Anna & Dream

Anna & Dream
5. Apel With Love


__ADS_3

Seorang wanita sedang tidak


sadarkan diri di dalam ruangan salah satu rumah sakit itu, tetesan inpus


mengalir dari tangannya. Anna terlihat sedang tertidur dengan damai disana, tiga


orang laki-laki sedang berdiri di hadapannya.


Julian menarik napas


dalam merasa kasihan pada gadis itu, tapi ada yang aneh Julian merasa pernah


melihat wanita itu, tapi di mana?


“Ben bagaimana


keadaanya sekarang?”  Julian bertanya setelah


diam cukup lama pandanganya tidak pernah lepas pada sosok yang sedang koma


tersebut


“Sejauh ini stabil, ia


telah melewati masa kritisnya, tapi benturan keras itu tampaknya membuat


punggung kananya cederah, kita harus memastikan saat ia sadar.”


“Kepalanya?” Julian


bertanyatakut-takut sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.


“Tidak ada yang perlu


di khawatirkan tidak ada gegar otak di sana hanya luka robek di keningya yang


cukup dalam,  dan sedikit cederah pada


kaki tapi tidak sampai patah, hanya retak sedikit pada bagian kaki kirinya.”


jelas Ben panjang lebar lalu memberikan laporan hasil pemeriksaan pada Julian


untuk membacanya secara langsung, Julian  hanya menganguk setelah selesai dengan laporan itu.


“Panggil semua dokter


terbaik disini, aku tidak mau wanita ini meninggal, itu gunanya aku membeli rumah


sakit ini!” Rudy menegaskan.


Ben mengangguk sembari


tersenyum, benar rumah sakit itu adalah milik keluarga Alexander sejak lima


tahun silam, mereka membeli rumah sakit itu karena Julian saat itu ingin


menjadi dokter, sebenarnya ia sudah menamatkan pendidikan dokternya pada usia


dua puluh tahun dan melakukan praktek selama dua tahun, tapi keluarganya


membeli rumah sakit tempat Julian praktek, mereka melarang Julian menjadi


dokter agar laki-laki itu fokus pada perusahaan.


Diluar ruangan Lucy


sedang menangis sudah tiga hari dari kejadian itu, wanita yang di tabraknya


belum sadarkan diri, Lucy takut Anna akan meninggal, selama itu pulah ia tidak


kembali kerumah, ia lebih memilih menjaga wanita yang tabraknya, walau


teman-teman Anna dan keluarganya menyarankan ia pulang, karena teman-teman dan


keluarga Anna akan menungguinya, tapi Lucy menolak.


Rudy dan Maria tahu


kalau Lucy merasa bersalah begitu juga Julian, mereka tidak bisa memaksa Lucy


pulang.


Keluarga Lucy telah


meminta maaf pada keluarga Anna yang datang pada besok harinya setelah di


hubungi Rudy. Keluarga Anna telah memaafkan Lucy atas kejadian itu, karena itu


musibah siapapun pasti tidak ingin mengalami hal itu, Rudy berjanji akan


menanggung semua pengobatan Anna hingga sembuh total.


Meski Rudy tahu uang


bukan segalanya untuk menyembuhkan Anna, tapi ia mencobah melakukan yang


terbaik untuk gadis itu, Rudy bisa merasakan jika keluarga Anna sangat khawatir


saat ini, sama seperti dirinya.


Sesekali Julian melihat


laki-laki di hadapanya yang ia tahu dari orang tuan gadis itu, laki-laki itu


bernama Nicko adalah tunangan Anna. Pada minggu pertama Nicko setiap hari


datang dan membawakanya bunga tapi pada minggu kedua dan ketiga laki-laki itu


tidak pernah muncul lagi.


“Apa


ini yang di bilang tuangan?”gumam Julian dalah

__ADS_1


hati, Julian sendiri setiap hari kerumah sakit untuk mengantar Lucy, meski


hanya sesekali ikut menjaga Anna.


***


“Anna bangun nak,


jangan tidur lagi.” bisik wanita paru baya di samping nya, wanita itu tidak


pernah meninggalkan anak  perempuan yang terbaring


tidak sadarkan diri, “Bangunlah nak.” bisiknya, tapi tidak ada respon apapun


dari Anna.


Julian memberanikan


diri untuk memnyentuh bahu wanita paru baya itu,  bagaimanapun mereka sudah dekat dalam tiga


minggu ini, sesekali keluarga bercerita tentang kehidupan Anna, Julian selalu


menjadi pendengar yang baik.


“Bu, Anna pasti bangung.”


bisik Julian menenangkan, wanita itu hanya tersenyum lemah berharap hal itu


benar-benar terjadi, ia hanya bisa berdo’a untuk keselamatan dan kesembuhan


putrinya.


***


Malam ini Julian dan Lucy


memutuskan untuk menjaga Anna dan di setujui keluarga wanita itu, keluarga Anna


memutuskan untuk beristirahat di apartemen Anna, sedangkan adik Anna, pria itu


sudah pulang lebih dulu ke Sumatra karena harus kuliah.


Julian bahkan ingat


bagimana pertama kali keluarga Anna datang, mereka tampak terkejut begitu juga


adik laki-lakinya yang awalnya bersikap cuek tiba-tiba menangis saat orang-orang


di sana keluar, Julian tidak sengaja melihat itu, bahkan bebepakali Demitri mencium


tangan Anna dan mengatakan bahwa Anna harus sembuh dan membuka mata jika tidak


Demitri tidak ingin menganggap Anna sebagai Ayuk nya lagi. (Ayuk paggilan untuk kakak perempuandi daerah


Sumatra Selatan)



Julian memperhatikan


Anna selaku datang membawakanya beberapa novel dan komik kesukaan Anna, sebagai


bentuk dukungan mereka pada Anna, dan berharap Anna membuka matanya.


