
William segera keluar dari rumahnya dan berjalan menuju mobilnya. Suasana hatinya jadi jelek karena istri pilihan keluarganya. Lebih baik dia pergi ke kantor untuk bekerja dari pada dia melihat wajah wanita itu. Jujur saja dia sudah tidak sabar menendang wanita itu keluar dari rumahnya dan dari kehidupannya.
William segera menyalakan mesin mobilnya dan segera membawa benda itu dengan cepat menuju kantornya.
Saat ini dia menggantikan ayahnya mengelola perusahaan. Perusahaan keluarga Alexanders adalah perusahaan yang sangat sukses. Jika orang bilang, sekalipun hidup berfoya-foya kekayaan Alexanders grup tidak akan habis tujuh turunan.
Begitu tiba di kantor, William segera berjalan masuk dengan terburu-buru dan pada saat itu, seorang wanita menghampirinya dan wanita itu adalah sekretarisnya.
"Selamat pagi Pak William, ada tamu menunggu Anda di dalam," ucap sekretarisnya.
"Siapa?" tanya William dengan dingin.
"Pak David," jawab sekretarisnya singkat.
"Baiklah," jawab William.
William segera masuk ke dalam lift pribadinya yang akan membawanya ke atas. Benda itu mulai bergerak naik dan ketika sudah tiba dan pintu terbuka, William segera berjalan menuju ruangannya karena dia sudah tidak sabar menemui sahabat baiknya.
Pintu ruangan terbuka dan di dalam tampak David sudah menunggu, William tersenyum dan segera menghampiri sahabat baiknya.
"Hey, sobat. Angin apa yang membawamu ke mari?" tanya William basa basi.
David segera bangkit berdiri ketika mendengar suara William, dia tampak senang akhirnya yang dia tunggu datang juga.
"Dasar pemalas! Kau lihat ini sudah jam berapa? Di saat orang sudah menghasilkan uang ratusan juta kau masih tidur di rumah!"
"Sudahlah, kita harus menikmati hidup. Uang semakin dicari semakin terasa kurang," ucap William seraya duduk di dekat sahabatnya.
"Ck, tidak perlu banyak alasan!" dengus David dan dia duduk kembali.
"Hey, ayolah. Kau seharusnya tahu apa yang dilakukan pengantin baru."
"Apa? Tunggu dulu, apa ada yang aku lewatkan? Pengantin baru? Kapan kau menikah dan kenapa tidak mengundang aku?" tanya David bertubi-tubi.
William terkekeh, padahal dia ingin menggoda sahabatnya saja tapi tampaknya, David begitu penasaran,
"Dijodohkan oleh kakek jadi aku sudah menikah dua hari yang lalu."
"Serius?" tanya David tidak percaya sambil melihat sahabat baiknya.
"Tentu saja, buat apa aku membohongimu?"
"Terus, bagaimana dengan pacarmu? Kalian sudah putus?" tanya David lagi.
__ADS_1
"Tentu saja tidak!"
"Maksudmu apa, Sobat? Kau sudah menikah tapi kau masih berhubungan dengan pacarmu, apa kau selingkuh?"
"Tidak, dari awal aku sudah berhubungan dengan Lena jadi aku tidak berselingkuh!" jawab William.
"Kau sangat aneh, kenapa kau tidak menikah dengan pacarmu saja?"
"Jika bisa aku pasti sudah menikah dengan Lena tapi keluargaku tidak menyukainya dan lebih memilih orang asing untuk menjadi istriku," jawab William sambil menghela nafasnya.
"Jadi kau terpaksa menikah dengan wanita pilihan keluargamu?" tanya David lagi.
"Ya, tapi sudahlah aku malas membahasnya! kau sendiri, kapan kau mau menikah?"
"Nanti, belum ketemu wanita yang cocok dan bisa bikin hatiku berdebar," jawab David asal.
"Ck, pergi lihat banci ke Thailand sana, pasti hatimu akan berdebar."
"Sialan kau! Aku masih normal!" ucap David sedangkan William tertawa.
