
Sudah lima hari mereka
tinggal bersama, tidak terjadi sesuatu yang dipikirkan Anna. Julian setelah
pulang dari kantor segera kekamar, kemudian makan malam setelah itu ia akan
tertidur sampai pagi lalu sarapan tepat jam tujuh pagi.
Anna selalu membuat
sarapan untuk mereka berdua, di kantor Julian bersikap galak dan dingin,
beberapa kali Julian membentak Anna, karena terlambat memberikan laporan, dalam
hati Anna berharap segera di pecat oleh laki-laki ini.
“Anna kenapa kamu tidak
memberi tahu ada rapat setelah makan siang?” Julian bertanya dengan suara
datar, mukanya tampak kesal siap untuk menelan Anna hidup-hidup.
“Maaf pak saya telah
mengirimkan e-mail pada bapak minggu lalu dan saya telah menginggatkan saat
makan malam.” jelas Anna.
“Kamukan bisa
menginggatkan saya saat sarapan!” teriak Julian yang tidak mauh kalah.
“Pak saya telah
menginggatkan bapak, tapi bapak langsung pergi tidak mau mendengarkan ucapan
saya.”
Flas back
“Selamat pagi pak,”
Anna menyapa Julian saat laki-laki itu keluar dari kamarnya, Julian hanya
berdehem, “Pak hari ini anda-” belum sempat Anna menyelesaikan kalimatnya.
“Kamu tidak lihat saya
sedang sarapan.” Julian cetus, gadis itu menarik napas dalam kemudian ikut
menyantap sarapanya, setelah selesai Julian langsung beranjak dari tempat
duduknya.
“Pak hari ini ada rapat
setelah makan siang bersama perusahaan-” Anna memberhentikan ucapanya, saat Julian
menutup pintuh apartemenya. Bagaiman ia tahan tinggal lebih lama lagi disini
dan berhadapan dengan bos galaknya itu, Julian bahkan tidak pernah berangkat
atau pulang bersama padahal mereka tinggal serumah.
“Oh,” Jawab Julian
datar “Kerjakan semuan ini, saya mau besok semuanya selesai.” Julian
menyodorkan tumpukan map berwarna biru, Anna hanya mengangguk, kemudian pergi
kemeja kerjanya, ia segera mengerjakan laporan yang Julian pintah, sampai jam
sepuluh malam tampak tumpukan itu belum setengahnya berkurang.
Julian kembali
keapartemenya, semua terlihat gelap, ia segera mandi dan berganti pakaian dan
kedapur, tidak ada makannan apapun, biasanya Anna akan memasakan sesuatu
untuknya saat pulang kerja, laki-laki itu menuju kamar Anna tampak kosong, mengapa
Anna belum pulang ini sudah jam sebelas? dengan cepat Julian meraih ponselnya.
“Kau dimana?”
***
“Ayo pulang!” teriak
Julian pada gadis yang masih sibuk dengan laporanya, Anna hampir saja
menjatuhkan map yang di pegangnya mendengar teriakan laki-laki galak itu,
beruntung Anna tidak memiliki riwayat penyakit jantung jika tidak, Anna yakin sekarang ia sudah meminggal karena serang jantung.
“Maaf pak saya sedang
mengerjakan tugas yang anda berikan.” jawab Anna tampa mengalihkan pandanganya
dari komputer di hadapanya. Julian menarik napas dalam ia mulai kesal, ia langsung
mengambil tumpukan map yang sedang di kerjakan Anna.
“Julian!” teriak Anna
ini pertama kalinya ia memanggil nama Julian
semenjak bekerja di kantor itu.
“Aku bilang pulang atau
besok aku akan menambahkan tugasmu lebih banyak lagi.” ucap laki-laki itu
datar.
“Maaf pak bukankan anda
__ADS_1
meminta saya menyelesaikan semuanya, karena besok anda memerlukaknya.”
“Aku tidak memerlukanya.”
Julian kemudian menarik wanita itu dan menyeretnya ke mobil, Anna melawan tapi
laki-laki itu tidak mebiarkanya.
***
“Cepat masak aku lapar.”
perintah Julian sambil duduk di meja makan, jadi ini alasan bos galak itu
menyeretnya karena ia kelaparan.
“Kenapa tidak makan di
luar saja, aku harus bekerja.“ jawab Anna ketus
“Aku tidak mau, dan
ingat aku bosmu.” Julian menatap Anna dengan sinis, rasanya Anna ingin mencekik
Julian saat ini juga, tapi percuma melawan ia akan kalah dengan laki-laki itu.
“Aku bukan istrimu.”
Anna bergumam, kemudian segera memasak untuk makan malam mereka.
***
Pak Anwar melewati
ruang kerja Anna dengan cepat Anna menghampirinya, ia harus meminta penjelasan lebih lanjut untuk tempat
tinggalnya nati.
“Maaf pak menganggu,
pak kira-kira kapan saya boleh pindah?”
Pak Anwar menjelaskan
kalau kantor belum menemukan tempat yang pas untuk Anna, gadis itu hanya bisa
menunduk tanda mengerti, ia bisa mengontrak rumah dengan uang pribadinya, tapi
kontrak itu, pak Anwar dan Julian terus mengancamnya jika pindah.
