
Miow-miow...
Suarah yang sangat Anna kenal, tentu saja ia sangat menyukai makhluk berbulu lembut satu itu.
“Kucing.” bisik Anna sambil menoleh kearah ruang dapur di sebelah tempat duduk mereka makin lama makin keras.
“Mari kesini Lily.” Roberto memanggil kucing itu, kucing hitam yang lucu dengan warna mata hijau menyala, tidak beberapa lama kucing itu segera melompat tepat diatas meja.
“Wah kucing yang lucu.” Anna langsung mengelus bulu harus milik Lily, gadis itu langsung mengedong kucing hitam tepat di dadanya, tiba-tiba Lily melompat sambil ngeram kucing itu tampak marah dan kemudian...
Lily berubah menjadi seorang gadis yang cantik berkulitnya putih bersih, rambutnya panjang sepinggang berwarnah coklat tua, hidungnya macung dan bibirnya tipis berwarna merah. Lily lebih tinggi dari pada Anna tapi tidak lebih tinggi dari pada Jack, usianyapun hampir sama dengan Jack.
Lily kemudian melotot menatap Anna memperlihatkan bola matanya berwarna hijau sungguh sangat indah dan tajam. Anna sendiri masih tidak percaya apa yang baru saja dilihatnya.
“Kucing berubah jadi manusia? Waw ini benar-benar keren, ini mirip seperti film.” gadis itu masih tampak kagum selama ini ia hanya melihat sihir yang menakjubkan itu hanya ada dalam film-film, tapi sekarang menjadi nyata di depan matanya, siapapun pasti akan tidak percaya, kagum, binggung, entalah semuanya campur aduk. Tapi bagaimana ia melakukannya?
Jack tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu, Roberto hanya tersenyum melihat Anna yang masih melongo dan mulutnya mengangah lebar, seandainya ada lalat lewat mereka bisa bebas masuk ke dalamnya, sudahlah jangan di bayangkan.
“Jangan berniat jahat pada seseorang, yang satu ini tidak akan mempan.”Jack mencibir
sahabatnya Lily.
“Apakah itu Anna? anak itu sudah datang?” Lily bertanya, yang di jawab angukan Roberto. Tentu saja gadis itu datang ke negeri yang asing yang membuatnya binggung dan yang pasti gadis itu ingin segera cepat terbangun dari mimpi aneh ini.
“Apakah, masih ada kejutan lagi?” Anna menarik napas dalam “Aku harus mempersiapkan jantungku agar tidak berhenti mendadak melihat ini semua.” Mereka tertawa mendengar penyataan Anna, seolah gadis itu adalah seorang pelawak yang sedang tampil menghibur mereka.
Anna hanya memancungkan mulutnya, merasa kesal pada mereka semua bukannya membantu gadis itu kembali, tapi malah menertawakanya sekarang.
“Ayo kota makan, Lily telah mempersiapkan makan siang, setelah itu harus berjalan secepatnya, Lily akan kepasar membeli beberapa pakaian dan bekal yang akan di butuhkan selama perjalan.
Jack akan berjaga-jaga, Anna, kamu boleh istirahat setelah makan, kita akan menuju perjalanan yang sangat panjang.” Jelas Robert, setelah membagi tugas, mereka harus bergegas, selain itu mereka tidak tahu akan menghadapi bahaya apa yang ada selama di perjalanan nanti.
__ADS_1
Setelah makan Anna membantu Roberto membereskan meja makan, walau Anna baru beberapa saat bertemu Roberto tapi ia sudah merasa sangat akrab terlebih lagi sifat pria paru baya itu yang sangat ramah dan baik pada Anna, bukan hanya Roberto, Lily pun sama ia sangat ramah dan baik, mereka semua membuat siapapun yang berada di dekat mereka akan menjadi nyaman dan akrab.
Satu hal yang membuat Anna merasa binggung melihat seorang pria yang tertidur di kursi kayu di samping pintu masuk siapa lagi kalau buka Jack.
“Seharusnya ia bejaga bukanya tertidur.” Anna membatin.
Lily dengan cepat menunggangi kudanya setelah berpamitan pada Roberto dan Anna, ia akan pergi membeli beberapa kebutuhan yang akan di gunakan dalam perjalanan nanti. Sebuah senyumam terukir dari bibir wanita yang memiliki mata berwarnah hijau. Kemudian memacu kudanya dengan cepat mengikuti arah angin hanya dalam beberapa detik Lily sudah lenyap dari pandanga mata Anna.
Anna masih terteguh melihat Lily bisa dengan cepat menghilang hanya dengan menunggangi seekor kuda, kecepatan kuda itu luar biasa, ia bisa mennyamai mobil balab yang sedang bertanding.
“Berapa jauh Roberto pasarnya?” Anna menatap Roberto yang sedang duduk di meja kayu.
“Kurang lebih tiga hari jika kau mengikuti jalan yang benar.” jawab pria paru baya itu.
Gadis itu membulatkan matanya mendengar jarak yang sangat jauh, tiga hari bukan waktu yang singkat itu sangat lama hanya untuk kepasar. Kalau di Jakarta pasar ada di mana-mana jaraknya tidak terlalu jauh mungkin hanya memerlukan waktu bebera menit tidak akan memakan waktu berhari-hari yang pastinya.
“Tiga hari, bukankah kau bilang kita harus pergi malam ini? Lily akan ikutkan?”
“Tentu saja Lily akan ikut, sihir Lily bisa Teleportasi, ia dengan muda menuju tempat yang ia inginkan dari pikiranya, itu salah satu keahliannya.” jelas Roberto.
