Anna & Dream

Anna & Dream
18. Apel With Love


__ADS_3

Julian POV


Julian sedang berdiri


di depan jendela kamarnya, ia menatap langit malam ini tampak bulan sedang


bersinar terang, ia masih teringat kejadian tadi, ia memeluk Anna, dan berjanji


tidak akan melepaskan gadis itu, sebenarnya itu adalah ungkapan hatinya ia senag


sekali saat mengatakan.


“Aku tidak akan


melepaskanmu, aku berjanji.” Julian mengatakannya dengan tegas, karena itu


adalah janjinya pada Anna, mungkin wanita itu tidak menyadarinya.


“Aku


sangat mencintaimu, aku ingin menjagamu seumur hidupku, aku ingin menikahimu.” gumam


Julian dalam hati. Ingin sekali menggatakan kalimat itu, tapi suaranya tidak


keluar.


”Sial apa yang terjadi


padaku tadi? mengapa mulutku tidak bisa mengucapkan itu.”


Julian masih menginggat


punggung Anna, punggung itu tampak mulus, kulitnya terasa lembut dan ia


menyukainya, ingin sekali mencium dan mencubuhi punggung itu, memberi tanda


kepemilikanya disana, tapi ia tidak bisa melakukanya, itu akan membuat Anna


marah dan takut padanya.


Sedetik kemudian ia


meletakkan tangannya tepat di Daddya kirinya, “Mengapa kau berdekat seperti ini


dari tadi?” Julian menarik napas dalam berusaha menenangkan jantungnya yang


berdetak cepat.


“Rasanya sangat sakit,


setiap kali aku ingat kalau kau sudah bertunangan.” gumam Julian lirih


mengingat nasipnya.


***



Pagi


ini mereka sarapan di meja makan, masing-masing mereka menikmati roti sebagai


sarapan untuk pagi ini.


“Kak


, Anna, aku berangkat dulu ya.” Lucy pamit.


“Ya,


hati-hati Luc.y” Jawab Anna, Julian hanya menganguk, tidak berapa


lama-laki-laki itu bangun, dari tempat duduknya.


“Kau


berangkat sekarang?” Anna bertanya, tampak laki-laki itu hanya mengangguk


kemudian pergi.


“Kenapa dengan nya?“gumam Anna dalam hati.


Anna


sering merasa bingung dengan perubahan sikap yang sering Julian tunjukan,


terkadang laki-laki itu sangat menyeramkan dan dingin, terkadang sangat ramah


dan baik padanya.


Anna


tersadar dari lamunanya saat ponselnya berbunyi dan sebuah pesan singkat


terterah di layarnya.


Jesika


:


Anna, aku akan memilih baju


penganti hari ini temanin ya,


Ku jemput jam sebelas.


Anna:


Oke.


***


Seperti yang sudah di


janjikan Jesika, ia menjemput Anna di kediaman Alexander, mereka melajukan


mobil kearah sebuah Mall, di sana terdapat beberapa butik untuk pakaian penganti.


Hari ini Wil dan Xiang tidak bisa menemani karena masih sangat sibuk dengan pekerja


mereka di kantor.


Kedua gadis itu mulai


memasuki satu persatu butik pakaian pengantin, sudah tiga butik yang mereka


telusuri tapi tidak ada satupun yang cocok untuk Jesika.


 Mereka melangkahkan kaki ke butik ke empat,


sampak seorang perempuan muda menyambut mereka dengan rama, penjaga butik itu

__ADS_1


menunjukan satu- persatu koleksi baju penganti yang mereka punya.


“Ini bagus,” Anna


menunjuk salah satu baju pengantin yang di berikan sang penjaga butik, tampak


baju itu


berwarna putih dengan lengan yang panjang dari bahan berukat dan


terdapat beberapa mutiarah sebagai hiasanya, baju pengantin itu terlihat cantik


dengan dizeinya elegan dan terlihat tidak terlalu berat jika di gunakan, ia


baju itu memiliki ekor tapi tidak terlalu panjang.


“Cobalah,” Anna


menyarankan, tapi Jesika mengeleng, ia lebih tertarik mencobah baju pengantin


yang lain yang memiliki disain lebih glamor.


“Aku akan mencobah yang


ini.” jawab Jesika sembaring pergi kedalam ruang ganti. Anna masih menunggu sambil


memperhatikan beberapa baju yang ada di sana.


“Bagaimana?” Jesika


keluar dengan gaun yang terlihat glamor,


“Bagus, kau terlihat


cantik dan glamor,” jawab Anna


“Ya, semoga saja, Make


menyukainya.” Jawab Jesika, Mike adalah calon suami Jesikam mereka memiliki


kesamaaan suka dengan hal yang glamor, Anna tersenyum lebar mendengarnya.


Tiba-tiba Jesika


berbisik pada penjaga butik di sampingnya, orang itu  lalu  mengangguk, tidak berapa lama penjaga butik


itu memberikan baju pengantin yang Anna tunjuk tadi.


“Silakan di cobah, mbak.”


pelayan itu menyodorkan gaun itu pada Anna.


“Tidak –tidak usa mbak,


teman saya yang akan menikah.” Jawab Anna


“Ayolah, kau sudah


bertunangan dan kau akan menikah kan, siapa tau butik ini akan jadi langanan


kita,” Jawab Jesika


“Ya, di cobah dulu  mbak, tidak apa-apa.” Pelayan itu menyerahkan


gaun itu pada Anna.


Anna sempat terdiam


mungkin benar apa yang Jesika katakan, gadis itu segerah masuk ke ruang ganti


di bantu pelayan tadi.


****


“Hai, Jes,” sapa


seorang laki-laki.


