Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship

Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship
Pilihan bagian 2


__ADS_3

Setelah kepergian Doni, Citra hanya termenung memikirkan semua ucapan Doni. Selama ini dia tidak pernah memikirkan apa dia masih mencintainya atau tidak dan sekarang itu menjadi masalah baru baginya. Dia tidak tahu, benar-benar tidak tahu harus bagaimana.


Citra tampak kusut sepanjang hari bahkan dia tidak menyentuh pekerjaannya sampai dia sendiri tidak menyadari jika hari sudah sore. Citra merapikan meja dan menghela nafas, sepertinya dia butuh refresing untuk menenangkan pikirannya yang kacau.


Dia segera keluar dari ruangan dan turun ke bawah. Citra mengaduk isi tasnya untuk mencari kunci mobil karena dia lupa telah memberikan benda itu pada William tapi ketika melihat William sedang bersandar di mobilnya, Citra langsung teringat.


"Hai, Sayang. Kenapa kau tampak kusut?" tanya William seraya menghampiri Citra.


"Tidak ada apa-apa," Citra melewati William begitu saja dan masuk ke dalam mobil.


William masuk ke dalam mobil sambil tersenyum. Mobil segera dinyalakan dan dia membawa benda itu dengan pelan karena dia ingin bersama dengan Citra lebih lama. Citra tampak termenung melihat jalanan dan hal itu membuat William semakin heran.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya William tapi Citra diam saja.


"Hei, ada apa? Apa aku membuatmu marah?" tanya William lagi.


"Aku sedang malas berbicara!" jawab Citra.


"Baiklah, tapi aku ada kejutan untukmu," ucap William.


"Tidak perlu melakukan apapun, William. Semua itu akan sia-sia."


"Kau belum melihatnya bagaimana mungkin kau tahu akan sia-sia?" tanya William tapi Citra diam saja.


"Ijinkan kau menunjukkan ketulusan hatiku padamu, Sayang. Mau sia-sia atau tidak yang penting aku sudah berusaha."


Citra malas menjawab dan begitu mereka tiba, Citra segera bergegas turun dari mobil dan masuk ke dalam. Dia langsung menuju dapur karena dia haus tapi langkahnya terhenti ketika melihat makanan yang sudah terhidang di atas meja.


"Apa ini kejutan yang kau maksud?" tanya Citra.


"Bukan, Sayang," William mengeluarkan bunga yang dia sembunyikan di balik punggungnya dan memberikannya kepada Citra.


"Untukmu," ucapnya.


Citra memandangi William yang sedang tersenyum dan setelah itu, dia mengambil bunga yang diberikan William sambil mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


"Bunga ini cantik seperti dirimu," goda William.


"Berhenti menggoda!"


"Ayolah, jangan memasang wajah seperti itu. Apa kau tidak bisa tersenyum?"


Citra memandangi William dengan lekat tapi kemudian dia tersenyum dengan terpaksa.


"Kau lebih manis jika tersenyum," ucap William seraya mengeluarkan sebuah kotak dan memberikannya kepada Citra.


"Ini untuk wanita yang paling cantik dan yang paling aku cintai."


"Apa itu?" tanya Citra seraya memandangi William.


"Bukalah,"  William mengambil bunga yang sedang dipegang istrinya dan meletakkannya ke atas meja


Sebelum membuka kotak itu, Citra memandangi William sejenak dan setelah itu dia membuka tutup kotak. Dari dalam sana terdapat sebuah kalung berlian berbentuk hati.


"William, aku tidak perlu ini!" tolak Citra seraya mengembalikan kotak itu pada William.


"Aku tahu tapi aku ingin memberikannya padamu," William mengambil kalung itu dan memakaikannya ke leher Citra.


"Tapi kau tidak perlu melakukan ini semua."


"Aku sudah berkata akan menunjukkannya padamu, jadi biarkan aku membuktikannya jika aku bersungguh-sungguh dan tidak menipumu. Biarkan aku menebus kesalahan yang aku perbuat dan membuktikan jika aku benar-benar mencintaimu."


Citra memandangi William dengan penuh selidik dan pada saat itu nasehat Doni kembali teringat. Apa dia mau menerima William kembali dan memaafkan perbuatan yang telah dia lakukan?


