Anna & Dream

Anna & Dream
Episode 19 Alasan


__ADS_3

Matahari tampak telah keluar dari persembunyiannya, mereka berempat berpamitan dan berterimakasih pada semua warga desa karena membiarkan merekan tinggal sangat lama, semua orang terlihat sedih melihat kepergian mereka tidak terkecuali Lian, lelaki itu menangis terseduh-seduh.



“Apakah kau takut meninggalkan para wanita di desa ini?” Jack mengejek



“Diamlah Jack, mereka semua sudah kuanggap keluargaku!” jawab Lian dengan kesal.



Anna terlihat menghampiri kuda-kuda mereka, ia mengelus kuda putihnya yang terlihat gagah.



“Sudah lama tidak bertemu, aku merindukan kalian.” kuda putihnya langsung menunduk menekuk keempat kakinya mempersilakan tuanya untuk menaikinya.



“Bawahla aku ke gunung es, sebelum matahari dan bulan bersejajar.” perintah Anna pada kudanya, kuda putih itu langsung berlari meninggalkan desa diikuti Jack, Lily dan Lian.



Merekan terus berjalan menyelusuri hutan melewati pepohonan, dan sungai-sunggai, panas matahari seakan membakar kulit mereka. Beberapa penghuni hutan menyapa mereka terlihat rusa berlari mendengar kedatangan merekan memberilakan jalan yang lapang pada mereka begitu juga dengan burung-burung yang berterbangan diatasnya.



Matahari mulai terlihat lelah dan kembali ke peraduannya, bulan mulai menunjukan wujudnya. Mereka terus berpacu menyusuri pinggiran sungai, udarah malam terasa sangat menusuk.



“Sebaiknya kita beristirahat!” Anna berteliak, semuanya mengangguk tanda setuju.



“Di sana sepertinya aman!” Lian menunjuk pohon kayu besar di hadapan mereka.



Jack mencari beberapa ranting kering untuk menghidupkan api, Lily dan Anna membuka beberapa bekal mereka. Lian berjalan ketepi sunggai mengisi beberapa botol air.



“Apakah kalian ingin makan ikan!” Jack Lian, ia melihat beberapa ekor ikan yang sedang berenang dalam air sungai yang sangat jernih, itu sangat indah tapi lebih indah lagi kalau ikan itu bisa menganjal perut mereka.



“Tentu saja, asal kau bisa menangkapnya!” jawab Jack, sambil meletakan beberapa ranting kayu kering.



“Jangan meremehkanku Jack, hidupkan saja apinya, itupun kalau kau berhasil.” balas Lian sambil mengejek.



Api unggun dihadapan mereka menyalah dengan hangat, terdapat beberapa ikan yang berjejer diatasnya, makan malam kali ini lebih nikmat, beberapa lembar roti kering beserta ikan bakar segar membuat mereka kenyang, begitu juga dengan kuda mereka, yang melahap rimput segar di sepanjang sungai.



Anna melihat Lily yang tertidur, ia membenarkan posisi selimutnya agar Lily tidak kedingingan, tampak Lian tertidur di samping Jack, mereka tampak akur bila sedang tertidur. Gadis itu mencoba memejamkan matanya tapi tidak bisa.



“Ini pasti karena ia sudah tertidur selama empat tahum” gumannya,



Anna melangkahkan kakinya menghampiri kudanya, beberapa kali ia mengelus leher kudanya.



“Apakah kau lama menungguku? terimakasih kau menemukanku, maafkan aku meninggalkan kalian terlalu lama.” mungkin penyakit gila Anna sedang kembali kambuh, ia berbicara pada kuda seakan tidak ada manusia lagi untuk diajak bicara. Kuda putih itu hanya mengangguk-angguk seolah mengerti apa yang Anna bicarakan.



“Aku tidak tahu apakah setelah ini aku bisa kembali atau tidak.” gadis itu menarik napas dalam.



”Aku harap kau bisa menemukan tuan yang lebih baik dariku.” Anna kemudian menatap kudanya.“Terimakasih untuk semua perjalan ini.” tambahnya. Ia kembali ke tempat tidurnya mencoba memejamkan mata disamping Lily.



