
Sudah satu minggu William berada di rumah Citra dan selama satu minggu itu, William benar-benar menunjukkan cintanya dengan tulus pada Citra. Terkadang dia memberikan sebuah kejutan agar Citra senang. Dia juga mengajak Citra menonton film sesuai dengan janjinya.
Mereka melewatkan banyak hal menyenangkan berdua bahkan terkadang Citra lupa dengan perlakuan jahat yang telah William lakukan saat bersama dengannya. William benar-benar berubah dan dia benar-benar menunjukkan cinta dengan tulus.
Citra bisa melihatnya jika William serius ingin memperbaiki hubungan mereka tapi dia masih belum tahu apa dia mau kembali dengan William atau tidak.
Saat itu Citra berada di kantor, dia hanya memutar pulpen di tangannya dan melihat sketsa yang dia buat dengan serius. Tinggal satu minggu William di rumahnya dan selama satu minggu itu entah apa yang akan terjadi dengan mereka. Ketika dua minggu telah berlalu sesuai dengan kesepakatan, apa dia mau menerima William kembali?
Sebaiknya dia memikirkan hal ini baik-baik dan tidak salah mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Dia kembali bekerja, menyelesaikan rancangan bajunya. Lebih baik dia fokus dengan pekerjaannya terlebih dahulu dan ketika waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, Citra kembali ke rumah.
Dia sangat heran mendapati rumah tampak gelap. Dia juga heran mendapati pintu rumahnya terkunci tapi mobilnya ada. Citra segera masuk ke dalam rumah dan menyalakan lampu, rumah sangat sepi tidak ada tanda orang di sana.
"William?" Citra memanggilnya dan berjalan menuju kamar yang ditempati William.
Kemana pria itu? Apa dia sakit? Citra segera membuka pintu kamar dan masuk ke dalam, dia juga menyalakan lampu kamar tapi William tidak ada di sana. Citra tampak bingung dan berjalan menuju ranjang tapi pada saat itu dia melihat sebuah kertas berada di atas ranjang, Citra meraih kertas itu dan membaca sebuah tulisan di sana.
"Maaf, Sayang. Nanti aku kembali."
__ADS_1
"A-apa?" Citra benar-benar tidak percaya.
William pergi? Pergi begitu saja dan hanya meninggalkan sebuah pesan seperti itu? Apa maksud semua ini? Apa William hanya mempermainkannya saja?
Citra terduduk di atas ranjang dan tampak tidak percaya. Tanpa dia inginkan air matanya mulai mengalir, jadi William mendekatinya hanya untuk mempermainkannya?
"Kenapa, Willy. Kenapa kau begitu senang mempermainkan aku?" Citra menunduk dan menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Hatinya benar-benar sakit karena lagi-lagi dia dipermainkan oleh pria yang sama. Apa begitu menyenangkan mempermainkan dirinya?
Citra menjatuhkan diri di atas ranjang, menangis. Kenangannya bersama William kembali teringat tapi sayangnya semua itu palsu. Perhatian, perlakuan manis yang ditunjukkan oleh William untuknya semua itu palsu, palsu.
"kenapa, Willy? Kenapa kau begitu jahat padaku?" teriak Citra.
"Dosa apa yang telah aku perbuat hingga kau memperlakukan aku seperti ini? Apa semua ini menyenangkan bagimu? Apa kau belum puas mempermainkan aku sebelum aku mati?!" teriaknya lagi dengan pilu.
Air matanya mengalir dengan deras dan dia meringkuk di atas ranjang menangisi kebodohannya karena lagi-lagi dia mau dipermainkan oleh pria yang sama. Cukup lama dia menangis dan rasanya dia begitu lelah. Citra bangkit berdiri dan berjalan menuju kamarnya, dia juga mengeluarkan semua hadiah yang diberikan oleh William dan hendak melemparnya tapi niatnya terhenti dan dia kembali menangis.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa?" ucapnya dengan lirih dan dia duduk di sisi ranjang.
Tangisannya kembali pecah, dia benar-benar tidak bisa menahan air matanya, kesedihan, amarah dan kekecewaan bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya. Dia benar-benar tidak menyangka jika William begitu tega memperlakukan dirinya seperti itu.
Sebaiknya dia melupakan pria itu, melupakannya untuk selamanya dan semua yang terjadi memang kesalahannya karena dia begitu bodoh sehingga dia bisa dipermainkan dengan mudah oleh William. Dia akan mencari kesempatan untuk mengembalikan barang-barang yang diberikan oleh William untuknya secara langsung dan dia ingin mengakhiri hubungan mereka berdua.
Saat waktunya tiba dia pasti akan melakukannya dan dia tidak akan ragu lagi. Citra menghapus air matanya yang tersisa, walau pedih tapi begitulah kenyataannya. Padahal dia mengira jika William benar-benar sudah berubah dan serius untuk memperbaiki hubungan mereka tapi ternyata dia salah. Sepertinya sampai kapanpun dia akan larut dalam kesedihan.
Citra tidak ingin mengingat William lagi tapi sayang, kenangan saat bersama dengan William selama satu minggu menghantuinya. Dia sangat tidak mau mengingatnya lagi tapi kesendirian yang dia rasakan dan kesedihan di hatinya, membuatnya terus teringat kebersamaan mereka yang singkat tapi menyenangkan.
Supaya dia bisa melupakan kenangan itu Citra terus menyibukkan diri dengan pekerjaannya sampai dia tidak menyadari jika William telah pergi selama satu bulan dan tidak pernah kembali lagi.
Siang itu, Citra sedang membersihkan rumahnya. Dia ingin menyibukkan diri karena tidak ada pekerjaan yang harus dia lakukan. Citra masuk ke dalam kamar yang pernah di tempati oleh William dan diam saja, entah kenapa air matanya tiba-tiba mengalir saat mengingat pria itu.
Citra mengurungkan niatnya dan menutup pintu kamar itu kembali, sebaiknya dia tidak masuk ke dalam kamar itu dulu untuk jangka panjang. Dia melangkah keluar dan saat itu, Terdengar suara bel yang dia gantung di pagar. Citra segera keluar dan melihat seorang kurir mengantarkan sesuatu untuknya. Dia menerima kiriman itu dan membukanya.
Dia tampak bingung ketika sebuah undangan pernikahan yang dia dapat. Citra membuka kartu undangan itu dan tampak terkejut melihat nama mempelai pria yang tertera di kartu undangan.
__ADS_1
"David?" ucapnya.
David akan menikah? Dia sungguh tidak menyangka tapi sepertinya ini akan menjadi kesempatan untuknya karena dia bisa menemui William untuk mengakhiri hubungan mereka berdua. Citra duduk di kursi membaca hari dan waktu pernikahan David, dia memutuskan untuk kembali dan kali ini semuanya pasti akan berakhir.