Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship

Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship
Berusaha


__ADS_3

Citra termenung di meja makan mengingat perkataan William. Apa yang akan William lakukan selama dua minggu?Jika dia tidak mau menerima William kembali apa pria itu benar-benar akan menceraikannya? Dia sangat berharap William tidak mengingkari ucapannya sendiri.


Setelah mendengar permintaan William tadi, sebenarnya Citra tidak mau memberikan kesempatan untuk William tapi William memohon padanya supaya Citra mau memberikan kesempatan padanya agar dia bisa menunjukkan jika dia benar-benar serius ingin memperbaiki hubungan mereka.


Citra menolak karena dia tidak mau kembali dengan William tapi William terus memohon sehingga dia tidak berdaya. Citra menghela nafas dan mengingat permohonan William tadi.


"Please, beri aku waktu dua minggu saja," pinta William ketika dia memohon pada Citra.


"Tidak! Tidak ada kesempatan untukmu jadi pergilah!" tolak Citra.


"Bagaimana caranya agar kamu mau memberi aku waktu untuk membuktikan cintaku? Apa aku harus bersujud di bawah kakimu agar kau percaya?" tanya William.


"Itu tidak perlu William!"


"Jadi harus bagaimana? Katakan padaku, aku pasti akan melakukannya."


Citra menarik napasnya, dia tahu jika ini tidak akan pernah selesai jika dia tidak menyetujui permintaan William. Dia juga sudah malas berdebat. Lagi pula hanya dua minggu saja bukan? Setelah itu dia bebas.


"Terserah 'lah William, satu minggu, dua minggu atau dua bulan terserah. Aku tidak ada tenaga untuk berdebat denganmu sepanjang hari," ucapnya.


William tersenyum dan tampak senang, tanpa menunggu dia langsung memeluk tubuh Citra dan mengusap wajahnya.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih kau sudah mau  memberi aku kesempatan sampai dua bulan."


"Hei, kau bilang dua minggu bukan dua bulan!" protes Citra kesal.


"Aku kira kau akan memberi aku waktu dua bulan," ucap William sambil terkekeh.


Citra tampak cemberut karena kesal, sedangkan William kembali mengusap wajahnya sambil tersenyum.


"Cantik, kau tambah cantik dibandingkan tiga tahun lalu," pujinya.


 


"Tidak perlu memuji! Aku memang cantik sedari dulu tapi karena kau buta sehingga tidak bisa melihatnya!" ucap Citra dengan sinis.


William terkekeh dan memeluk Citra, dia berharap semoga Tuhan mau membantunya sehingga Citra bisa mau kembali dengannya.


 


"Ya, aku dulu memang buta tapi sekarang mataku sudah terbuka lebar," ucap William.

__ADS_1


"Lepaskan William, aku lapar!" ucap  Citra sambil berusaha melepaskan pelukan William.


 


"Baiklah, Nyonya. Aku yang siapkan makanan dan kau cukup duduk manis menunggu," ucap William sambil mengangkat tubuh Citra dan menggendongnya menuju dapur.


"Hei, turunkan!" teriak Citra tapi William tidak mempedulikannya.


Itulah sebabnya Citra hanya duduk diam menatap ke arah William yang sedari tadi sedang menyiapkan makanan untuknya karena William bersikeras ingin memasak. William benar-benar berubah, dia tahu dulu William tidak bisa melakukan semua itu. Karena bosan, Citra bangkit berdiri dan menghampiri William.


"Perlu aku bantu?"


"Sayang, aku meminta kau duduk, jadi tunggulah dan biarkan aku yang melakukannya."


"Aku bosan, William. Aku bukan orang cacat jadi biarkan aku membantu!"


"Baiklah, terserah Nyonya," jawab William.


 


"Berhenti memanggil aku Nyonya, William. Aku ini bukan Nyonya-Nyonya!"


"Berhenti membual!"


"Aku tidak membual, Sayang. Kau masih istriku dan kau memang Nyonya Alexanders."


