
Citra menepis tangannya dari pegangan William. Dia tidak mau membahas hal memalukan itu lagi jadi sebaiknya dia pergi.
"Maaf, aku tidak ingin bicara denganmu dan aku juga tidak mau membahas hal memalukan yang terjadi di antara kita semalam. Lebih kita tidak saling menyapa dan jangan pedulikan aku!" ucap Citra.
Dia segera mengambil tasnya dan melangkah keluar, sedangkan William melihatnya dengan heran. Apa Citra benar-benar marah dengannya karena semalam dia tidak selesai?
Citra turun ke bawah dan duduk di lobi hotel, gara-gara William dia tidak jadi makan roti tadi dan lihatlah sekarang, dia lapar. Sebaiknya dia mencari makanan dan setelah itu dia pergi menikmati kota. Citra segera bangkit berdiri dan pergi ke sebuah restoran yang terletak di seberang hotel.
Citra memesan segelas minuman dan seporsi pasta udang. Dia duduk di dekat jendela dan mengambil ponsel-nya untuk mengusir bosan. Citra membuka pesan yang satu persatu dan membacanya.
"Citra, di mana kamu sekarang?"
"Apa yang sedang kamu lakukan? Kapan kau mau mentraktir aku makan?"
"Aku rindu ingin bertemu."
Citra tersenyum ketika membaca pesan itu dan semua pesan itu dikirimkan oleh David. Dia diam saja, mengingat pertemuan pertamanya dengan David. David pria yang baik menurutnya, tapi untuk saat ini sampai dua bulan ke depan dia tidak akan bertemu dengan David.
Bagaimanapun dia masih berstatus istri William tapi setelah William menceraikannya, dia bebas. Rasanya sudah tidak sabar menantikan hari itu tiba. Citra menyimpan ponsel-nya kembali tanpa membalas satupun pesan dari David. Lebih baik dia mereka seperti ini untuk sementara waktu, lagi pula mereka hanya teman saja bukan?
Citra mengangkat gelas minumannya, hendak meneguk isinya tapi saat itu seseorang menepuk bahunya dan membuatnya kaget. Citra memalingkan wajahnya dan matanya membulat ketika melihat orang yang berdiri di belakangnya.
"Doni?" Citra langsung bangkit berdiri.
Doni adalah temannya saat di bangku kuliah dan dia adalah teman baik Citra. Doni selalu menjadi tempatnya untuk berbagi karena dia tahu apa yang dialami oleh Citra tapi semenjak lulus kuliah, Doni kembali ke tempat asalnya.
"OH my God, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Citra seraya memeluk Doni. Dia sangat bahagia bisa bertemu dengan sahabat baiknya di sana.
"Kamu sendiri? Apa yang kamu lakukan di sini, Cit?" tanya Doni pula.
"Nyasar," jawab Citra asal sambil tersenyum.
"Nyasar kok jauh banget?" tanya Doni dan dia menarik sebuah kursi dan duduk di depan Citra.
"Biasa, kau tahu bukan?" Citra juga duduk di tempatnya kembali.
"Apanya yang biasa? Jangan-jangan kamu dijual sama keluarga angkatmu ya?" Doni menatap Citra dengan penuh curiga.
Citra tertawa, sejak dulu Doni memang sudah tahu jika keluarga angkatnya tidak pernah menginginkannya.
"Tidak, jika mereka ingin menjual aku tidak mungkin mereka menjual aku sampai ke Roma," jawab Citra sambil tersenyum.
"Iya juga sih, kau bukan barang berkualitas," ucap Doni bercanda,
__ADS_1
"Jangan asal bicara, memangnya aku barang!" gerutu Citra, sedangkan Doni terkekeh.
"Kamu sendiri kenapa ada di sini, Don?" tanya Citra.
"Aku bertemu client penting di sini. Setelah lulus kuliah aku langsung melanjutkan usaha Papa," jawab Doni.
"Kamu sendiri kenapa bisa nyasar begini jauh? Apa kau datang bersama dengan pacarmu?"
"Tidak, aku tidak punya pacar," jawab Citra sambil tersenyum.
"Lalu? Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Doni heran.
"Aku sedang jalan-jalan bersama sahabatku," ucap Citra berbohong. Dia tidak mau sahabat baiknya tahu jika dia sudah menikah dan sekarang dia sedang berbulan madu di sana.
"Oh ya? Lalu mana sahabatmu?"
"Ck, kau masih cerewet seperti dulu!" protes Citra sambil tertawa.
