
Pesta pernikahan malam
itu berlangsung meria dan mewah, semua keluarga dan sahabat Julian dan Anna
hadir diacarah itu, Anna terlihat cantik dengan sebuah gaun putih yang tidak
terlihat glamor. Tadi pagi mereka telah melakukan angkat nikah yang berlangsung
sakral dan haru.
“Selamat ya An, semoga
kau selalu bahagia dan ingat kamu harus sabar dengan bos ku yang galak ini.”
Wil berucap sambil tertawa, lalu memeluk Anna
“Tenang saja aku akan selalu
sabar menghadapinya.” jawab Anna.
***
Julian memasuki
kamarnya, ia merasa lelah dengan acara pernikahan itu, begitu juga Anna istrinya.
“Julian pelan-pelan,
sakit.” Anna meringis.
“Maaf sayang, aku akan
lebih pelan lagi.” jawab Julian sambil menatap istri nya, tampak mata Anna
berkaca-kaca.
“Tarik sekarang aku
mohon cepat, aku sudah tidak tahan ini menyakitkan.” suara itu terdengar lirih.
“Maaf.” gumam Julian
sambil menarik seliting baju Anna, hampir lima menit rambut Anna tersangkut di
sana saat berusaha melepas gaunya.
Anna mengelus bagian
pangkal rambutnya yang terasa sakit, beberapa rambutnya tercabut saat ia
berusaha melepasnya, beruntung Julian cepat datang membantunya.
“Apa masih sakit?”
Julian bertanya sambil mengelus kepala istrinya
“Kau mau cobah? Sini rambutmu aku tarik.” Anna menjawab dengan
kesal.
“Maaf sayang, aku hanya
memastikan.” Julian tersenyum, lalu mencium kepala istrinya.
****
Lucy datang sambil
berteriak memangil kakak iparnya ”Anna, Anna, Anna!”
“Ada apa Lucy? Kau akan
membangunkan Julian.” Anna menenangkan, ia tahu Julian akan marah pada adiknya
jika tahu gadis itu pagi-pagi sudah datang keapartemenya.
“Ups, maaf aku datang
karena Mom ingin aku memberitahu kalau
malam nanti kalian harus datang untuk makan malam di rumah.” Lucy berbisik.
“Kenapa tidak telpon?”
“Aku sengaja tidak
menelpon, karena sekalian mau melihatmu, apa kalian sudah melakukannya tadi
malam?” Lucy bertanya sambil tersenyum lebar.
Anna membulatkan
matanya pada Lucy ia tidak percaya adik iparnya akan bertanya tentang malam
pertamanya.
“Lucy jangan menganggu
Anna, jika tidak ada yang penting lagi sebaiknya kamu pulang.” Julian berkata
sambil memeluk Anna dari belakang, ia tidak mengenakan baju, hanya celana
pendek selutut. Lucy tersenyum kaku, sesaat kemudian pamit meninggalkan apartemen
itu.
“Julian, bisakah kau
bersikap lebih sopan, dia adik mu.” Anna berbisik pada suaminya.
“Aku tahu, kau tidak
bisa menjawab pertanyaan tadi kan, ayo kita lanjutkan yang tadi malam.” Julian
mengendong istrinya, membawanya ke kamar, Anna tidak perotes sama sekali ia
malah tersenyum dan merasa senang.
****
Setahun kemudian Julian
sedang duduk di tempat tidurnya sambil memegang buku bersampul coklat seperti
tanah, Anna sedang tidur terlentang dan meletakan kepalanya di pahan suaminya,
ia beberapa kali mengelus perutnya yang besar, dalam beberapa hari lagi Anna
akan melahirkan jika perkiraan itu tepat.
“Gadis itu terus
berjalan bersama seorang laki-laki yang telah di hidupkannya, laki-laki itu
dengan sabar menemani gadis mencari jalan pulangnya, hingga sampai di sebuah
desa yang membuat gadis itu tersenyum, ia ingat itu adalah desanya dan ia
merasa senang bisa kembali lagi, tapi sang laki-laki tampak sedih karena harus
berpisah dengan sang gadis. Ia kembali kehutan menujuh rumahnya yang ada di
sana, setiap hari ia berharap gadis itu bahagia dan tidak tersesat lagi,
sesuatu mengejutkanya saat sebuah ketukan pada rumah kayu miliknya, laki-laki
itu melihat sang gadis yang hampir dua bulan tidak ia temui.
