Anna & Dream

Anna & Dream
25. Apel With Love


__ADS_3

Sudah lima hari mereka


tinggal bersama, tidak terjadi sesuatu yang dipikirkan Anna. Julian setelah


pulang dari kantor segera kekamar, kemudian makan malam setelah itu ia akan


tertidur sampai pagi lalu sarapan tepat jam tujuh pagi.


Anna selalu membuat


sarapan untuk mereka berdua, di kantor Julian bersikap galak dan dingin,


beberapa kali Julian membentak Anna, karena terlambat memberikan laporan, dalam


hati Anna berharap segera di pecat oleh laki-laki ini.


“Anna kenapa kamu tidak


memberi tahu ada rapat setelah makan siang?” Julian bertanya dengan suara


datar, mukanya tampak kesal siap untuk menelan Anna hidup-hidup.


“Maaf pak saya telah


mengirimkan e-mail pada bapak minggu lalu dan saya telah menginggatkan saat


makan malam.” jelas Anna.


“Kamukan bisa


menginggatkan saya saat sarapan!” teriak Julian yang tidak mauh kalah.


“Pak saya telah


menginggatkan bapak, tapi bapak langsung pergi tidak mau mendengarkan ucapan


saya.”


Flas back


“Selamat pagi pak,”


Anna menyapa Julian saat laki-laki itu keluar dari kamarnya, Julian hanya


berdehem, “Pak hari ini anda-” belum sempat Anna menyelesaikan kalimatnya.


“Kamu tidak lihat saya


sedang sarapan.” Julian cetus, gadis itu menarik napas dalam kemudian ikut


menyantap sarapanya, setelah selesai Julian langsung beranjak dari tempat


duduknya.


“Pak hari ini ada rapat


setelah makan siang bersama perusahaan-” Anna memberhentikan ucapanya, saat Julian


menutup pintuh apartemenya. Bagaiman ia tahan tinggal lebih lama lagi disini


dan berhadapan dengan bos galaknya itu, Julian bahkan tidak pernah berangkat


atau pulang bersama padahal mereka tinggal serumah.


“Oh,” Jawab Julian


datar “Kerjakan semuan ini, saya mau besok semuanya selesai.” Julian


menyodorkan tumpukan map berwarna biru, Anna hanya mengangguk, kemudian pergi


kemeja kerjanya, ia segera mengerjakan laporan yang Julian pintah, sampai jam


sepuluh malam tampak tumpukan itu belum setengahnya berkurang.


Julian kembali


keapartemenya, semua terlihat gelap, ia segera mandi dan berganti pakaian dan


kedapur, tidak ada makannan apapun, biasanya Anna akan memasakan sesuatu


untuknya saat pulang kerja, laki-laki itu menuju kamar Anna tampak kosong, mengapa


Anna belum pulang ini sudah jam sebelas? dengan cepat Julian meraih ponselnya.


“Kau dimana?”


***


“Ayo pulang!” teriak


Julian pada gadis yang masih sibuk dengan laporanya, Anna hampir saja


menjatuhkan map yang di pegangnya mendengar teriakan laki-laki galak itu,


beruntung Anna tidak memiliki riwayat penyakit jantung jika tidak, Anna yakin sekarang ia sudah meminggal karena serang jantung.


“Maaf pak saya sedang


mengerjakan tugas yang anda berikan.” jawab Anna tampa mengalihkan pandanganya


dari komputer di hadapanya. Julian menarik napas dalam ia mulai kesal, ia langsung


mengambil tumpukan map yang sedang di kerjakan Anna.


“Julian!” teriak Anna


ini pertama kalinya ia memanggil  nama Julian


semenjak bekerja di kantor itu.


“Aku bilang pulang atau


besok aku akan menambahkan tugasmu lebih banyak lagi.” ucap laki-laki itu


datar.


“Maaf pak bukankan anda

__ADS_1


meminta saya menyelesaikan semuanya, karena besok anda memerlukaknya.”


“Aku tidak memerlukanya.”


Julian kemudian menarik wanita itu dan menyeretnya ke mobil, Anna melawan tapi


laki-laki itu tidak mebiarkanya.


***


“Cepat masak aku lapar.”


perintah Julian sambil duduk di meja makan, jadi ini alasan bos galak itu


menyeretnya karena ia kelaparan.


“Kenapa tidak makan di


luar saja, aku harus bekerja.“ jawab Anna ketus


“Aku tidak mau, dan


ingat aku bosmu.” Julian menatap Anna dengan sinis, rasanya Anna ingin mencekik


Julian saat ini juga, tapi percuma melawan ia akan kalah dengan laki-laki itu.


“Aku bukan istrimu.”


Anna bergumam, kemudian segera memasak untuk makan malam mereka.


***


Pak Anwar melewati


ruang kerja Anna dengan cepat Anna menghampirinya, ia harus  meminta penjelasan lebih lanjut untuk tempat


tinggalnya nati.


“Maaf pak menganggu,


pak kira-kira kapan saya boleh pindah?”


Pak Anwar menjelaskan


kalau kantor belum menemukan tempat yang pas untuk Anna, gadis itu hanya bisa


menunduk tanda mengerti, ia bisa mengontrak rumah dengan uang pribadinya, tapi


kontrak itu, pak Anwar dan Julian terus mengancamnya jika pindah.


