
Dua hari kemudian, William berangkat ke Surabaya seorang diri. Tadinya dia ingin mengajak keluarganya tapi ayah dan ibunya sedang ada urusan penting dan mereka hanya menitip salam untuk keluarga David.
Saat tiba di Surabaya, William memesan taksi dan meminta supir taksi mengantarnya ke sebuah hotel yang telah dipesankan oleh sekretarisnya. Walaupun dia tidak membawa apa-apa, tapi dia butuh sebuah tempat selama dia berada di Surabaya. Memang dia tidak ingin berlama-lama tinggal di Surabaya karena setelah menghadiri pernikahan Agnes, dia berencana langsung kembali ke Jakarta.
Saat itu, Citra sedang bersiap-siap untuk menghadiri acara pernikahan Agnes. Citra memakai gaun biru panjang yang memperlihatkan bahunya. Rambutnya diikat ke atas dan diberi jepitan-jepitan berwarna biru senada dengan gaun-nya. Dia memang tidak terlalu pandai berdandan tapi make up natural yang dia pakai sudah cukup untuk wajahnya yang cantik.
Setelah selesai Citra mengambil kunci mobilnya, saat itu waktu sudah menunjukan setengah tujuh malam. Tadinya David ingin menjemputnya tapi Citra menolak karena dia tidak ingin merepotkan David apalagi saat itu adalah acara penting keluarga besar David.
Citra segera menuju resepsi dan rasanya sudah tidak sabar melihat penampilan Agnes. Semoga dia tidak terlambat karena itu adalah pernikahan sahabat baiknya.
Ditempat resepsi saat itu, William telah tiba. Dia hanya berdiri di luar enggan masuk melihat acara-acara yang berlangsung di dalam. Dia hanya berniat mengucapkan selamat untuk Agnes dan setelah itu dia akan pergi untuk mengejar penerbangan yang akan membawanya kembali ke Jakarta.
David sedang mengikuti rangkaian acara pernikahan adiknya saat itu, dia sangat gelisah karena belum juga melihat Citra. Para tamu yang sudah memenuhi ruangan membuatnya kesulitan mencari sosok Citra. Rasanya sudah tidak sabar membawa Citra dan memperkenalkannya kepada kedua orangtuanya.
Setelah rangkaian acara selesai para tamu dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan. David segera mencari Citra tapi sayang, dia tidak menemukan Citra di antara para tamu. David segera keluar karena dia ingin menghubungi Citra tapi pada saat itu tapi tanpa sengaja dia melihat William sedang berdiri di luar sana.
David mengurungkan niatnya dan segera menghampiri sahabatnya yang tampak seperti orang tersesat.
"Hey, Sobat! Ngapain di luar?"
"Lagi cari cewek cantik!" jawab William sambil memandangi sahabatnya.
"Semua cewek ada di dalam, kau tidak akan menemukannya di luar," ucap David sambil terkekeh.
"Siapa tahu ada yang baru datang."
"Sudah sana masuk. Apa kau tidak mau menemui Agnes?'
"Tentu, setelah ini aku harus kembali ke Jakarta," jawab William.
"Kenapa begitu cepat? Bukankah kau baru tiba?"
"Ya, aku tidak suka acara seperti ini dan lagi, besok aku ada pekerjaan penting jadi aku harus buru-buru."
"Dasar pria sibuk! Ayo temui adikku," ajak David, sedangkan William mengangguk.
Mereka melangkah masuk ke dalam untuk menjumpai Agnes. Ketika David dan William menghampiri Agnes, Doni sedang mengambil air karena dia haus. Agnes melihat kakaknya dan William berjalan mendekatinya, dia begitu senang karena sahabat baik kakaknya mau menyempatkan diri untuk menghadiri acara pernikahannya.
"Kak William, terima kasih sudah mau datang," ucap Agnes sambil tersenyum.
__ADS_1
William hanya mengangguk dan tersenyum. Sebuah hadiah sudah dia siapkan dan dia segera memberikan hadiah itu untuk Agnes.
"Nih, selamat atas pernikahanmu."
"Terima kasih Kak William," ucap Agnes seraya mengambil hadiah yang William berikan.
"Mana suami kamu, Nes?" tanya David.
"Doni sedang ke sana sebentar untuk minum kak," jawab Agnes.
William mengernyitkan dahi, Doni? Rasanya tidak asing dan rasanya mengingatkannya dengan seseorang.
Saat itu Doni telah selesai minum dan segera kembali ke tempat istrinya. Doni melihat Agnes sedang berbicara dengan pria yang seperti nya pernah dia liat. Matanya tidak lepas dari pria itu dan begitu dia ingat, Doni mengepalkan kedua tangannya untuk menahan emosinya.
