Anna & Dream

Anna & Dream
9. Apel With Love


__ADS_3

Sudah tiga hari sejak


kejadian itu, Julian tidak pernah datang menemui Anna, karena Lucy selalu


menemani Anna, begitu juga malam ini.


“Lucy.”


“Ada apa Anna?” Lucy


menjawab tampa memalingkan tatapanya dari komik milik Anna. Lucy semakin akrab


dengan Anna, mereka selalu mengobrol, tentang wanita, mulai dari, gaya


penampilan, pakaian, dan terkadang membahas gosip yang ada di televisi, dan


sesekali membahas tentang cowok, terkadang juga Anna membantu Lucy mengerjakan tugas


dari dosenya, tidak jarang Lucy mengerjakan tugasnya di rumah sakit sambil menemani


Anna, Anna sudah melarang Lucy datang kerumah sakit kalau gadis itu sedang


banyak tugas tapi Lucy selalu menolak dan bersikeras menemani Anna.


“Apakah kakak mu itu galak?” Anna bertanya


“Ya, dia sangat galak,


ia juga sering membentaku, tapi sebenarnya ia sayang padaku. Kadang aku


berpikir ia memarahiku karena ia tidak tau cara mengungkapkan perasaanya.”


Jelas Lucy. Ia sangat tahu Julian akan melakukan apapun demi dirinya.


“Maksudmu?” gadis itu


binggung dengan apa yang Lucy ucapakan


“Kau tahu Anna, kakak


ku itu tidak pernah berpacaran, ia selalu marah-marah kalau Daddy dan Mom


membahas soal wanita di depannya.” Lucy menarik napas dalam, Lucy sangat sedih melihat


kondisi Julian saat ini.


“Apa mungkin kakak mu?”


“Gay, tidak mungkin, ia


juga suka perempuan kok, bahkan aku juga sering memergokinya membaca majalah


dewasa,” jawab Lucy, membuat Anna tertawa.


“Apa kau merindukanya?”


Lucy tampak tersenyum lalu mentap Anna


“Apa?” Anna tampak


terkejut “Tidak, tidak aku tidak merindukannya.”  tambah Anna, sebenarnya dia bertanya karena


merasa bersalah atas kejadian tiga hari yang lalu.


“Terus kenapa tiba-tiba


bertanya tengtang kakak?”


“Tidak apa-apa,”


“Benar tidak ada


apa-apa?” Lucy menggoda Anna


“Iya, tidak ada apa-apa


Lucy.” Anna menjelaskan.


Lucy kembali membaca


komik milik Anna, beberapa kali Lucy tampak tertawa sendiri. Anna tahu komik


yang di baca sangat lucu. Anna kemudian membaringkan tubuhnya, rasa ngantuk


menghampirinya. sedangkan Lucy telah meletakkan komiknya.


“Kau sudah selesai


membacanya?” Anna bertanya


“Sudah.”


“Tidurlah, bukankah


besok pagi kau harus ke kampus.” Lucy mengangguk kemudian berjalan ke arah


sofa, tapi baru dua langkah ia memberhenti, kemudian menatap Anna, hingga


membuat Anna binggung.


“Ada apa Lucy?”


“Apa menurutmu  Kak Julian tampan?”


“Apa?”


Lucy selalu membuat Anna terkejut dengan pertanyaanya


“Menurutmu kak Julian


itu tampan atau tidak?” Lucy bertanya dengan penasaran

__ADS_1


“Tampan.” jawab Anna


singkat, “Memangnya ada apa?” Anna masih binggung dengan pertanyaan gadis itu


“Seandainya, seandainya


kau belum bertunangan, terus bertemu kak Julian, apakah kau akan menyukainya


Anna?”


***


Suasana di ruangan itu


terus terasa tegang, ada seorang laki-laki sedang duduk membaca, sebuah laporan


yang di berikan seorang wanita di hadapannya, wanita itu tampak pucat, keringat


di keluar dari dahinya, padahal udara di ruangan itu dingin, itu karena ia


merasa tegang dan takut.


“Jadi,


hanya ini yang bisa kamu kerjakan.” laki-laki itu bertanya “Ma, .maafkan saya


pak saya akan memperbaikinya segera.”


“Saya tunggu jam empat.”


jawab laki-laki itu. Itu bearti wanita itu hanya punya waktu dua jam untuk


memperbaiki laporanya


“Baik pak.” jawab Wil


sambil meninggalkan ruangan Julian.


Bagaimanapun, Wil harus


memperbaiki semuannya, laki-laki itu ingin semuanya sempurnah, dan ia bersukur Julian


tidak membahas kejadian di rumah sakit waktu itu, tapi bagaimana pun ia harus


meminta maaf saat laporan ini selesai, Wil sudah bertekat.


***


“Permisih pak, ini laporanya,”


Wil nyerahkan pada bosnya Juliaan yang memeriksa setiap detai laporan itu,


“Kamu boleh keluar!”


jawab laki-laki itu Wil, tidak langsung keluar, tapi ia  masih berdiri di depan meja bosnya, ia


berusaha mengumpulakan semua keberanianya untuk meminta maaf.


membuat Wil terkejut bahkan hampir melompat.