“Aku mencintaimu dan
aku pikir aku akan tinggal di sini dengan mu, aku tidak tersesaat karena disini
__ADS_1
rumahku, kita akan tinggal bersama” Ucap sang gadis, mereka kemudian menikah
dan tinggal bersama, hari-hari yang mereka lewati penuh dengan kebahagiaan dan
cinta. THE END” Julian berkata setelah membacakan buku itu.
Anna mengangguk sambil
tersenyum, “Terimakasih.” ucap Anna, karena Julian setiap hari membacakan buku
itu, ia harus menerjemakanya karena Anna tidak mengerti bahasa prancis.
“Sama-sama sayang.”
jawab Julian kemudian mencium perut istrinya, Anna meringis karena gerakan
janin di perutnya terasa sangat aktif, ia tiba-tiba merasa sakit yang menjalar
di pinggangnya.
“Kau tidak apa-apa?”
Julian bertanya ketika menyadari istrinya sedang kesakitan.
“Tidak apa-apa sayang, ayo
kita makan aku sudah masak tadi.” Anna menjelaskan kemudian berjalan kearah
dapur diikuti suaminya, semakin lama rasa sakitnya semakin terasa, Anna
memberhentikan jalanya tepat di samping meja makan saat merasakan sebuah cairan
hangat mengalir di pahanya.
“Anna, bertahanla.” Julian
berucap kemudia segera membawanya ke mobil, menuju rumah sakit.
***
“Mom, kenapa belum
lahir juga?” Julian terlihat gugup karena sudah dua belas jam Anna meringgis
kesakitan wanita itu terlihat pucat.
“Sabar sayang, anak
pertama memang lahirnya agak lama.” Maria menjelaskan.
“Kau tidak boleh
terlihat panik, kau akan membuat Anna juga panik sekarang, kau tenangkan
istrimu lagi, kau seharusnya tahu kau juga dokter dulu.” tambah Maria, Julian
sudah beberapa kali keluar masuk ruangan itu.
Julian memang tahu itu
tapi ini terasa aneh baginya, otaknya tidak bisa berpikir dengan normal
sekarang, walau dokter juga telah menjelaskan bahwa kondisi Anna dan janinya
masih dalam keadaan baik dan pembukaan berjalan normal.
“Sayang sabar ya,
sebentar lagi anak kita lahir, kamu harus kuat.” Julian berusap berusaha
setenang mungkin, berkali-kali mencium istrinya dengan lembut, dalam hatinya
tidak pernah berhenti berdo’a agar istrinya di beri kemudahan dalam melahirkan
anakknya, Anna hanya mengangguk sambil tersenyum lembut.
***
lagi tarik napas kemudian mengedan.” instruksi dokter padanya, Anna
mengikutinya dengan tenang walau rasa sakit tidak terharankan, tidak ada
jeritan atau teriakan di sana ia terlihat jauh lebih tenang sekarang, karena
dari tadi Julian menangis melihat ia kesakitan, dalam hati Anna ingin meneriaki
suaminya agar tidak menangis, “Aku yang
akan melahirkan sekarang, bukan kau yang kesakitan sekarang, tapi mengapa kau
yang menangis sayang?”
Terdengar suara
tangisan bayi sesaat setelah Anna mengedang terakhir kalinya Anna tersenyum
lembut, Julian semakin terisak.
“Hei berhentila menangis.”
Anna berucap setelah bayi yang baru ia lahirkan di letakan di dadanya.
“Maafkan aku, aku hanya
binggung dan terlalu senang.” jawab Julian, sembaring bersyukur pada tuhan.
****
Julian benar-benar
berubah sejak anak mereka Abraham Romeo Alexander lahir, ia benar-benar menjadi
sosok ayah yang baik, ia juga tidak pernah marah atau berteriak pada siapapun, sekarang
pria itu selalu tersenyum lembut.
Sekarang Annalah yang
mewarisi sikap Julian bagaimana tidak kedua laki-laki itu selalu membuatnya pusing,
mereka selalu bekerja sama dalam mengerjai Anna, mereka selau berpura-pura
sakit dan bersikap manja pada Anna, dan selalu minta di suapi saat makan.
“Julian, kau bukan anak
kecil lagi.” Anna berucap, Julian menggeleng dengan cepat.
“Ma, Akk...”Julian
membuka mulutnya minta di suapi. Anna hanya bisa menari napas dalam.
“Papa Romeo dulu.” Ucap
anak kecil berumur empat tahun.
“No, sayang Papa dulu.”
jawab Julian, Romeo langsung menekuk mukanya sambil memancungkan mulutnya tanda
ia sedang marah.
“Sayang Mama, Akh...”Anna
mengarah sendoknya pada mulut anaknya, Romeo membuang mukannya.
