
Julian POV
Julian sedang berdiri
di depan jendela kamarnya, ia menatap langit malam ini tampak bulan sedang
bersinar terang, ia masih teringat kejadian tadi, ia memeluk Anna, dan berjanji
tidak akan melepaskan gadis itu, sebenarnya itu adalah ungkapan hatinya ia senag
sekali saat mengatakan.
“Aku tidak akan
melepaskanmu, aku berjanji.” Julian mengatakannya dengan tegas, karena itu
adalah janjinya pada Anna, mungkin wanita itu tidak menyadarinya.
“Aku
sangat mencintaimu, aku ingin menjagamu seumur hidupku, aku ingin menikahimu.” gumam
Julian dalam hati. Ingin sekali menggatakan kalimat itu, tapi suaranya tidak
keluar.
”Sial apa yang terjadi
padaku tadi? mengapa mulutku tidak bisa mengucapkan itu.”
Julian masih menginggat
punggung Anna, punggung itu tampak mulus, kulitnya terasa lembut dan ia
menyukainya, ingin sekali mencium dan mencubuhi punggung itu, memberi tanda
kepemilikanya disana, tapi ia tidak bisa melakukanya, itu akan membuat Anna
marah dan takut padanya.
Sedetik kemudian ia
meletakkan tangannya tepat di Daddya kirinya, “Mengapa kau berdekat seperti ini
dari tadi?” Julian menarik napas dalam berusaha menenangkan jantungnya yang
berdetak cepat.
“Rasanya sangat sakit,
setiap kali aku ingat kalau kau sudah bertunangan.” gumam Julian lirih
mengingat nasipnya.
***
Pagi
ini mereka sarapan di meja makan, masing-masing mereka menikmati roti sebagai
sarapan untuk pagi ini.
“Kak
, Anna, aku berangkat dulu ya.” Lucy pamit.
“Ya,
hati-hati Luc.y” Jawab Anna, Julian hanya menganguk, tidak berapa
lama-laki-laki itu bangun, dari tempat duduknya.
“Kau
berangkat sekarang?” Anna bertanya, tampak laki-laki itu hanya mengangguk
kemudian pergi.
“Kenapa dengan nya?“gumam Anna dalam hati.
Anna
sering merasa bingung dengan perubahan sikap yang sering Julian tunjukan,
terkadang laki-laki itu sangat menyeramkan dan dingin, terkadang sangat ramah
dan baik padanya.
Anna
tersadar dari lamunanya saat ponselnya berbunyi dan sebuah pesan singkat
terterah di layarnya.
Jesika
:
Anna, aku akan memilih baju
penganti hari ini temanin ya,
Ku jemput jam sebelas.
Anna:
Oke.
***
Seperti yang sudah di
janjikan Jesika, ia menjemput Anna di kediaman Alexander, mereka melajukan
mobil kearah sebuah Mall, di sana terdapat beberapa butik untuk pakaian penganti.
Hari ini Wil dan Xiang tidak bisa menemani karena masih sangat sibuk dengan pekerja
mereka di kantor.
Kedua gadis itu mulai
memasuki satu persatu butik pakaian pengantin, sudah tiga butik yang mereka
telusuri tapi tidak ada satupun yang cocok untuk Jesika.
Mereka melangkahkan kaki ke butik ke empat,
sampak seorang perempuan muda menyambut mereka dengan rama, penjaga butik itu
__ADS_1
menunjukan satu- persatu koleksi baju penganti yang mereka punya.
“Ini bagus,” Anna
menunjuk salah satu baju pengantin yang di berikan sang penjaga butik, tampak
baju itu
berwarna putih dengan lengan yang panjang dari bahan berukat dan
terdapat beberapa mutiarah sebagai hiasanya, baju pengantin itu terlihat cantik
dengan dizeinya elegan dan terlihat tidak terlalu berat jika di gunakan, ia
baju itu memiliki ekor tapi tidak terlalu panjang.
“Cobalah,” Anna
menyarankan, tapi Jesika mengeleng, ia lebih tertarik mencobah baju pengantin
yang lain yang memiliki disain lebih glamor.
“Aku akan mencobah yang
ini.” jawab Jesika sembaring pergi kedalam ruang ganti. Anna masih menunggu sambil
memperhatikan beberapa baju yang ada di sana.
“Bagaimana?” Jesika
keluar dengan gaun yang terlihat glamor,
“Bagus, kau terlihat
cantik dan glamor,” jawab Anna
“Ya, semoga saja, Make
menyukainya.” Jawab Jesika, Mike adalah calon suami Jesikam mereka memiliki
kesamaaan suka dengan hal yang glamor, Anna tersenyum lebar mendengarnya.
Tiba-tiba Jesika
berbisik pada penjaga butik di sampingnya, orang itu lalu mengangguk, tidak berapa lama penjaga butik
itu memberikan baju pengantin yang Anna tunjuk tadi.
“Silakan di cobah, mbak.”
pelayan itu menyodorkan gaun itu pada Anna.
“Tidak –tidak usa mbak,
teman saya yang akan menikah.” Jawab Anna
“Ayolah, kau sudah
bertunangan dan kau akan menikah kan, siapa tau butik ini akan jadi langanan
kita,” Jawab Jesika
“Ya, di cobah dulu mbak, tidak apa-apa.” Pelayan itu menyerahkan
gaun itu pada Anna.
Anna sempat terdiam
mungkin benar apa yang Jesika katakan, gadis itu segerah masuk ke ruang ganti
di bantu pelayan tadi.
****
“Hai, Jes,” sapa
seorang laki-laki.
