Anna & Dream

Anna & Dream
29. Apel Wiht Love


__ADS_3

Pesta pernikahan malam


itu berlangsung meria dan mewah, semua keluarga dan sahabat Julian dan Anna


hadir diacarah itu, Anna terlihat cantik dengan sebuah gaun putih yang tidak


terlihat glamor. Tadi pagi mereka telah melakukan angkat nikah yang berlangsung


sakral dan haru.


“Selamat ya An, semoga


kau selalu bahagia dan ingat kamu harus sabar dengan bos ku yang galak ini.”


Wil berucap sambil tertawa, lalu memeluk Anna


“Tenang saja aku akan selalu


sabar menghadapinya.” jawab Anna.


***


Julian memasuki


kamarnya, ia merasa lelah dengan acara pernikahan itu, begitu juga Anna istrinya.


“Julian pelan-pelan,


sakit.” Anna meringis.


“Maaf sayang, aku akan


lebih pelan lagi.” jawab Julian sambil menatap istri nya, tampak mata Anna


berkaca-kaca.


“Tarik sekarang aku


mohon cepat, aku sudah tidak tahan ini menyakitkan.” suara itu terdengar lirih.


“Maaf.” gumam Julian


sambil menarik seliting baju Anna, hampir lima menit rambut Anna tersangkut di


sana saat berusaha melepas gaunya.


Anna mengelus bagian


pangkal rambutnya yang terasa sakit, beberapa rambutnya tercabut saat ia


berusaha melepasnya, beruntung Julian cepat datang membantunya.


“Apa masih sakit?”


Julian bertanya sambil mengelus kepala istrinya


“Kau mau cobah? Sini  rambutmu aku tarik.” Anna menjawab dengan


kesal.


“Maaf sayang, aku hanya


memastikan.” Julian tersenyum, lalu mencium kepala istrinya.


****


Lucy datang sambil


berteriak memangil kakak iparnya ”Anna, Anna, Anna!”


“Ada apa Lucy? Kau akan


membangunkan Julian.” Anna menenangkan, ia tahu Julian akan marah pada adiknya


jika tahu gadis itu pagi-pagi sudah datang keapartemenya.


“Ups, maaf aku datang


karena  Mom ingin aku memberitahu kalau


malam nanti kalian harus datang untuk makan malam di rumah.” Lucy berbisik.


“Kenapa tidak telpon?”


“Aku sengaja tidak


menelpon, karena sekalian mau melihatmu, apa kalian sudah melakukannya tadi


malam?” Lucy bertanya sambil tersenyum lebar.


Anna membulatkan


matanya pada Lucy ia tidak percaya adik iparnya akan bertanya tentang malam


pertamanya.


“Lucy jangan menganggu


Anna, jika tidak ada yang penting lagi sebaiknya kamu pulang.” Julian berkata


sambil memeluk Anna dari belakang, ia tidak mengenakan baju, hanya celana


pendek selutut. Lucy tersenyum kaku, sesaat kemudian pamit meninggalkan apartemen


itu.


“Julian, bisakah kau


bersikap lebih sopan, dia adik mu.” Anna berbisik pada suaminya.


“Aku tahu, kau tidak


bisa menjawab pertanyaan tadi kan, ayo kita lanjutkan yang tadi malam.” Julian


mengendong istrinya, membawanya ke kamar, Anna tidak perotes sama sekali ia


malah tersenyum dan merasa senang.


****


Setahun kemudian Julian


sedang duduk di tempat tidurnya sambil memegang buku bersampul coklat seperti


tanah, Anna sedang tidur terlentang dan meletakan kepalanya di pahan suaminya,


ia beberapa kali mengelus perutnya yang besar, dalam beberapa hari lagi Anna


akan melahirkan jika perkiraan itu tepat.


“Gadis itu terus


berjalan bersama seorang laki-laki yang telah di hidupkannya, laki-laki itu


dengan sabar menemani gadis mencari jalan pulangnya, hingga sampai di sebuah


desa yang membuat gadis itu tersenyum, ia ingat itu adalah desanya dan ia


merasa senang bisa kembali lagi, tapi sang laki-laki tampak sedih karena harus


berpisah dengan sang gadis. Ia kembali kehutan menujuh rumahnya yang ada di


sana, setiap hari ia berharap gadis itu bahagia dan tidak tersesat lagi,


sesuatu mengejutkanya saat sebuah ketukan pada rumah kayu miliknya, laki-laki


itu melihat sang gadis yang hampir dua bulan tidak ia temui.


