
Keesokan harinya Citra benar-benar sibuk menyiapkan pakaian-pakaian yang akan dikenakan para modelnya. Walaupun dia hanya mampu membayar model yang belum terkenal tapi Citra sangat puas dan dia berharap pertunjukkan yang dia adakan dapat berjalan dengan lancar.
Saat acara dimulai Citra merasa sedikit canggung. Paar modelnya mulai berjalan di atas panggung memperagakan pakaian hasil rancangannya. Ruangan yang temaram hanya diterangi lampu sorot dan hanya diarahkan kepada para model membuat para tamu tidak bisa melihat sekitar mereka. Para tamu hanya bisa melihat para model yang melenggak lenggok di atas panggung.
David duduk berdua dengan Agnes di kursi Vip yang telah disediakan. Sebenarnya dia sangat malas melihat peragaan busana seperti ini tapi dia sudah setuju untuk menemani adiknya.
Setelah lama menunggu, akhirnya pertunjukkan hampir selesai. Para model keluar dari ruangan yang diikutin oleh Citra. Citra sangat lega pertunjukkannya berjalan sukses. Saat itu lampu ruangan telah dinyalakan, Citra berjalan ke depan untuk mengucapkan terima kasih dan beberapa tamu undangan memberikannya buket bunga juga mengucapkan selamat untuknya.
Agnes segera menghampiri Citra di atas panggung dan memberikan buket bunga yang dia bawa untuk Citra. Agnes memeluk tubuh Citra dan mengucapkan selamat padanya.
"Selamat ya, Kak."
"Terima kasih Agnes. Dimana kakakmu?" tanya Citra.
Agnes menunjuk ke arah David dan Citra melihat ke arah David sejenak kemudian dia memandang kembali ke arah Agnes.
"kalian tunggu ya, nanti aku temui," ucap Citra.
"Baik, Kak," jawab Agnes dan dia kembali ke tempat duduknya.
Saat melihat Citra, David bangkit berdiri. Bukankah itu wanita yang selama ini dia cari? Kebetulan macam apa ini? Dia masih tidak percaya bahkan David mengucek matanya takut jika itu hanya sebuah mimpi saja. Wanita itu berbicara akrab dengan adiknya, walaupun penampilannya tidak seperti tiga tahun yang lalu, dia tidak mungkin melupakan wajah orang yang selalu membayanginya.
Citra sudah pergi, sedangkan Agnes sudah kembali. Dia sangat heran melihat kakaknya seperti patung melihat ke arah panggung. Apa yang kakaknya lihat? Agnes segera mendekati kakaknya dan menyenggol lengannya dengan pelan.
"kak, ada apa? Kok kayak orang kesambet?" tanya Agnes heran.
David langsung tersadar dan melihat ke arah adiknya, bodoh! kenapa dia hanya melamun saja?
"Nes, temani Kakak menemui seseorang yuk," ajaknya dengann penuh semangat.
Agnes benar-benar heran melihat sikap kakaknya yang tiba-tiba berubah drastis. Waktu mereka mau ke sana David tampak malas, bahkan tadi acara sedang berlangsung David terlihat cuek tapi entah kenapa tiba-tiba David berubah menjadi tidak sabaran.
"Kamu kenapa sih Kak, kok aneh?" tanya Agnes penasaran.
"Ayo," ajak David sambil menarik tangan adiknya.
Dalam hati David dia tidak akan menyia-yiakan kesempatan ini seperti tiga tahun lalu. Kali ini dia tidak boleh gagal dan dia harus tahu semua tentang Citra. Daviid masih menarik tangan adiknya, sedangkan Agnes mencoba menahannya.
__ADS_1
"Sabar dong, Kak. Ngapain sih tarik-tarik tangan aku, sakit nih," ucap Agnes sambil memasang wajah cemberut.
"Agnes, katanya minta kakak cariin kakak ipar. Yuk buruan ntar keburu ilang orangnya," David tampak tidak sabar.
Agnes tampak linglung dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Sepertinya dugaannya benar, kakaknya menyukai seseorang yang ada di sana.
"Iya ... iya ... tapi habis ini temani aku menemui seseorang ya," pinta Agnes.
David hanya mengangguk dan dia segera naik ke atas panggung sambil menarik tangan adiknya. Tanpa ragu David membuka tirai yang menjadi penyekat ruang ganti dan panggung, ketika tirai terbuka matanya melotot, sedangkan para model yang ada di dalam berteriak dengan kencang karena saat itu para model sedang mengganti pakaian mereka.
"Maaf," David menutup tirai kembali dan tampak tidak enak hati.
