
Sudah tiga hari sejak
kejadian itu, Julian tidak pernah datang menemui Anna, karena Lucy selalu
menemani Anna, begitu juga malam ini.
“Lucy.”
“Ada apa Anna?” Lucy
menjawab tampa memalingkan tatapanya dari komik milik Anna. Lucy semakin akrab
dengan Anna, mereka selalu mengobrol, tentang wanita, mulai dari, gaya
penampilan, pakaian, dan terkadang membahas gosip yang ada di televisi, dan
sesekali membahas tentang cowok, terkadang juga Anna membantu Lucy mengerjakan tugas
dari dosenya, tidak jarang Lucy mengerjakan tugasnya di rumah sakit sambil menemani
Anna, Anna sudah melarang Lucy datang kerumah sakit kalau gadis itu sedang
banyak tugas tapi Lucy selalu menolak dan bersikeras menemani Anna.
“Apakah kakak mu itu galak?” Anna bertanya
“Ya, dia sangat galak,
ia juga sering membentaku, tapi sebenarnya ia sayang padaku. Kadang aku
berpikir ia memarahiku karena ia tidak tau cara mengungkapkan perasaanya.”
Jelas Lucy. Ia sangat tahu Julian akan melakukan apapun demi dirinya.
“Maksudmu?” gadis itu
binggung dengan apa yang Lucy ucapakan
“Kau tahu Anna, kakak
ku itu tidak pernah berpacaran, ia selalu marah-marah kalau Daddy dan Mom
membahas soal wanita di depannya.” Lucy menarik napas dalam, Lucy sangat sedih melihat
kondisi Julian saat ini.
“Apa mungkin kakak mu?”
“Gay, tidak mungkin, ia
juga suka perempuan kok, bahkan aku juga sering memergokinya membaca majalah
dewasa,” jawab Lucy, membuat Anna tertawa.
“Apa kau merindukanya?”
Lucy tampak tersenyum lalu mentap Anna
“Apa?” Anna tampak
terkejut “Tidak, tidak aku tidak merindukannya.” tambah Anna, sebenarnya dia bertanya karena
merasa bersalah atas kejadian tiga hari yang lalu.
“Terus kenapa tiba-tiba
bertanya tengtang kakak?”
“Tidak apa-apa,”
“Benar tidak ada
apa-apa?” Lucy menggoda Anna
“Iya, tidak ada apa-apa
Lucy.” Anna menjelaskan.
Lucy kembali membaca
komik milik Anna, beberapa kali Lucy tampak tertawa sendiri. Anna tahu komik
yang di baca sangat lucu. Anna kemudian membaringkan tubuhnya, rasa ngantuk
menghampirinya. sedangkan Lucy telah meletakkan komiknya.
“Kau sudah selesai
membacanya?” Anna bertanya
“Sudah.”
“Tidurlah, bukankah
besok pagi kau harus ke kampus.” Lucy mengangguk kemudian berjalan ke arah
sofa, tapi baru dua langkah ia memberhenti, kemudian menatap Anna, hingga
membuat Anna binggung.
“Ada apa Lucy?”
“Apa menurutmu Kak Julian tampan?”
“Apa?”
Lucy selalu membuat Anna terkejut dengan pertanyaanya
“Menurutmu kak Julian
itu tampan atau tidak?” Lucy bertanya dengan penasaran
__ADS_1
“Tampan.” jawab Anna
singkat, “Memangnya ada apa?” Anna masih binggung dengan pertanyaan gadis itu
“Seandainya, seandainya
kau belum bertunangan, terus bertemu kak Julian, apakah kau akan menyukainya
Anna?”
***
Suasana di ruangan itu
terus terasa tegang, ada seorang laki-laki sedang duduk membaca, sebuah laporan
yang di berikan seorang wanita di hadapannya, wanita itu tampak pucat, keringat
di keluar dari dahinya, padahal udara di ruangan itu dingin, itu karena ia
merasa tegang dan takut.
“Jadi,
hanya ini yang bisa kamu kerjakan.” laki-laki itu bertanya “Ma, .maafkan saya
pak saya akan memperbaikinya segera.”
“Saya tunggu jam empat.”
jawab laki-laki itu. Itu bearti wanita itu hanya punya waktu dua jam untuk
memperbaiki laporanya
“Baik pak.” jawab Wil
sambil meninggalkan ruangan Julian.
Bagaimanapun, Wil harus
memperbaiki semuannya, laki-laki itu ingin semuanya sempurnah, dan ia bersukur Julian
tidak membahas kejadian di rumah sakit waktu itu, tapi bagaimana pun ia harus
meminta maaf saat laporan ini selesai, Wil sudah bertekat.
***
“Permisih pak, ini laporanya,”
Wil nyerahkan pada bosnya Juliaan yang memeriksa setiap detai laporan itu,
“Kamu boleh keluar!”
jawab laki-laki itu Wil, tidak langsung keluar, tapi ia masih berdiri di depan meja bosnya, ia
berusaha mengumpulakan semua keberanianya untuk meminta maaf.
membuat Wil terkejut bahkan hampir melompat.
