
Julian tiba di bandara
dengan wajah kesal, membuat beberapa orang yang menatapnya menunduk, mereka
seakan tersengat aura hitam yang di pancarkan Julian. Benar laki-laki itu
memiliki aura yang kuat membuat siapa saja yang melihatnya kagum dan takut
untuk berhadapan dengan laki-laki itu.
“Hai son.” tampak laki-laki tua berumur
sekitar lima puluh tahun memeluknya.
“Hai Daddy,” ia membalas
pelukanya, perlahan tapi pasti aurah kemarahan yang dari tadi menguasainya
memudar saat melihat kedua orang tuanya yang tersenyum padanya.
“Hai Mom,” Julian
kemudian memeluk sosok wanita paru baya di sampinya.
“Kau terlihat kesal,
apakah kau tidak senang kami datang?” bisik wanita paru baya itu saat mereka
berpelukan. Wanita paru baya itu sangat mengenal Julian. Bagaimana saat ia
marah, senang atau sedih. Dan Maria tahu dengan pasti kalau anak laki-lakinya
ini sedang kesal.
“Bukan begitu, aku
sangat senang kalian datang. Hanya saja-” Julian memberhentikan ucapanya dan
menatap seorang gadis di hadapanya. Mata laki-laki itu melotot seakan ingin
meledak, tapi Julian berhasil menahan amarahnya.
“Hanya saja kenapa kak?”
ucap gadis muda di hadapanya yang sangat cantik dengan mata hijau sama seperti
ibunya, kulit putih dan rambut berwarna coklat sebahu, umurnya kurang lebih
sekitar dua puluh satu tahun.
“Karena kau, Lucy!”
jawab Julian dengan suara datar.
“Aku? kenapa aku?”
tampak wajah gadis itu terlihat binggung dan sekarang bergidik ngeri, Lucy menunduk
mengehindari tatapan mata coklat tajam milik Julian, Lucy tahu Julian benar-benar
kesal sekarang.
“Apakah kau lupa adikku,
kau memakai mobilku semalam dan kau tidak mengisi bensinya. Kau tahu, aku harus
meminjam uang di jalan untuk sampai di sini!” ucap Julian sambil menghembuskan
napas panjang beberapa kali untuk menetralisirkan amarahnya.
“Benarkah?” tampak
suara Rudy bertanya tidak percaya.
“Iya Daddy”. kini suara
Julian kembali lembut menjawab pertanyaan ayahnya.
“Siapa yang telah
__ADS_1
meminjamkan kau uang? Kau harus mengembalikanya?” Maria bertanya, ini pertama
kalianya Julian meminjam uang pada orang lain dan Maria tidak menyukainya. Bagaimana
kalau orang itu juga membutuhkan uang atau uang yang Julian pakai sangat bearti
bagi orang itu.
Maria tidak pernah
mengajarkan kedua anaknya untuk meminjam uang pada orang lain sebisa mungkin
mereka yang memberi bantuan pada orang lain.
“Aku tidak tahu Mom,
aku lupa menanyakanya.” Jawab Julian jujur ia, mememang lupa bertanya pada
gadis tadi.
“Laki-laki atau
perempuan kak?“ Tanya Lucy yang sekarang sudah berani menatap wajah kakanya.
“Perempuan.” jawab laki-laki
itu singkat, tapi memberi dampak luar biasa pada tiga orang di hadapanya,
mereka memandang Julian seakan menyelidiki sesuatu.
“Wow, seorang Julian
Alexander meminjam uang pada seorang yang perempuan yang tidak dikenalnya.”
Lucy mengoda kakaknya.
Julian mengeram kesal
atas apa yang di lontarkan Lucy, sungguh ia ingin menghukum gadis kecil itu,
Julian hendak membuka mulutnya, tapi di urungkanya saat mendengar suara Rudy
yang mengajak mereka pulang untuk menghentikan perdebatan kedua anaknya.
harus mengisi bensin mobilku!” Julian berbisik di telingah adiknya, membuat
Lucy menganguk lemah.
