Anna & Dream

Anna & Dream
24. Apel With love


__ADS_3

Julian dan Demitri akan


pergi nonton begitu juga Anna, gadis itu terpaksa ikut karena Demitri terus


merengek padanya, Anna tidak tahan jika mendengar adik satu-satunya jika


merengek lebih dari pada perempuan. Mereka memilih film kartun sesuai pilihan


Demitri dan Julian, Anna hanya bisa mencibir, dua laki-laki tidak ada


romantis-romantisnya.


Memasuki ruang teater


Julian dan Anna duduk paling ujung dan Dimeteri di tengah, mereka bertiga


tampak asik tertawa melihat kelucuan tokoh kartun itu hampir dua jam film itu


berakhir, selesai menonton mereka pergi kearea bermain, ini sebenarnya untuk


anak-anak tapi Demitri menantang Julian bermain basket, Anna seperti obat


nyamuk melihat tingkah dua laki-laki itu yang seperti anak kecil dengan malas


gadis itu mengikuti.


Tidak jauh disana


sesuatu membuat gadis itu tersenyum, apa lagi kalau bukan tokoh buku yang


sedang diskon besar-besaran dengan cepat Anna melangkahkan kaki kesana memilih


beberapa novel dan komik.


“Jadi kau prustasi


tidak jadi menikah?” Suara laki-laki yang sangat ia kenal sedang mengejeknya.


“Bukan urusanmu,” jawab


Anna ketus, ia terus membaca komik di sana tanpa menghuraukan Julian yang


berdiri disampingnya, bahkan Anna bisa mendengar laki-laki di sampingnya ini


sedang terkekeh padanya “Sial kau Julian.”


“Ayuk, ayo pulang,”


Demitri mendekat tampak tersenyum lebar “Ibu sudah menelpon tadi.” Demitri


menginggatkan dengan cepat Anna dan Julian pergi kehalaman parkir dan meluncur


pulang, sepanjang jalan Anna hanya diam, Demitri tidak berhenti berceloteh


dengan Julian yang duduk di sampingnya.


Saat makan malam mereka


semua tampak akrab, kecuali Anna yang masih kesal dengan ucapan Julian, benar


laki-laki itu terus mengejeknya.


***


Gadis itu telah tiba di


bandara seorang diri ia melihat seorang laki-laki paru baya menghampirinya.


“Nona Berlian.” sapa


laki-laki itu, Anna tersenyum lalu mengikuti laki-laki paru baya itu yang


ternyata bernama pak Anwar, ia adalah utusan kantor tempat Anna akan bekerja


nanti, mereka segera meluncurkan mobilnya menujuh salah satu apartemen mewah di


Jakarta.


“Nona Berlian untuk


sementara tinggal disini.” laki-laki itu membuka pintuh, tampak apartemen itu


sangat mewah dengan gaya klasik, semua perabotanyapun terlihat sangat mahal.


“Apa tidak salah pak


saya tinggal disini?” mana mungkin seorang staf biasa tinggal diapaertemen


semewah ini, walaupun ini fasilitas kantor tapi ini tidak cocok dengan Anna.


“Maaf sebelumnya, pihak


kantor sedang mencarikan apartemen untuk anda, tapi untuk sementara anda


tinggal disini dulu, apartemen ini sudah kosong sejak beberapa bulan lalu.”


jelas pak Anwar.


“Sebaiknya saya cari


kontrakan saja pak.” jawab Anna yang malai merasa aneh dengan semua ini.


“Maaf nona, ini sudah


sesuai dengan kontrak, anda harus bersedia di tempatkan dimana saja dan pihak


kantor yang akan mempasilitasinya, jika anda menolak tinggal disini sama

__ADS_1


artinya anda melanggar kontrak,” Jelas pak Anwar dengan nada mengamcam, “Ini


kunci apartemennya, anda akan tinggal sendiri, besok anda sudah harus mulai


bekerja, anda boleh mengunakan semua fasilitas yang ada, tapi jangan pernah


masuk kekamar itu.” pak Anwar menunjuk pintuh kayu berwarna hitam, kemudian


meninggalkan Anna.


Anna masih tidak


percaya mimpi apa semalam hingga hari ini dia bisa tinggal diaparteren mewah


seperti ini, ia melangkahkan kaki menuju dapur karena merasa lapar tampak semua


persediaan di kulkas terisi penuh dengan cepat gadis itu memasak, sebelum


akhirnya memutuskan untuk istirahat di kamar yang sangat mewah.


Esok harinya gadis itu


menaiki bus menuju kantornya sesuai alamat yang di berikan pak Anwar kemari,


tiba-tiba tubuhnya membeku saat melihat tulisan di depan gedung itu Alexander


Grup bagaimana bisa perusahaan tempat ia bekerja adalah milik Alexander Grup,


itu bearti ia akan sering bertemu Julian, bos galak menurut Wil, Wil ya, wanita


itu masih bekerja disana dengan begitu ia bisa berkumpul dengan teman lamanya.


Anna di tugaskan


sebagai staf biasa, tidak ada yang spesial selama ia bekerja, ia juga sering


menemui Wil saat makan siang, tapi ada satu yang aneh Julian, laki-laki itu


tidak pernah terlihat padahal sudah hampir sebulan Anna bekerja disana.


****


“Bodoh, bagaimana kamu tidak


memberitahu saya jadwal rapat hari ini ha?!” teriak seorang laki-laki dengan


keras pada sekertarisnya.