"William?" ucap Doni dalam hati.
Dia tidak akan pernah lupa dengan pria yang telah memukulnya tiga tahun lalu. Tapi kenapa suami sahabatnya ada di sana?
"Don, ini teman kak David, namanya William," kata Agnes mengenalkan William pada suaminya.
Apa? Teman David? Sepertinya sahabatnya dalam masalah.
"Hei, apa kalian saling kenal?" tanya David heran melihat tingkah Doni dan William.
Tanpa menjawab pertanyaan David dan tanpa pikir panjang, Doni meraih kerah baju William dan tangannya sudah siap memukul William tapi dia urungkan. Jika saja ini bukan hari pernikahannya mungkin sudah dia hajar William sampai babak belur.
"Terima kasih atas tinju yang kau berikan tiga tahun lalu tuan William," ucap Doni sambil melepaskan cengkraman tangannya di kerah baju William.
Dia berusaha tenang karena dia tidak mau mengacaukan hari pernikahannya sendiri. Doni mengulurkan tangannya berpura-pura ramah agar Agnes dan David tidak curiga.
William merapikan kerah bajunya dan tersenyum sekilas. Ternyata itu adalah Doni sahabat Citra yang telah dia pukul saat di Italia.
"Sama-sama, Doni," ucap William sambil menyambut tangan Doni. Mereka saling mencengkram tangan satu sama lain dengan pandangan bermusuhan, sementara itu David dan Agnes hanya saling pandang tidak mengerti apa yang telah terjadi.
"Kalau begitu aku harus pergi, David," ucap William seraya melepaskan tangan Doni.
"Kenapa buru-buru Kak William?" tanya Agnes.
"Aku tidak bisa lama-lama Agnes, aku harus segera kembali ke Jakarta."
__ADS_1
"Mari aku antar," ucap David.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri," tolak William.
"Baiklah, hati-hati dan terima kasih sudah mau datang," ucap david.
"Terima kasih Kak William," ucap Agnes pula.
William hanya mengangguk dan sebelum melangkah pergi, dia menatap Doni dengan tajam. Dia segera pergi meninggalkan mereka tapi langkahnya tiba-tiba berhenti ketika mendengar pembicaraan Agnes.
"Don, kok Kak Citra belum juga kelihatan?" tanya Agnes.
"Tidak tahu, Nes. Mungkin dia terjebak macet," jawab Doni.
"Aku akan menghubunginya," ucap David dan dia segera pergi tanpa tahu jika William masih berada di sana dan belum pergi.
William masih berada di tempatnya dan memikirkan percakapan Doni dan Agnes. Citra? Apa maksud Agnes tadi? Dia tahu Doni adalah sahabat baik Citra lalu apa maksud dari pembicaraan mereka? Bukankah Citra meninggal tiga tahun yang lalu? Apa yang sebenarnya terjadi?
William memutar langkahnya dan menghampiri Doni dan Agnes kembali. Di berdiri di depan Doni dan menatap Doni dengan tajam.
"Siapa yang kau maksud, Doni?" tanya William dengan dingin.
Doni tersenyum, mengejek William. Ternyata pria itu masih ada di sana dan dia tidak menyangka jika William akan mendengar percakapannya.
"Menurutmu siapa yang aku bicarakan, William? Apa kau kira temanku yang bernama Citra ada banyak?" tanya Doni dengan sinis.
"Bukankah Citra sudah meninggal tiga tahun lalu?" tanya William lagi dengan tidak yakin.
Jika yang dibicarakan Doni adalah Citra istrinya berarti wanita tiga tahun lalu yang tenggelam di sungai bukanlah istrinya.
Doni tertawa mendengar perkataan William, dia tidak perduli jika para tamu melihat ke arah mereka sedangkan Agnes terlihat bingung.
"Kau memang baji*ngan, Tuan William. Tidak saja kau menyiksa dan menyakiti hatinya, sekarang kau menyumpahinya untuk mati? Aku heran, terbuat dari apa hatimu itu?" ucap Doni sambil menatap tajam ke arah William dengan tajam.
William diam saja, jadi benar Citra belum meninggal? Berarti wanita yang tenggelam itu bukan istrinya? Betapa bodoh dirinya, kenapa tidak dicek dengan benar tiga tahun lalu?
"Katakan padaku, Doni. Di mana Citra sekarang?" tanya William seraya menarik kerah kemeja Doni.
Dia sungguh bodoh, tidak mencari kebenarannya waktu itu tapi jika Citra memang masih hidup, bukankah ini kesempatan untuknya untuk memperbaiki kesalahan yang dia buat? William berharap Doni mau memberitahu di mana Citra berada.
__ADS_1