Anna & Dream

Anna & Dream
2. Apel With Love


__ADS_3

Julian tiba di bandara


dengan wajah kesal, membuat beberapa orang yang menatapnya menunduk, mereka


seakan tersengat aura hitam yang di pancarkan Julian. Benar laki-laki itu


memiliki aura yang kuat membuat siapa saja yang melihatnya kagum dan takut


untuk berhadapan dengan laki-laki itu.


“Hai son.” tampak laki-laki tua berumur


sekitar lima puluh tahun memeluknya.


“Hai Daddy,” ia membalas


pelukanya, perlahan tapi pasti aurah kemarahan yang dari tadi menguasainya


memudar saat melihat kedua orang tuanya yang tersenyum padanya.


“Hai Mom,” Julian


kemudian memeluk sosok wanita paru baya di sampinya.


“Kau terlihat kesal,


apakah kau tidak senang kami datang?”  bisik wanita paru baya itu saat mereka


berpelukan. Wanita paru baya itu sangat mengenal Julian. Bagaimana saat ia


marah, senang atau sedih. Dan Maria tahu dengan pasti kalau anak laki-lakinya


ini sedang kesal.


“Bukan begitu, aku


sangat senang kalian datang. Hanya saja-” Julian memberhentikan ucapanya dan


menatap seorang gadis di hadapanya. Mata laki-laki itu melotot seakan ingin


meledak, tapi Julian berhasil menahan amarahnya.


“Hanya saja kenapa kak?”


ucap gadis muda di hadapanya yang sangat cantik dengan mata hijau sama seperti


ibunya, kulit putih dan rambut berwarna coklat sebahu, umurnya kurang lebih


sekitar dua puluh satu tahun.


“Karena kau, Lucy!”


jawab Julian  dengan suara datar.


“Aku? kenapa aku?”


tampak wajah gadis itu terlihat binggung dan sekarang bergidik ngeri, Lucy menunduk


mengehindari tatapan mata coklat tajam milik Julian, Lucy tahu Julian benar-benar


kesal sekarang.


“Apakah kau lupa adikku,


kau memakai mobilku semalam dan kau tidak mengisi bensinya. Kau tahu, aku harus


meminjam uang di jalan untuk sampai di sini!” ucap Julian sambil menghembuskan


napas panjang beberapa kali untuk menetralisirkan amarahnya.


“Benarkah?” tampak


suara Rudy bertanya tidak percaya.


“Iya Daddy”. kini suara


Julian kembali lembut menjawab pertanyaan ayahnya.


“Siapa yang telah

__ADS_1


meminjamkan kau uang? Kau harus mengembalikanya?” Maria bertanya, ini pertama


kalianya Julian meminjam uang pada orang lain dan Maria tidak menyukainya. Bagaimana


kalau orang itu juga membutuhkan uang atau uang yang Julian pakai sangat bearti


bagi orang itu.


Maria tidak pernah


mengajarkan kedua anaknya untuk meminjam uang pada orang lain sebisa mungkin


mereka yang memberi bantuan pada orang lain.


“Aku tidak tahu Mom,


aku lupa menanyakanya.” Jawab Julian jujur ia, mememang lupa bertanya pada


gadis tadi.


“Laki-laki atau


perempuan kak?“ Tanya Lucy yang sekarang sudah berani menatap wajah kakanya.


“Perempuan.” jawab laki-laki


itu singkat, tapi memberi dampak luar biasa pada tiga orang di hadapanya,


mereka memandang Julian seakan menyelidiki sesuatu.


“Wow, seorang Julian


Alexander meminjam uang pada seorang yang perempuan yang tidak dikenalnya.”


Lucy mengoda kakaknya.


Julian mengeram kesal


atas apa yang di lontarkan Lucy, sungguh ia ingin menghukum gadis kecil itu,


Julian hendak membuka mulutnya, tapi di urungkanya saat mendengar suara Rudy


yang mengajak mereka pulang untuk menghentikan perdebatan kedua anaknya.


harus mengisi bensin mobilku!” Julian berbisik di telingah adiknya, membuat


Lucy menganguk lemah.