****


“Kita mau kemana?” Anna


bertanya, karena tadi pulang dari kantor Julian memaksanya ikut kedalam


mobilnya, Julian tidak menjawab hampi setenga jam ia memberhentikan mobil sprotnya di sebuah butik


“Pakai ini.” Julian menyodorkan


“Untuk apa?” Anna


mentap gaun di tangan Julian.


“Besok Lucy wisudah kau


diundang kesana.” jawab Julian datar.


***


Anna tampak cantik


dengan gaun ungu muda pilihan Julian, mereka berdua segera berjalan memasuki


gedung dimana Lucy wisudah tidak lupa Anna membawa seikat bunga untuk Lucy.


“Anna, kau datang.”


teriak Lucy kemudian memeluk wanita itu.


“Aku yakin kak Julian


pasti akan membawahmu.” tambahnya, Anna juga bertemu Rudi dan Maria tampak mereka


semua akrab.


“Jadi bagaimana


pekerjaanmu?” tanya Maria saat di mereka sampai di meja restoran ternama


“Baik tan, eh Mom.”


“Apa Julian bersikap


baik padamu ?” Maria bertanya sekalih lagi,


“Mana ada Julian bersikap baik, setiap hari ia marah-marah dan memberiku


banyak tugas, entah itu tugas seorang sekertaris atau bukan bahkan aku harus


membuat laporan yang sama sebanyak sepuluh kali tanpa harus mengkopynya dan


mengetik ulang semuanya?” rasanya Anna ingin mengucapkan itu semua agar


keluarga Alexander tahu bagaimana tingkah anaknya di kantor


“Oh, baik Mom, dia


sangat baik padaku.” Anna tersenyum tampak senyum di paksakan. Selesai makan


malam Julian dan Anna memutuskan pulang.


“Kenapa berbohong?”


ucap Julian sesaat sebelum Anna membuka pintuh kamarnya.


“Aku tidak berbohong.”

__ADS_1


Jawab Anna acuh


“Sudalah, kau sangat


membenciku, karena sikapaku” enjek Julian


“Kalau aku berkata


jujur apakah kau akan mengubah sikap mu?” tampak keduanya menatap sinis satu


sama lain.


*****


Di kantor saat makan


siang Wil segera mendekati Anna yang tampak tidak besemangat menyantap makan


siangngya


”Anna kau baik-baik


saja?”


“Apa


aku terlihat baik? ini semua karena mu.” Jawab Anna kesal


“Maafkan aku.” Wil


kemudian mengelus punggung temanya ia tahu Anna tersiksa karena sikap Julian


yang seenaknya, awalnya Wil berpikir Julian akan bersikap lebih baik pada Anna


tetapi malah sebaliknya, perlakuan Julian pada sahabatnya itu terbilang paling


buruk diantara mantan sekertarisnya yang dulu.


“Kau tahu Wil, aku


benar-benar tidak tahan, tigs bulan bekerja disini sudah seperti seabat aku


bekerja di neraka, Julian terus marah-marah tidak jelas, padahal aku sudah


mengerjakan semua sesuai keninginanya, tapi ada saja alasanya untuk memarahiku,


aku ingin keluar tapi tidak bisa karena kontrak itu.”


***


“Ke ruangan saya


sekarang.” Julian mematikan telponya, tidak berapa lama Anna masuk keruangan


itu, Julian memberikan setumpuk laporan padanya, Anna segera mengambilnya ia itu


Julian menyuruh mengerjakan semuanya.


Sudah jam lima sore


Anna segera pulang dan memasak makan malam, setelah selesai ia harus


membersikan apartemen itu, barula ia bisa kembali ke kamar untuk mengerjakan


semua tugasnya, sudah lebih dari semingu ia mengerjakan tugas yang tiada henti,


Julian benar-benar menyiksanya sekarang, bahkan di hari minggupun Anna harus


tetap mengerjakan laporannya dan mengatur jadwal Julian.


Anna sedang duduk di


ruang tamu sambil mengetik laporanya, ia terlalu bosan di kamar, tampak Julian


duduk di sofa di samping Anna, laki-laki itu segera memutar film kartu


kesukaanya sesekali ia tertawa keras, Anna segera merapikan map dan laptopnya


kemudian pindah kekamar, mana mungkin ia bisa mengerjakan tugas dengan baik


kalau Julian terus menganggunya dengan suara tawahnya yang kencang melebihi suara


televisi.


Biasanya juga Julian


tidak tidak pernah mau menonton di ruang tv ia akan lebih memilih menghabiskan


waktu seharian di kamarnya dan hanya keluar bila Anna memanggilnya untuk makan


atau memberikanya laporan yang telah Anna selesaikan.


Anna segera menyerahkan


laporan yang Julian mintah dan mencatat jadwal laki-laki itu.


“Minggu depan anda


harus ke Surabaya untuk kunjungan bisnis.” Anna menginggatkan, Julian hanya


mengangguk, Anna segera pergi meninggalkan ruangan itu, hanya dalam lima menit


ponselnya berbuyi tampak pesan singkat disana.


From Julian


Kamu


harus ikut ke Surabaya.


Anna hanya bisa menarik


napas dalam, “Apa lagi yang akan di lakukan Julian kali ini, ia benar-benar


ingin membunuh ku sekarang.”


***

__ADS_1


__ADS_2