
Citra masih meronta dan memohon pada William agar melepaskannya tapi William tidak perduli. Pintu kamar terbuka dan di tutup kembali dengan kasar. William membawa Citra menuju ranjang dan melemparkan tubuh Citra dengan kasar. Teriakan Citra terdengar dan dia tampak marah karena perlakuan kasar William.
"Apa kau sudah gila?!" teriak Citra penuh emosi.
"Aku atau kau yang gila?!" William balik membentak.
"Kau! Dasar kau pria aneh dan gila!" teriak Citra tidak mau kalah.
"Jawab aku, apa pria itu selingkuhanmu?!"
"Dia sahabat baikku!" jawab Citra sambil berteriak.
"Ha ... ha ... ha ... ha ...,!" William tertawa dengan keras.
"Sahabat? Sahabat macam apa yang terjalin di antara kalian berdua? Aku belum buta dan aku melihat kalian begitu mesra!"
"Kau salah paham! Dia sahabat baikku sejak kuliah!"
"Aku tidak percaya!" ucap William dan dia segera mendekati Citra sambil membuka bajunya.
"Ma-mau apa kau?" tanya Citra ketakutan.
"Membuktikan jika kau adalah milikkku!" ucap William sambil membuang bajunya sembarangan.
"Ja-jangan gila kau!" teriak Citra.
Citra turun dari atas ranjang dan hendak lari tapi sayang, William menangkap kakinya. Citra memberontak dan terus menendang, dia juga berteriak dan memohon. William sudah kehilangan akal sehat. Dia sungguh tidak suka Citra disentuh oleh pria lain dan hari ini akan dia buktikan jika Citra adalah miliknya dan tidak boleh ada yang menyentuhnya.
"Willy, jangan seperti ini!" teriak Citra ketika William sudah menindih tubuhnya.
Air mata Citra mengalir dengan deras dan tubuhnya gemetar ketakutan. William membuka ikat pinggangnya dan setelah itu, dia mengikat kedua tangan Citra. Citra terus memberontak dan permohonan selalu dia lontarkan. Dia tidak pernah menyangka jika William akan melakukan hal ini padanya. Bukankah William sudah punya Lena? Lalu kenapa dia cemburu ketika melihatnya bersama dengan Doni?
"Willy, aku mohon jangan lakukan ini, aku mohon," pinta Citra sambil berderai air mata.
"kau kesal bukan? Kau kesal karena semalam kita tidak selesai dan kau meminta selingkuhanmu datang untuk memuaskan nafsumu!" sindir William dengan sinis.
"Pemikiran macam apa itu? Kau salah paham, benar-benar salah paham. Aku akan menjelaskannya padamu tapi lepaskan ikatan tanganku, aku tidak suka seperti ini!"
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu dijelaskan karena aku tahu apa yang kau inginkan!" ucap William dengan sinis.
"Tidak Willy, dengarkan aku!" teriak Citra tapi William sudah menarik bajunya hingga robek.
Citra berteriak dan semakin ketakutan, dia kembali memberontak dan memohon tapi di bawah himpitan tubuh William, dia tidak berdaya, benar-benar tidak berdaya.
"Ja-jangan, aku mohon," pinta Citra dengan air mata berderai karena William sudah mencium tubuhnya.
"Willy, kau sudah pacar bukan? Jadi jangan lakukan ini padaku!"
"Diam kau, ja*ang! Aku tahu sekarang, kau ingin dibelai bukan? Sudah berapa laki-laki yang tidur denganmu, hah?!" tanya William sambil berteriak.
Citra benar-benar sakit hati mendengar ucapannya, jadi William menganggapnya wanita murahan?
"Ya aku wanita murahan! Aku menjual tubuhku pada banyak lelaki jadi jangan sentuh wanita murahan seperti aku!" teriak Citra dan dia harap William tidak menyentuhnya karena jijik.
Citra sangat kaget, dia pikir William akan jijik tapi ternyata? William kembali mencium tubuhnya dan Citra kembali memberontak dan memohon. William tidak menyingkir dan masih menghimpit tubuh Citra agar dia tidak bisa lari. Permohonan dan isak tangis Citra terus terdengar tapi William tidak perduli. Bayangan Citra dipeluk pria lain, dicium pria lain menghantui pikirannya dan hal itu semakin membuatnya marah.
Bra Citra sudah naik ke atas sedangkan tangan William sudah masuk ke dalam celana yang dia pakai. Citra masih terus memohon agar William berhenti tapi sayangnya, William sudah dibutakan oleh rasa amarah, kebencian dan cemburu.
Wajah Citra tampak pucat ketika William membuak Celana yang dia pakai, Citra terus memberontak tapi tenaganya sudah melemah. Air matanya terus mengalir dan tidak henti-hentinya dia memohon.
"Jangan, Willy. Aku mohon," pinta Citra dengan lemah.
William tidak mau mendengar apalagi api nafsu sudah menguasainya, kedua kaki Citra mulai dibuka sedangkan Citra masih berusaha memberontak tapi apapun yang dia lakukan terasa sia-sia karena William tidak menghiraukannya.
