
Jack melemparkan sebuah buah berwarnah merah “Ini untuk mu, karena menolongku hari ini.” gadis itu menangkap buah apel itu dan memasukanya dalam tas.
“Kuanggap apel ini sebaai ucapan terimakasihmu, Jack.”
Bintang di langit begitu terasa hangat, berkerlap kerlip menyapa siapapun yang menatapnya, para bintang itu tampak sedang berlombah seperti seorang model menunjukan siapa yang yang paling indah diantara mereka.
“Ini pertama kalinya aku merasa sangat dekat dengan kalian.” Anna berbaring di tanah menatap langit dan berusaha mengapainya.
Tapi tiba-tiba muka Jack muncul di hadapan Anna, menghalangi pandangan gadis itu.
“Belum tidur?” Jack merebahkan diri di samping gadis itu.
“Aku sedang bermiimpi Jack?” jawab Anna sinis. Jack tampak mengangguk mendengar ucapan Anna.
“Mereka sangat indah.” Jack menatap bintang-bintang yang berkerlip, Anna hanya berdehem mengiyahkan ucapan pria itu “Tapi kau lebih indah dari bingtang itu, kau adalah bintangku Anna.”
Anna menoleh pada Jack yang memejamkan mata, ia seolah mendengar pria itu berbisik tidak jelas “Bagaimanapun terimakasih telah menyelamatkan kami.” Gadis itu hanya diam ia kembali menatap para bintang.
“Aku ingin pulang” bisik Anna.
Jack terdiam sesaat entah mengapa, ia tiba-tiba tidak suka mendengar kata pulang.
“Aku akan membantumu pulang bagaimanapun caranya, aku berjanji.” Jawab laki-laki itu mantap. “Ya dulu aku berjanji akan membawamu kembali ke tempat asalmu, sekarangpu sama aku akan menepati janjiku.”
Anna mencobah memejamkan matanya yang mulai lelah, ia merasakan sebuah tangan sedang merabah kulit tanganya dengan lembut, sontak Anna membuka mata kembali.
“Kau tergigit kalajengking juga? ini bekas gigitannya kan?”Jack mengegam tangan itu, tangan yang tampak mungil baginya.
__ADS_1
Gadis itu memperhatikan tangan kanan tepat di bagian yang Jack tunjukan tadi, “Iya sepertinya begitu, karena aku tidak sadarkan diri tadi.” Anna menarik tangannya, sebenarnya gadis itu tidak ingat kapan ia tergigit hewan yang bernama kalajengking itu, mungkin karena ia terlalu sibuk menangis dan ketakutan sehingga tidak merasa sakit saat tergigit.
Jack mengangguk “Apakah itu sakit?“
“Sedikit.” Jawab Anna singkat, padahal ia baru menyadari kalau rasa di gigit kalajengking bagaikan tertusuk jarum dan jarum itu sulit di keluarkan dari kulitmu, benar itu sangat sakit bila di sentuh.
“Aku juga mendapat gigitan di tangan, kaki dan leher.” kemudian pria itu membuka bajunya, memperlihatkan dadan dan perut pria itu terlihat kotak-kotak, tapi tidak terlalu besar. Jack menunjukan bekas gigitan di bagian perut dan dada juga di punggung, kemuadia dia mencoba melepas celananya, belum sempat Jack membuka celananya, Anna sudah menendangnya hingga terjatuh.
“Auh, itu lebih menyakitkan dari pada digigit kalajengking.” Jack meringis mengelus tulang kering kakinya, “Gadis ini benar-benar kasar, kau akan menerima balasannya nanti,cantik.” gumanya dalam hati.
“Kalu mau telanjang jangan disini!” Anna berbalik dan berusaha memejamkan mata.
Jack masih kesakitan lalu tertawa “Siapa juga yang ingin telanjang?” bisiknya tepat di telinga kiri Anna. Ia bisa merasakan hembusan napas Jack yang terasa hangat. Reflek tangan gadis itu langsung menampar wajah yang ada di sampinya, kali ini Jack menjerit sambil mengusap pipinya yang terasa panas, wajahnya terlihat sangat kesal.
