
Kedua orang itu berjalan mendekati Citra, tugas mereka adalah menangkap Citra. Citra segera memutar langkahnya hendak lari tapi sayang, tangannya ditangkap oleh salah satu pria itu. Citra memberontak dan ingin berteriak tapi salah satu dari mereka menempelkan sesuatu ke hidung Citra.
"Hm!" Citra berusaha terus memberontak tapi tidak lama kemudian, kepalanya terasa pusing dan pandangannya tampak buram.
Citra sudah pingsan dan dia segera dibawa oleh kedua orang itu. Tentu saja mereka adalah anak buah yang diutus oleh William untuk menangkap Citra. Itulah yang diperintahkah oleh William kepada sekretarisnya. Dia ingin ketika pesawat mendarat, ada orang yang menangkap Citra.
"Sudah dapat, bos," lapor salah satu orang itu.
"Bagus, bawa ke mobil!" perintah William.
Citra di bawa menuju mobil yang telah menunggu dan tubuhnya di masukkan ke dalam mobil. William turun dari pesawat dengan santai dan segera berjalan menuju pintu keluar sambil membawa barangnya yang memang sedikit.
Mobilnya berhenti dan supir pribadinya mengambil barang bawaannya. William membuka pintu dan tampak tersenyum ketika melihat Citra terbaring di kursi. Kali ini dengan cara apapun dia tidak akan membiarkan Citra pergi sekalipun dengan sebuah ancaman. Apapun akan dia lakukan karena Citra hanya miliknya.
William memerintahkan supirnya untuk segera membawa mereka pulang, sedangkan saat itu Doni mencari keberadaan Citra. Dia sudah menunggu begitu lama tapi Citra tidak terlihat. Dia juga sudah berusaha menghubungi Citra tapi tidak dijawab. Kemana sebenarnya Citra?
Hari itu jalanan jakarta begitu macet, Citra masih belum sadar dari pingsannya. William membaringkan kepala Citra di atas pahanya. Tangannya sedari tadi mengusap kepala Citra tiada henti. Entah kenapa dia suka melakukan hal itu dan rasanya tidak ingin berhenti.
"Ugh" Citra sadar dari obat bius yang mempengaruhinya dan memegang kepalanya. Dia berusaha untuk membuka dan melihat situasi.
"Sudah sadar?"
Ketika mendengar suara William, Citra langsung bangun dari tidurnya dan melihat sekelilingnya. Dia juga melihat William dan tampak ketakutan.
"Ke-kenapa kau?" Citra benar-benar tampak ketakutan.
"Kenapa apanya? Seharusnya itu kalimatku, kenapa kau pergi bersama dengan lelaki itu dan meninggalkan aku?"
"Ti-tidak ... tidak! Tolong lepaskan aku, Willy," pinta Citra memohon.
"Tidak akan pernah! Aku tidak akan melepaskanmu apapun yang terjadi!"
__ADS_1
"Will, please. Biarkan aku pergi dan ceraikan aku sekarang juga," pinta Citra.
William sangat marah mendengar permintaan Citra, apa Citra begitu tidak suka dengannya atau Citra meminta hal itu agar dia bersama dengan pria itu?
"Dengar!" William memegang dagunya Citra dengan kasar dan mengangkat wajahnya.
"Aku sudah katakan padamu, kau tidak akan lepas dariku jadi sebaiknya berhenti berharap!"
"Tapi bukankah kau sudah berjanji?"
"Perjanjian itu sudah tidak berlaku!" jawab William.
"Apa? Kau bercanda bukan?" tanya Citra tidak percaya.
"Tentu saja tidak! Kau telah berani lari dariku bersama dengan pria lain! Walaupun kau berusaha mengelabui aku di pesawat tapi aku tidak bodoh! Akan aku buktikan pada pria itu jika kau adalah milikku dan kau tidak akan aku lepaskan!" Setelah berkata demikian, William mencium bibir Citra dan mel*matnya dengan kasar.
Mata Citra melotot dan dia berusaha memukul William tapi William menangkap tangannya dan terus mencium bibirnya.
"Bajingan kau!" teriak Citra marah seraya mengusap bibirnya.
"Sebaiknya diam jika tidak aku akan melakukannya lagi," ancam William.
"Aku mohon Willy, tolong lepaskan aku. Bukankah kau ingin kita bercerai? Mari kita bercerai secara baik-baik," pinta Citra dengan memohon.
"Tadinya aku memang ingin kita bercerai," William menangkap tangan Citra dan menatapnya dengan tajam.
