Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship

Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship
Jalan-jalan


__ADS_3

Matahari sudah bersinar karena pagi sudah datang. Citra membuka matanya dengan perlahan dan mendapati William sedang memeluknya saat ini. Citra diam saja dan sebenarnya dia enggan bangun tapi dia harus menyiapkan sarapan.


Dengan perlahan, Citra mengangkat tangan William yang melingkar di tubuhnya. Dia melakukannya dengan perlahan dan setelah itu dia bangun dengan perlahan. William membalikkan tubuhnya ketika merasa pergerakan Citra tapi dia kembali tidur dan Citra bersyukur akan hal itu.


Citra segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelah selesai, Citra keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur untuk membantu Mbak Siti. Mereka tampak sibuk dan terkadang mereka berbincang. Mbak Siti mengajari Citra makanan yang sedang mereka buat dan tentunya Citra mendengarnya dengan antusias.


Makanan sudah selesai dan waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Citra segera berjalan menuju kamar karena dia mau membangunkan William. Citra segera menghampiri ranjang di mana William masih tidur dengan pulas.


"Willy, bangun!"


"Hm," jawab William dengan malas.


"Bangun, ini sudah siang," Citra menyentuh bahu William dan menggoyangnya.


"Hm," William kembali bergumam dan merasa kasal karena Citra terus menggoyang tubuhnya.


Tanpa Citra duga, William menarik tangannya. Citra berteriak ketika dia jatuh ke atas tubuh William.


"Willy!" protes Citra tapi William tersenyum dengan lembut.


"Pagi," sapa William, sedangkan wajah Citra merona.


William mulai mengusap pipi Citra dengan jarinya dan dengan perlahan, William menyelipkan rambut Citra yang berantakan. Mereka hanya saling pandang tanpa ada yang bersuara. Entah kenapa William jadi terbuai melihat wajah cantik istrinya tapi tidak lama kemudian, dia menyadari jika itu salah.


Dia harus ingat jika dia sudah punya Lena dan dia juga harus ingat, mereka sudah membuat kesepakatan untuk berpisah nanti. Sebaiknya dia tidak menggoda istrinya lebih jauh karena dia takut jatuh ke dalam permainannya sendiri.


Citra segera mengangkat tubuhnya, dia duduk di sisi ranjang sambil merapikan rambutnya yang berantakan, sedangkan William hanya melihat punggungnya.


"Sudah siang, segeralah bangun untuk sarapan. Kau tidak lupa dengan janjimu jika kau mau mengajak aku jalan-jalan bukan?"


"Aku ingat," jawab William dan dia segera turun dari atas ranjang.


Citra segera keluar ketika William sudah masuk ke dalam kamar mandi. Di luar sana, Citra menenangkan jantungnya yang berdetak dengan cepat dan memegangi kedua pipinya yang memerah. Dia tahu William hanya menggodanya tapi bagaimanapun dia tetap merasa malu.


Citra segera menuju dapur dan menunggu William di sana. Dia diam saja duduk di meja makan sampai William masuk ke dapur dan duduk di depannya. Tanpa banyak bicara, Citra segera mengambilkan sarapan untuk William dan setelah itu mereka makan.


"Dua hari lagi kita akan pergi berbulan madu," ucap William ketika mereka sedang makan.


"Dua hari lagi?"


"Ya, jadi hari ini kita harus membeli keperluan kita selama dua bulan di sana."


"Selain belanja, bolehkah kita pergi ke suatu tempat?" tanya Citra.


"Tentu, sudah aku katakan padamu bukan? Kau boleh pergi ke mana pun yang kau inginkan hari ini."

__ADS_1


"Menonton?" tanya Citra sambil menatap William penuh harap.


"Kau mau menonton?"


"Ya, aku sangat ingin pergi menonton," jawab Citra.


"Baiklah, hari ini aku akan menemani kamu seharian dan kau boleh melakukan apapun yang kamu mau."


"Oh, Willy. Kau yang terbaik," ucap Citra sambil tersenyum


Citra begitu senang mendengarnya, dia segera bergegas mengganti bajunya setelah mereka selesai sarapan. Sebuah gaun mini berwarna biru mempercantik penampilannya. Rambutnya yang panjang dia kepang menjadi dua dan dia tampak begitu manis dan begitu selesai, Citra segera menghampiri William yang sudah menunggunya.


"Aku sudah siap," ucapnya.


William terpana, dia sungguh tidak percaya penampilan sederhana istrinya membuatnya semakin terlihat cantik dan manis. Dia bahkan tidak perlu menggunakan make up berlebih karena wajahnya terlihat segar dan alami.


"Willy?"


Panggilan Citra membuyarkan lamunan William. Dia berdehem pelan dan segera bangkit berdiri.


