
Walaupun kesal dengan sikap William, Citra tetap menyiapkan makan makan malam untuk mereka. Dia tidak akan membahas kejadian tadi dan dia akan pura-pura tidak melihat William dengan pacarnya. Dia akan menutup mata akan kejadian tadi.
Lagi pula William sudah memintanya untuk tidak mencampuri kehidupan pribadinya dan telah memintanya untuk ikut campur apapun yang dia lakukan dan dia sudah menyetujuinya. Lebih baik bertahan sebentar lagi, ya ... sebentar lagi sampai mereka selesai bulan madu.
Dia akan pergi dari sana dan dia tidak akan pernah berjumpa dengan William lagi karena dia akan memulai hidup barunya tanpa terikat dengan siapapun.
William telah selesai mandi dan dia segera berjalan menuju dapur. Dia diam saja melihat punggung Citra tapi entah kenapa dia jadi ingin mendekatinya dan memeluknya. Tanpa pikir panjang, William berjalan mendekati Citra dan memeluknya dari belakang, dia juga mencium belakang telinga Citra sampai membuat Citra kembali kaget karena perlakuannya hari ini.
"Ja-jangan menggodaku!" ucap Citra.
Dia tidak mau William menertawakannya dan mempermainkannya lagi.
"Apa kau tidak suka?" bisik William di belakang telinganya.
"Ya, jadi lepaskan aku!" pinta Citra sambil melepaskan diri dari pelukan William.
Jujur saja dia bingung dengan perlakuan William. Terkadang dia tampak baik tapi terkadang dia menyebalkan. Dia harap William tidak menunjukkan perhatian dan selalu bersikap dingin karena dia takut, dia takut jatuh cinta dengan William. Dia harap tidak dan dia juga harus selalu mengingat perjanjian yang telah mereka buat.
Citra segera menghidangkan makanan ke atas meja, sedangkan William terus memperhatikannya. Entah kenapa ada rasa sedikit kecewa di dalam hatinya karena Citra menolaknya. Dia tidak tahu kenapa tapi sebaiknya dia tidak memikirkan hal itu.
Setelah makanan terhidang, William segera duduk di depan Citra. Citra tidak bicara apa-apa dan hal itu membuat William heran, apa Citra marah dengannya karena dia tidak ada tadi siang?
"Maafkan aku," ucap William.
"Untuk?" tanya Citra seraya memandanginya.
"Tadi siang. Maaf aku ada janji dengan klien jadi tidak bisa makan bersama denganmu dan maaf aku lupa memberimu kabar," jawab William.
Citra berusaha tersenyum,dia tidak menyangka William akan berbohong tapi tidak masalah karena dia juga tidak perduli.
"Tidak masalah, anggap aku kurang beruntung," jawab Citra sambil tersenyum manis.
William juga tersenyum tapi dia merasa sedikit bersalah. Mungkin dia harus menebusnya agar istrinya senang.
"Begini saja, aku akan menebusnya."
__ADS_1
"Tidak perlu," tolak Citra.
"Kau tidak mau jalan-jalan?" tanya William.
"Jalan-jalan?" wajah Citra tampak berseri dan dia terlihat senang.
"Ya, bagaimana jika besok kita pergi jalan-jalan? Anggap ini permintaan maaf dariku," ucap William.
"Benarkah?" Citra masih tidak percaya.
"Ya, kau boleh pergi ke mana pun yang kau mau dan aku akan mengikutinya."
"Baiklah, awas jika kau ingkar janji. Aku sudah selesai dan ingin tidur," ucap Citra seraya bangkit berdiri.
Citra segera membereskan piring kotor, sedangkan William memperhatikannya. Dia tidak menyangka jika Citra akan begitu senang hanya karena dia mengajak jalan-jalan. Cukup sederhana dan entah kenapa, sebuah senyuman menghiasi wajahnya saat itu.
Citra segera mencuci piring dan setelah itu dia menuang segelas air dan meneguk air itu dengan cepat. Citra meletakkan gelas dan segera berjalan keluar.
"Jangan lupa dengan janjimu, Willy," ucap Citra seraya berlalu pergi.
William segera berjalan menuju kamarnya, Citra pasti ada di sana karena bagaimanapun mereka masih tidur satu kamar supaya Mbak Siti tidak curiga dan melaporkan yang macam-macam kepada kakeknya.
Pada saat itu, Citra keluar dari kamar mandi setelah menyikat giginya dan mengganti pakaiannya Ketika melihat William duduk disisi ranjang, Citra tampak tersipu. Dia segera berjalan ke arah ranjang untuk mengambil bantal dan selimut karena dia mau tidur di sofa.
"Mau kemana?" tanya William ketika melihat istrinya membawa bantal dan selimut.
"Aku mau tidur di sofa."
"Tidur di sini!" perintah William.
"Tidak! Lebih baik aku tidur di sofa," tolak Citra.
William berdecak kesal ketika Citra kembali berjalan menuju sofa. Dia segera bangkit berdiri dan berjalan dengan cepat menghampiri Citra. Citra sangat kaget karena tiba-tiba saja tubuhnya terangkat ke atas. Yang lebih membuatnya kaget, William sedang menggendongnya saat ini.
"Willy, mau apa kau?" protes Citra.
__ADS_1
"Tidur di ranjang!"
"Tapi ...," Citra tampak ragu.
"Kau tidak perlu takut karena aku tidak akan menerkammu!"
"Awas jika kau berani!" Citra menatapnya dengan tajam.
"Tenang saja," ucap William dengan santai seraya menurunkan Citra di atas ranjang.
Citra segera menggeser tubuhnya dan segera meletakkan sebuah pembatas di tengah-tengah tempat tidur. Bagaimanapun dia harus membuat penghalang untuk melindungi dirinya.
"Apa ini?" tanya William ketika melihat guling yang ditaruh di tengah-tengah oleh Citra.
"Hanya pembatas," jawab Citra seraya membaringkan dirinya.
"Sudah aku katakan kau tidak perlu takut!"
"Aku harus waspada!" jawab Citra seraya memutar tubuhnya.
William duduk dan bersandar pada ujung ranjang dan mengambil laptopnya. Citra tahu itu tapi sebaiknya dia segera tidur dan tidak banyak berpikir. Citra menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya dan dia harap dia bisa cepat tidur tapi sayang, dia tidak mengantuk.
"Apa kau tidak bisa tidur?" tanya William karena Citra bergerak dengan gelisah.
Citra membuka selimut dan mengangguk sedangkan William segera mematikan layar laptop dan menyimpan benda itu.
"Kenapa?" tanya William sambil mengusap wajah Citra.
Citra membeku dan wajahnya memerah. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan jadi dia diam saja. William tersenyum melihat ekspresi istrinya, apa Citra tidak pernah berhubungan dengan lelaki sebelumnya?
Jantungnya semakin berdebar ketika dia merasa jika William membaringkan diri bahkan dia merasakan saat William mengambil bantal yang jadi penghalang dan melemparnya. Jantung Citra seakan mau melompat dari dadanya ketika William memeluknya dari belakang dan merapatkan tubuh mereka berdua.
"Tidurlah, kau tidak perlu takut karena aku hanya memelukmu dan tidak akan melakukan apapun," ucap William.
__ADS_1
Citra mengangguk dan berusaha memejamkan matanya. Lagi pula ini bukan pertama kalinya mereka tidur berdua jadi sebaiknya dia tidak banyak berpikir. William mencium ujung kepala Citra dan merasa aneh, kenapa dia mau melakukan hal seperti itu? Dia harap istrinya tidak salah paham dengan apa yang dia lakukan.