“Aku mencintaimu dan


aku pikir aku akan tinggal di sini dengan mu, aku tidak tersesaat karena disini

__ADS_1


rumahku, kita akan tinggal bersama” Ucap sang gadis, mereka kemudian menikah


dan tinggal bersama, hari-hari yang mereka lewati penuh dengan kebahagiaan dan


cinta. THE END” Julian berkata setelah membacakan buku itu.


Anna mengangguk sambil


tersenyum, “Terimakasih.” ucap Anna, karena Julian setiap hari membacakan buku


itu, ia harus menerjemakanya karena Anna tidak mengerti bahasa prancis.


“Sama-sama sayang.”


jawab Julian kemudian mencium perut istrinya, Anna meringis karena gerakan


janin di perutnya terasa sangat aktif, ia tiba-tiba merasa sakit yang menjalar


di pinggangnya.


“Kau tidak apa-apa?”


Julian bertanya ketika menyadari istrinya sedang kesakitan.


“Tidak apa-apa sayang, ayo


kita makan aku sudah masak tadi.” Anna menjelaskan kemudian berjalan kearah


dapur diikuti suaminya, semakin lama rasa sakitnya semakin terasa, Anna


memberhentikan jalanya tepat di samping meja makan saat merasakan sebuah cairan


hangat mengalir di pahanya.


“Anna, bertahanla.” Julian


berucap kemudia segera membawanya ke mobil, menuju rumah sakit.


***


“Mom, kenapa belum


lahir juga?” Julian terlihat gugup karena sudah dua belas jam Anna meringgis


kesakitan wanita itu terlihat pucat.


“Sabar sayang, anak


pertama memang lahirnya agak lama.” Maria menjelaskan.


“Kau tidak boleh


terlihat panik, kau akan membuat Anna juga panik sekarang, kau tenangkan


istrimu lagi, kau seharusnya tahu kau juga dokter dulu.” tambah Maria, Julian


sudah beberapa kali keluar masuk ruangan itu.


Julian memang tahu itu


tapi ini terasa aneh baginya, otaknya tidak bisa berpikir dengan normal


sekarang, walau dokter juga telah menjelaskan bahwa kondisi Anna dan janinya


masih dalam keadaan baik dan pembukaan berjalan normal.


“Sayang sabar ya,


sebentar lagi anak kita lahir, kamu harus kuat.” Julian berusap berusaha


setenang mungkin, berkali-kali mencium istrinya dengan lembut, dalam hatinya


tidak pernah berhenti berdo’a agar istrinya di beri kemudahan dalam melahirkan


anakknya, Anna hanya mengangguk sambil tersenyum lembut.


***


lagi tarik napas kemudian mengedan.” instruksi dokter padanya, Anna


mengikutinya dengan tenang walau rasa sakit tidak terharankan, tidak ada


jeritan atau teriakan di sana ia terlihat jauh lebih tenang sekarang, karena


dari tadi Julian menangis melihat ia kesakitan, dalam hati Anna ingin meneriaki


suaminya agar tidak menangis, “Aku yang


akan melahirkan sekarang, bukan kau yang kesakitan sekarang, tapi mengapa kau


yang menangis sayang?”


Terdengar suara


tangisan bayi sesaat setelah Anna mengedang terakhir kalinya Anna tersenyum


lembut, Julian semakin terisak.


“Hei berhentila menangis.”


Anna berucap setelah bayi yang baru ia lahirkan di letakan di dadanya.


“Maafkan aku, aku hanya


binggung dan terlalu senang.” jawab Julian, sembaring bersyukur pada tuhan.


****


Julian benar-benar


berubah sejak anak mereka Abraham Romeo Alexander lahir, ia benar-benar menjadi


sosok ayah yang baik, ia juga tidak pernah marah atau berteriak pada siapapun, sekarang


pria itu selalu tersenyum lembut.


Sekarang Annalah yang


mewarisi sikap Julian bagaimana tidak kedua laki-laki itu selalu membuatnya pusing,


mereka selalu bekerja sama dalam mengerjai Anna, mereka selau berpura-pura


sakit dan bersikap manja pada Anna, dan selalu minta di suapi saat makan.


“Julian, kau bukan anak


kecil lagi.” Anna berucap, Julian menggeleng dengan cepat.


“Ma, Akk...”Julian


membuka mulutnya minta di suapi. Anna hanya bisa menari napas dalam.


“Papa Romeo dulu.” Ucap


anak kecil berumur empat tahun.


“No, sayang Papa dulu.”


jawab Julian, Romeo langsung menekuk mukanya sambil memancungkan mulutnya tanda


ia sedang marah.


“Sayang Mama, Akh...”Anna


mengarah sendoknya pada mulut anaknya, Romeo membuang mukannya.


