
Setelah sampai di rumah, Citra disambut oleh Mbak Siti yang kebingungan melihatnya pulang sendirian. Beberapa waktu yang lalu, setelah kepergian William dan Citra. Kakek William menghubungi pembantu rumah William karena dia dia ingin tahu bagaimana hubungan cucunya dengan istrinya.
Tentunya Mbak Siti mengatakan jika hubungan mereka baik-baik saja dan sekarang, Mbak Siti mendadak jadi mata-mata untuk mengawasi mereka berdua dan tentunya itu atas permintaan kakek William. Pria tua itu meminta Mbak Siti segera menghubunginya jika William berbuat kasar dengan istrinya. Dia juga meminta Mbak Siti untuk segera mengabarinya jika William membawa pacarnya pulang.
Bukan tanpa alasan dia meminta hal itu dan bukan tanpa alasan mereka tidak suka dengan pacar Wiliam saat ini. Dari penampilan Lena yang sudah seperti wanita murahan saja sudah membuatnya tidak senang apalagi, dia pernah mendapati William hendak memberikan kartu kredit kepada pacarnya karena pacarnya ingin pergi berbelanja.
Itu bukan pertama kalinya cucunya memanjakan pacarnya dengan barang mewah dan hampir setiap hari mereka pergi membeli barang-barang mewah dan menghamburkan uang begitu saja. Dia mencegah cucunya untuk memberikan kartu kredit itu dan tidak habis pikir, kenapa cucunya begitu mudah diperdaya oleh kekasihnya?
Sebelum menjodohkan cucunya dengan anak keluarga Pratama, dia sudah menyelidiki kedua anak Pratama dan dia lebih menyukai Citra karena dia punya perilaku yang baik tapi sayang diabaikan oleh keluarga Pratama dan tidak dicintai. Oleh karena itu dia pikir Citra sangat cocok untuk menjadi istri William.
"Non, baru pulang? Mana Tuan Muda?" tanya Mbak Siti.
"Pergi lagi," jawab Citra/
"Sudah mau makan belum, Non?" tanya Mbak Siti lagi.
"Boleh, Mbak. Aku sudah lapar. Tolong siapin ya Mbak," pinta Citra sambil mengelus perutnya yang keroncongan.
__ADS_1
"Ya ampun, Non. Kok belum makan siang? Nanti kalau Non sakit bagaimana?"
"Ngak kok Mbak, tolong siapin ya, aku mau mandi dulu," ucap Citra dan dia segera berlalu pergi.
Citra segera masuk ke dalam kamar, dia akan memindahkan barang-barangnya nanti setelah makan karena dia tidak mau tidur satu kamar dengan William. Lebih baik mereka menjaga jarak karena mereka tidak mungkin bersama.
Setelah selesai mandi, Citra segera pergi ke dapur untuk makan. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul lima sore dan dia sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang baik yang mau mengantarnya pulang. Jika dia tidak bertemu dengan David, mungkin dia masih di jalanan saat ini.
"Mbak, besok bisa ajarin aku masak ngak?" pintanya.
"Tidak apa apa, Mbak. Aku pengen belajar masak. Masakan mbak enak jadi aku ingin belajar. Bagaimanapun aku harus masak untuk suamiku nanti 'kan Mbak. Bagaimana jika Mbak cuti, lalu siapa yang akan masak?"
Mbak Siti tersenyum dan dia tampak senang, dia senang jika nona mudanya suka dengan masakkannya. Tidak seperti pacar Tuan mudanya yang selalu menghina masakannya jika dia datang ke rumah. Pernah William membawa Lena untuk menginap dan Mbak Siti menyiapkan nasi uduk, sambal dan tempe goreng kesukaan William untuk sarapan tapi Lena malah membanting piring hingga berserakan dan memaki Mbak Siti dengan ucapan kasar.
Istri Tuan Mudanya benar-benar tidak seperti pacar Tuan Mudanya dan dia bisa melihat, mereka bagaikan langit dan bumi. Walaupun Citra terlihat sederhana tapi dia selalu sopan bahkan pakaian yang dia kenakan juga terlihat sopan.
"Baik, Non. Besok Mbak akan ajarin Non masak," ucap Mbak Siti sambil tersenyum.
__ADS_1
"William suka makan apa, Mbak? Dia sering makan di rumah ngak?" tanya Citra.
"Tuan suka makan apa aja yang saya masak, Non. Tapi untuk sarapan tuan paling suka makan nasi uduk, sambal dan tempe goreng," jelas mbak Siti.
"Baik, Mbak. Besok kita ke pasar bareng-bareng ya," pinta Citra
"Jangan, Non. Pasar kotor dan bau, Mbak aja yang pergi jadi Non di rumah aja"
"Ngak apa-apa kok, Mbak. Aku juga harus tahu pasar tradisional di mana. Aku baru dua hari di sini jadi aku harus tahu pasarnya ada di mana. Kalau Mbak sakit atau cuti aku bisa pergi belanja sendiri bukan?"
Mbak Siti hanya mengangguk pasrah karena apa yang dikatakan oleh Citra memang benar adanya. Setelah selesai makan, Citra segera membereskan barang-barangnya. Dia mau pindah ke kamar lain tapi sebelum itu, dia penasaran dengan sebuah pintu besar yang ada di samping jendela kamar. Dia segera membuka pintu itu dan ternyata pintu itu menjadi penghubung balkon. Di sana ada sofa malas dan sebuah meja.
Citra segera keluar dan menghirup udara malam yang terasa segar dan setelah itu dia melihat ke bawah karena kamar itu berada di lantai dua. Di bawah sana tampak kolam renang dan beberapa gazebo. Ada sebuah taman kecil dan sepertinya dia harus melihat-lihat tempat itu besok.
Citra segera mencari ponselnya sebelum membereskan barang-barangnya karena dia ingin duduk santai di sana sebentar untuk menikmati udara malam. Dia pikir dia akan berada di sana sebentar untuk mencari lowongan pekerjaan dan setelah itu dia akan memindahkan barang-barangnya. Dia begitu serius sampai tanpa sadar, dia tertidur di sana.
Di luar sana, William sudah kembali. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh saat itu. Dia ingin segera mandi dan tidur. Rumah sudah tampak sepi dan itu hal biasa baginya. William segera berjalan menuju kamar, dia ingin mandi tapi pada saat itu dia melihat pintu balkon yang terbuka. Kenapa Mbak Siti tidak menutupnya? Dia segera berjalan menuju pintu dan hendak menutupnya tapi niatnya terhenti ketika melihat Citra tidur di kursi malas. Kenapa dia tidur di sana? Apa dia harus membawa Citra masuk atau membiarkan dia di sana sampai pagi.
__ADS_1