William mendekatkan kejantanannya dan tanpa membuang waktu, William mencoba memasukkannya tapi percobaan pertamanya gagal. Dia kembali mencoba dan ketika dia mendorong kejantanannya dengan kuat, Citra berteriak kesakitan karena intinya robek akibat milik William yang sudah menerobos masuk ke dalam sana.
"Sakit ... sakit!" teriaknya sambil berderai air mata.
__ADS_1
William mengumpat dalam hati tapi dia tidak bisa berhenti lagi, dia mulai mengerakkan tubuhnya, sedangkan Citra terbaring dengan tatapan kosong. Perih, itu yang dia rasakan tapi William sangat menikmatinya dan terus memacu tubuhnya dengan cepat.
William mencium bibir istrinya dan mere*as kedua dadanya juga menikmatinya tapi Citra tidak bereaksi. Dia sudah bagaikan boneka dan hanya bisa menangis. Hatinya hancur, benar-benar hancur. Jika dia tau William akan melakukan hal seperti ini, mungkin dia sudah kabur ketika mereka sudah berada di bandara tapi, siapa yang akan tahu apa yang akan terjadi dengan mereka?
William mengerang puas setelah mencapai puncaknya tapi Citra tidak bergerak. Ikat pinggang yang mengingat tangan Citra dilepaskan dan William berdecak kesal melihat bercak darah yang terdapat di atas ranjang. Dengan perlahan, William mencium dahi Citra dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Dia segera turun dari atas ranjang untuk membersihkan diri, sedangkan Citra menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Tangisannya kembali pecah, hancur sudah harapannya karena mahkota yang selama ini dia jaga dengan baik, dirampas begitu saja darinya.
Seandainya William mencintainya, maka dia tidak akan keberatannya memberikannya tapi mereka? Mereka sudah membuat perjanjian bukan jika mereka akan berpisah setelah kembali dari bulan madu? Apa William lupa akan hal itu? Sebaiknya setelah ini dia mencari kesempatan untuk pergi jika tidak, dia takut William akan melakukan hal seperti itu lagi dengannya.
Suara pintu kamar mandi terdengar, Citra diam saja karena dia tidak mau William datang menghampirinya. William melihatnya sekilas dan entah mengapa, rasa bersalah tumbuh di dalam hatinya. Dia segera memungut pakaiannya dan memakainya dan setelah itu William duduk di sisi ranjang.
Dengan perlahan, William membuka selimut yang menutup tubuh Citra dan mengusap rambutnya. Tatapan Citra kosong dan air matanya masih mengalir, William benar-benar merasa bersalah karena telah berbuat kasar pada istrinya.
"Citra, aku minta maaf," ucapnya tapi Citra tidak bergeming.
"Dengarkan aku, aku terlalu emosi dan aku tidak suka kau dekat dengan pria lain."
"Pergi!" ucap Citra dengan lemah.
"Tidak, dengarkan aku," pinta William.
"Pergi, aku mohon," pinta Citra. Air matanya kembali mengalir dan dengan cepat dia menutupi wajahnya.
William menarik nafasnya dengan berat, kenapa dia jadi semakin merasa bersalah? Apa dia salah melakukan hal itu dengan istrinya?
"Berhenti menangis! Kau adalah istriku dan ini adalah kewajibanmu! Seharusnya kita melakukan hal ini ketika kau tinggal bersama denganku jadi berhenti menangis! Kau hanya melakukan kewajibanmu sekarang jadi jangan merasa seperti korban!"
Citra benar-benar marah. Dia segera bangun dari tidurnya dengan susah payah dan menatap William dengan tajam.
"Apa kau pernah menginginkan aku? Apa ada rasa cinta di hatimu untukku? Kau melakukan hal ini karena kau marah aku bersama dengan Doni! Bagaimana rasanya wanita jal*ang ini, hah? Lebih baik dari pacarmu, bukan?"
"Diam! Jangan bawa-bawa Lena. Dia tidak ada hubungannya dengan ini!" bentak William marah.
"Tinggalkan aku, Willy. Aku ingin sendiri," Pinta Citra seraya membaringkan diri kembali.
"Baiklah, aku akan membelikan sesuatu untukmu jadi jangan ke mana-mana," ucap William seraya mencium dahinya.
Citra diam saja dan ketika William sudah keluar dari kamar, dia segera bangun dengan susah payah. Dia meringis kesakitan ketika dia hendak berjalan. Dengan susah payah, Citra berjalan menuju kamar mandi dan dia harus buru-buru sebelum William kembali.
Citra membersihkan tubuhnya dengan cepat dan setelah itu, dia mengganti bajunya dan memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. Jantungnya berdetak dengan cepat karena dia takut William kembali. Hari ini dia harus pergi, harus. Dia harap William tidak menemukannya karena dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh pria itu.
__ADS_1
Setelah semua barangnya selesai, Citra berjalan menuju pintu dengan terburu-buru. Dia segera berjalan menuju lift dan tampak waspada karena dia takut William memergokinya. Citra berdiri di depan lift dan berharap benda itu cepat terbuka tapi tiba-tiba saja seseorang menepuk bahunya dari belakang.
Citra kaget setengah mati, apa itu William?