****
“Kita mau kemana?” Anna
bertanya, karena tadi pulang dari kantor Julian memaksanya ikut kedalam
mobilnya, Julian tidak menjawab hampi setenga jam ia memberhentikan mobil sprotnya di sebuah butik
“Pakai ini.” Julian menyodorkan
“Untuk apa?” Anna
mentap gaun di tangan Julian.
“Besok Lucy wisudah kau
diundang kesana.” jawab Julian datar.
***
Anna tampak cantik
dengan gaun ungu muda pilihan Julian, mereka berdua segera berjalan memasuki
gedung dimana Lucy wisudah tidak lupa Anna membawa seikat bunga untuk Lucy.
“Anna, kau datang.”
teriak Lucy kemudian memeluk wanita itu.
“Aku yakin kak Julian
pasti akan membawahmu.” tambahnya, Anna juga bertemu Rudi dan Maria tampak mereka
semua akrab.
“Jadi bagaimana
pekerjaanmu?” tanya Maria saat di mereka sampai di meja restoran ternama
“Baik tan, eh Mom.”
“Apa Julian bersikap
baik padamu ?” Maria bertanya sekalih lagi,
“Mana ada Julian bersikap baik, setiap hari ia marah-marah dan memberiku
banyak tugas, entah itu tugas seorang sekertaris atau bukan bahkan aku harus
membuat laporan yang sama sebanyak sepuluh kali tanpa harus mengkopynya dan
mengetik ulang semuanya?” rasanya Anna ingin mengucapkan itu semua agar
keluarga Alexander tahu bagaimana tingkah anaknya di kantor
“Oh, baik Mom, dia
sangat baik padaku.” Anna tersenyum tampak senyum di paksakan. Selesai makan
malam Julian dan Anna memutuskan pulang.
“Kenapa berbohong?”
ucap Julian sesaat sebelum Anna membuka pintuh kamarnya.
“Aku tidak berbohong.”
__ADS_1
Jawab Anna acuh
“Sudalah, kau sangat
membenciku, karena sikapaku” enjek Julian
“Kalau aku berkata
jujur apakah kau akan mengubah sikap mu?” tampak keduanya menatap sinis satu
sama lain.
*****
Di kantor saat makan
siang Wil segera mendekati Anna yang tampak tidak besemangat menyantap makan
siangngya
”Anna kau baik-baik
saja?”
“Apa
aku terlihat baik? ini semua karena mu.” Jawab Anna kesal
“Maafkan aku.” Wil
kemudian mengelus punggung temanya ia tahu Anna tersiksa karena sikap Julian
yang seenaknya, awalnya Wil berpikir Julian akan bersikap lebih baik pada Anna
tetapi malah sebaliknya, perlakuan Julian pada sahabatnya itu terbilang paling
buruk diantara mantan sekertarisnya yang dulu.
“Kau tahu Wil, aku
benar-benar tidak tahan, tigs bulan bekerja disini sudah seperti seabat aku
bekerja di neraka, Julian terus marah-marah tidak jelas, padahal aku sudah
mengerjakan semua sesuai keninginanya, tapi ada saja alasanya untuk memarahiku,
aku ingin keluar tapi tidak bisa karena kontrak itu.”
***
“Ke ruangan saya
sekarang.” Julian mematikan telponya, tidak berapa lama Anna masuk keruangan
itu, Julian memberikan setumpuk laporan padanya, Anna segera mengambilnya ia itu
Julian menyuruh mengerjakan semuanya.
Sudah jam lima sore
Anna segera pulang dan memasak makan malam, setelah selesai ia harus
membersikan apartemen itu, barula ia bisa kembali ke kamar untuk mengerjakan
semua tugasnya, sudah lebih dari semingu ia mengerjakan tugas yang tiada henti,
Julian benar-benar menyiksanya sekarang, bahkan di hari minggupun Anna harus
tetap mengerjakan laporannya dan mengatur jadwal Julian.
Anna sedang duduk di
ruang tamu sambil mengetik laporanya, ia terlalu bosan di kamar, tampak Julian
duduk di sofa di samping Anna, laki-laki itu segera memutar film kartu
kesukaanya sesekali ia tertawa keras, Anna segera merapikan map dan laptopnya
kemudian pindah kekamar, mana mungkin ia bisa mengerjakan tugas dengan baik
kalau Julian terus menganggunya dengan suara tawahnya yang kencang melebihi suara
televisi.
Biasanya juga Julian
tidak tidak pernah mau menonton di ruang tv ia akan lebih memilih menghabiskan
waktu seharian di kamarnya dan hanya keluar bila Anna memanggilnya untuk makan
atau memberikanya laporan yang telah Anna selesaikan.
Anna segera menyerahkan
laporan yang Julian mintah dan mencatat jadwal laki-laki itu.
“Minggu depan anda
harus ke Surabaya untuk kunjungan bisnis.” Anna menginggatkan, Julian hanya
mengangguk, Anna segera pergi meninggalkan ruangan itu, hanya dalam lima menit
ponselnya berbuyi tampak pesan singkat disana.
From Julian
Kamu
harus ikut ke Surabaya.
Anna hanya bisa menarik
napas dalam, “Apa lagi yang akan di lakukan Julian kali ini, ia benar-benar
ingin membunuh ku sekarang.”
***
__ADS_1