***



Matahari terasa hangat beberapa burung bernyanyi dengan merdunya, suarah gemericik air melengkapi nyanyian burung seperti sebuah lagu yang indah di pagi hari membuat semua yang mendengarnya merasa nyaman, mereka terbangun dan merapikan tempat tidur masing-masing, beberapa ikan bakar menemani sarapan mereka sebelum melanjutkan perjalanan mereka.



Jack memacuh kudanya diringi Anna, Lily dan Lian di belakangnya, perjalannan yang panjang membuat waktu tidak terasa, matahari tepat diatas kepala mereka, ketika angin topan menghadang mereka.



“Aneh tidak ada hujan dan badai mengapa ada angin topan” guman Lily



“Apa Raja reaves mengetahui Anna telah kembali?” tambah Lily.



Merekan memutuskan untuk menghindar dan berlindung tapi semakin lama angin semakin kencang, menerbangkan apapun di hadapannya, Lily mencoba menggunakan sihirnya untuk melindunggi merekan semua, begitu juga dengan Jack dan Lian.



Kuda-kuda mereka terlihat panik Anna mencobah menenangkan mereka semua, hampir satu jam merekan harus berdiam diri. Akhirnya angin topan itu menghilang.



Mereka melanjutkan perjalanan, udara semakin lama semakin menusuk, membuat mereka harus menggunakan mantel tebal yang mereka bawa, samar-samar terlihat puncak gung es dihadapan mereka, itu berarti perjalanan mereka sudah dekat.



Kuda-kuda mulai berpacu dengan semangat, hinggan mereka mualai menemukan beberapa tumpukan es di jalanan yang di lewati. Kemudian menyelusuri releng gunung yang licin dan dingin semua terlihat kelelahan semakin lama salju si sekitar gunung semakin banyak. haripun semakin gelap, udara benar benar menusuk tulang, mereka terus berjalan.



“Kita harus mendaki.” suarah Jack memecah kesunyian malam.



“Kau benar.” jawab Anna



“Kita tidak bisa membawah kuda kita.” tambahnya. Lily mengangguk tanda setuju.

__ADS_1



Lian turun dari kudanya, mereka semua menurunkan bawaan mereka.



“Sebaiknya kita membiarkan mereka kembali.” Jika kuda–kuda itu ikut akan beresiko mereka bisa saja terjatuh dan mati, itu pasti akan membuat Anna kembali sedih. Gadis itu tidak ingin kelihangan apapun atau siapapun sekarang, ia hanya ingin melindungi semua yang ada.



“Pergila kuda temukan tuan yang baru.” bisik Anna pada kudanya sambil mengelus kepala kudanya, kuda puti itu masih diam di tempat, tidak beranjak saat kuda lain meninggalkannya.



“Ayo Anna, kita harus bergegas!” Jack menginggatkan



“Iya, kau benar Jack.” jawab Anna kemudian meninggalkan kuda itu.



Mereka meninggalkan kuda-kuda sambil membawah tas yang berisi selimut dan beberapa makanan dan air, mereka berjalan hampir tiga jam, melewati tumpukan es berwarnah putih di sekitar mereka, tapi perasaan aneh muncul,ada sesuatu yang mengikuti dari belakang. Jack menyadari hal itu.



“Apa kau merasakannya?” Anna mengangguk



“Yakinkan dia sekali lagi.” tambah Jack. Sesaat kemudian Anna berbalik meninggalkan rombongan, gadis itu berjalan beberapa langkah.



“Keluarlah, aku tidak akan marah padamu.” ucapan gadis itu memperingatkan sosok yang mengikuti mereka, tidak berapa lama sosok putih berkaki empat keluar di balik pohon.


Gadis itu menarik napas dalam sejenak sebelum menghampiri kudanya. “Ada apa?” Anna mengelus leher kudanya.



****



“Sebaiknya kita beristirahat, sepertinya Anna perlu waktu untuk meyakinkan kudanya.” Lily memeberhentikan langkahnya.



“Aku juga suda sangat kedinginan” Lian terlihat mengigil.



“Aku akan membuat api, agar kita hangat.” Jack meninggalkan mereka berusaha mencari apapun yang bisa di gunakan untuk menyalakan api diatas tumpukan es.



Anna terus mengelus kuda putihnya “Bagaimana kau bisa melewati tebing itu?” Anna bertanya pada kudanya dengan heran. Hewan itu hanya diam sambil menunduk, tampak seperti orang yang sedang mengakui kesalahanya.