"Tapi karena kau berani kabur dariku dan pergi dengan pria lain maka aku jadi berubah pikiran dan aku tidak ingin kita bercerai."
Citra tampak tidak mengerti, sebenarnya apa yang diinginkan oleh William?"
"Willy, please. Pernikahan kita hanya terdaftar di catatan sipil jadi kau bisa membuang aku kapan saja. Bukankah kau ingin menikahi pacarmu? Aku mohon Willy, lepaskan aku dan kau bisa menikah dengan pacarmu," pinta Citra lagi sambil memasang tampang memelas.
Citra harap William mau mengabulkan permintaannya tapi dia tidak menyangka jika William semakin marah karena dia begitu ingin lepas darinya. Dengan kekesalan di hari, William menarik tengkuk Citra dan menarik rambutnya.
__ADS_1
"Willy, sakit!" teriak Citra sambil memegangi tangan William.
"Tadinya memang begitu keinginanku tapi karena kau berani kabur dariku dan begitu ingin lepas dariku, maka aku tidak akan melepaskan kamu. Walaupun pernikahan kita baru terdaftar di catatan sipil dan belum sah secara agama, aku tidak akan melepaskan kamu! Asal kau tahu, aku memang akan menikahi Lena dan kau hanya akan menjadi mainanku saja!" ucap William dengan sinis.
"Kau benar-benar brengsek!" teriak Citra marah.
William tertawa terbahak-bahak, dia memang brengsek dan sekarang dia sudah sangat mirip dengan baji*ngan.
"Aku memang brengsek! OLeh karena itu kau duduklah dengan tenang jika tidak, aku tidak akan segan-segan untuk memperkosamu di sini!" ancam William.
Citra ketakutan mendengarnya, apakah William serius dengan ucapannya? William mengusap wajahnya dengan kasar, sial! Kenapa dia harus mengucapkan perkataan seperti itu?
Dia harap Citra tidak mempercayai ucapannya tapi Citra sudah tampak ketakutan. Bagaimana jika William benar-benar akan memperkosanya di mobil?
Citra membuang pandangannya keluar jendela dan menatap jalanan yang mulai gelap. Saat itu mobil yang membawa mereka melaju secara perlahan karena memang jalanan jakarta di sore hari begitu macet. Citra mengigit bibirnya dan tampak berpikir, dia juga memandangi aspal jalan yang mereka lalui dan entah kenapa sebuah keputusan gila dia ambil.
"Mati sekarang atau nanti?" Ucapnya dalam hati.
Citra melihat ke arah William, saat itu William sedang memejamkan matanya jadi inilah kesempatannya untuk lari.
"Oh ....persetan dengan pria ini! Aku tidak akan pernah mau menjadi mainannya!"
Saat mobil yang membawa mereka masuk ke dalam jalan tol untuk menghindari macet, Citra berpikir itulah saat baginya. Kesempatannya cuma satu kali dan jika di sia-siakan olehnya maka selamanya dia tidak akan lepas dari William.
Tangan Citra mulai meraba pintu mobil, dia segera membuka kunci dengan perlahan dan menelan ludahnya,dia benar-benar tidak punya pilihan dan jika dia mau lari maka harus dia lakukan.
"Tuhan, maafkan aku," ucap Citra dalam hati dan tidak membuang waktu, Citra membuka pintu mobil dan melompat keluar.
Supir pribadi William berteriak ketika menyadari hal itu dan segera menghentikan mobil secara mendadak. William juga kaget dan melihat pintu yang terbuka dan Citra sudah tidak ada. Wajahnya langsung pucat ketika supirnya mengatakan jika Citra melompat keluar.
Saat itu tubuh Citra terguling di atas rerumputan yang ada di sisi jalan tol. Tubuhnya terus tergulung sampai dia menabrak sebuah pohon dengan keras. Citra berteriak dan meringis kesakitan. Tulangnya bagaikan remuk bahkan dia tidak bisa merasakan tangan kanannya yang mungkin patah.
Citra berusaha untuk bangkit berdiri dan melihat mobil William yang berada tidak begitu jauh. Sebaiknya dia segera pergi jika tidak dia akan tertangkap lagi. Citra berjalan dengan terhuyung-huyung masuk ke dalam hutan yang ada di pinggir tol. Dia menyembunyikan diri di sana karena William sudah turun untuk mencarinya. Semoga kali ini dia tidak tertangkap agar usahanya tidak sia-sia.
__ADS_1