“Kenapa sudah kenyang?”
Anna menatap wajah anaknya yang sangat mirip Julian, alis yang tebal, hidung
mancung, sepasang mata coklat, dan bibir merah yang tidak terlalu tipis, Romeo
__ADS_1
mengeleng ia kemudian pergi kekamarnya.
“Tuh, Romeo marah.”
Anna berucap kesal pada Julian,
“Maaf sayang aku hanya
bercanda tadi, sini biar kau yang membujuknya.” Julian dan Romeo memang selau
tidak mau mengalah satu sam lain, tapi Julian juga yang selalu bisa menenangkan
anaknya itu, Anna merasa bahwa Julian lebih mengerti Romeo dari pada dirinya.
***
“Romeo, marah sama
papa?” Julian bertanya sambil mememeluk anaknya yang sedang berbaring di kamar.
Romeo tidak menjawab ia pura-pura tertidur, Julian tahu Romeo berbohong, ia
kemudian mengelitik perut anaknya hingga Romeo tidak berhenti tertawa.
“Stop Pa, place.” Romeo berucap sambil tertawa.
”Oke.”
jawab sang ayah kemudian meletakan anaknya diatas tubuhnya.
“Romeo
mau apa sekarang? Papa akan berikan sebagai permintaan maaf Papa.” Julian betanya kemudian mencium
kening anak kesanganya, ia terus mengelus punggung Romeo .
Anna berdiri sambil
melipat kedua tanganya di depan dada ia mendekati suami dan anaknya.
“Aku mau adik.” ucap
Romeo polos.
“Apa?” Suara Anna dan Julian terdengar
bersamaan.
“Maaf sayang, Romeo kenapa mau adik?” Julian
bertanya dengan lembut menutupi kebingunganya.
“Semi, dan Dafa punya
adik, Pa, Romeo juga mau.” Jawab Romeo polos. Julian mengangguk sambil
tersenyum.
“Bilang Mama sayang.”
Ucap Julian.
“Mam Romeo mau adik.”
Romeo memohon. Anna mencoba tersenyum tapi kaku ia binggung sekarang.
Romeo kemudian
memancungkan mulutnya karena mamanya tanya diam tidak menjawab.
“Jangan marah dulu
sayang.” Anna tahu anaknya sedang marah sekarang Romeo selalu memasang wajah
seperti itu saat ia marah. Romeo membuang mukanya.
“Oke
fine,
kamu akan mendapatkan adik.” Jawab Anna sambil memeluk anaknya, Romeo tampak
senang ia beberapa kalu melompat.
“Jadi kita mulai malam
ini.” bisik Julian di telingah istrinya. Anna hanya mengangguk sambil tersenyum,
mungkin mememang suda saatnya Romeo mendapatkan adik.
****
Lima tahun kemudian
“Adek Adel duduk di
sana, Adek Rafa juga duduk ya.” ucap Romeo, Adel adiknya sekarang berusia empat
tahun lengsung menuruti perintah kakaknya, dan Rafa sekarang berusia enam bulan
hanya tertawa sambil menepuk tanganya.
“Ini boneka adek Adel.”
Romeo memberikan boneka beruang kecil, lalu mencium kening adiknya, ia sangat
menyayangi adik-adiknya, Romeo lalu mencium kening Rafa sambil memberikan
kerincingan dari plastik yang biasa Rafa mainkan.
“Sayang, kamu tidak
perlu melalukanya.” Anna berucap pada Romeo.
“Tidak apa-apa Ma,
kasian adek Rafa tidak nyaman.” jawab Romeo, ia baru saja menganti popok Rafa,
ia tidak segan melakukan itu saat Anna sedang sibuk memasak di dapur dan Julian
sedang ke kantor.
Mereka memang
memutuskan tidak menyewa pembantu atau baby
siter, karena ingin mengurus keluarga mereka secarah mandiri.
Tapi minggu depan
mereka harus pindah kerumah keluarga Alexander karena Rudi dan Maria terus
memaksa mereka, mereka selalu beralasan ingin ikut mengasuh cucu-cucu mereka,
walau Anna dan Julian tidak pernah melarang mereka untuk berkunjung, tapi tetap
saja mereka memaksa dan perkataan Maria dan Rudi selalu membuat Julian dan Anna
tidak bisa menghindar.
“Kami ini sudah tua,
apa kami harus mati dulu agar bisa tinggal bersama cucu-cucu kami.”dengan terpkasa
Julian dan Anna menuruti.
Anna benar-benar
berterimakasih pada tuhan memiliki keluarga yang selalu membuatnya bahagia.
THE END
__ADS_1