“Saya, saya mau meminta
maaf, soal, soal kejadian di rumah sakit waktu itu, saya benar-benar minta maaf pak.” Wanita itu tampak
tertunduk.
“Terus?” jawab Julian
“Saya mohon maafka saya
dan jangan pecat saya, saya mohon maafkan saya pak.” pinta Wil sungguh-sungguh
“Terus?” jawab Julian
“Saya mohon maaf pak,
apakah bapak mau memaafkan saya?”
“Terus?”
“Terus?”Wil berguman, Terus apa?” tambah Wil
dari tadi bosnya hanya menjawab terus?
“Terus, apa yang bisa
kamu lakukan untuk mendapat maaf saya, setelah kamu mengatakan saya sakit parah
dan gay?” jawab Julian dengan wajah datar. “Kalau kamu mengatakan saya galak
saya masih terimah.” tambah julian.
“Maaf pak, saya mohon
maafkan saya, saya berjanji akan melakukan apa saja untuk bapak, saya mohon
jangan pecat saya pak, saya butuh perkerjaan
ini.”
“Apapun?” jawab Julian sambil
mentap Wil
“Ya apapun, pak.”
sesaat kemudian Wil berpikir,“Apapun.” gumamnya
dalam hati, Wil segera memeluk tubuhnya ia sadar telah mengatakan suatu yang
salah.
__ADS_1
Julian yang melihat itu
langsung tertawa ternahak-bahak ia mengerti apa yang ada dalam pikiran wanita
di depanya.
“Saya tidak tertarik
pada kamu, apa lagi wanita yang telah bersuami.” jawab Julian sinis. Wil
bernapas legah setidaknya bosnya ini tidak akan bertindak mesum padanya. “Tapi
saya akan mengambil janji kamu nanti.” jawab Julian.
****
“Ini buku yang kamu
minta.” Xiang menyerahkan buku berwarna coklat tanah dan di bagian bawahnya
telah di makan rayap, kemarin Anna meminta Xiang untuk membawahkan buku itu, ia
telah membacah semua novel dan komik yang di bawakan teman-temanya, itu sedikit
mengurangi rasa bosanya. Anna sangat berterimakasih pada Xiang.
“Nicko tidak kesini?”
Xiang bertanya
“Sudah
dua minggu Nicko ke Kaliman, menemani ibu
Margaret.” jelas Anna.
“Kalimantan?”
gumam Xiang,
“Ada apa?” Anna melihat
Xiang yang tampak binggung
“Tidak, tidak ada
apa-apa Anna, ini ada surat dari kantor untukmu.” Xiang menyodorkan sebuah
ampok berwarna putih.
“Terimakasih,” Anna
membacah surat itu. “Xiang, sepertinya kita tidak akan satu kantor lagi.” Anna sudah mendugah semuanya dari jahu hari, ia
yakin ini akan terjadi meningat ia sama sekali tidak bisa masuk kerja setelah kecelakaan
itu, meski dirinya telah mengirimkan surat sakit dari dokter, tapi itu tidak membantunya
sedikitpun, terbukti sekarangia di pecat dengan alasan terlalu lama tidak masuk
kerja.
“Maafkan aku tidak bisa
berbuat apa-apa,” Xiang langsung memeluk Anna.
“Tidak apa-apa, aku
juga akan fokus pada pengobatanku.” Anna menerima kalau dia di berhentikan
secara sepihak
“Setelah sembuh kau
akan berkerja dimana?”
“Mungkin-, entalah aku
belum memikirkannya, aku hanya ingin cepat sembuh sekarang.” jawab Anna jujur, ia
sama sekali belum memiki rencana ke depanya. “Xiang, kahu tau minggu depan aku
sudah boleh keluar dari rumah sakit.” Anna tampak gembira.
“Syukurlah, aku senang
mendengarnya, aku akan sering mengunjungimu nanti.” jawab Xiang, Anna sudah
memberi tahu kalau ia akan tingggal di rumah keluarga Alexander setelah keluar
dari rumah sakit, setidaknya sampai terapi selama lima bulan lagi.
“Aku membawakanmu apel,
aku letakakan di sini ya.” Xiang menempatkanya diatas meja.
“Terimakasih, Xiang aku
sangat bersyukur memiliki mu, Wil dan Jesika sebagai teman, sahabat dan
saudarahku, aku tidak tau apa yang terjadi padaku kalau kalian tidak ada.” Xiang langsung memeluk Anna dengan erat.
“Aku juga beruntung
memiliki kalian, aku juga berpikir tidak bisa melakukan apa-apa tanpa kalian,
kalian selalu mendukungku, terimakasih untuk semuanya.” tampak dua gadis itu
larut dalam rasa pertemanan, persahabatan dan persaudaraan.
***
__ADS_1