Pada saat itu, David teringat dengan wanita yang dia temui beberapa hari lalu, dia sangat penasaran dengan wanita itu dan ingin bertemu dengannya lagi.
"Oh ya?" William melihat ke arah sahabatnya.
"Ya, kami bertemu di pinggir jalan dan aku mengantar 'nya pulang karena aku iba."
"Terus?" William mulai penasaran.
"Terus aku menghantar wanita itu sampai ke rumah, apalagi?"
"Ya sudah, datangi aja rumahnya jika kau suka dengannya!"
"Itu dia masalahnya, aku tidak tahu yang mana karena dia hilang di pertigaan jalan!"
"Ck, udah kayak lagu aja!" ucap William sedangkan David terkekeh.
"Aku serius, aku sudah melihatnya baik-baik tapi ketika dia berbelok ke gang dia malah hilang," ucap David.
"Jangan-jangan yang kau lihat adalah hantu!"
"Mana ada hantu di siang bolong!" dengus David kesal.
__ADS_1
"Lalu? Apa kau datang ke mari hanya untuk mengatakan hal ini?"
"Bukan begitu, dia tinggal satu perumahan denganmu, apa kau mengenalnya?" tanya David.
"Aku tidak tahu! Aku tidak mengenal orang-orang di sana dan kau tahu, aku hanya pulang ke sana sesekali dan selain itu aku pulang ke rumah keluargaku dan ke rumah Lena."
David tampak sedikit kecewa, padahal dia pikir William bisa membantunya tapi ternyata tidak membuahkan hasil. Sepertinya dia harus mencari wanita itu sendiri.
"Sudahlah, jika berjodoh kalian pasti akan bertemu lagi," ucap William.
"Kau benar, kami pasti akan bertemu lagi nanti dan jika saat itu tiba aku tidak akan melepaskannya dan aku harus tahu tempat tinggalnya," ucap David.
Dia yakin mereka pasti akan bertemu lagi dan jujur saja, sebenarnya dia sudah sangat ingin tahu siapa wanita yang dia jumpai kemarin. Dia merasa sedikit menyesal, seharusnya dia menanyakan nomor ponsel Citra agar dia tidak mengalami kesulitan untuk mencarinya.
Lain kali pasti akan dia lakukan jika mereka bertemu lagi dan kesempatan itu akan dia gunakan dengan baik untuk mendekati Citra.
Mereka berdua masih berbincang, membicarakan pekerjaan dan beberapa proyek tentunya karena mereka bekerja sama dalam membangun sebuah proyek. Mereka membahas hal itu sampai jam makan siang hampir tiba dan akhirnya David berpamitan pergi karena ada hal penting yang harus dia lalukan.
Setelah David pergi, William masih mengerjakan pekerjaannya tapi pada saat itu, dering ponsel mengganggu konsentrasi-nya. Dia segera mengambil ponsel-nya dan begitu melihat ibunya yang menghubungi, William menjawabnya dengan cepat.
"Halo, Ma. Ada apa?"
"Mama ada di rumahmu, pulanglah sekarang?" pinta ibunya.
"Aku sedang banyak pekerjaan, Ma," jawab William.
"Sudah, pulang saja. Kita makan siang bersama karena istri kamu sudah masak makanan kesukaan kamu," ucap ibunya.
William memutar bola matanya dengan malas, apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu? Setelah gagal mengambil perhatiannya, apa sekarang dia mencoba mencari perhatian ibunya?
"William, kau masih berada di sana bukan?" tanya ibunya heran karena putranya diam saja.
"Tentu, Ma. Aku akan pulang jadi tunggulah," ucapnya.
"Bagus, Mama tunggu."
Setelah berbicara dengan ibunya, William segera bangkit berdiri.
Lebih baik dia cepat pulang karena dia tidak mau membuat ibunya menunggu. Dia juga ingin tahu, apa istrinya mengatakan sesuatu pada ibunya? Jangan sampai kakek dan ibunya tahu jika dia meninggalkan Citra saat kembali dan jika sampai itu terjadi maka dia tidak akan memaafkan Citra.
__ADS_1