa, itu
juga kesalahanku karena kurang waspada,” jawab Anna sambil tersenyum matap Lucy,
”Mirip sekali Lily hanya ia tampak lebih
mudah.” gumanya dalam hati.
“Tidak, waktu itu
kepalaku sedang sakit dan aku benar-benar tidak bisa berpikir, maafkan Aku.” ucap Lucy sekali lagi, matanya sudah
berkaca-kaca hendak menangis, mengingat kesalahanya yang menyebabkan seorang
terluka karenanya.
“Aku sudah memamaafkan
mu em...” Anna mengantung ucapanya.
”Lucy, naamaku Lucy,” Lucy
segera menyodorkan tangan kananya kearah Anna.
Anna berusaha
mengangkat tangan kananya tapi rasa sakit menjalar di bahu dan punggungnya, tanpa
ia sadari ia mereingis kesakitan, semua orang terkejut melihatnya, tidak
terkecuali Julian yang dari tadi berdiri di belakang Lucy, laki-laki itu langsung menghubungi Ben, memberitahu kondisi
Anna.
Semua orang keluar dari
ruangan itu, kecuali Julian yang berdiri di samping Ban, dokter itu melakukan
beberapa tes pada tangan kanan Anna, tampak gadis itu kesakitan bahkan menangis
menahan sakitnya.
“Cideranya cukup parah,
ia perlu terapi yang cukup panjang untuk mengembalikan kondisi lenganya dan
tanganya.” Ban menjelaskan.
“Berapa lama?” Julian
bertanya pada intinya.
“Paling cepat enam
bulan.”
“Apa?” Suara Anna
mengejutkan dua laki-laki dihadapanya, mereka hanya tersenyum penuh arti.
“Tenanglah Anna, semua
__ADS_1
akan baik-baik saja.” Ben menejelaskan.
***