“Kak coba lihat? bagus


kan gaunku?” Jesika tampak antusias menunjukan gaun itu, sesekali ia berputas


di hadapan kakanya. Membuat Dev tersenyum lebar melihat tingkah adiknya, ia


tidak meyangkah kalau Jesika lah yang akan menikah lebih dulu darinya.


“Itu siapa?” Dev


mengerijap saat mendengar pertanyaan adiknya membawa laki-laki itu kembali


tersadar kalau tadi ia datang bersama sahabatnya. Jesika menatap pada sesok


pria di samping kakaknya dengan tatapan menilai, sepertinya mereka pernah


bertemu, atau Jesika lupa?


“Ini Julian teman


kakak, kamu ingatkan, waktu kamu wisuda ia mengirimkan bunga, dan di rumah


sakit waktu Anna di rawat?” Jelas Dev, memperkenalkan Julian pada adiknya,


tampak Julian segerah menyalami Jesika.


Sebenarnya Julian


mengingat Jesika, saat Anna, Wil dan gadis itu gadis itu ikut mengatainya


terkena penyakit menular dan penyuka sesama jenis, tapi Julian tidak


mempermasalahkan hal itu lagi.


Tidak beberapa lama


seorang wanita keluar dari kamar ganti dengan gaun putih yang sederhana namun


indah, membuat tiga orang itu menatap Anna dengan tatapan sulit diartikan.


“Waw, kau cantik sekali


Anna.” Jesika tidak percaya melihat Anna yng tampak berbeda. Gadis itu terlihat


kaku saat melihat melihat dua orang laki-laki sedang menatapnya dengan tatapan


aneh, mungkin Anna tidak cocok mengenakan gaun indah ini, Anna mulai mengaruk


tungkuknya yang tidak gatal.


“Cantik,” gumam Dev, “Kau


siap menikah sekarang Anna.” godah Dev, Anna tampak malu dan memperlihatakan

__ADS_1


rona merah di pipinya, tampak Julian hanya diam sulit untuk membaca raut


mukanya.


“Mari kita berpoto.”


Ajak Jesika, tampak dua gadis itu,  berdiri bersebelahan, Dev segerah mengeluarkan ponsel pintarnya, dia


segerah mengabadikan momen itu.


“Kak, poto aku sendiri


ya, aku akan mengirim potonya pada Max.” Jelas Jesika.


Anna mengeser


langkahnya, dengan segerah Julian mendekatinya, ia membantu menjaga bagian


bawah gaun itu, agar tidak terinjak Anna hingga membuat gadis itu terjatuh


nantinya.


“Terimakasih.” Bisik


Anna sambil tersenyum.


Julian dan Anna hanya


bisa berdiri bersampingan sambil melihat Dev yang sedang memotret adiknya.


“Kalian cocok.” Jawab


Dev mengodah, Anna dan Julian tanpa menurunkan ponselnya, membuat keduanya


sama-sama salah tingkah, andai saja itu semua menjadi benar mungkin semua tidak


akan sesulit ini untuk Julian.


Tampa mereka sadari,


Dev telah mengabadikan momen Anna dan Julian berdua mulai dari saat Julian


membantu Anna mengurus gaunya, saat Anna berbisik dan saat mereka berdiri


berdua.


Dev menyadari kau


sahabatnya, untuk pertama kali peduli terhadap wanita dan ia juga sadar kalau


Julian menyukai Anna terlihat dengan jelas cara ia memandang gadis “Ini kesempatan langkah gumam.” Dev


dalam hati.


“Dev, aku harus kembali


ke kantor.” Julian membuka suaranya


“Apa kau yakin tidak


mau makan dulu bersama kami?” Jawab Dev. Sesaat kemudian, laki-laki itu menatap


Anna, tampak gadis itu mengangguk seolah mengiyakan ajakan Dev untuk makan


bersama.


“Baiklah kita makan


dulu.”


****


Merekah berjalan  menujuh sebuah restoran di dalam Mall itu,


Anna duduk di samping Jesika, membuat Julian sekarang berhadapan denganya dan Dev


tepat di depan Adiknya.


“Kalian mau pesan apa?”


Dev berbicara, tampak mereka sibuk memilih menuh makannan itu setelah mereka


selesai memilih makanan yang mereka inginkan, Dev segerah memanggil salah satu


pelayan restoran itu


“Dua ayam bakar, dengan


sambel hijau, dan satu ikan bakar dan ayam goreng dengan sambel mereh, minumnya


jus jeruk empat.” Jelas Dev, pelayan itu pergi meninggalkan mereka, tidak


berapa lama pesanan mereka datang.


“Anna, kau tidak bosan


makan ikan bakar terus?” Jesika bertanya, Anna tersenyum.


“Kau harus mencobanya,


ini enak.” Anna menawarkan.


“Aku tidak suka makanan


laut, lebih enak ayam goreng ku.” Jawab Jesika


“Jadi kapan kau menikah


Anna?” sontak Julian yang mendengar itu langsung terbatuk-batuk dengan cepat


Anna menyodorkan jus padanya.


“Kau tidak-apa-apa?”


Anna bertanya, Julian hanya mengangguk sambil meminum jusnya. “Secepatnya, setelah


aku sembuh.” jawab Anna atas pertanyaan Dev, Jesika dan Dev mengangguk sambil


tersenyum tentu saja mereka senang kalau Anna menikah secepatnya.


“Aku selesai, aku sudah


terlambat ke kantor.” jelas Julian, laki-laki itu pergi tanpa menghabiskan


makannanya.


“Hati-hati! “ teriak


Dev, Julian hanya mengangkat tanganya. Anna hanya bisa menatap punggung


laki-laki itu saat ia pergi, Julian selalu datang dan pergi sesuka hatinya.

__ADS_1


****


__ADS_2