“Kenapa kita tidak ketempat itu mengunakan sihir Lily, itu akan sangat muda dan aku akan pulang secepatnya.” Anna mengungkapkan idenya dengan semangat, tentu saja jika ada jalan yang lebih cepat ia akan memilih itu.
“Sihir Lily tidak sekuat seperti apa yang kau bayangkan Anna, hanya orang terpilih yang akan bertahan di tempat itu, dan hanya dua kemungkinan yang pertama penyihir akan mati dan yang kedua kekuatannya akan menghilang bila sampai di sana.” Roberto menjelaskan dengan muka yang agak sedih.
Selama ini banyak penyihir yang berusaha mencari tempat itu tapi gagal, kalaupun mereka menemukannya mereka tidak akan berhasil masuk kesana, semuanya akan mati atau pulang dengan cederah parah dan kekuatanya menghilang, entah kutukan apa yang ada di sana tempat itu telah banyak memakan korban bagi siapa saja yang bermaksud jahat mengusik tempat itu.
“Tidurlah nak, kau akan butuh istirahat.” Roberto mengajak gadis itu ke kamarnya.
Ruangan itu tidak terlalu besar hanya berukuran tiga meter kali dua meter, di dalamnya hanya terdapat tempat tidur dari kayu yang dilapisi buluh hewan dan sebuah kotak besar seperti peti yang terbuat dari kayu, serta sebuah jendela yang sedang terbuka memperlihatkan pemandangan kebun apel yang tidak terlalu jauh dari sana, ya kebun apel yang tadi Anna dan Jack kunjungi.
“Benar yang Roberto katakan, aku perlu istirahat, aku sangat lelah dari semalam.” Pikirnya.
__ADS_1
Gadis itu membaringkan tubuhnya yang terasa sakit dan pegal, hembusan angin yang menerpa wajahnya bagaikan nyanyia yang indah sebagai pengantar tidur tidak beberapa lama ia terlelap.
***
Bayangan seorang gadis mulai muncul, tampak ia sedang berada di belakang air terjun besar yang mengalir deras, gadis itu terus melangkahkan kakinya menyelusuru gua di dalamnya, ia berlarih terus mencari jalan pulang, ia terus berlari keringat terus membasahinya, gadis itu merasa sedang di kejar oleh sesuatu yang sangat mengerihkan, ia terus menyelusuri jalan tak tentu arah tanpa disadari gadis itu sudah berada di gunung es.
Gadis itu menatatp langit tampak ada bulan purnama dan matahari berada sejajar, gadis itu menunduk kebawah entah kapan dia sudah berada diatas puncak gunung es itu, tampak labirin di bawahnya, labirin yang sangat besar sejauh mata memandang. Seorang laki-laki dengan mahkota tertawa, tetapi dengan mata menyala merah di hadapanya, gadis itu berlahir menjauh hingga ia terjatuh.
“Anna..., Anna bangun, apa yang terjadi?” seorang pria berbaju hitam memengang bahu gadis yang tampak berkeringat dan berteriak tetapi matanya tertutup, tampak jelas raut ketakutan yang terlihat di wajah gadis itu.
“Apa yang kau lihat Anna?” suarah Roberto membuat Jack melepaskan bahu gadis itu.
“Air terjun, tepatnya goa di dalam air terjun dan labirin itu ada di bawah gunung es, matahari dan bulan berada sejajar di atas puncak gunung es itu dan ada laki-laki bermahkota sedang tertawa, matanya menyala berwarnah merah, aku berlahir hingga aku terjatuh.” Jelas Anna dengan bibir gemetar, ia masih merasa ketakutan atas mimpi anehnya.
“Itu raja Reaves,” Roberto terlihat gelisa, begitu juga Lily dan Jack.”Tapi kau berhasil menemukan jalanya, Anna.” Roberto tersenyum “Kita harus berjalan cepat ke Utara. Lily kau tahu kita harus kemana?”
“Tentu saja guru.“ jawab Lily cepat.
“Anna kau harus menutupi pakaian pakianmu, kita akan berjalan jauh dan melewati penduduk lokal.” perintah Roberto, Anna menunduk memperhatikan pakainannya, ia baru sadar dari awal ia datang ia masih mengenakan pakaian yang ia gunakan sebelum tidur yaitu sebuah kaus berlengan pendek berwarnah coklat dan celana toreador berbahan karet lembut berwarnah hitam pekat.
Lily menyodorkan pakaian yang berwarnah coklat terbuat dari bahan katun lembu mirip gaun yang sangat bagus, baju itu memiliki model yang sama seperti yang di kenakan Lily, selain gaun ia juga memberikan Anna jaket dari kulit hewan dan sepatu.
“Terimakasih Lily, ini sangat pas untukku.” Anna tersenyum setelah mengenakan pakain yang Lily berikan.
“Tentu saja, aku mempunyai selerah yang bagus.” Lily tersenyum puas
“Kita akan pergi setelah makan malam terahir kita.” Jack berdiri didepan pintu kamar.
“Makan maklam terakhir ?” Anna tampak binggung.
“Ya, tidak ada yang tahu besok apakah kita masih hidup atau sudah mati, ini merupakan perjalan panjang dan sangat melelahkan.” jelas Jack kemudian pergi meninggalkan Lily dan Anna.
__ADS_1
Di meja makan telah tersaji daging rusa panggang, sup kentang dan tentu roti kering, mereka tampak lahap menghabiskan makan malam.