"Oh ya, kamu sudah kerja belum?" tanya Doni. Pasalnya dia ingat perkataan Citra jika sudah lulus kuliah dia ingin langsung bekerja menjadi desainer.
"Belum, Don," jawab Citra sambil menggeleng.
"Kau sudah seperti wartawan saja!" protes Citra lagi.
"Aku hanya ingin tahu memangnya tidak boleh?"
"Kira-kira dua bulan," jawab Citra.
"Gila! kau jalan-jalan atau kabur?"
Citra hanya tertawa, dia senang hari ini bisa bertemu sahabat baiknya di sana. Setidaknya dia tidak perlu mengingat perselisihannya dengan William tapi dia tidak tahu jika saat itu William sedang berjalan menghampirinya dengan api kemarahan.
Setelah Citra keluar dari kamar, William juga keluar dan mencari Citra. Dia mau mengajak Citra jalan-jalan mengelilingi Eropa tapi siapa yang menyangka, setelah sekian lama mencari keberadaan istrinya, dia mendapati Citra sedang berbicara dengan seorang pria di restoran yang letaknya tidak jauh dari hotel.
Tanpa membuang waktu, William segera menghampiri Citra dengan kemarahan di hati. Siapapun pria itu dia tidak suka melihat Citra sedang berbicara dengan pria lain. Apa pria itu yang berbicara dengan Citra waktu itu dan yang dia panggil sayang?
William mendorong pintu restoran dengan cepat dan segera menghampiri Citra. Amarah semakin menguasai ketika dia melihat Doni memegang tangan Citra.
"Bagus! Aku tidak menyangka selingkuhanmu datang mengejarmu sampai di sini!" ucap William.
__ADS_1
Citra sangat kaget dan langsung bangkit berdiri, begitu juga dengan Doni. Dia juga bangkit berdiri tapi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, William sudah mendekatinya dan meraih kerah bajunya. William bahkan memukul wajah Doni tanpa ragu karena dia mengira pria itu adalah selingkuhan istrinya.
"Doni!" teriak Citra, sedangkan Doni terhuyung ke belakang.
Dia segera menghampiri Doni dan melihat darah segar mengalir dari hidung Doni akibat pukulan yang diberikan oleh William.
"Kau tidak apa-apa, bukan?" Citra benar-benar tampak bersalah.
"Kurang ajar! beraninya kau memukulku!" Doni ingin menghampiri William tapi Citra segera menahannya karena dia tidak mau terjadi perkelahian di sana.
"Jangan, Don," pinta Citra sambil memeluk Doni untuk menahannya.
"Kenapa?!" tanya Doni dengan nada tinggi.
"Beraninya kau!" William semakin marah dan dikuasai emosi karena melihat Citra memeluk Doni.
Tanpa banyak bicara, William mendekati Citra dan meraih tangannya. Dia juga menarik tangan Citra dengan kasar hendak membawanya kembali ke hotel tapi Citra segera menepis tangan William.
"Lepaskan dasar kau pria gila!" bentak Citra.
"Ya, aku memang gila!" ucap William.
Dia kembali mendekati Citra dan meraih tubuhnya. Citra berteriak saat William memanggul tubuhnya di atas bahunya dan berusaha memberontak.
"Mari kita selesaikan di kamar!" ucap William seraya berjalan pergi.
"Tidak, aku tidak mau!" teriak Citra.
"Lepaskan dia!" Doni mengejar karena dia ingin membantu sahabatnya tapi dia mendapat tatapan tajam dari William.
"Ini permasalahan kami jadi kau jangan ikut campur!" ucap William dengan sinis.
"Don, tolong aku Don," pinta Citra memohon.
"Diam! Jika kau berani melawan aku maka kalian akan tanggung akibatnya!" ancam William.
Citra menelan ludahnya, jangan sampai Doni terlibat hanya karena dirinya. Tapi jujur saja, dia sangat takut. Apa yang mau dilakukan oleh William?
"Cit, ada apa sih?" tanya Doni tidak mengerti.
"Willy, please turunkan aku! Kau hanya salah paham," pinta Citra memohon.
"Tidak! Kita akan selesaikan ini di kamar!" jawab William dan dia kembali melangkahkan kakinya.
"Tidak! Doni tolong aku," pinta Citra sambil memberontak tapi Doni diam saja karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Citra terus memohon dan memberontak tapi William tidak perduli karena hatinya sudah dipenuhi oleh api kemarahan akibat cemburu. Citra ketakutan ketika mereka sudah tiba di kamar, apa yang mau dilakukan oleh William?