Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship

Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship
Cek cok.


__ADS_3

Begitu dia tiba di rumahnya, William mendapati ibunya sedang berbincang dengan istrinya dan terkadang mereka terlihat tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan tapi ibunya tampak begitu senang. Apa saat ini istrinya sudah berhasil mengambil perhatian ibunya?


Apa pun itu tapi istrinya tidak akan pernah mengambil perhatiannya dan jangan harap bisa berhasil. William segera membuka jas yang dia pakai dan menghampiri ibu dan istrinya.


"Aku pulang, Ma," ucapnya.


"Oh, akhirnya kau pulang juga," ucap Sisilia seraya bangkit berdiri.


Sisilia segera menghampiri putranya, sedangkan Citra berjalan di belakang ibu mertuanya dan mengambil jas dari tangan William. Bagaimanapun mereka harus terlihat seperti sepasang suami istri bukan?


"Ada apa Mama datang kemari?" tanya William curiga.


"Memangnya Mama tidak boleh datang?"


"Bukan begitu, kedatangan Mama pasti ada tujuannya bukan?"


"Ck, Mama dengar istrimu belajar memasak, itulah sebabnya Mama datang."


"Tidak perlu berbohong! pasti Kakek meminta Mama datang untuk menyampaikan sesuatu!"


"Kita bahas hal ini nanti tapi sebelum itu kita makan dulu. Mama sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan buatan menantu Mama," ucap Sisilia.


William menatap Citra dengan tajam. Wanita itu benar-benar sukses mengambil perhatian ibunya tapi jangan kira dia sudah menang karena dia tidak akan bisa mengambil perhatiannya. Citra sangat heran, apa dia telah melakukan kesalahan sehingga William menatapnya seperti itu?


"William kenapa kau diam saja? Apa kau sudah makan?" tanya ibunya.


"Hm, belum Ma."


"Jika begitu segera ganti bajumu dan kita makan bersama," ucap Ibunya.


"Aku akan memanaskan makanan," ucap Citra seraya berjalan pergi.


"katakan padaku, Ma. Apa yang direncanakan oleh Kakek?" tanya William setelah Citra sudah pergi.


"Sudah Mama katakan bukan? Kita bicarakan hal ini setelah makan," jawab ibunya.


"Mama tidak perlu mengulur waktu!"


"William, apa kau tidak ingin makan siang dengan Mama?" Sisilia memasang wajah sedih.


"Ck, baiklah. Aku akan mengganti pakaianku terlebih dahulu," ucap William.


"Bergegaslah," ucap Sisilia dan dia segera pergi, sedangkan William berjalan menuju kamarnya.


Di dalam dapur, Citra tampak sibuk memanaskan beberapa makanan dan Mbak Siti membantunya. Sisilia menghampiri menantunya karena dia juga ingin membantu dan tidak lama kemudian, makanan sudah terhidang di atas meja.


Mereka menunggu William tapi pria itu tidak juga terlihat, entah apa yang dia lakukan dan Sisilia mulai gusar.


"Sayang, pergi panggil William. Makanan sudah dingin," ucap Sisilia.

__ADS_1


"Baik, Ma," jawab Citra dan dia segera berlalu pergi.


Citra berjalan menuju kamar dan tampak sedikit ragu, entah apa yang akan dibicarakan oleh ibu mertuanya tapi dia merasa jika kedatangan ibu mertuanya untuk membahas masalah bulan madu mereka nanti.


Setelah tiba di kamar, Citra mengetuk pintu dengan pelan dan pada saat itu, terdengar suara William dari dalam.


"Masuk saja!"


Citra segera mendorong pintu sampai terbuka dan sangat kaget mendapati William sedang berdiri di depan lemari dengan sebuah handuk melilit di pinggangnya.


"Mama memintamu untuk bergegas," ucap Citra.


Dia tidak berani memandangi suaminya dan dia ingin segera keluar dari tempat itu.


"Hm," jawab William singkat.


Citra ingin menutup pintu kembali tapi pada saat itu, William teringat dengan sesuatu dan dia harus memastikan hal ini.


"Tunggu sebentar," pintanya.


"Ada apa?" tanya Citra.


"Masuk dan kita bicara di dalam. Aku tidak mau Mama mendengarnya," pinta William seraya berjalan mendekati Citra.


Citra mengangguk dan segera masuk, begitu pintu tertutup Citra sangat kaget karena William sudah menahannya di depan pintu.


"Kau tidak mengatakan hal yang aneh pada Mama, bukan?" tanya William sambil memandangi Citra penuh selidik.


"Bagus dan jangan pernah mencoba menjelek-jelekkan aku di depan keluargaku! Jika sampai aku tahu kau melakukannya ...," William mendekatkan wajah mereka dan berbisik, "Aku tidak akan segan menyakitimu dan aku akan membuatmu menderita untuk seumur hidupmu! Kau paham?"


Citra hanya mengangguk, apa William pikir dia sepicik itu? Dia tidak akan melakukan hal licik seperti yang di ucapkan oleh William apalagi, semua itu tidak berguna baginya.


"Apa ada yang lain?" tanya Citra sambil menatap William dengan tajam.


"Tidak," jawab William.