"Ayo," ajak William.


Mereka segera pergi yang mereka tuju adalah pusat perbelanjaan. Mereka membeli barang-barang yang mereka perlukan nanti di Italia dan setelah selesai membeli apa yang mereka mau, mereka menuju sebuah restoran untuk mengisi perut mereka yang lapar.


"Aku ingin pergi ke panti asuhan dan setelah itu aku ingin menonton film," jawab Citra.


"Oke," jawab William singkat.


Setelah menghabiskan makanan mereka, William segera membawa Citra pergi ke panti asuhan dan di sanalah Citra diadopsi oleh keluarga Pratama. Dia selalu datang ke tempat itu jika ada waktu luang karena baginya, itu adalah rumahnya.


Mereka disambut oleh anak-anak begitu mereka tiba. Citra menghampiri anak-anak yang ada di sana dan memberikan barang yang dia bawa. Itu adalah barang yang dia beli tadi. William tidak tahu jika Citra membelikan sesuatu untuk anak-anak di sana, itu karena dia tidak mempedulikannya.


William hanya diam saja dan pada saat itu, seseorang menepuk bahunya sehingga membuatnya terkejut.


"Ada perlu apa, Tuan?"


William segera menoleh dan melihat seorang suster berdiri di belakangnya dan dia adalah suster kepala di panti asuhan itu.


"Tidak, saya hanya menemani istri saya," jawab William sambil memandang kembali kearah Citra.


"Jadi anda suami nak Citra?" tanya suster itu.


"Benar," jawab William.


"Kenapa nak Citra tidak mengatakan hal ini?" tanya Suster itu sambil melihat William dengan serius.

__ADS_1


"Kami baru menikah," jawab William.


"Baiklah, aku senang mendengarnya. Aku harap kau menjaganya dengan baik," pinta suster itu, sedangkan William mengangguk.


Waktu berjalan begitu cepat dan tanpa terasa hari sudah sore. Mereka segera berpamitan dan pergi dari sana. Selama di perjalanan, Citra tampak begitu bahagia. Sudah lama dia tidak bersama dengan anak-anak panti dan dia pikir akan mengajak William pergi ke sana lagi'


"Jadi setelah ini kita mau kemana, Nyonya Alexander?" goda William sambil melihat ke arah Citra.


"Aku ingin menonton film." jawab Citra dengan ekspresi bahagia.


"Baiklah," jawab William dan dia segera membawa mobilnya dengan cepat. Bioskop sudah hampir tiba tapi sayang, ponsel William berbunyi. William segera menepikan mobilnya dan menjawab telepon dari Lena.


"Sayang, segera kemari. Jika dalam 10 menit kamu tidak datang maka aku tidak mau bertemu denganmu lagi!" ucap Lena dengan suara manjanya.


William belum sempat menjawab tapi Lena sudah mematikan ponselnya. William menyimpan ponsel-nya dan membuka kunci pintu.


"Turun!" perintahnya.


Dia tidak punya pilihan lain selain meminta Citra turun dari mobilnya dan segera pergi ke rumah Lena.


Citra sangat heran, kenapa memintanya untuk turun?


"Tapi kau sudah berjanji akan mengajak aku menonton film," ucap Citra.


"Lain kali saja jadi sekarang kamu turun!" jawab William sambil sedikit membentak karena dia sudah kehabisan banyak waktu.


Citra benar-benar heran dengan sikap William yang tiba-tiba berubah, "Apa itu kekasihmu?" dia memberanikan diri untuk bertanya.


"Bukan urusanmu! Sejak kapan kamu boleh ikut campur masalah pribadiku?" William menatap Citra dengan tajam dan tampak marah.


"Tapi kamu sudah berjanji," Citra tidak terima diperlakukan seperti itu.


William meggeram marah, diraihnya tangan Citra dan dipegangnya kuat-kuat.


"Turun, sekarang!" bentaknya.


Citra tampak ketakutan apalagi William melihatnya dengan tajam. Genggaman tangan William di lengannya semakin kuat dan itu menyakiti pergelangan tangannya.


"Aku akan turun!" teriak Citra sambil menarik tangannya.


Citra segera membuka pintu mobil dan keluar. Dia juga menutup pintu mobil dengan kasar.


William tidak perduli, dia segera membawa mobilnya dengan kecepatan tingg dan meninggalkan Citra begitu saja karena yang ada dipikirkannya saat itu adalah dia harus segera menemui kekasihnya.


Citra berdiri di sisi jalan dan tanpa dia inginkan air matanya mengalir. Dia kira mereka akan melewati hari menyenangkan hari ini tapi ternyata? Sepertinya dia terlalu banyak bermimpi.

__ADS_1


__ADS_2