
Julian dan Demitri akan
pergi nonton begitu juga Anna, gadis itu terpaksa ikut karena Demitri terus
merengek padanya, Anna tidak tahan jika mendengar adik satu-satunya jika
merengek lebih dari pada perempuan. Mereka memilih film kartun sesuai pilihan
Demitri dan Julian, Anna hanya bisa mencibir, dua laki-laki tidak ada
romantis-romantisnya.
Memasuki ruang teater
Julian dan Anna duduk paling ujung dan Dimeteri di tengah, mereka bertiga
tampak asik tertawa melihat kelucuan tokoh kartun itu hampir dua jam film itu
berakhir, selesai menonton mereka pergi kearea bermain, ini sebenarnya untuk
anak-anak tapi Demitri menantang Julian bermain basket, Anna seperti obat
nyamuk melihat tingkah dua laki-laki itu yang seperti anak kecil dengan malas
gadis itu mengikuti.
Tidak jauh disana
sesuatu membuat gadis itu tersenyum, apa lagi kalau bukan tokoh buku yang
sedang diskon besar-besaran dengan cepat Anna melangkahkan kaki kesana memilih
beberapa novel dan komik.
“Jadi kau prustasi
tidak jadi menikah?” Suara laki-laki yang sangat ia kenal sedang mengejeknya.
“Bukan urusanmu,” jawab
Anna ketus, ia terus membaca komik di sana tanpa menghuraukan Julian yang
berdiri disampingnya, bahkan Anna bisa mendengar laki-laki di sampingnya ini
sedang terkekeh padanya “Sial kau Julian.”
“Ayuk, ayo pulang,”
Demitri mendekat tampak tersenyum lebar “Ibu sudah menelpon tadi.” Demitri
menginggatkan dengan cepat Anna dan Julian pergi kehalaman parkir dan meluncur
pulang, sepanjang jalan Anna hanya diam, Demitri tidak berhenti berceloteh
dengan Julian yang duduk di sampingnya.
Saat makan malam mereka
semua tampak akrab, kecuali Anna yang masih kesal dengan ucapan Julian, benar
laki-laki itu terus mengejeknya.
***
Gadis itu telah tiba di
bandara seorang diri ia melihat seorang laki-laki paru baya menghampirinya.
“Nona Berlian.” sapa
laki-laki itu, Anna tersenyum lalu mengikuti laki-laki paru baya itu yang
ternyata bernama pak Anwar, ia adalah utusan kantor tempat Anna akan bekerja
nanti, mereka segera meluncurkan mobilnya menujuh salah satu apartemen mewah di
Jakarta.
“Nona Berlian untuk
sementara tinggal disini.” laki-laki itu membuka pintuh, tampak apartemen itu
sangat mewah dengan gaya klasik, semua perabotanyapun terlihat sangat mahal.
“Apa tidak salah pak
saya tinggal disini?” mana mungkin seorang staf biasa tinggal diapaertemen
semewah ini, walaupun ini fasilitas kantor tapi ini tidak cocok dengan Anna.
“Maaf sebelumnya, pihak
kantor sedang mencarikan apartemen untuk anda, tapi untuk sementara anda
tinggal disini dulu, apartemen ini sudah kosong sejak beberapa bulan lalu.”
jelas pak Anwar.
“Sebaiknya saya cari
kontrakan saja pak.” jawab Anna yang malai merasa aneh dengan semua ini.
“Maaf nona, ini sudah
sesuai dengan kontrak, anda harus bersedia di tempatkan dimana saja dan pihak
kantor yang akan mempasilitasinya, jika anda menolak tinggal disini sama
__ADS_1
artinya anda melanggar kontrak,” Jelas pak Anwar dengan nada mengamcam, “Ini
kunci apartemennya, anda akan tinggal sendiri, besok anda sudah harus mulai
bekerja, anda boleh mengunakan semua fasilitas yang ada, tapi jangan pernah
masuk kekamar itu.” pak Anwar menunjuk pintuh kayu berwarna hitam, kemudian
meninggalkan Anna.
Anna masih tidak
percaya mimpi apa semalam hingga hari ini dia bisa tinggal diaparteren mewah
seperti ini, ia melangkahkan kaki menuju dapur karena merasa lapar tampak semua
persediaan di kulkas terisi penuh dengan cepat gadis itu memasak, sebelum
akhirnya memutuskan untuk istirahat di kamar yang sangat mewah.
Esok harinya gadis itu
menaiki bus menuju kantornya sesuai alamat yang di berikan pak Anwar kemari,
tiba-tiba tubuhnya membeku saat melihat tulisan di depan gedung itu Alexander
Grup bagaimana bisa perusahaan tempat ia bekerja adalah milik Alexander Grup,
itu bearti ia akan sering bertemu Julian, bos galak menurut Wil, Wil ya, wanita
itu masih bekerja disana dengan begitu ia bisa berkumpul dengan teman lamanya.
Anna di tugaskan
sebagai staf biasa, tidak ada yang spesial selama ia bekerja, ia juga sering
menemui Wil saat makan siang, tapi ada satu yang aneh Julian, laki-laki itu
tidak pernah terlihat padahal sudah hampir sebulan Anna bekerja disana.
****
“Bodoh, bagaimana kamu tidak
memberitahu saya jadwal rapat hari ini ha?!” teriak seorang laki-laki dengan
keras pada sekertarisnya.
