
Saat itu, David membawa mobilnya dengan cepat karena dia ingin bertemu dengan William. Sudah lama dia tidak bertemu dengan sahabat baiknya dan dia harap William baik-baik saja. Ketika dia mendengar kabar istri William meninggal karena tenggelam di sungai, David mencari sahabatnya dan dia sangat kaget mendapati sahabatnya yang hancur.
David mencoba menghibur sahabat baiknya tapi saat itu William benar-benar terpukul dan hancur dengan kematian istrinya. David tidak tahu ada permasalahan apa tapi sebagai sahabat, dia hanya bisa memberi penghiburan untuk sahabatnya.
Setelah tiba, David segera menuju ruangan William. Dia tidak menghubungi sahabat baiknya lagi karena dia tahu William pasti ada di kantor. Dia tiba di depan ruangan William dan tanpa mengetuk pintu lagi, David mendorong pintu hingga terbuka.
Dia sangat kaget ketika melihat seorang wanita berada di atas pangkuan William dan mereka sedang berciuman. William sangat kaget dan meminta wanita yang ada di atas pangkuannya untuk turun,
"Sorry ganggu," ucap David seraya melangkah masuk.
"Ngapain ke sini?" tanya William sambil merapikan pakaiannya.
"Sorry kalau ganggu. Silahkan kalau mau lanjutin lagi, aku tunggu sampai kalian selesai," ucap David dengan cuek dan dia segera duduk di atas sofa.
"Tuan William, nanti kita lanjutin ya," ucap wanita tadi sambil mengedipkan matanya.
"Keluar!!!" bentak William dengan kasar.
"Apa? Tuan William, kita belum selesai."
"Keluar kataku!" bentak William sambil menatap wanita itu dengan tajam.
Wanita itu berdecak kesal dan segera keluar, hilang sudah kesempatan besarnya mendapatkan ikan besar.
"Kok Tidak di lanjut?" tanya David
"Sudah tidak berminat!" jawab William seraya mendekati sahabatnya.
__ADS_1
"Cewek kamu ganti ya?" tanya David penasaran sambil memandang kearah sahabatnya.
William mengambil sebotol minuman dan menuangkannya ke dalam gelas dan memberikannya kepada David.
"Sudah gak punya pacar."
"Lalu yang tadi siapa?" tanya David lagi.
"Yeah ...," jawab William dengan malas.
"Pacar kamu Lena ke mana?"
"Cerewet! Datang ke sini cuma mau tanya ini?" tanya William dengan nada yang sedikit kesal.
David hanya terkekeh dan meneguk minuman yang diberikan oleh sahabatnya.
"Tidak, kita sudah lama tidak bertemu jadi aku ingin berbincang denganmu."
"Aku kira kau mau mengenalkan wanita padaku!" ucap William bercanda.
"Kami sudah putus lama," jawab William.
"kenapa bisa?" David sedikit terkejut. Bukankah William sangat mencintai pacarnya?
"Bukankah kau sangat ingin menikah dengannya dulu tapi kenapa kalian putus?" tanya David lagi.
William menghembuskan nafasnya dengan berat. Dia jadi teringat dengan kejadian tiga tahun yang lalu ketika dia sedang bersedih dan terpukul dengan kematian Citra. William pergi ke apartemen Lena berharap Lena dapat menghibur hatinya yang dihantui rasa bersalah.
Semula dia tidak pernah curiga pada Lena, tapi saat William masuk ke dalam apartemen Lena dia mendapati Lena sedang bercinta dengan seorang pria di dalam kamarnya. Saat itu William begitu marah kepada Lena, dia memukul pria itu dan saat itu dia sadar jika Lena berselingkuh karena beberapa kali Lena tidak bisa dia hubungi dan saat di Bar dia pernah melihat Lena sedang dengan pria itu.
Saat itu juga William langsung memutuskan hubungannya dengan Lena. Dia benar-benar terpuruk dan semakin terpukul, belum lama istrinya meninggalkannya sekarang pacarnya malah berkhianat dan berselingkuh dengan lelaki lain.
William kembali menghembuskan nafasnya dengan berat. Kenangan masa lalu selalu menghantuinya dan mungkin ini adalah karma untuknya yang telah memperlakukan Citra dengan jahat. Itulah sebabnya sekarang dia tidak pernah mau berhubungan serius dengan wanita mana pun lagi.
__ADS_1
"Wanita itu murahan David. Aku sudah lama melupakannya," ucap William.
David benar-benar iba melihat sahabatnya, kematian istrinya dan penghianatan yang dilakukan oleh pacarnya benar-benar telah membuat William seperti itu.
"Jadi sekarang kau gonta ganti wanita?" tanya David.
"Mereka cuma mainan, David. Tidak lebih!"
"Berhentilah bermain-main sobat, carilah wanita baik-baik dan nikahi wanita itu."
"Dulu aku sudah dapat istri yang baik tapi aku menyia-nyiakannya," William mengusap wajahnya dengan kasar. Seandainya Citra masih hidup? Seandainya dia bisa menerima istrinya mungkin dia tidak akan seperti itu.
William menunduk dan menutupi wajahnya, air matanya mengalir begitu saja ketika mengenang kebersamaannya dengan Citra, walau singkat tapi kenangan itu tidak bisa dia lupakan sampai kapanpun juga. David menggeleng, dia benar-benar iba dengan keadaan sahabatnya. David bangkit berdiri dan menghampiri sahabatnya, dia duduk di sisi William dan menepuk bahunya dengan pelan.
"Jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan sobat, sudah tiga tahun berlalu, bukankah kehidupan terus berjalan? Dari pada gonta ganti wanita lebih baik cari seorang wanita yang baik dan lupakan masa lalumu," hibur David.
William mengusap air matanya dengan kasar dan memandangi sahabatnya. Memang yang dikatakan David sangat benar. Hidup terus berlangsung, rasa bersalah dan penyesalan yang begitu mendalam terhadap istrinya ditambah lagi penghianatan Lena membuatnya enggan memulai hubungan yang serius lagi dengan wanita.
"Dua hari lagi aku mau ke Surabaya, apa kau mau ikut?" tanya David.
"Buat apa kau pergi ke Surabaya?" tanya William.
"Aku ingin mengejar cinta lama lamaku."
"Mau mengejar wanita ada harus mengajakku, maaf deh aku tidak ikut!"
"Ayolah, dari pada suntuk di kantor. Kita jalan-jalan ke Surabaya. Tapi tidak lama lagi Agnes mau menikah, kau bisa datang dengan keluargamu, bukan?"
"Baiklah, nanti aku akan hadir tapi kenapa Agnes menikah di Surabaya?"
"Calon suaminya orang Surabaya jadi diadakan di sana," jawab David.
__ADS_1
William hanya mengangguk, tidak dia sangka jika Agnes sudah mau menikah dan tanpa dia sadari Citra sudah pergi selama tiga tahun. Seandainya dulu dia menyadari perasaannya lebih awal terhadap Citra mungkin dia tidak akan terbakar cemburu dan memperkosa istrinya di hotel. Mungkin dia juga tidak akan mengancam istrinya sehingga membuat Citra melompat dari dalam mobil.
Seandainya waktu bisa diputar kembali, William ingin kembali ke masa tiga tahun lalu dan memperbaiki kesalahan fatal yang telah dia perbuat sehingga dia tidak harus kehilangan Citra. Tapi apakah masih ada kesempatan untuknya?