Anna & Dream

Anna & Dream
Episode 8 KEHIILANG


__ADS_3

Udarah terasa sangat panas, matahari benar-benar terasa membakar kulit, sejauh mata memandang hanyalah pasir gersang. Terlihat ada beberapa pohon kering yang di hiyasi beberapa daun yang menempel, pohon itu jauh dari kata rindang, beberapa batu besar tergeletak di jalanan.



Mereka terus berjalan menyelusuri padang pasir itu, tampak angin sesekali melintas membuat debu pasir menerpa mereka. Semua tampak kelelahan, keringat membanjiri tubuh mereka, rasa haus, lapar, rasa lelah semua melebur jadi satu.


Sudah hampir setengah hari mereka berjalan tiada henti, tampak kuda yang tadinya gagah berlarih dengan cepat mulai melambatkan langkahnya.



“Roberto sepertinya kita harus istihata, kudaku kelelahan!” suarah Anna memecah kesunyian.



“Ya sebaiknya kita beristirahat sekarang, sebentar lagi gelap.“ jawab Roberto.



“Disana!” Lily menunjuk, “Sepertinya ada gua.”



Batu besar seperti bukit dan terdapat cekungan di sampingnya, cekungan itu melingdungi siapa saja yang ada di dalamnya dari panasnya cahaya matahari yang membakar, dan terdapat beberapa batu yang tidak terlalu besar di sekitanya.



Jack menurunkan bekal dan selimut yang telah di bawah selama perjalanan, Anna mengeluarkan botol air minum, ia mencoba menuangkan ke mangkok kecil untuk diberikan pada kuda, Jack tersenyum melihatnya, pria itu melakukan hal yang sama dengan kudanya begitu juga Lily dan Roberto.



Gadis itu memncoba meminum beberapa teguk air yang tersisa, mencobah membasu rasa raus yang mencekik kerongkongannya selama di perjalanan, “Benar kata orang kalau di padang pasir air lebih berharga dari pada emas.”



Lily mengeluarkan beberapa potong roti dan membagikanya satu persatu.



“Lily, apakan ada makan untuk besok?”



“Masih bisa untuk tiga hari perjalanan, Anna jangan khawatir.” Roberto tersenyum, “Itu cukup untuk keluar dari padang pasir ini.”



Anna mengeluarakan dua apel dari dalam tas kemudian memotong masing-apel menjadi dua, gadis itu memberikan masing-masing kuda setengah potong apel.



“Maafkan aku, aku hanya membawa empat apel, aku harap bisa memberikan pada kalian sisa apel ini besok.” bisik Anna. Kuda-kuda itu tampak antusias memakan apel itu.



Matahari mulai bersembunyi, malam ini sungguh terasa sangat sunyi tidak ada suarah hewan di sekitar sana, biasanya Anna bisa mendengar suarah jangkrik, atau jika di asramanya ia bisa mendengar suarah kendaraan berlalu lalang di sekitar bangunan itu atau suarah orang yang lewat sambil bercengkrama. Ya, Anna mulai merindukan suasana itu sekarang.



Mereka seakan berada dalam sebuah ruangan kosong kedap suarah.“Malam yang mengerikan” Anna melihat teman-temanya yang tampak berbaring mulai terlelap, kecuali Jack yang masih terlihat waspada.



Anna membaringkan tubuhnya tepat di samping kudanya, gadis itu mencoba memejamkan matanya, ia benar-benar lelah, ini benar-benar perjalanan yang panjang dan melelahkan



“Aku harus bangun dari mimpi ini secepatnya, aku harus mengerjakan skripsi, maafkan aku ibu, aku janji akan ikut wisudah tahun ini.” gumam Anna dalam hati.


****



Gadis itu berdiri di tengah padang pasir yang gersang, di hadapanya empat ekor kuda terkapar tidak bergerak bahkan tidak bernapas, kuda-kuda itu mati, gadis itu berlari sambil menangis mencari teman-temanya,



“Roberto, Jack, Lily kalian dimana? aku takut.” suarah gadis itu tampak lirih.


Ia terus berlarih tepat tak tentu arah langka kakinya terhenti tepat di hadapanya adalah orang-orang yang ia cari sedang terkapar, semua tubuh mereka membiru, tidak bergerak bahkan tidak bernapas.



Gadis itu menangis sejadi-jadinya ia mencobah membangunkan teman-temanya satu persatu, tapi gagal semua temanya sudah mati, kemudian langit menjadi sangat gelap, ia merasa tercekik dan sulit bernapas.



“Anna bangun!”



“Anna bangun!”



Gadis itu membuka matanya “Lily.” ia itu langsung memeluk Lily.



Anna sangat bahagia teman-temanya masih hidup ternyata itu hanya mimpi, mimpi yang sangat mengerikan.



Roberto memberikan botol air minum pada Anna, gadis itu langsung meneguknya sebelum ia menceritakan mimpinya pada tiga orang di hadapanya.

__ADS_1



Tanpak jelas wajah khawatir yang terpancar dari mereka yang mendengar cerita Anna.


