Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship

Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship
Berangkat


__ADS_3

Citra malas berdebat lagi dengan William, dia segera  berjalan ke arah ranjang untuk mengambil bantal dan setelah itu, dia segera bergegas menuju pintu. Dia tidak mau sekamar dengan William tapi sebelum dia mencapai pintu, William memegangi tangannya hingga langkahnya terhenti.


"Mau apa?" tanya Citra dengan.


"Aku ingin kita bicara," jawab William


Citra memutar bola matanya malas, "Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicara kan lagi, Willy."


"Bukan begitu ...," William ragu melanjutkan ucapannya.


"Lalu apa?"


"Mengenai tadi aku ...."


"Ya ... ya ... aku tahu. Besok kita akan berangkat jadi kau ingin meminta maaf supaya kita berdua tidak canggung selama di perjalanan bukan?"


"Bukan begitu Citra, dengarkan aku," pinta William.


"Tenang saja, Willy. Aku pasti  memerankan peranku dengan baik sampai kau mencerai kan aku. Sampai saat itu tiba, tolong jangan perdulikan aku," pinta Citra.


"Sudah aku katakan bukan seperti itu jadi dengarkan Aku!"


"Lalu apa? Tidak usah berpura-pura!" ucap Citra dengan sinis.


 


 


"Bukan begitu,dengar kan aku dulu."William mencoba menjelaskan.


"Aku minta maaf karena telah menyakiti dan memarahi kamu."


Citra diam saja, dia sudah cukup mendengar perkataan maaf dari William dan kali ini, dia tidak perduli dengan ucapan maafnya.


"Aku benar-benar salah melampiaskan amarahku padamu jadi maaf telah berbuat kasar padamu," ucap William lagi.


"Sudahlah Willy, aku lelah dengan sikapmu. Aku ingin istirahat dan jika kamu mau tidur disini maka aku yang akan keluar!" Citra segera menepis tangan William yang masih memegangi tangannya.


"Baiklah, aku akan keluar tapi aku benar-benar minta maaf padamu," William mendekati Citra dan mencium pipinya. Citra sangat kaget dan dia tampak kesal.


 

__ADS_1


"Dasar laki-laki brengsek! Beraninya kau!" teriak Citra marah sambil melemparkan bantal ke arah William tapi sayang, William sudah kabur dan menutup daun pintu.


Citra terus menggerutu dan memaki, dia segera berjalan menuju ranjang dan menjatuhkan dirinya di sana. Persetan dengan pria itu dia tidak akan perduli. Sebaiknya dia tidur saja karena besok mereka sudah harus berangkat dan dia sangat berharap, bulan madu mereka segera selesai.


.


.


.


Citra terbangun ketika mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Rasanya malas untuk bangun tapi seseorang di luar sana terus mengetuk pintu kamar sampai membuatnya gusar.


"Siapa?" teriaknya tapi tidak ada yang menjawab.


Citra segera bangun dari tidurnya dan berjalan menuju pintu. Matanya masih terasa berat dan rambutnya tampak berantakan. Dia segera membuka pintu sambil menguap dan ketika melihat William berdiri di depan pintu, Citra diam saja dan berjalan menuju ranjang sambil mengacak rambutnya.


William mengikuti langkah istrinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia tahu Citra masih marah jadi sebaiknya dia diam saja.


 


"Ada apa? Bukankah sudah aku katakan padamu? Tolong abaikan saja aku!" ucap Citra dengan sinis sambil duduk di sisi ranjang.


"Sebentar lagi kita harus ke bandara jadi segeralah bersiap-siap," jawab William seraya duduk di samping Citra.


"Tidak bisa!" jawab Citra sambil memandanginya.


 


"Kenapa? Kita bisa berpura-pura pergi dan aku akan pergi dari sini selama dua bulan."


"Tidak! Nanti ketahuan sama kakek," tolak William.


"Tapi aku tidak ingin pergi."


"Kenapa?" tanya William heran.


"Aku tidak mau berduaan denganmu!" jawab Citra.


William sangat kesal mendengarnya, tidak mau berduaan dengannya? Dia tidak akan membiarkan Citra lepas darinya dengan mudah, tidak akan.


 

__ADS_1


"Dengar! Segera bersiap-siap. Jika kau berlama-lama maka aku akan menarikmu dengan keadaanmu yang seperti ini!" ancam William.


"Ck!" Citra segera bangkit berdiri, andai saja perjalanan mereka bisa dibatalkan maka dia akan senang karena sesungguhnya dia malas pergi. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi dan sebaiknya dia bersiap-siap jika tidak William akan menariknya dan dia tidak mau hal itu terjadi.


