Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship

Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship
Bertemu kembali part 2


__ADS_3

Citra masih berusaha memberontak dan memohon agar William melepaskannya. Dia benar-benar lelah dan ingin pulang. Dia terus memohon dan akhirnya William melepaskan pelukannya, Citra memutar tubuhnya karena dia ingin memukul William tapi saat itu, dia melihat David berdiri tidak jauh dari mereka dan sedang melihat mereka.


"Oh ... tidak, David," ucapnya.


Dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa,dia juga tidak menyangka jika David akan melihat kejadian itu. Bagaimana dia harus menjelaskan hal ini pada David? Pikirannya kacau dan rasanya dia ingin menghilang dari tempat itu.


David melihat Citra sejenak dan setelah itu, David melangkah pergi meninggalkan mereka dengan perasaan hancur.


"David, tunggu!" Citra hendak mengejar David tapi William menahan tangannya.


"Apa kau mengenal David?" tanya William.


"William tolong lepaskan aku!" pinta Citra lagi.


Dia harus mengejar David dan menjelaskan semuanya tapi apa yang harus dia katakan? Apa David mau mendengarkan dan mau menerima masa lalunya?


"Tidak, apa kau mengenal David?" tanya William kembali. Dia jadi curiga, apa Citra wanita yang sedang dikejar oleh David?


"Ini bukan urusanmu, Tuan William. Tolong lepaskan dan jangan pergi dari hadapanku!" ucapnya sambil berusaha melepaskan genggaman tangan William.


 


William tidak bergeming, dia tidak akan melepaskan Citra dan dia juga tidak akan membiarkan Citra mengejar David.


"William, aku mohon lepaskan aku. Kita bisa bicarakan ini nanti tapi tolong biarkan aku menemui David," Citra masih memohon.


William masih diam dan entah kenapa dia semakin yakin jika Citra adalah wanita yang sedang dikejar oleh David saat ini. Jika dia membiarkan Citra menemui David, apa Citra akan pergi bersama dengan David?


"Tidak! sekarang ikut aku pulang, kita perbaiki lagi semuanya. Kita mulai lagi dari awal," ucap William dan dia kembali memeluk Citra.


 


"Tidak!" teriak Citra seraya mendorong tubuh William dan setelah itu Citra menampar wajah William dengan keras.


"Plak!" sebuah tamparan mendarat di wajahnya tapi William diam saja.

__ADS_1


 


Air mata Citra mengalir semakin deras, pikirannya benar-benar kacau saat ini dan tapi satu hal yang dia pikirkan saat ini adalah, bagaimana caranya dia menjelaskan hal ini pada David nanti?


Citra benar-benar bingung menghadapi situasi yang dialami saat ini. Kenapa semua serba kebetulan? Kenapa William mengenal David? Apa yang harus dia lakukan? Dengan perlahan, Citra berjalan menuju mobilnya. Sebaiknya dia pulang, dia juga ingin menjauh dari William.


 


William kembali mengejar Citra dan memegang tangannya kembali, jika dia kehilangan Citra malam ini maka dia tidak yakin akan menemukan nya lagi karena dia takut Citra pergi entah kemana sehingga dia tidak bisa menemukannya.


"Tunggu, kau tidak boleh pergi dengan keadaan seperti ini," cegahnya.


"Tolong biarkan aku sendiri,William. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!" ucap Citra seraya menepis tangan William.


"Baik, aku akan membiarkan kau sendiri tapi sekarang aku akan mengantar kau pulang. Kau tidak boleh menyetir sendirian dengan keadaan seperti ini."


"Heh ... apa urusanmu, Tuan William?" tanya Citra dengan sinis.


"Aku khawatir padamu, jika terjadi sesuatu padamu aku tidak sanggup untuk kehilangan kau untuk yang kedua kalinya," jawab William.


"Tiga tahun yang lalu kau tidak pernah peduli dengan keadaanku, lalu untuk apa sekarang kau khawatir denganku?" tanya Citra sambil menatap tajam ke arah William.


William memegang bahu Citra dan menatapnya dengan lembut, dia tahu Citra pasti membencinya tapi dia dia akan membuktikan pada Citra jika dia sudah berubah.