Namun Roberto berusaha menenangkan Anna dan memberikan senyum tulus pada gadis itu.


****



Ditempat lain, sebuah ruangan yang sangat mega dengan sebuah singahsana yang sangat besar berwarna emas, Di tengah ruangan itu terdapat karpet yang sangat besar senada dengan warna singgah sana, dan banyak terdapat guci-guci terbaik di negeri ini, sepasang cawan yang terbuat dari emas dan bertatahkan berlian, terdapat buah-buahan beraneka macam diatas meja, dayang-dayang yang sangat cantik sedang mengipasi rajanya dan pengawal yang gagah sedang sibuk berjaga.



Raja Reaves tampak menatap kosong jendela di samping ruangan itu, raja itu tampak tampan, matanya berwarnah coklat, dengan rambut coklat dan sebagian lagi berwarnah putih, terlihat beberapa kerutan di wajanya, usia memang tidak bisa berbohong.



Raja itu tahu kalau suatu saat ini akan terjadi, penyihir itu benar kalau batu itu akan kembali. Batu yang menyebabkan istri dan anaknya tewas karena para penyihir jahat yang menyerang istanah dua puluh tujuh tahun lalu.



Para penghianat itu memperebutkan batu itu untuk menambah kekuatan mereka manusia memang serakah dan tidak pernah puas, selain kematian yang membuat mereka sadar.



Raja Reaves pernah mendengar dari kedua orang tuanya kalau batu itu sangat kuat. Tapi raja Reaves ia tidak memiliki batu itu, bahkan ia belum pernah melihanya tapi mengapa istri dan anaknya yang jadi korban? Korban sererakaan orang-orang itu.



“Aku harus menghancurkan mereka, tidak akan ku biarkan semua ini terjadi, mereka harus mati walaupun harus mengorbankan banyak darah, aku harus membalas dendam mereka, tidak ada kebenaran yang akan di ungkap, semuanya telah terungkap. Apa yang sebenarnya penyihir itu inginkan? Aku akan membunuh siapa saja yang mencobah melindungi batu itu, batu pembawa bencana!” tekat raja itu dalam hati.



“Maafkan hambah, rajaku Reaves yang mulia.” seorang pria berbadan besar sambil menunduk. Raja Reaves menoleh kearah pria suruhanya.



“Cepat jelaskan.” perintah raja tersebut.



“Rumah itu kosong, kami telah mencarinya, kami membakar rumah itu dan mencari dalam abu, batunya tidak ada di sana.” jelas pria besar tersebut.



Raja itu mengeleng, bibirnya mengantup kuat, wajah raja itu memerah menahan marah pada anak buahnya “Aku tidak mau tahu, suruh semua yang terpilih dan kuat mencari batu itu, akan ku bunuh kalian jika gagal!” perintah raja Reaves yang tidak bisa di ganggu gugat.



Seorang wanita yang sangat cantik menghapirinya “Rajaku engkau harus makan, hamba tidak mau engkau sakit.” perintah wanita tersebut.




Dua pengawal membawah wanita itu ke ruang bawah tanah. Wanita tersebut tidak bisa melawan rajanya, dia tahu Raja Reaves tidak mencintainya, hanya istri dan anaknya yang telah mati yang bisa mengerakan hati batu rajanya. Semua orang akan mati jika melawan.


***



Flas back Raja Reaves



Sepasang suami istri sedang duduk di taman istana, mereka sangat bahagia, tanpa mereka sadari seorang wanita berjalan kearah mereka.



“Rutuku, aku sangat menyayangimu.” bisik sang lelaki



“Aku sangat menyayangimu rajaku.” jawab sang istri



“Dia mendendangku.” ucap lelaki itu, saat mengelus perut istrinya, istrinya tersenyum melihatnya, ia juga bisa merasakan tendangan dari janin dalam perutnya, wanita itu telah hamil tua tinggal hitungan hari mereka bisa melihat anak mereka lahir, anak akan menjadi pangeran di negeri itu.



“Peramal mengatakan dia seorang laki-laki, ia pasti bisa memimpin negeri sama sepertimu.” ucap sang ratu.



“Ya, dia akan menjadi pangeran yang gagah dan tampan, aku yakin anak kita akan menjadi raja yang lebih baik dariku.“ jawab raja Reaves. Ratu Beatrice sangat senang mendengarnya.



“Maafkan hambah Rajaku dan Ratuku.” sorang wanita datang menghadap rajanya “Ada apa selir Za?” jawab Raja reaves.



“Duduklah disini.” Ratu Beatrice itu mempersilakan selir itu untuk duduk.



“Hambah membawakan buah untuk Ratuku, hambah dengar dari tabib, buah akan sangat baik untuk ibu hamil.” selir Za memberikan semangkuk buah-buahan beraneka ragam pada Ratu Beatrice.



“Terimakasih selir Za, kau wanita yang baik.” Ratu tersenyum menerima buah-buahan itu, sesaat kemudian ratu memakan buah itu sesekalia ia juga menyuapi raja untuk memakan bersamanya.