***


Seorang wanita sibuk di


dapur apartemenya yang tidak terlalu besar tapi cukup melindunginya dari panas


dan hujan, hanya ada dua buah kamar di sana dan sebuah dapur dan ruang tamu, yang


berwarna putih bersih, tampak perabotanya tertatah rapi. Ia dan Xiang telah


menyewah apartemen kecil itu hampir dua tahun ini sejak mereka lulus.


Sedangkan kedua teman


Anna yaitu Wil dan Jesika memutuskan untuk tinggal di rumah keluarga mereka masing-masing,


tidak jarang mereka berempat berkumpul diapartemen itu sekedar untuk mengobrol


bercerita tentang masa lalu dan pekerjaan mereka masing-masing.


“Hai sayang.” tampak


seorang laki-laki berdiri di hadapan Anna.laki-laki yang cukup tampan dan juga


pengertian.


Gadis itu tersenyum


lembut menjawab sapaan laki-laki itu, Anna memejamkan matanya saat laki-laki


itu mencium keningnya untuk mengungkapkan rasa sayangnya, tidak hanya itu,

__ADS_1


laki-laki itu juga membawakanya seikat bunga mawar merah yang harum, membuat


Anna beberapa kali menghirup aroma harum bunga itu.


Anna selalu menyukai


sifat Nicko yang sayang dan perhatian padanya, mungkin benar keputusan Anna


untuk bertungan dengan laki-laki itu setelah mereka merajut asmarah selama


lebih dari satu tahun lalu. Tidak ada alasan untuk Anna menolak pertunangan itu


ketika Niko mengajaknya bertunangan.


Sungguh Nicko adalah


sosok yang sempurna di mata Anna, laki-laki sederhana yang menerimanya apa


adanya dan memperhatikanya. Walau terkadang Nicko terlalu sibuk dengan


perkerjaanya tapi Anna selalu mengerti, laki-laki itu pekerja keras. Nicko


melakukan itu semua untuk masa depan mereka nantinya.


“Aku akan ke Sumatra lusa,


bosku menyuruh untuk melihat langsung ke lapangan. Apakah kau mau ikut?” Nicko


berniat mengajak Anna, ia tahu keluarga gadis itu berada di Sumatra karena bertugas


di sana.


Inilah sisi lain yang


Anna kagumi dari Nicko selain sayang pada dirinya, Nicko juga sangat menyayangi


keluarga Anna, dan mereka sudah beberapa kali bertemu, Nicko sudah menganggap


keluarga Anna seperti keluarganya sendiri.


“Aku tidak bisa Nick,


aku harus ke kantor. Lagi pula aku baru menemui keluaraga ku minggu lalu.” Anna


menjelaskan, ia tidak bisa terlalu sering bolos ke kantor, akan tidak baik


untuk pekerjaannya nantinya.


Sebisah mungkin Anna


selalu terbang ke Sumatra setiap libur panjang, hampir setiap bulan ia pulang


menemui keluarganya walau hanya untuk beberapa hari.


“Baiklah.” jawab Nick


mengerti gadis itu sangat mencintai pekerjaanya, dan juga keluarganya walau


mereka terpisah jarak yang cukup jauh.


“Makanlah,” Anna telah


menyiapkan makananan untuk tunanganya, Nick tersenyum menerimanya sudah lama ia


tidak memakan masakan Anna, apa lagi saat ini Anna memasak sup ayam kesukaan


Nicko.


“Xiang mana?” Nicko


bertanya karena suasana apartemen tampak sepih, biasanya teman Anna yang satu


itu akan selau mengoceh bila Nicko datang.


“Dia sedang ke


supermarket.” Yang di jawab anggukan Nicko kemudian melanjutkan makan malamnya


dengan lahab. Anna bahkan tidak berhenti tersenyum melihat Nicko makan saat

__ADS_1


ini.


****


__ADS_2