"Ya sudah, minggir!" pinta Citra seraya mendorong tubuh William.


William terhuyung ke belakang dan pada saat itu, "Sruut!" handuk yang dia pakai terlepas dan memperlihatkan belalainya.


"Kyaaa!" Citra berteriak dan segera menutup matanya, sedangkan William memungut handuknya.


"Mesum!" teriak Citra. Dia segera berlari keluar dari kamar dengan wajah memerah, sedangkan William terkekeh.


Citra segera kembali ke dapur dengan wajah memerah. Sial! Matanya sudah ternoda!


"Ada apa, Sayang?" tanya Sisilia ketika menantunya telah kembali karena dia mendengar teriakan menantunya tadi.


"Ada ular, Ma," jawab Citra sambil mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Ha? Yang benar," Sisilia tidak percaya mendengarnya.


Citra mengangguk dan mengambil segelas air. Dia meneguk air itu dengan cepat dan pada saat itu, William masuk ke dalam. Wajah Citra langsung memerah karena malu dan dia tidak berani menatap suaminya.


Mereka segera makan karena makanan sudah semakin dingin. Tidak ada yang bersuara saat makan dan setelah selesai, Citra membereskan piring kotor, sedangkan Willim berbicara dengan ibunya.


"Jadi katakan padaku, apa yang direncanakan oleh Kakek?" tanya William tanpa basa basi.


"Kalian tahu? kakek sudah menyiapkan perjalanan bulan madu kalian."


"Apa? kenapa begitu cepat?" tanya William tidak percaya.


"Kau tahu kakekmu bukan orang yang suka menunda, William. Kami sudah memilih tempat romantis untuk kalian dan kalian akan berangkat satu minggu lagi. Habiskanlah waktu kalian selama dua bulan di Italia."


"Ma, kenapa harus ke Italia dan kenapa harus dua bulan? Aku baru kembali dari luar negeri jadi aku banyak pekerjaan. Lalu kenapa kami harus pergi ke Italia dalam waktu satu minggu lagi?" tanya William tidak terima.


"Kamu tidak perlu khawatir, Sayang. Semua pekerjaan akan papamu ambil kendali. Kalian berdua cukup nikmati waktu kalian di sana dan Mama berharap hubungan kalian semakin dekat. Mama juga berharap saat kalian kembali kalian memberikan Mama seorang cucu," ucap Sisilia.


Citra diam saja, sedangkan William melirik ke arahnya dengan tajam. Memberi ibunya cucu? Dia tidak akan pernah mau dengan wanita itu!


"Mama jangan berharap banyak! Aku tidak akan pernah menyentuhnya!" ucap William dengan sinis.


"Kenapa?" tanya ibunya heran.


"Mama tahu bukan jika yang aku sukai hanya Lena. Aku tidak pernah mau menikah dengannya tapi kalian memaksa aku untuk menikahinya! Kalian memutuskan seenaknya kehidupanku tanpa bertanya aku mau atau tidak dan asal Mama dan kakek tahu, aku tidak akan pernah mencintainya walaupun kalian berusaha mendekatkan aku dengannya!" ucap William dengan sinis.


Citra menunduk dan rasanya ingin menangis mendengar ucapan yang sangat menyakitkan dari suaminya. Dia tahu William tidak menyukainya tapi mendengar ucapan itu secara langsung dari mulut William, sungguh menyakitkan.


Sisilia begitu marah mendengar ucapan putranya, dia bangkit berdiri dan menggebrak meja dengan kencang.


"Lena ... Lena lagi! Lagi-lagi wanita itu yang ada di matamu! Apa kau buta William? Dia hanya memanfaatkanmu saja!" teriak Sisilia marah.


"Mama jangan asal menuduh!" William juga marah.


"Pokoknya kalian harus putus!" ucap Sisilia dengan penuh emosi.


"Tidak akan pernah, Ma! Aku sangat mencintai lena dan aku  tidak akan putus dengannya dan sampai kapan pun aku tidak akan mau menerima wanita ini!" teriak William sambil menunjuk ke arah citra dengan amarah tertahan.


Seandainya tidak ada wanita itu, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi dan sekarang dia tidak perlu adu mulut dengan ibunya sendiri.


Citra hanya menunduk dan menahan air matanya sedari tadi, dia tidak ingin ikut campur karena dia hanya orang yang tidak diinginkan.


"Mau ke mana?" tanya Sisilia ketika melihat putranya bangkit berdiri dan berjalan pergi.


"Pergi, aku malas cek cok sama Mama. Lebih baik aku pergi ke rumah Lena," jawabnya sambil melangkah pergi.


"William, tunggu! Kita belum selesai dan kau tidak boleh pergi ke sana!" teriak Sisilia seraya mengejar putranya.


Air mata Citra sudah jatuh perlahan, apakah dia begitu tidak diinginkan? Tidak saja tidak diinginkan oleh keluarga angkatnya tapi sekarang, suaminya juga tidak menginginkannya. Apa dia begitu tidak berguna?

__ADS_1


Citra segera berjalan pergi sambil menangis, tidak seharunya dia berada di sana apalagi dia sudah seperti sebuah beban yang tidak diinginkan oleh William. Apa dia bisa pergi dari tempat itu?


__ADS_2