***
Seorang wanita sibuk di
dapur apartemenya yang tidak terlalu besar tapi cukup melindunginya dari panas
dan hujan, hanya ada dua buah kamar di sana dan sebuah dapur dan ruang tamu, yang
berwarna putih bersih, tampak perabotanya tertatah rapi. Ia dan Xiang telah
menyewah apartemen kecil itu hampir dua tahun ini sejak mereka lulus.
Sedangkan kedua teman
Anna yaitu Wil dan Jesika memutuskan untuk tinggal di rumah keluarga mereka masing-masing,
tidak jarang mereka berempat berkumpul diapartemen itu sekedar untuk mengobrol
bercerita tentang masa lalu dan pekerjaan mereka masing-masing.
“Hai sayang.” tampak
seorang laki-laki berdiri di hadapan Anna.laki-laki yang cukup tampan dan juga
pengertian.
Gadis itu tersenyum
lembut menjawab sapaan laki-laki itu, Anna memejamkan matanya saat laki-laki
itu mencium keningnya untuk mengungkapkan rasa sayangnya, tidak hanya itu,
__ADS_1
laki-laki itu juga membawakanya seikat bunga mawar merah yang harum, membuat
Anna beberapa kali menghirup aroma harum bunga itu.
Anna selalu menyukai
sifat Nicko yang sayang dan perhatian padanya, mungkin benar keputusan Anna
untuk bertungan dengan laki-laki itu setelah mereka merajut asmarah selama
lebih dari satu tahun lalu. Tidak ada alasan untuk Anna menolak pertunangan itu
ketika Niko mengajaknya bertunangan.
Sungguh Nicko adalah
sosok yang sempurna di mata Anna, laki-laki sederhana yang menerimanya apa
adanya dan memperhatikanya. Walau terkadang Nicko terlalu sibuk dengan
perkerjaanya tapi Anna selalu mengerti, laki-laki itu pekerja keras. Nicko
melakukan itu semua untuk masa depan mereka nantinya.
“Aku akan ke Sumatra lusa,
bosku menyuruh untuk melihat langsung ke lapangan. Apakah kau mau ikut?” Nicko
berniat mengajak Anna, ia tahu keluarga gadis itu berada di Sumatra karena bertugas
di sana.
Inilah sisi lain yang
Anna kagumi dari Nicko selain sayang pada dirinya, Nicko juga sangat menyayangi
keluarga Anna, dan mereka sudah beberapa kali bertemu, Nicko sudah menganggap
keluarga Anna seperti keluarganya sendiri.
“Aku tidak bisa Nick,
aku harus ke kantor. Lagi pula aku baru menemui keluaraga ku minggu lalu.” Anna
menjelaskan, ia tidak bisa terlalu sering bolos ke kantor, akan tidak baik
untuk pekerjaannya nantinya.
Sebisah mungkin Anna
selalu terbang ke Sumatra setiap libur panjang, hampir setiap bulan ia pulang
menemui keluarganya walau hanya untuk beberapa hari.
“Baiklah.” jawab Nick
mengerti gadis itu sangat mencintai pekerjaanya, dan juga keluarganya walau
mereka terpisah jarak yang cukup jauh.
“Makanlah,” Anna telah
menyiapkan makananan untuk tunanganya, Nick tersenyum menerimanya sudah lama ia
tidak memakan masakan Anna, apa lagi saat ini Anna memasak sup ayam kesukaan
Nicko.
“Xiang mana?” Nicko
bertanya karena suasana apartemen tampak sepih, biasanya teman Anna yang satu
itu akan selau mengoceh bila Nicko datang.
“Dia sedang ke
supermarket.” Yang di jawab anggukan Nicko kemudian melanjutkan makan malamnya
dengan lahab. Anna bahkan tidak berhenti tersenyum melihat Nicko makan saat
__ADS_1
ini.
****