Anna menahan senyum “Nyamuk, kenapa banyak sekali.” gadis itu berpura-pura mengigau.
Sebelum fajar Lily membangunkan Anna, dia memberi tahu kalau mereka harus berangkat sekarang, dengan sigap gadis itu bangun dari tempat tidurnya, ia langsung merapikan barang-barangnya.
Roberto sudah menunggangi kudanya begitu juga Lily. Anna menoleh mencari sosok temanya satu lagi tapi ia hanya melihat seekor kuda tanpa tuanya.
“Jack mana? “
“Aku disini nona, apa kau merindukanku?” jawab Jack sambil mengangkat beberapa botol air, dia memberikan satu persatu botol air yang terisi penuh. Anna hanya tersenyum sambil meraih botol yang di berika Jack walau hatinya terasa jengkel atas tingkah pria itu.
Mereka melanjutkan perjalanan, perjalanan yang sangat panjang dan belum tahu kapan mereka akan sampai ke jutuan, Matahari mulai keluar dari persembunyian, mereka terus memacu kuda tiada henti. Bahkan saat Matahari telah berada diatas kepala, membuat mereka merasa sangat panas, dan rasa haus sudah mencekik leher Anna. Dari tadi ia mencoba mencari botol minuman yang tadi Jack berikan tapi tidak ada waktu.
Jack yang memimpin perjalanan tiba-tiba berhenti. “Ini kesempatan untuk minum.”Anna meneguk air yang terasa sangat manis baginya.
__ADS_1
“Guruh lihat!” Jack menunjuk sebuah perkampungan yang berada di depan mereka.
“Itu penduduk lokal Jack, kita harus mengisi persediaan kita.” Roberto menjelaskan.
”Baik guru.” jawab Lily singkat.
Tatapan tidak bersahabat tampak dari mata penduduk desa, pada empat orang asing para penduduk desa seakan melihat mereka sebagai penjahat yang akan mengobrak-abrik perkampungan itu. Memang disana tidak terlalu ramai.
“Maaf tuan, apa nama tempat ini?” Roberto bertanya pada seorang laki-laki yang terlihat gugup.
“Desa Elevats.” jawab penduduk singkat dengan bibir bergetar, Roberto mencoba menenangkan memberitahu kalau mereka tidak bermaksud jahat.
“Dimana kami bisa menemui tetua desa ini?” penduduk itu menunjuk rumah yang paling besar.
“Tuan Otto.“ Kemudian penduduk desa itu pergi sambil berlari terbirit-birit, seola melihat hantu? Padahan mereka belum sempat mengucap terikasih pada orang itu.
Mereka tiba di depan rumah besar yang terbuat dari kayu, di samping rumah itu terdapat kandang kuda. Seorang pria botak umurnya sekitar empat puluh tahun keluar dari rumah itu.
Mereka berempat berusaha tersenyum walau sangat kaku. Tiba-tiba laki-laki botak itu menarik Roberto dan memeluknya
“Temanku ramalan itu benar?” bisiknya pada pria berjenggot putih itu.
Roberto menganguk. Laki-laki botak menganghampiri Anna, gadis itu mencoba mundur selangkah untuk menghindarinya.
Anna benar-benar merasa takut dengan laki-laki itu, ia mirip algojo atau pembunuh bayaran dengan tubuh yang besar, dan otot lengannya pun tidak kala besar. Laki-laki itu tersenyum lembut tapi tetap terlihat menakutkan bagi Anna, Lily langsung berdiri tepat di depan Anna berusaha melindunginya.
“Selamat datang Anna.” pria botak itu menyapa dengan rama, Anna berusaha tersenyum walau dengan senyum kaku, gadis itu bingung.
“Dari mana dia tahu manaku?’ pikirnya dalam hati.
“Aku akan membantumu sebisahku. Apapun yang kamu butuhkan katakan pada ku.” tawar si peria botak.
__ADS_1