“Saya, saya mau meminta


maaf, soal, soal kejadian di rumah sakit  waktu itu, saya benar-benar minta maaf pak.” Wanita itu tampak


tertunduk.


“Terus?” jawab Julian


“Saya mohon maafka saya


dan jangan pecat saya, saya mohon maafkan saya pak.” pinta Wil sungguh-sungguh


“Terus?” jawab Julian


“Saya mohon maaf pak,


apakah bapak mau memaafkan saya?”


“Terus?”


“Terus?”Wil berguman,  Terus apa?” tambah Wil


dari tadi bosnya hanya menjawab terus?


“Terus, apa yang bisa


kamu lakukan untuk mendapat maaf saya, setelah kamu mengatakan saya sakit parah


dan gay?” jawab Julian dengan wajah datar. “Kalau kamu mengatakan saya galak


saya masih terimah.” tambah julian.


“Maaf pak, saya mohon


maafkan saya, saya berjanji akan melakukan apa saja untuk bapak, saya mohon


jangan  pecat saya pak, saya butuh perkerjaan


ini.”


“Apapun?” jawab Julian sambil


mentap Wil


“Ya apapun, pak.”


sesaat kemudian Wil berpikir,“Apapun.” gumamnya


dalam hati, Wil segera memeluk tubuhnya ia sadar telah mengatakan suatu yang


salah.

__ADS_1


Julian yang melihat itu


langsung tertawa ternahak-bahak ia mengerti apa yang ada dalam pikiran wanita


di depanya.


“Saya tidak tertarik


pada kamu, apa lagi wanita yang telah bersuami.” jawab Julian sinis. Wil


bernapas legah setidaknya bosnya ini tidak akan bertindak mesum padanya. “Tapi


saya akan mengambil janji kamu nanti.” jawab Julian.


****


“Ini buku yang kamu


minta.” Xiang menyerahkan buku berwarna coklat tanah dan di bagian bawahnya


telah di makan rayap, kemarin Anna meminta Xiang untuk membawahkan buku itu, ia


telah membacah semua novel dan komik yang di bawakan teman-temanya, itu sedikit


mengurangi rasa bosanya. Anna sangat berterimakasih pada Xiang.


“Nicko tidak kesini?”


Xiang bertanya


“Sudah


dua minggu Nicko ke Kaliman,  menemani ibu


Margaret.” jelas Anna.


“Kalimantan?”


gumam Xiang,


“Ada apa?” Anna melihat


Xiang yang tampak binggung


“Tidak, tidak ada


apa-apa Anna, ini ada surat dari kantor untukmu.” Xiang menyodorkan sebuah


ampok berwarna putih.


“Terimakasih,” Anna


membacah surat itu. “Xiang, sepertinya kita tidak akan satu kantor lagi.”  Anna sudah mendugah semuanya dari jahu hari, ia


yakin ini akan terjadi meningat ia sama sekali tidak bisa masuk kerja setelah kecelakaan


itu, meski dirinya telah mengirimkan surat sakit dari dokter, tapi itu tidak membantunya


sedikitpun, terbukti sekarangia di pecat dengan alasan terlalu lama tidak masuk


kerja.


“Maafkan aku tidak bisa


berbuat apa-apa,” Xiang langsung memeluk Anna.


“Tidak apa-apa, aku


juga akan fokus pada pengobatanku.” Anna menerima kalau dia di berhentikan


secara sepihak


“Setelah sembuh kau


akan berkerja dimana?”


“Mungkin-, entalah aku


belum memikirkannya, aku hanya ingin cepat sembuh sekarang.” jawab Anna jujur, ia


sama sekali belum memiki rencana ke depanya. “Xiang, kahu tau minggu depan aku


sudah boleh keluar dari rumah sakit.” Anna tampak gembira.


“Syukurlah, aku senang


mendengarnya, aku akan sering mengunjungimu nanti.” jawab Xiang, Anna sudah


memberi tahu kalau ia akan tingggal di rumah keluarga Alexander setelah keluar


dari rumah sakit, setidaknya sampai terapi selama lima bulan lagi.


“Aku membawakanmu apel,


aku letakakan di sini ya.” Xiang menempatkanya diatas meja.


“Terimakasih, Xiang aku


sangat bersyukur memiliki mu, Wil dan Jesika sebagai teman, sahabat dan


saudarahku, aku tidak tau apa yang terjadi padaku kalau kalian tidak ada.”  Xiang langsung memeluk Anna dengan erat.


“Aku juga beruntung


memiliki kalian, aku juga berpikir tidak bisa melakukan apa-apa tanpa kalian,


kalian selalu mendukungku, terimakasih untuk semuanya.” tampak dua gadis itu


larut dalam rasa pertemanan, persahabatan dan persaudaraan.


***

__ADS_1


__ADS_2