Lucy sudah tertidur di


sofa, tepat di  samping tempat tidur


Anna, gadis itu sangat kelehan, ia harus bolak balik rumah, kampus dan rumah


sakit setiap hari, mengingat Lucy tercatat sebagai mahasiswa di salah satu


universitas di Jakarta.


Laki-laki itu


tersenyum, menatap wanita yang masih tidak sadarkan diri di hadapanya.


“Cantik.”gumamnya dalam hati, ia mengambil novel petualangan, dan menbacanya dengan suara


pelan, seperti yang sering teman-teman Anna lakukan.


“Bagunlah Anna, sumua


orang menunggu mu,” bisik laki-laki itu sambil meletakkan novel kembali pada


tempatnya. “Bangunlah, Anna, kau sudah terlalu lama tertidur.”  bisiknya sekali lagi.


Hampir jam dua malam, Julian


mencobah memejamkan matanya di kursih tepak di samping Anna, pria itu melipat


dua tangannya di depan dadanya, ia benar-benar lelah sekarang.


Julian merasakan seseorang sedang


menatapnya, laki-laki itu mencobah membuka mata yang terasa berat, dia melihat


wanita di hadapannya. Julian masih tidak percaya wanita itu membuka matanya,


hampir lima detik Julian tidak berkijap sedikitpun melihat tatapan Anna.


“Jack,” gumam wanita itu pelan tapi


mampu di dengar Julian.


Laki-laki itu tersadar dari


kebiinggunganya, ia langsung menekan tobol merah di samping tempat tidur Anna. Julian


tersenyum melihatnya, tampak wanita itu tidak berhenti menatap Julian, sesaat


kemudian dokter datang untuk memeriksa kondisi Anna.

__ADS_1


“Kondisinya, stabil, tapih masih


lemah.” Ben menjelaskan pada Julian, laki-laki itu hanya mengangguk sesaat


kemudian senyum di bibir Julian kembali tertarik ketika Anna menatapnya.


***


“Sayang


kamu sudah sadar?” seorang laki-laki mendekati Anna, wanita itu hanya tersenyum


lemah.


“Kemana aja pak dua


minggu menghilang, tiba-tiba datang saat Anna sudah sadar.” Jesika tampak


menyindir Nicko yang sekarang sedang menggenggam tangan kanan Anna dengan lembut.


Nicko tidak ingin menyakiti tubuh tunanganya, ia tahu Anna pasti sedang menahan


rasa sakitnya sekarang.


“Aku sibuk Jes.” jawab


Nicko dengan datar, ia memang bersalah meninggalkan Anna selama dua minggu ini


tapi itu semua karena Margaret yang selalu memberikanya banyak tugas yang harus


ia selesaikan.


“Sibuk? Perasaan kantor


kita sama, aku sendiri hampir tiap hari membesuk Anna.” Xiang kembali menyindir


Nicko, membuat laki-laki itu menarik napas dalam.


“Tidak apa-apa,” suara


Anna pelan lalu menatap Nicko seakan mengatakan kalau ia mengerti atas semua


kesibukan yang Nicko kerjakan selama ini.


Lucy langsung berjalan


mendekati Anna, dengan ragu-ragu membuat semua orang di ruangan itu mentapnya.“Ma-maafkan


aku Anna,  aku-aku tidak sengaja


menabrakmu.”


“Tidak apa-apa, itu


juga kesalahanku karena kurang waspada,” jawab Anna sambil tersenyum matap Lucy,


”Mirip sekali Lily hanya ia tampak lebih


mudah.” gumanya dalam hati.


“Tidak, waktu itu


kepalaku sedang sakit dan aku benar-benar tidak bisa berpikir, maafkan Aku.”  ucap Lucy sekali lagi, matanya sudah


berkaca-kaca hendak menangis, mengingat kesalahanya yang menyebabkan seorang


terluka karenanya.


“Aku sudah memamaafkan


mu em...” Anna mengantung ucapanya.


”Lucy, naamaku Lucy,” Lucy


segera menyodorkan tangan kananya kearah Anna.


Anna berusaha


mengangkat tangan kananya tapi rasa sakit menjalar di bahu dan punggungnya, tanpa


ia sadari ia mereingis kesakitan, semua orang terkejut melihatnya, tidak


terkecuali Julian yang dari tadi berdiri di belakang Lucy, laki-laki itu  langsung menghubungi Ben, memberitahu kondisi


Anna.


Semua orang keluar dari


ruangan itu, kecuali Julian yang berdiri di samping Ban, dokter itu melakukan


beberapa tes pada tangan kanan Anna, tampak gadis itu kesakitan bahkan menangis


menahan sakitnya.


“Cideranya cukup parah,


ia perlu terapi yang cukup panjang untuk mengembalikan kondisi lenganya dan


tanganya.” Ban menjelaskan.


“Berapa lama?” Julian


bertanya pada intinya.


“Paling cepat enam


bulan.”


“Apa?” Suara Anna


mengejutkan dua laki-laki dihadapanya, mereka hanya tersenyum penuh arti.


“Tenanglah Anna, semua

__ADS_1


akan baik-baik saja.”  Ben menejelaskan.


***


__ADS_2