Citra diam saja, ada apa dengan pria ini? Apa dia sedang berusaha merayunya? William tersenyum dan mengusap wajah Citra dengan lembut. Dia akan berusaha agar Citra percaya jika dia benar-benar serius.


Mereka saling pandang, Citra mencari jawaban dari tatapan mata William karena dia ingin tahu, apa William tidak sedang mempermainkan dirinya saat ini? Tapi dia bisa melihat jika William bersungguh-sungguh dengan apa yang dia ucapkan.


William masih mengusap wajah Citra dan menelan ludahnya ketika melihat bibir Citra yang manis, ingin rasanya dia mencium Citra dan semoga Citra tidak menolak. Dengan perlahan, wajah William mulai mendekat. Mata Citra melotot dan ketika bibir William sudah semakin dekat dan hampir menempel di bibirnya, Citra segera memalingkan wajahnya.


William tampak kecewa tapi dia tahu sepertinya dia terlalu terburu-buru. Citra mendorong tubuh William dan memutar langkahnya, sepertinya dia harus mewaspadai pria itu.


"Jangan lakukan hal itu, William. Aku bukan wanita yang bisa kau cium sesuka hati lalu kau sakiti sesuka hati!" ucap Citra dengan sinis.


 


"Bukan begitu, Sayang. Jangan salah paham dan maaf jika aku terlalu terburu-buru. Aku tidak bermaksud mempermainkan dan menyakiti perasaanmu jadi jangan salah paham," William mengejar Citra dan meraih tangannya. Dia tidak mau Citra semakin membencinya dan tidak seharusnya dia mencoba mencium Citra tadi.


"Baiklah, tapi jangan pernah kau ulangi lagi. Aku tidak suka."

__ADS_1


"Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Sebaiknya kau duduk di sana karena makanan sudah mau selesai," ucap William.


 


"Aku mau mandi!" ucap Citra seraya berlalu pergi.


William tersenyum melihat kepergiannya dan kembali menyelesaikan makanan yang sudah hapat karena dia hampir selesai. Citra mandi dengan cepat karena dia mau pergi. Dia segera keluar dari kamar dan ketika melihatnya, William mendekatinya sambil tersenyum.


"Setelah mandi kau tambah cantik," pujinya.


"Hentikan, William! Jangan menggoda ku terus!" ucap Citra kesal.


"Jika aku tidak menggodamu, lalu bagaimana aku


menunjukkan rasa cintaku. Aku harus memuji wanita yang aku cintai bukan?"


"Tapi aku tidak suka kau goda!"


"Baiklah, jika kamu tidak suka digoda lalu kamu mau apa??" tanya William sambil meraih kedua tangan Citra dan mengecup punggung tangannya.


"Katakan, Sayang? Kamu mau berlian? Apartemen atau rumah yang besar?" tanya William lagi.


"Aku tidak butuh semua itu, William."


"Aku tahu kau tidak menginginkannya oleh karena itu aku terlalu bodoh tidak bisa melihat siapa kau sebenarnya. Aku sangat menyesal, Citra. Benar-benar menyesali kebodohanku. Mama dan Kakek sudah mengatakan padaku jika aku wanita baik-baik tapi aku tidak percaya, maafkan aku."


"Bagaimana kabar mereka, William?" tanya Citra.


Walaupun William tidak menyukainya dulu tapi keluarganya sangat baik dengannya.


"Semenjak kepergianmu, kakek sangat marah padaku dan mulai sakit-sakitan," wajah William berubah menjadi sendu.


"Saat itu ayah hampir saja mengusir aku tapi ibu mencegahnya. Penyakit kakek kembali kambuh dan semua itu karena kebodohanku."


William memandangi Citra dan masih memegangi tangannya.


 


"Karena itu, maukah kau pulang bersama denganku?" tanya William.


Citra mengernyitkan dahi, apa William memintanya kembali hanya demi kakeknya yang sakit?

__ADS_1


__ADS_2