Setelah siap dan sarapan, mereka segera berangkat. Selama di perjalanan menuju bandara, Citra memilih diam karena dia malas berbicara dengan William. Jalanan ibu kota yang macet membuat perjalanan menuju bandara terasa lama. Ingin rasanya dia melompat keluar dan berlari, itu lebih baik dibandingkan harus duduk bersama dengan William dan dia tidak perduli dengan William yang sedang mencoba menghubungi seseorang dan terkadang, terdengar umpatan keluar dari mulutnya.


William benar-benar kesal karena lagi-lagi Lena tidak menjawab panggilan darinya, tidak juga membalas pesan yang dia kirimkan dari semalam.  Ada apa dengan Lena akhir-akhir ini? Apa Lena marah karena kepergiannya? Tapi waktu itu Lena tidak marah ketika dia mengatakan hendak pergi lalu untuk apa Lena baru marah sekarang?


William menyisir rambutnya kebelakang dan teringat dengan wanita yang dia lihat di Bar, apa mungkin Lena selingkuh? Dia tidak mau mempercayai prasangka buruknya tapi tidak ada salahnya dia mencari tahu akan hal ini setelah dia kembali nanti.


Citra sedang memejamkan matanya ketika William melihatnya, William menyimpan ponsel-nya dan sebuah senyuman menghiasi wajahnya. Entah kenapa dia suka memandangi wajah cantik Citra dan entah kenapa dia ingin melihatnya setiap hari.


Setelah memakan waktu kurang lebih dua jam perjalanan akibat macet, mereka tiba di bandara. Mereka segera chek in dan setelah itu, William mengajak Citra menunggu di ruangan Exclusive yang tersedia di bandara tapi Citra menolak. Dia ingin sendiri tapi William menarik tangannya dan mengajaknya masuk kedalam ruangan Exclusive bersama-sama.


Citra menghela nafas, sedangkan William tersenyum. Citra melotot ke arahnya tapi entah kenapa William tambah suka. Karena sudah tidak tahan melihat senyum William, Citra bangkit berdiri karena dia ingin mengambil makanan yang tersedia di ruangan itu.


"Mau ke mana?" tanya William.


"Ambil makanan, bosan lihat wajahmu!" jawab Citra dengan sinis dan dia segera pergi tapi William hanya tersenyum mendengar ucapannya.


 


Citra mengambil beberapa makanan dan segelas jus jeruk. Dia segera mencari tempat duduk dan tidak kembali duduk bersama dengan William. Dia ingin santai sejenak dan menikmati waktunya sendiri tapi William tahu jika Citra berpindah dan duduk tidak jauh darinya. William tidak mempermasalahkan hal itu karena dia sedang sibuk menghubungi Lena kembali.


 


Makanan yang diambil Citra sudah habis, Citra melihat jam di pergelangan tangannya. Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum mereka naik pesawat jadi lebih baik dia pergi ke kamar kecil terlebih dahulu. William tidak menyadari jika Citra sudah pergi karena dia sibuk menghubungi Lena dan mengirimkan pesan untuknya. Dia tersadar ketika mendengar panggilan dari pesawat yang akan dia tumpangi ke Italia bersama dengan Citra.


William mengambil barangnya dan mencari keberadaan istrinya. Mana Citra? Dia mulai mencari tapi panggilan kembali terdengar dan itu adalah panggilan terakhir untuknya. William mengumpat kesal dan segera berlari dengan terburu-buru. Dia harap istrinya sudah berada di dalam pesawat jika tidak dia akan tertinggal.


Seorang pramugari menyambutnya dan setelah melihat tiket yang William tunjukkan, dia segera dibawa ke ruangan Vip yang ada di dalam pesawat. William mencari keberadaan Citra dan ketika melihat istrinya sudah duduk cantik sambil melihat keluar jendela, dia langsung kesal.


"Kenapa kamu tidak mengajak aku tadi?" tanya William


Citra menoleh dan tersenyum manis seolah-olah dia tidak bersalah.


"Astaga, aku lupa dan aku terlalu bersemangat. Kau tahu? Ini pertama kalinya aku naik pesawat jadi aku sudah tidak sabar menaiki benda ini," ucap Citra berdusta sambil tersenyum dengan manis.


"Kau sengaja bukan?"


"Tidak Willy, sungguh. Aku benar-benar lupa. Kau sendiri kenapa bisa lupa?"

__ADS_1


"Ck, sudahlah!" ucap William sambil memakai sabuk pengamannya.


Citra kembali membuang pandangannya ketika badan pesawat mulai naik ke atas. Dia akan menikmati waktu bulan madu selama di Italia. Dia akan memanfaatkan hal ini karena belum tentu dia bisa pergi ke sana lagi. Semoga perjalanan mereka menyenangkan tapi sayangnya, dia tidak akan tahu apa yang akan terjadi dengan mereka selama di sana.


__ADS_2