“Apakah kau sangat mengkhawatirkanku? Kau tahu, aku juga sangat mengkhawatirkanmu, aku tidak mau kau terluka.” Anna mencobah meyakinkan kudanya, ia benar-benar ingin kuda itu kembali bersama teman-temanya, bukan malah mengikutinya terjebak dalam gunung es yang sangat dingin.



“Aku harap kau menemukan tuan yang baru, yang bisa merawatmu dengan baik dan tidak akan pernah meninggalkanmu, bukan sepertiku.” Anna menjelaskan, kuda putih itu hanya menggeleng.



Lian menguap “ Tidurlah. “ bisik Jack,



Lian mengangguk lalu berbaring di samping Lily dan menarik selimut tenbalnya, rasa dinging menusuk tulang, api yang di buat Jack membantu mereka menjadi sedikit hangat.



***



Anna masih melihat kudanya berdiri tidak beranjak sedikitpun. Jack duduk di samping Anna.



“Apa yang harus kulakukan?” bisik Anna pada laki-laki di sampingnya.



“Sepertinya kita masih bisa menerima anggota baru.” Jack kemudian tersenyum.



“Baikla.” gadis itu juga ikut tersenyum, Anna menghampiri kudanya dan membawanya kedekat api agar merasa hangat.



“Tidurla, aku akan menjagamu Anna.” Jack berbisik. Gadis itu menyandarkan tubuhnya pada kuda putinya yang telah menekuk kempat kakinya.



***



Di tempat lain "Maaf Rajaku,hambah belum bisa menemukan mereka.” lapor seorang pengawal bertubuh besar pada rajanya. Seketika raja Reaves mengarahkan tanganya pada pria tersebut, pria bertubuh besar menjerit seakan terketik, tidak beberapa lama pria itu mati.



“Dasar bodoh!” Teriak raja Raeves.



“Maafkan hambah tuan.” lapor seorang wanita cantik sambil membukuk mengahadap rajanya.


Wanita itu membawah seorang laki-laki berumur dua puluh tahun ke hadapanya, laki-laki itu tampak dalam pengaru sihir, ia seperti orang bodoh mirip seekor kerbau yang di tarik tuanya.



“Katakan!” Raja Raves membuka suarahnya.



“Empat orang asing berada dalam kampungku, dua orang laki-laki dan dua orang perempuan, tapi seorang dari perempuan itu tidak sadarkan diri selama empat tahun, ia tidak bertambah tua, sedangkan kami bertumbuh semakin bertambah umur kami, maka semakin tuan pula kami.”



“Siapa namanya?” Raja Reaves bertanya


__ADS_1


“Gadis itu bernama Anna rajaku.” jawab laki-laki itu. Seketika muka raja Reaves merah padam menahan emosinya.



“Bunuh laki-laki itu sekarang cari gadis itu” Perintah Raja Raeves.



“Maafkan hambah rajaku, kami sudah kesana tapi mereka telah meninggalkan perkampungan itu.” jawab si wanita itu.



Raja Reaves semakin marah matanya melotot, terlihat jelas kilatan merah di mata itu.



“Cari dan bunuh mereka semua, perketat penjagaan di gunung es!” Perintah Raja Reaves.



“Aku yakin mereka akan ke labirin itu, bagaimana mungkin gadis itu masih hidup, mengapa sekarang aku tidak bisa merasakan keberadaannya.” gumamnya dalam hati.



****



Empat tahun yang lalu salah satu penyihir Raja Raeves berhasil menemukan gadis itu, ia sangat yakin gadis itu sudah mati. Saat itu Raja Reaves juga telah melihat jasad wanita itu, ia juga sudah memastikan dengan tanganya Anna benar-benar mati tapi mengapa gadis itu kembail hidup?



“Bodoh, mengapa aku tidak membakar jasatnya, mengapa aku hanya membuangnya di sungai.”



Raja Reaves tampak kesal, ia menyadari kebodohanya.



Saat itu raja Reaves sempat mencobah merampas kalung Anna tapi ia terlempar dan terluka parah, begitu juga para penyihir yang mengawal raja itu mereka juga terluka parah karena berusaha mengambil kalung itu. Raja tahu batu itu benar-benar kuat, karena itu para penghianat itu berusaha memperebutkanya.