“Ma, maafkan saya pak,”


jawab sang wanita, tampak mukanya pucat pasih, ia benar-benar lupah memberitahukan


bosnya untuk mengajakan rapat setelah kunjungan keluara kota minggu lalu, ini


memang kesalahnya.


“Keluar, kamu saya


mendengaranya membeku begitu juga wanita itu, dengan berat hati wanita itu


mengikuti perintah mantan bosnya, karena ia telah di pecat, padahal ia baru bekerja


selama dua bulan di kantor itu.


 “Wil carikan saya sekertaris baru, jika dalan


satu jam kamu tidak berhasil kamu saya pecat.” Julian segera menutup telponya,


laki-laki itu sangat kesal bagaimana semua orang tidak bisa bekerja sesuai


keinginannya, padahal mereka mendapat gaji yang besar.


Wil langsung menelan


ludahnya, bagaimana bisa mendapatkan seorang sekertaris dalam satu jam, bosnya


selalu memecat sekertarisnya jika beberbuat salah, belum lagi sikap Julian yang


seenaknya, paling lama juga tiga bulan seorang sekertaris bekerja bersamanya,


semua pasti mengundurdurkan diri karena sikap seenaknya dari Julian.


Wil terus berpikir


sudah hampir satu jam ia membuka CV pelamar kerja, dan menghubungi mereka


satu-satu untuk datang saat itu juga, tapi gagal tidak ada yang bisa datang


hanya dalam hitungan menit ke kantor ini, belum lagi harus melewati tes


wawancara, psikologi, ah... dunia seakan kiamat sekarang.


***


“Pemisi pak,” Wil


membuka pintu dengan gemetar diikuti seorang wanita di belakangnya.


“Ini pak orangnya,” Wil


menunjuk wanita di sampingnya, Julian menatap sinis pada wanita itu begitu juga


sebaliknya .


“Anna akan menjadi sekertaris anda mulai sekarang.” jelas Wil


“Apa?!” Anna berteriak,

__ADS_1


tadi Wil mengajaknya keruangan itu dengan alasan harus menyerahkan laporan yang


di buatnya bukan jadi sekertarisnya.


“Wil kita perlu bicara.”


“Lima menit.” Julian


membuka suaranya.


Anna segera menyeret


keluar temanya dengan tatapan kesal, marah dan bingung .


“Maafkan aku Anna, aku


terpaksa melakukannya, pak Julian baru saja memecat sekertarisnya dan ia butuh


sekertaris baru dalam satu jam, aku sudah menghubungi semua pelamar kerja tapi


tidak ada yang bisa datang sekarang dan kau bukankah kau berpengalaman jadi


sekertaris dulu.” Jelas Wil.


“Itu dulu, aku tidak


ingin jadi sekertaris Wil.” jawab Anna dengan kesal, walaupun ia jadi


sekertaris nantinya, ia tidak akan mau jadi sekertaris Julian.


Kedua wanita itu


melangkah memasuki ruangan Julian, mengambil beberapa berkas, Wil segera


menjelaskan semua jadwal dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan Julian, Anna


harus memberitahu semuanya pada Julian, dengan cara mengirim e-mail seminggu


sebelum kegiatanya atau bila perluh menelponya untuk menginggatkan, Anna


mencatat semuanya dengan cepat.


***


Sudah jam sembilan


malam saat Anna kembali keapartemenya, ia segera mandi dan menghempaskan


badanya di kasur, sudah satu minggu menjadi asisten Julian, laki-laki itu


selalu marah padanya, ia juga selalu bersikap dingin dan cuek.


 Anna inggat kejadian dua hari yang lalu saat


mereka menghadiri rapat di luar kantor, Julian menyuruhnya untuk duduk dengan


meja yang berbeda, tampak Julian menikamati rapat sambil makan bersama


kolagennya, sedangkan Anna gadis itu bahkan tidak makan dan minum seharian


karena menunggui Julian.


Anna ke dapur memasak


makanana untuk makan malam tanpa ia sadarai seseorang masuk ke apartemen itu


dengan santainya, Anna melotot melihatnya.


“Kamar ku sedang di


renopasi.” kalimat itu yang keluar dari mulut laki-laki itu kemudian pergi


meninggalkan Anna yang masih melonghoh, tidak sampai sepuluh menit laki-laki


itu duduk di meja makan menghadap Anna, ia tempak mengenakan baju kaos berwarna


putih dan celana pendek selutut ia segera mengambambil piring, laki-laki itu


segera makan seperti tidak terjadi apa-apa.


“Kau, maaf pak maksud


saya, anda akan, tinggal disini?” Anna bertanya dengan nada pelan bahkan


seperti berbisik.


“Tentu,saja ini


apatemen saya, saya berhak tinggal disini.“ jawab Julian dengan nada dinginya.


Itu berarti Anna dan


Julian akan tinggal satu atap lagi, oh tuhan bagaimana ini, dulu kan ada kedua


orang tua Julian dan Lucy tapi sekarang mereka akan tinggal hanya berdua.


“Pak saya, maaf saya


akan pindah.” bagaimanapun Anna tidak bisa tinggal bersama Julian, cukup


seharian bertemu dikantor sudah membuatnya kesal dan sekarang mereka akan


tinggal bersama.


“Silakan baca kontrak


yang anda tanda tanda tangani, semua terserah anda.” Julian kemudian pergi

__ADS_1


setelah menyelesaikan makan malamnya, Anna hanya bisa tertunduk lemas, kontrak


sialan, aku tidak ada uang sebanyak itu untuk membayar dendanya.


__ADS_2