“Kak coba lihat? bagus
kan gaunku?” Jesika tampak antusias menunjukan gaun itu, sesekali ia berputas
di hadapan kakanya. Membuat Dev tersenyum lebar melihat tingkah adiknya, ia
tidak meyangkah kalau Jesika lah yang akan menikah lebih dulu darinya.
“Itu siapa?” Dev
mengerijap saat mendengar pertanyaan adiknya membawa laki-laki itu kembali
tersadar kalau tadi ia datang bersama sahabatnya. Jesika menatap pada sesok
pria di samping kakaknya dengan tatapan menilai, sepertinya mereka pernah
bertemu, atau Jesika lupa?
“Ini Julian teman
kakak, kamu ingatkan, waktu kamu wisuda ia mengirimkan bunga, dan di rumah
sakit waktu Anna di rawat?” Jelas Dev, memperkenalkan Julian pada adiknya,
tampak Julian segerah menyalami Jesika.
Sebenarnya Julian
mengingat Jesika, saat Anna, Wil dan gadis itu gadis itu ikut mengatainya
terkena penyakit menular dan penyuka sesama jenis, tapi Julian tidak
mempermasalahkan hal itu lagi.
Tidak beberapa lama
seorang wanita keluar dari kamar ganti dengan gaun putih yang sederhana namun
indah, membuat tiga orang itu menatap Anna dengan tatapan sulit diartikan.
“Waw, kau cantik sekali
Anna.” Jesika tidak percaya melihat Anna yng tampak berbeda. Gadis itu terlihat
kaku saat melihat melihat dua orang laki-laki sedang menatapnya dengan tatapan
aneh, mungkin Anna tidak cocok mengenakan gaun indah ini, Anna mulai mengaruk
tungkuknya yang tidak gatal.
“Cantik,” gumam Dev, “Kau
siap menikah sekarang Anna.” godah Dev, Anna tampak malu dan memperlihatakan
__ADS_1
rona merah di pipinya, tampak Julian hanya diam sulit untuk membaca raut
mukanya.
“Mari kita berpoto.”
Ajak Jesika, tampak dua gadis itu, berdiri bersebelahan, Dev segerah mengeluarkan ponsel pintarnya, dia
segerah mengabadikan momen itu.
“Kak, poto aku sendiri
ya, aku akan mengirim potonya pada Max.” Jelas Jesika.
Anna mengeser
langkahnya, dengan segerah Julian mendekatinya, ia membantu menjaga bagian
bawah gaun itu, agar tidak terinjak Anna hingga membuat gadis itu terjatuh
nantinya.
“Terimakasih.” Bisik
Anna sambil tersenyum.
Julian dan Anna hanya
bisa berdiri bersampingan sambil melihat Dev yang sedang memotret adiknya.
“Kalian cocok.” Jawab
Dev mengodah, Anna dan Julian tanpa menurunkan ponselnya, membuat keduanya
sama-sama salah tingkah, andai saja itu semua menjadi benar mungkin semua tidak
akan sesulit ini untuk Julian.
Tampa mereka sadari,
Dev telah mengabadikan momen Anna dan Julian berdua mulai dari saat Julian
membantu Anna mengurus gaunya, saat Anna berbisik dan saat mereka berdiri
berdua.
Dev menyadari kau
sahabatnya, untuk pertama kali peduli terhadap wanita dan ia juga sadar kalau
Julian menyukai Anna terlihat dengan jelas cara ia memandang gadis “Ini kesempatan langkah gumam.” Dev
dalam hati.
“Dev, aku harus kembali
ke kantor.” Julian membuka suaranya
“Apa kau yakin tidak
mau makan dulu bersama kami?” Jawab Dev. Sesaat kemudian, laki-laki itu menatap
Anna, tampak gadis itu mengangguk seolah mengiyakan ajakan Dev untuk makan
bersama.
“Baiklah kita makan
dulu.”
****
Merekah berjalan menujuh sebuah restoran di dalam Mall itu,
Anna duduk di samping Jesika, membuat Julian sekarang berhadapan denganya dan Dev
tepat di depan Adiknya.
“Kalian mau pesan apa?”
Dev berbicara, tampak mereka sibuk memilih menuh makannan itu setelah mereka
selesai memilih makanan yang mereka inginkan, Dev segerah memanggil salah satu
pelayan restoran itu
“Dua ayam bakar, dengan
sambel hijau, dan satu ikan bakar dan ayam goreng dengan sambel mereh, minumnya
jus jeruk empat.” Jelas Dev, pelayan itu pergi meninggalkan mereka, tidak
berapa lama pesanan mereka datang.
“Anna, kau tidak bosan
makan ikan bakar terus?” Jesika bertanya, Anna tersenyum.
“Kau harus mencobanya,
ini enak.” Anna menawarkan.
“Aku tidak suka makanan
laut, lebih enak ayam goreng ku.” Jawab Jesika
“Jadi kapan kau menikah
Anna?” sontak Julian yang mendengar itu langsung terbatuk-batuk dengan cepat
Anna menyodorkan jus padanya.
“Kau tidak-apa-apa?”
Anna bertanya, Julian hanya mengangguk sambil meminum jusnya. “Secepatnya, setelah
aku sembuh.” jawab Anna atas pertanyaan Dev, Jesika dan Dev mengangguk sambil
tersenyum tentu saja mereka senang kalau Anna menikah secepatnya.
“Aku selesai, aku sudah
terlambat ke kantor.” jelas Julian, laki-laki itu pergi tanpa menghabiskan
makannanya.
“Hati-hati! “ teriak
Dev, Julian hanya mengangkat tanganya. Anna hanya bisa menatap punggung
laki-laki itu saat ia pergi, Julian selalu datang dan pergi sesuka hatinya.
__ADS_1
****