Agnes tertawa, sedangkan David menggerutu. Entah siapa yang dicari oleh kakaknya tapi tadi adalah pemandangan yang tidak boleh dilewatkan oleh Agnes.
"Sudah ketemu calon Kakak iparku belum, Kak?" goda Agnes.
"Sial!" umpat David pelan sambil berjalan menuruni panggung dan berjalan pergi.
Saat itu Citra keluar dari balik tirai, dia kaget saat para model berteriak histeris dan sibuk menutupi tubuh mereka yang setengah telanjang.
"Tidak, Kak. Sudah selesai belum pekerjaannya?" tanya Agnes.
"Bentar lagi, kenapa?" tanya Citra pula.
Agnes melirik ke arah kakaknya yang saat itu sedang berdiri membelakangi mereka karena saat itu David sedang melihat sebuah lukisan dengan serius.
"Kak, kalau sudah kelaselesai nanti kita makan malam bareng ya. Anggap saja untuk merayakan kesuksesan acara Kakak," pinta Agnes.
Citra tampak berpikir, sebenarnya dia takut pergi ke mana-mana karena dia takut bertemu William atau keluarganya tapi tidak ada salahnya dia menikmati satu malam saja di Jakarta. Lagi pula hanya makan dan setelah itu dia akan kembali.
"Baiklah, aku yang traktir," Citra menyetujui ajakan Agnes dan Agnes tampak senang.
Setelah sepakat, Citra kembali ke dalam untuk kembali bekerja agar pekerjaannya cepat selesai. Agnes dan David sudah keluar, sesuai permintaan Agnes, mereka menunggu Citra. David mengiyakan permintaan adiknya karena dia ingin mencari seseorang.
Matanya tidak lepas dari model yang keluar dari gedung, dia melihat model itu satu persatu dan berharap dia menemukan Citra. Saat itu Agnes pergi ke kamar mandi jadi David menunggu adiknya di lobi.
Saat itu Citra sedang berjalan menuju pintu keluar dan sedang sibuk memegang buket bunga yang telah dia terima dan tidak melihat jalan di depannya karena pandangannya terhalang oleh beberapa bunga. Citra berjalan dengan cepat tanpa menyadari ada seorang pria yang sedang berdiri membelakanginya.
__ADS_1
Tanpa dia sadari dirinya menabrak seseorang, buket bunga yang dia pegang jatuh berserakan ke atas lantai dan Citra berteriak. David sangat kaget karena dirinya ditabrak dari belakang, David memutar tubuhnya ke belakang dan mendapati seorang Wanita sedang membungkukkan badan dan meminta meminta maaf padanya.
"Maaf tuan, saya tidak sengaja," ucap Citra.
"Tidak apa-apa, Nona," ucap David.
Citra sangat lega mendengarnya, dia segera berjongkok untuk memunguti bunga-bunga yang berserakan di atas lantai. Melihat itu membuat David juga berjongkok karena dia ingin membantu.
"Tidak, Tuan. Anda tidak perlu repot," cegah Citra karena dia tidak enak hati.
"Tidak apa-apa," ucap David dengan santai dan dia masih memunguti bunga.
Citra bangkit berdiri dan David mengikutinya, dia ingin memberikan bunga yang telah dia pungut tapi dia sangat kaget ketika melihat wajah Citra.
"Citra?" ucap David, sedangkan Citra melihat ke arahnya dan tampak heran.
"Siapa?" tanya Citra tapi tanpa dia duga, David sudah memeluknya.
Citra sangat kaget, bunga yang ada di tangannya kembali terjatuh dan dia berusaha mendorong tubuh David.
"Anda salah orang, Tuan!" dia masih berusaha mendorong tubuh David.
"Citra, ini aku. Apa kau lupa denganku?" tanya David.
Citra mencoba mengingat tapi dia benar-benar sudah lupa dengan David.
"Tuan, apa anda tidak salah orang?" tanya Citra lagi.
David melepaskan pelukannya dan menatap kearah Citra, apa Citra benar-benar sudah melupakannya?
"Tidak, aku tidak mungkin salah," ucap David.
"Apa kita saling kenal? "tanya Citra lagi dengan raut wajah kebingungan.
"Kamu lupa sama aku?" David tampak kecewa.
Citra menatap kembali wajah David, memang rasanya seperti dia pernah bertemu dengan David tapi entah di mana. Dia benar-benar tidak bisa mengingatnya jadi dia mengangguk. David semakin kecewa, wanita yang dia cari dan dia rindukan ternyata sudah melupakan dirinya.
__ADS_1