__ADS_1



Bulan tampak menunjukan sinarnya, raja Reaves merasakan badanya kurang sehat begitu juga dengan istrinya mereka memutuskan untuk beristrihat.



Tanpa mereka sadari lima penyihir masuk kedalam kamar itu untuk menyerang sepasang suami istri yang sangat di hormati di negeri itu.



Raja yang menyadari itu berusana keras melindungi istrinya, dengan susah paya raja Reaves berusaha menggunakan sihirnya, tapi entah mengapa sihir itu tidak berfungsi, begitu juga dengan sihir yang dimiliki ratu, ia tidak bisa menggunakan sihirnya.


Raja Reaves segera mengambil pedangnya menyerang para penyihir itu.



“Ratu pergila, lindungi Anak kita!” Teriak raja Reaves.



Ratu Beatrice kemudian berlari keluar kamar dengan cepat, betapa terkejutnya wanita itu, saat menemukan para pengawal istana telah tewas berumuran darah, setiap lorong istana yang ia lewati. Tidak ada satupun dari pengawal yang masih hidup, mereka semua mati.



Dengan segera ratu Beatrice berlari ke dalam hutan, ia merasakan perutnya sakit, seketika darah mengalir dari pahanya, ia terus berlari, tampak di belakangnya tiga orang penyihir mengejarnya, ia terus berlari sebisa mungkin menjahu dari kejaran penyihir yang ingin menangkapnya.



Ratu terus berlari hingga ia sampai di sebuah rumah kayu, Ratu Beatrice sudah tidak tahan lagi rasa sakit menjalar dari pinggang hingga perutnya, ia merasakakan sesuatu akan keluar dari perutnya, tanpa ia sadari ia mengedan.



Dengan sekuat tenaga ia mencobah bertahan sesaat kemudian ia mendengar suarah tangisan bayi, air matanya menetes membasahi pipi ratu itu, entalah ia harus senang atau sedih sekarang, ia berhasil melahirkan anaknya yang kelak akan menjadi pangeran di negeri itu, tapi disisi lain ia sedih mengingat kondisi yang baru saja terjadi, ratu Beatrice sangat takut pangeranya terbunuh atau di tangkap penyihir yang mengejarnya.



“Bertahanlah pangeran, berjanjilah pada ibu.” bisik ratu sambil mengendong bayinya.



Seorang laki-laki berjalan dengan gagah, di punggungnya ada seekor rusa yang sudah tidak bernyawa mengantung di sana, laki-laki itu baru saja pulang berburu, ia masuk kedalam rumah itu setelah meletakan rusa di dekat pintu masuk.



Sebuah pemandangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, membuatnya terkejut. Seorang wanita sedang sekarat di sana, ia sangat pucat dan banyak darah memenuhi tubuhnya.



“Aku mohon jaga dia, bawah ia pergi dari sini.” bisik wanita itu parau.



Laki-laki itu masih diam, ia masih binggung karena tidak mengenal siapa wanita ini dan bayi itu, selama ini laki-laki itu hidup menyendiri di tengah hutan.



“Aku mohon.” bisik wanita sekali lagi dengan mata berurai air mata, sesaat kemudian mata itu terpejam wanita itu tidak sadarkan diri, laki-laki itu mencobah mengobati wanita yang tampak menyedihkan dengan sihirnya tapi gagal, wanita itu tidak bernapas ia telah meninggal.



Laki-laki itu hanya bisa terduduk lemas ia merasa tidak berguna bahkan untuk menyelamatkan seseorangpun ia tidak bisa, suarah tangisan bayi menyadarkan dirinya.



“Aku akan menjagamu nak.”


***



Di istana raja Reaves tidak sadarkan diri, tubuhnya terluka parah sudah hampir sebulan sejak penyerangan itu, semua tabib berusaha mengobatinya tapi tidak membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Raja Reaves berhasil membuka matanya tapi semua tubuhnya tidak bisa di gerakkan.



“Ratu.” bisik raja itu pelan.



“Maafkan hambah Raja.” Seorang wanita sambil menangis duduk di samping tempat tidur rajanya.



“Mana Ratu?!” teriak Raja Reaves, ia sangat merindukan dan mengkhawatirkan kondisi istri yang sedang mengandung anak mereka, ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada orang yang sangat ia cintai.



“Maafkan hambah Rajaku, Ratu telah tewas.” Jawab Wanita itu sambil menangis terisak.



“Kau berbohong sehir Za!” raja Reaves tidak percaya mana mungkin istrinya meninggal, bukankah sebentar lagi mereka akan melihat buah hatinya lahir di dunia ini?



“Tidak Raja ku, pengawal menemukanya di gubuk kayu di tengah hutan, saat di temukan Ratu sudah tidak bernyawa.” Jawab sang selir sambil terisak.



Raja Reaves hanya diam, ia masih tidak percaya istri dan anaknya telah tewas, ini pasti karena penyihir yang berhianat, “Tangkap semua penyihir yang berkhianat, tangkap semua orang yang terlibat membunuh Ratu!” Perintah raja Reaves sambil terisak.



Flas Back Of

__ADS_1


***


__ADS_2