“Ma, maafkan saya pak,”
jawab sang wanita, tampak mukanya pucat pasih, ia benar-benar lupah memberitahukan
bosnya untuk mengajakan rapat setelah kunjungan keluara kota minggu lalu, ini
memang kesalahnya.
“Keluar, kamu saya
mendengaranya membeku begitu juga wanita itu, dengan berat hati wanita itu
mengikuti perintah mantan bosnya, karena ia telah di pecat, padahal ia baru bekerja
selama dua bulan di kantor itu.
“Wil carikan saya sekertaris baru, jika dalan
satu jam kamu tidak berhasil kamu saya pecat.” Julian segera menutup telponya,
laki-laki itu sangat kesal bagaimana semua orang tidak bisa bekerja sesuai
keinginannya, padahal mereka mendapat gaji yang besar.
Wil langsung menelan
ludahnya, bagaimana bisa mendapatkan seorang sekertaris dalam satu jam, bosnya
selalu memecat sekertarisnya jika beberbuat salah, belum lagi sikap Julian yang
seenaknya, paling lama juga tiga bulan seorang sekertaris bekerja bersamanya,
semua pasti mengundurdurkan diri karena sikap seenaknya dari Julian.
Wil terus berpikir
sudah hampir satu jam ia membuka CV pelamar kerja, dan menghubungi mereka
satu-satu untuk datang saat itu juga, tapi gagal tidak ada yang bisa datang
hanya dalam hitungan menit ke kantor ini, belum lagi harus melewati tes
wawancara, psikologi, ah... dunia seakan kiamat sekarang.
***
“Pemisi pak,” Wil
membuka pintu dengan gemetar diikuti seorang wanita di belakangnya.
“Ini pak orangnya,” Wil
menunjuk wanita di sampingnya, Julian menatap sinis pada wanita itu begitu juga
sebaliknya .
“Anna akan menjadi sekertaris anda mulai sekarang.” jelas Wil
“Apa?!” Anna berteriak,
__ADS_1
tadi Wil mengajaknya keruangan itu dengan alasan harus menyerahkan laporan yang
di buatnya bukan jadi sekertarisnya.
“Wil kita perlu bicara.”
“Lima menit.” Julian
membuka suaranya.
Anna segera menyeret
keluar temanya dengan tatapan kesal, marah dan bingung .
“Maafkan aku Anna, aku
terpaksa melakukannya, pak Julian baru saja memecat sekertarisnya dan ia butuh
sekertaris baru dalam satu jam, aku sudah menghubungi semua pelamar kerja tapi
tidak ada yang bisa datang sekarang dan kau bukankah kau berpengalaman jadi
sekertaris dulu.” Jelas Wil.
“Itu dulu, aku tidak
ingin jadi sekertaris Wil.” jawab Anna dengan kesal, walaupun ia jadi
sekertaris nantinya, ia tidak akan mau jadi sekertaris Julian.
Kedua wanita itu
melangkah memasuki ruangan Julian, mengambil beberapa berkas, Wil segera
menjelaskan semua jadwal dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan Julian, Anna
harus memberitahu semuanya pada Julian, dengan cara mengirim e-mail seminggu
sebelum kegiatanya atau bila perluh menelponya untuk menginggatkan, Anna
mencatat semuanya dengan cepat.
***
Sudah jam sembilan
malam saat Anna kembali keapartemenya, ia segera mandi dan menghempaskan
badanya di kasur, sudah satu minggu menjadi asisten Julian, laki-laki itu
selalu marah padanya, ia juga selalu bersikap dingin dan cuek.
Anna inggat kejadian dua hari yang lalu saat
mereka menghadiri rapat di luar kantor, Julian menyuruhnya untuk duduk dengan
meja yang berbeda, tampak Julian menikamati rapat sambil makan bersama
kolagennya, sedangkan Anna gadis itu bahkan tidak makan dan minum seharian
karena menunggui Julian.
Anna ke dapur memasak
makanana untuk makan malam tanpa ia sadarai seseorang masuk ke apartemen itu
dengan santainya, Anna melotot melihatnya.
“Kamar ku sedang di
renopasi.” kalimat itu yang keluar dari mulut laki-laki itu kemudian pergi
meninggalkan Anna yang masih melonghoh, tidak sampai sepuluh menit laki-laki
itu duduk di meja makan menghadap Anna, ia tempak mengenakan baju kaos berwarna
putih dan celana pendek selutut ia segera mengambambil piring, laki-laki itu
segera makan seperti tidak terjadi apa-apa.
“Kau, maaf pak maksud
saya, anda akan, tinggal disini?” Anna bertanya dengan nada pelan bahkan
seperti berbisik.
“Tentu,saja ini
apatemen saya, saya berhak tinggal disini.“ jawab Julian dengan nada dinginya.
Itu berarti Anna dan
Julian akan tinggal satu atap lagi, oh tuhan bagaimana ini, dulu kan ada kedua
orang tua Julian dan Lucy tapi sekarang mereka akan tinggal hanya berdua.
“Pak saya, maaf saya
akan pindah.” bagaimanapun Anna tidak bisa tinggal bersama Julian, cukup
seharian bertemu dikantor sudah membuatnya kesal dan sekarang mereka akan
tinggal bersama.
“Silakan baca kontrak
yang anda tanda tanda tangani, semua terserah anda.” Julian kemudian pergi
__ADS_1
setelah menyelesaikan makan malamnya, Anna hanya bisa tertunduk lemas, kontrak
sialan, aku tidak ada uang sebanyak itu untuk membayar dendanya.