Tapi mereka salah, raja Reaves tidak memiliki batu itu saat kejadian dua puluh tiga puluh satu tahun lalu, yang menyebabkan istri dan anaknya tewas.



Batu itu sudah menghilang dan tidak satupun yang pernah melihatnya sampai saat seorang penyihir datang, mengobati raja Reaves setelah penyerangan itu.



Flas back Raja Reaves.



“Raja ku, maafkan hambah, istri dan anakmu tidak seharusnya menjadi korban.” sang penyihir membuka suaranya.



“Apa maksudmu?” Raja Reaves bertanya



“Ini semua karna batu itu, batu yang di perebutkan para penghianat.“



“kau memilikinya?” tanya raja reaves



“Maafkan hambah rajaku”



“Jadi karena batumu, Ratu dan pangeran mati!” Suarah seorang wanita berteriak terdengart ia sangat marah.



“Hentikan selir Za, ini bukan urusanmu!” teriak sang raja



“Rajaku kebenaran akan terungkap, aku telah menjaga batu itu selama tujuh puluh lima tahun, kau hanya perlu sedikit bersabar.” jawab sang penyihir.



Seketika seorang wanita menyerang penyihir itu dengan belatih kecil, tepat menusuk punggung sang penyihir darah mengalir deras dari sana darah yang berwarnah merah kehitaman. Seketikan penyihir itu tidak sadarkan diri.



“Apa yang kau lakukan selir Za?!” teriak sang raja, laki-laki itu tampak terkejut atas tindakan selirnya, tidak seharusnya wanita itu melakukannya. Seharusnya, setiap tindakan kehajatan di negeri ini harus di buktikan dulu kebenarannya setelah itu baru sang penjahatan akan di jatuhi hukuman seberat-beratnya.



Selir Za, menangis tapi raut mukanya memancarkan kebencian yang mendalam pada sosok penyihir itu.



“Aku harus membalas dendam ratu dan pangeran, karena penyihir dan batu itu, telah menyebabkan ratu dan pangeran tewas.” selir Za sambil menangis terisak.



Raja mulai berpikir ‘Benar apa yang dikatakan selir Za, istri dan anaknya tewas karena penyihir ini dan batunya’ rasa benci mulai timbul dalam hati raja Raeves, ia harus menghancurkan batu itu.



Raja Reaves mengurung penyihir itu dalam penjara bawah tanah, tidak memberinya makan dan minum dalam waktu yang sangat lama hingga penyihir itu mati.



Raja memutuskan untuk membakar jenazanya dan membuanya ke sungai. Tepat malam harinya raja Reaves merasakan panas di dadanya, ia melihat gunung es diatasnya matahari dan bulan tampak bersejajar dan sebuah labirin di bawahnya dan sebuah batu besar berada disana. Seketika ia terbangun dari mimpinya.



“Rajaku kau tidak apa-apa?” seorang wanita menghampirinya “Kau pasti mimpi buruk lagi, aku tahu Ratu sangat berharga bagimu, tapi batu itu telah menyebabkan Ratu dan pangeran tewas, bahkan sebelum pangeran itu melihat dunia, aku akan membantumu, menemukan batu itu dan menghancurkanya.” ucap sang wanita pada Raja Reaves



“Terimakasih.” jawab sang raja itu malas, pikiranya masih kacau dengan mimpi yang baru saja menghampirinya, mimpi yang terus berulang setelah penyihir itu mati.



“Benar apa yang di ucapkan selir Za, aku harus membunuh siapa saja yang melindungi batu itu, sudah cukup istri dan anaknya tewas karena batu itu, ia tidak ingin rakyatnya menderita karena batu itu.” tekat Raja Reaves dalam hati.



Tapi tanpa raja itu sadari, ia terlalu terobsesi dengan balas dendamnya, ia membunuh siapa saja yang mengetahui masalah batu itu, rasa benci, marah telah menyelimuti hatinya, ia tidak memimpin negerinya seperti dulu, ia sudah berubah ia sudah tidak menjadi dirinya lagi sekarang.

__ADS_1



Ia adalah raja yang jahat dan kejam, ia tidak segan-segan membunuh siapa saja yang berkhianat yang berusaha melindungi batu itu.


__ADS_2