"Dengarkan aku, Sayang. Kita hanya salah paham saja. Tiga tahun yang lalu aku mengira kau sudah meninggal dan jika aku tahu kau masih hidup maka aku akan mencarimu sampai ketemu."


"Jangan memanggil aku Sayang, itu memuakkan. Kau sudah mengira aku meninggal bukan? Jadi sebaiknya tetap seperti itu dan anggap saja kau tidak melihat aku malam ini!" teriak Citra sambil menahan air matanya.


William berusaha bersabar, bagaimanapun dia tidak boleh marah jika tidak Citra akan semakin membencinya.


"Ayo, aku antar pulang," bujuk William lagi.


 


"Jangan menghabiskan waktumu yang berharga, William," ucap Citra dan dia berjalan menuju mobilnya sambil mengeluarkan kunci dari dalam tas.

__ADS_1


William mengikutinya dan langsung merebut kunci dari tangannya, dia tidak akan membiarkan Citra pergi apapun caranya.


"Kembalikan!" teriak Citra marah.


"Jika kau tidak mau tidak masalah, tapi aku yakin kau tidak akan sanggup berdiri di sini semalaman!" ucap William sambil tersenyum.


"Kembalikan, William!" pinta Citra lagi tapi William hanya menggeleng.


"Tolong jangan mempersulit aku dan kembalikan kunci mobilku," pintanya sambil mencoba meraih kunci mobilnya.


"Tidak, sampai kau mengijinkan aku mengantar kau pulang," William mengangkat kunci mobil itu tinggi-tinggi sedangkan Citra berusaha melompat untuk meraih kunci mobilnya yang ada di tangan William. Citra mengumpat kesal karena dia tidak bisa mendapatkan kunci mobilnya.


"Sialan kau, kembalikan! teriaknya marah.


Citra benar-benar kehabisan akal, entah bagaimana dia harus menghindari William saat itu tapi William tidak juga mau pergi walaupun sudah dia maki berkali-kali.


"Kembalikan! Kembalikan!" Citra memukul dada William dengan membabi buta karena dia sudah putus asa. Rasanya dia ingin memukul pria itu sampai hilang dari pandangannya tapi pria itu tidak mau pergi. Citra menangis dan masih memukul dada William, kenapa dia harus mengalami hal seperti ini?


 


William diam saja, menerima setiap pukulan Citra. Dia tidak akan marah dan dia akan tetap bersabar. Tiga tahun benar-benar sudah merubah segalanya dan jika Citra membencinya itu adalah hal wajar mengingat perlakuan jahat yang pernah dia lakukan ditambah kesalahpahaman  di antara mereka membuat Citra tidak akan mudah menerima dirinya.


Citra masih memukul dan saat itu, William menangkap kedua tangannya dan menarik Citra ke dalam pelukannya.


 


"Kau boleh marah padaku, kau boleh memukul aku sampai puas tapi biarkan kali ini aku mengantar kau pulang," ucap William sambil mengusap punggung Citra dengan lembut


Citra hanya diam, dia sudah lelah. Tenaganya sudah habis dan hatinya juga lelah. Jika dia tidak mengikuti keinginan William dia yakin mereka akan berdiri di sana semalaman. Dia hanya bisa mengangguk pasrah dalam pelukan William karena dia benar-benar ingin pulang.


William tersenyum, dia benar-benar senang. Dia semakin memeluk Citra dengan erat dan dia akan berjuang untuk mendapatkan istrinya kembali. Malam semakin larut dan udara semakin dingin, William segera mengantar Citra pulang tapi di sebuah taman, David duduk di sana dan diam saja sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Dia bahkan menangisi cintanya yang sudah kandas, cinta yang sudah dia pendam selama tiga tahun kadas sudah. Tidak perlu dia tanya karena dia tahu jika Citra adalah istri sahabat baiknya. Tapi bukankah istri William sudah meninggal? Lalu apa yang terjadi sebenarnya dengan mereka?


 

__ADS_1


Dia tahu cinta tidak harus memiliki tapi rasa sakit di hatinya? Entah kenapa takdir mempermainkan mereka. Sebaiknya dia mencari tahu hal ini dari Doni karena dia yakin, Doni tahu semuanya dan setelah itu, dia ingin mendengar hal itu dari mulut Citra sendiri.


__ADS_2