Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship

Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship
Maaf


__ADS_3

Malam semakin larut tapi William tidak bisa tidur. Dia diam saja dan menatap langit-langit kamarnya sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia mencoba untuk tidur tapi bayang-bayang wajah Citra menghantuinya. Wajahnya yang pucat, tubuhnya yang menggigil dan bibirnya yang membiru karena dingin, benar-benar tidak bisa dia lupakan dan dia merasa sangat bersalah.


William duduk di atas ranjang dan melihat sisi tempat tidur yang kosong, biasanya Citra akan tidur di sana tapi sekarang dia entah tidur di mana.


Malam itu, Citra lebih memilih tidur di kamar lain. Dia begitu lelah, lelah dengan semua yang dia alami. Saat ini dia tidak ingin bertemu dengan William karena dia ingin menjaga jarak dengan William. Dia tahu tidak ada harapan dan lebih baik mereka seperti itu dari pada harus berujung penyesalan.


William keluar dari kamarnya karena dia ingin mencari keberadaan Citra, dia membuka setiap kamar yang ada dan ketika dia mendapati Citra berada di dalam sebuah kamar, William tampak lega. Dia segera masuk ke dalam secara diam-diam dan menghampiri Citra yang sudah tertidur dengan pulas.


William diam saja, memperhatikan wajah Citra dan setelah itu, dia duduk di sisi ranjang. Rasa bersalah kembali memenuhi hatinya dan jujur saja dia benci akan hal itu. Dengan perlahan, William menyingkirkan rambut Citra yang menutupi wajahnya dan tampak tersenyum.


"Maafkan aku," ucapnya dengan pelan.


Dia tidak berharap Citra mendengar permintaan maafnya karena itu sangat memalukan baginya. Dengan perlahan, William membaringkan diri di atas ranjang dan berbaring di sisi Citra, dia memandangi wajah Citra yang tertidur begitu lama.


Tangan William membelai wajah Citra yang sedang tidur dan ketika merasakan sentuhannya, Citra bergerak tapi kemudian dia tidur lagi. William tersenyum dan mendekatkan tubuh mereka. Dia juga memeluk pinggang Citra dan mencium dahinya.


Ini benar-benar aneh, kenapa dia melakukan hal seperti itu? Dia tidak gila bukan? Tapi entah kenapa dia senang melakukannya bahkan dia kembali mencium dahi Citra dan tidur di sisinya.


.


.


.


Citra terbangun dan tampak tidak bersemangat, entah bagaimana dia harus memasang wajahnya ketika dia bertemu dengan William nanti. Dia malas berpikir bahkan malas untuk bangun dari tidurnya tapi sayang, rasa lapar di perutnya membuatnya harus bangun.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, dia tidak tahu jika William tidur bersama dengannya. Karena tidak ingin mengganggu Citra, William keluar dari kamar itu saat jam delapan pagi.


Citra segera segera bangun dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Wajahnya benar-benar kusut bahkan, dia tampak tidak bersemangat. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Citra segera turun ke bawah dan terkejut melihat ibu mertuanya dan kakek William berada di dalam dapur dan sedang berbicara dengan William.


Dengan perlahan, Citra menghampiri mereka dan menyapa mereka, "Selamat siang, Ma, Kakek. Maaf aku tidak tahu kalian mau datang dan bangun kesiangan."


"Tidak apa-apa, Sayang. Ke marilah," pinta Sisilia.


Citra mengangguk dan pada saat itu, William berjalan menghampirinya dan memeluk pinggangnya.


"Apa kau baik-baik saja, Sayang?" tanya William.


Citra membeku dan tidak menjawab William, sedangkan William memeluk pinggangnya semakin erat.

__ADS_1


"Ingat peranmu," bisik William dengan pelan.


Citra mengangguk, dia sedang malas berdebat. Lagi pula hanya perlu berakting sebentar dan setelah itu dia bebas.


"Aku baik-baik saja, Sayang," jawab Citra. Sungguh rasanya dia ingin muntah karena memanggil William dengan sebutan 'sayang' tapi William tersenyum dan dia merasa senang.


"Maaf, Sayang. Aku terlalu bersemangat semalam," ucap William sambil mengedipkan sebelah matanya.


Wajah Citra memerah, apa maksud William berkata seperti itu?


Sisilia dan kakek William begitu senang mendengar hal itu. Sepertinya William sudah bisa menerima istrinya dan mereka merasa senang karena itu adalah hal baik.


"Sepertinya sebelum kalian pergi berbulan madu hubungan kalian sudah ada kemajuan," ucap Sisilia.


 


"Tentu saja, Ma," jawab William seraya membawa Citra bergabung bersama dengan ibu dan kakeknya.