"Baiklah lakukan apa yang kau mau."


"Terima kasih, Sayang," William memeluk Citra dan mencium pipinya.


Itu ciuman yang pertama kali mereka lakukan setelah sekian lama tidak bertemu. William benar-benar senang tapi Citra tidak bergeming karena saat ini dia sedang menanyakan pada dirinya sendiri, apa dia masih mencintai William?


"Aku mau mandi," ucap Citra dengan pelan.

__ADS_1


"Pergilah, aku akan memanaskan makanan untuk kita," ucap William.


Citra mengangguk dan setelah itu dia pergi mandi. Dia benar-benar bertanya pada dirinya sendiri tapi dia tidak menemukan jawabannya apa dia masih mencintai William atau tidak. Sebaiknya dia mencari tahu hal ini nanti apalagi William ada di sana selama dua minggu.


Seiring berjalannya waktu dia yakin dia bisa menemukan jawabannya dan dia harap dia bisa mengambil keputusan yang tepat untuk dirinya sendiri nanti. Setelah selesai mandi, Citra keluar dari kamar dan begitu melihatnya, William mendekatinya sambil tersenyum.


Citra berusaha tersenyum, dia tahu William sedang bersungguh-sungguh saat ini, tapi apakah dia harus memberikan kesempatan untuk William memperbaiki semuanya?


William menarik sebuah kursi untuk Citra dan mengambilkan makanan untuknya. Malam ini dia ingin mereka melewatinya dengan gembira. Mereka bahkan menonton televisi bersama setelah makan ditemani semangkuk popcorn. Mereka menonton film hantu saat itu, Citra berteriak ketika sosok makhluk menyeramkan menunjukan diri di layar televisi.


Citra menyembunyikan wajahnya di balik lengan William dan mengintip layar televisi karena dia takut. William tampak senang-senang saja karena ini pertama kalinya mereka seperti itu. Seandainya mereka seperti itu sejak dulu? Pasti akan menyenangkan tapi dia terlalu bodoh karena telah melewatkan banyak hal menyenangkan yang bisa dia lakukan bersama dengan Citra seperti saat ini.


Dia jadi teringat ketika mereka hendak pergi menonton tapi dia meninggalkan Citra di tengah jalan, dia sungguh menyesali perbuatannya dan dia bersumpah tidak akan mengulangi hal itu lagi.


"Maafkan aku, Citra," ucap William.


"Hm?" Citra memandangi William dengan lekat, sedangkan William tersenyum.


"Maafkan aku karena tiga tahun yang lalu aku meninggalkanmu di tengah jalan padahal aku telah berjanji padamu akan mengajakmu menonton. Kau bahkan kehujanan saat itu, aku minta maaf."


"Hm," jawab Citra singkat dan dia bersandar pada bahu William.


Dia ingin seperti itu sejenak tanpa memikirkan apapun. Setidaknya dia ingin menikmati kebersamaan mereka malam ini. William merangkul bahunya dan mengusapnya dengan lembut. Dia suka mereka seperti itu dan dia telah banyak menyia-nyiakan kesempatan emas tapi sekarang, dia tidak akan pernah melewatkannya lagi.


Mereka menonton televisi sampai larut malam, William merasa dia ingin selalu bersama dengan Citra tapi dia tidak boleh memaksa. Ini langkah awal yang sangat baik untuk mereka dan dia harap mereka akan terus seperti itu. Sebelum masuk ke dalam kamarnya, Citra sedang meneguk segelas air di dapur.


William mendekatinya dan setelah Citra selesai minum, William memeluk Citra dan mencium dahinya.


"Terima kasih atas kebersamaan yang kau berikan untukku malam ini. Aku sungguh telah menyia-nyiakan banyak hal dan aku tidak tahu akan begitu menyenangkan bersama denganmu," ucapnya.


"Sudahlah, lupakan," ucap Citra.


"Besok, maukah kau pergi menonton denganku?" tanya William.


"Tentu," jawab Citra.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap William dan dia kembali mencium dahi Citra.


Citra diam saja, semoga keputusannya tidak salah.


__ADS_2