
Beberapa hari kemudian sebelum pernikahan David dimulai, Citra telah bersiap-siap membereskan barang bawaannya. Dia juga membawa serta hadiah-hadiah yang William berikan untuknya. Semua hadiah itu dia simpan dalam kotak dengan rapi karena dia ingin mengembalikan hadiah itu dan melemparkannya ke wajah pria yang telah mempermainkannya.
Citra bergegas menuju ke bandara, dia telah menunda pekerjaannya selama satu minggu. Kepulangannya kali ini tidak hanya untuk menghadiri pernikahan David tetapi dia juga ingin membereskan hubungannya dengan William. Dia tidak ingin menunggu lagi karena dia tidak mau dipermainkan oleh William lagi dan melihat wajahnya.
Setelah tiba di Jakarta, Citra tidak langsung menemui William. Saat ini dia sudah berada di sebuah hotel yang dia pesan selama seminggu. Karena dia baru tiba jadi Citra beristirahat di kamar. Besok dia harus pergi membeli hadiah untuk David dan mengunjungi keluarga angkatnya. Walaupun keluarga Pratama tidak menyayangi dan telah menjualnya tapi Citra tidak bisa benci pada mereka. Bagaimanapun merekalah yang telah membesarkan dirinya.
Saat ini dia sedang berbaring di ranjang sambil memikirkan hadiah apa yang pantas dia berikan untuk David. Dia berencana menemui William setelah menghadiri acara pernikahan David. Kali ini dia harus benar-benar mengakhiri hubungan mereka.
Sementara itu di tempat lain tanpa sepengetahuannya, David dan William sedang menyusun sebuah rencana. Mereka tampak serius saat ini dan pada saat itu, seseorang memberi laporan pada William.
"Tuan, dia sudah datang."
"Baiklah," jawab William.
"Apa dia sudah datang?" tanya David.
"Apa kau yakin dia akan menerima aku?" tanya William pula.
"Aku yakin jadi percayalah padaku," jawab David.
William mengangguk dan mereka berdua kembali serius menyusun rencana mereka yang tidak boleh gagal. Ini semua karena kepergian William satu bulan yang lalu secara tiba-tiba sehingga mereka harus membuat sebuah rencana.
Satu bulan yang lalu, William harus pulang ke Jakarta karena penyakit kakeknya yang tiba-tiba kambuh. William tidak punya pilihan jadi dia pulang dengan terburu-buru sehingga dia hanya bisa menuliskan sebuah pesan yang dia letakkan di atas ranjang. Dia berharap Citra membaca pesan itu dan mau menunggunya kembali.
Setelah kembali ke Jakarta William langsung menemani kakeknya pergi ke Amerika untuk menjalani perawatan, setidaknya dia harus menghabiskan waktu dua minggu di sana dan sialnya dia tidak punya nomor ponsel Citra. Satu minggu tinggal di rumah Citra dia tidak pernah menanyakan nomor ponsel wanita itu dan tidak juga memberikan nomor ponsel-nya kepada Citra.
__ADS_1
Selama di Amerika, William begitu cemas. Bukan saja memikirkan kesehatan kakeknya tapi dia juga memikirkan Citra yang pasti sangat marah karena dia meninggalkannya begitu saja. Dua minggu di Amerika bagaikan dua tahun tapi dia tidak bisa meninggalkan kakeknya yang sedang menjalani perawatan.
Walaupun William sangat khawatir dengan keadaan Citra tapi dia harus bersabar menunggu kakeknya hingga pulih dan begitu kondisi kakeknya mulai membaik mereka langsung kembali ke Indonesia. William ingin langsung terbang ke Surabaya untuk menemui istrinya tapi David mencegahnya.
Saat itu David datang ke rumah William setelah mendengar kakeknya sakit dan baru kembali dari Amerika. David melihat sahabatnya tampak kusut dan sepertinya dia tahu apa penyebabnya. Dia tahu William pasti sedang memikirkan keadaan Citra karena dia harus meninggalkannya.
Saat keluarga William mengetahui jika Citra masih hidup betapa senangnya mereka. Kakeknya yang masih terduduk lemah di kursi roda ingin langsung terbang ke Surabaya untuk menjemput cucu menantunya tapi langsung dicegah oleh William. Kakeknya belum begitu sehat dan dia ingin Citra kembali padanya dengan usahanya sendiri bukan karena paksaan dari keluarnya.
Melihat kesungguhan hati William, David menawarkan bantuan kepada sahabatnya. Memang berat bagi David tapi dia sudah belajar menerima hubungan Citra dan William. Lagi pula dia tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Dia meminta William untuk bersabar karena dia yakin jika William langsung menemui Citra, Citra pasti akan marah dan jangan sampai Citra tidak mau bertemu dengan William lagi.
Oleh karena itulah David mengundang Citra ke acara pernikahan palsunya untuk membawa Citra kembali ke Jakarta dan tentunya semua itu mereka lakukan demi suatu tujuan.
William dan David masih menyusun rencana mereka karena mereka ingin semuanya berjalan dengan sempurna.
Hari itu Citra pergi membeli sebuah hadiah untuk David. Citra berpikir pasti Wanita yang akan menikah dengan David sangatlah cantik. Dia sangat bersyukur jika David mau mengundangnya, setidaknya David tidak membencinya dan masih mau menganggapnya sebagai teman.
Ketika dia tiba, Caren yang membuka pintu. Caren berdiri di depan pintu dan tidak membiarkannya masuk ke dalam.
"Wah ... wah, untuk apa kau pulang? Ini bukan rumahmu lagi?" ucap caren dengan nada mengejek.
Saat tiba dikediaman keluarga angkat nya,saat itu Caren adik angkat nya yang membuka kan pintu untuk nya.
Citra hanya memutar bola matanya, dia malas berdebat dengan adik tirinya.
"Apa Ibu ada di rumah, Caren?"
__ADS_1
"Untuk apa mencari Ibu? Kau mau minta uang ya?"
"Tidak, aku hanya ingin tahu keadaan kalian saja dan ini ...," Citra memberikan barang yang dia beli.
Caren menerimanya dan melemparkan barang itu ke atas lantai sambil berteriak.
"Kami tidak butuh barang-barang darimu!"
Citra menghembus kan nafasnya, dia segera berjongkok dan mengambil kembali barang-barang yang sudah dilemparkan oleh adiknya.
"Sepertinya aku salah datang kesini," ucapnya.
Seharusnya dia tahu, pintu rumah itu tidak terbuka lagi untuknya.
"Pergi sana! Untuk apa kau di sini. Kau sudah tidak berguna!" teriak Caren lagi.
"Apa maksudmu Caren?".
"Aku dengar William Alexanders akan menikah besok dan kau hanya mantan istrinya yang terbuang,' ucap Caren sambil tertawa.
Citra terbelalak kaget mendengar perkataan Caren, apa dia tidak salah dengar?
"Benarkah?" tanya Citra tidak percaya.
"Tentu saja, bahkan kami diundang ke acara pernikahannya," Caren tersenyum dan tampak puas melihat keadaan Citra.
__ADS_1
Citra memutar langkahnya dan berjalan pergi. Apa benar yang diucapkan oleh Caren? William akan menikah? Tapi ini hal bagus, bukan? Bukankah dengan begini dia bisa bercerai dengan William? Ini yang dia inginkan tapi kenapa hatinya terasa sakit?