"Itu bagus, besok kalian sudah harus berangkat berbulan madu jadi kakek harap hubungan kalian bisa semakin membaik dan kakek juga harap ketika kalian kembali, Citra sudah hamil dan memberikan seorang cicit untukku," ucap kakeknya.


Citra menunduk. Itu permintaan yang mustahil mereka lakukan apalagi ketika mereka kembali, mereka sepakat untuk berpisah. Jika kakek William tahu, apa dia akan marah?


"Tenang saja, Kakek. Kami akan berusaha," jawab William, sedangkan Citra berusaha tersenyum.


 


Dia benar-benar tidak mau mempedulikan William lagi jadi sebaiknya dia memindahkan barang-barangnya yang ada di kamar William karena dia tidak mau tidur bersama dengan pria itu lagi. Lebih baik mereka tidak terlalu dekat dan membuat jarak, itu sangat bagus untuk hubungan mereka berdua.


 


Setelah selesai mengambil barang-barangnya dari kamar William,  Citra segera keluar dari kamar itu dan segera menuju ke kamar yang dia tempati semalam dan mulai merapikan barang-barangnya. saat itu, William berjalan menuju kamarnya karena dia ingin mencari Citra tapi sayang, tidak ada siapa-siapa di sana.


William segera menuju kamar lain dan dia yakin jika Citra ada di sana. Pintu terbuka dan William tampak terpaku karena Citra tampak menangis sambil memandang keluar jendela. Citra segera menghapus air matanya dengan cepat ketika dia menyadari kedatangan William. Untuk apa pria itu masuk ke dalam kamarnya?


 


"Aku mau pergi sebentar," ucap William.


"Untuk apa kau mengatakan hal ini padaku? Kau mau pergi atau tidak itu bukan urusanku!" ucap Citra dengan sinis.

__ADS_1


"Ayo 'lah, aku minta maaf."


"Tidak perlu!" Citra masih menjawab dengan sinis.


"Jangan begitu, besok kita sudah harus pergi jadi sebaiknya kita tidak bertengkar. Aku mau pergi dan mungkin akan pulang malam jadi maukah kau membereskan barang-barangku?"


"Aku tidak mau!" tolak Citra.


"Kenapa? Kamu istriku, bukan? Jadi kamu harus membereskan barang-barang keperluanku."


"Tapi aku bukan pembantumu dan sebaiknya kau meminta Mbak Siti atau pacarmu untuk membereskan semua barangmu!" Citra menjawab semakin sinis dan membuat William kesal.


"Jangan bawa-bawa pacarku! Aku hanya memintamu merapikan barang-barangku, apa itu sulit?"


Citra diam saja, sedangkan William berjalan mendekatinya.


"Dengar, aku benar-benar minta maaf. Aku sudah kembali mencarimu tapi kau sudah tidak ada."


"Tidak perlu berbohong!"


"Aku tidak bohong, sungguh. Aku minta maaf jadi lain kali kita akan pergi menonton bersama."


"Tidak perlu, terima kasih!"


"Baiklah, jangan marah lagi. Aku ada urusan penting jadi tolong rapikan barang-barangku, oke istriku?" ucap William sambil tersenyum dan menepuk pipi Citra.


"Aku tidak perduli!" tolak Citra.


"Jika kau tidak merapikan barang-barangku saat aku pulang nanti, aku akan mencium bibirmu sebagai hukumannya, Sayang," goda William.


"A-apa?" wajah Citra merah padam.


"Ha ... ha ... ha ... ha ... ha ... ha ...!" William tertawa terbahak-bahak.


"Dasar kau menyebalkan!" teriak Citra dan dia segera berlari menuju ranjang.


Citra meraih bantal yang ada di atas ranjang dan melemparkannya ke arah William tapi William berlari keluar sambil tertawa.


"Jangan lupa, oke," teriak William dari luar, sedangkan Citra menggerutu kesal.

__ADS_1


Dia segera keluar dan masuk ke dalam kamar William. Sebuah koper dia dapatkan dari dalam lemari dan setelah itu, Citra mengambil pakaian William dan memasukkan pakaian itu ke dalam koper sambil menggerutu. Pakaian, celana semua dia masukkan tapi ketika membuka laci dan melihat pakaian dalam William, dia jadi punya pikiran lain.


Sebaiknya dia tidak memasukkan itu dan biarkan William tidak punya pakaian dalam dan semoga saja si Anaconda berbisa tidak terjepit. Citra tampak puas dan menutup koper itu, dia juga meletakkan koper ke atas lantai dan setelah itu dia berjalan keluar. Semoga saja William tidak menyadarinya.


__ADS_2