“Kenapa sudah kenyang?”


Anna menatap wajah anaknya yang sangat mirip Julian, alis yang tebal, hidung


mancung, sepasang mata coklat, dan bibir merah yang tidak terlalu tipis, Romeo

__ADS_1


mengeleng ia kemudian pergi kekamarnya.


“Tuh, Romeo marah.”


Anna berucap kesal pada Julian,


“Maaf sayang aku hanya


bercanda tadi, sini biar kau yang membujuknya.” Julian dan Romeo memang selau


tidak mau mengalah satu sam lain, tapi Julian juga yang selalu bisa menenangkan


anaknya itu, Anna merasa bahwa Julian lebih mengerti Romeo dari pada dirinya.


***


“Romeo, marah sama


papa?” Julian bertanya sambil mememeluk anaknya yang sedang berbaring di kamar.


Romeo tidak menjawab ia pura-pura tertidur, Julian tahu Romeo berbohong, ia


kemudian mengelitik perut anaknya hingga Romeo tidak berhenti tertawa.


“Stop Pa, place.” Romeo berucap sambil tertawa.


”Oke.”


jawab sang ayah kemudian meletakan anaknya diatas tubuhnya.


“Romeo


mau apa sekarang? Papa akan berikan sebagai permintaan maaf Papa.” Julian betanya kemudian mencium


kening anak kesanganya, ia terus mengelus punggung Romeo .


Anna berdiri sambil


melipat kedua tanganya di depan dada ia mendekati suami dan anaknya.


“Aku mau adik.” ucap


Romeo polos.


 “Apa?” Suara Anna dan Julian terdengar


bersamaan.


 “Maaf sayang, Romeo kenapa mau adik?” Julian


bertanya dengan lembut menutupi kebingunganya.


“Semi, dan Dafa punya


adik, Pa, Romeo juga mau.” Jawab Romeo polos. Julian mengangguk sambil


tersenyum.


“Bilang Mama sayang.”


Ucap Julian.


“Mam Romeo mau adik.”


Romeo memohon. Anna mencoba tersenyum tapi kaku ia binggung sekarang.


Romeo kemudian


memancungkan mulutnya karena mamanya tanya diam tidak menjawab.


“Jangan marah dulu


sayang.” Anna tahu anaknya sedang marah sekarang Romeo selalu memasang wajah


seperti itu saat ia marah. Romeo membuang mukanya.


“Oke


fine,


kamu akan mendapatkan adik.” Jawab Anna sambil memeluk anaknya, Romeo tampak


senang ia beberapa kalu melompat.


“Jadi kita mulai malam


ini.” bisik Julian di telingah istrinya. Anna hanya mengangguk sambil tersenyum,


mungkin mememang suda saatnya Romeo mendapatkan adik.


****


Lima tahun kemudian


“Adek Adel duduk di


sana, Adek Rafa juga duduk ya.” ucap Romeo, Adel adiknya sekarang berusia empat


tahun lengsung menuruti perintah kakaknya, dan Rafa sekarang berusia enam bulan


hanya tertawa sambil menepuk tanganya.


“Ini boneka adek Adel.”


Romeo memberikan boneka beruang kecil, lalu mencium kening adiknya, ia sangat


menyayangi adik-adiknya, Romeo lalu mencium kening Rafa sambil memberikan


kerincingan dari plastik yang biasa Rafa mainkan.


“Sayang, kamu tidak


perlu melalukanya.” Anna berucap pada Romeo.


“Tidak apa-apa Ma,


kasian adek Rafa tidak nyaman.” jawab Romeo, ia baru saja menganti popok Rafa,


ia tidak segan melakukan itu saat Anna sedang sibuk memasak di dapur dan Julian


sedang ke kantor.


Mereka memang


memutuskan tidak menyewa pembantu atau baby


siter, karena ingin mengurus keluarga mereka secarah mandiri.


Tapi minggu depan


mereka harus pindah kerumah keluarga Alexander karena Rudi dan Maria terus


memaksa mereka, mereka selalu beralasan ingin ikut mengasuh cucu-cucu mereka,


walau Anna dan Julian tidak pernah melarang mereka untuk berkunjung, tapi tetap


saja mereka memaksa dan perkataan Maria dan Rudi selalu membuat Julian dan Anna


tidak bisa menghindar.


“Kami ini sudah tua,


apa kami harus mati dulu agar bisa tinggal bersama cucu-cucu kami.”dengan terpkasa


Julian dan Anna menuruti.


Anna benar-benar


berterimakasih pada tuhan memiliki keluarga yang selalu membuatnya bahagia.


THE END

__ADS_1


__ADS_2