
Jari lentik seorang wanita cantik sedang mengetuk-ngetuk meja kerjanya dan matanya yang indah sedang
melihat ke arah kertas yang ada di atas meja, sedangkan tangan satunya sibuk mencoret-coret kertas itu.
Ya ... wanita itu adalah Citra. Tiga tahun yang lalu dia melarikan diri dari William dan bersembunyi. Setelah melompat dari mobil, Citra masuk ke dalam hutan. Citra bersembunyi di dalam hutan karena tubuhnya yang terasa sakit, Citra tidak mampu lagi untuk berjalan lebih jauh dan akhirnya Citra pingsan di hutan.
Saat dia tersadar, Citra sudah mendapati dirinya berada di sebuah rumah warga. Ternyata ada warga yang menemukannya di dalam hutan dan membantunya. Citra juga menyembuhkan tangannya yang patah, walau harus melewati proses yang menyakitkan tapi Citra berjuang untuk menyembuhkan tangannya.
Beberapa bulan di desa itu membuat dia tenang. Setidaknya William tidak dapat mencarinya sampai ke desa itu. Ketika keadaannya sudah pulih baru 'lah Citra meminta bantuan Doni untuk menjemputnya.
Saat ini Citra telah mampu menjadi desainer sesuai impiannya. Walaupun karyanya belum begitu terkenal tapi Citra sudah mampu membuat suatu pertunjukan fashion bahkan ada beberapa artis yang sudah memakai hasil rancangannya dan mereka sangat menyukai rancangan fashion buatan Citra.
Citra menyewa sebuah gedung kecil berlantai dua agar pekerjaannya menjadi mudah. Lantai dua dia gunakan untuk ruang pribadinya untuk bekerja dan jika ada yang mau memesan rancangannya secara khusus bisa langsung menemuinya di lantai dua sedangkan di lantai bawah dia gunakan untuk membuka butik kecil khusus rancangannya sendiri dan dia mempekerjakan beberapa pegawai untuk menjaga butik-nya.
Semua pencapaian yang dia dapat tidak lepas dari bantuan Doni. Doni yang telah banyak membantunya, setelah menghubungi Doni dan memberitahukan keberadaannya, Doni langsung menjemput Citra dan membawanya ke Surabaya. Di sana 'lah Citra menata kembali kehidupannya. Di sana juga dia mulai mengembangkan bakatnya dari nol hingga dia bisa melebarkan sayapnya merambah ke dunia fashion selebriti dan beberapa sosialita. Citra sangat bangga dengan pencapaian yang telah dia raih dan tentu saja dia sangat berterima kasih kepada sahabatnya Doni.
Tok! Tok! Suara pintu diketuk seseorang membuyarkan konsentrasi-nya.
"Masuk," ucap Citra tapi matanya masih fokus menatap kertas desain-nya.
"Bu, ada yang ingin bertemu," ucap Manajernya.
"Suruh aja masuk."
"Baik, Bu," jawab manajernya sambil berlalu pergi dan mempersilahkan tamunya untuk masuk, sedangkan Citra merapikan gambar-gambar baju yang ada di atas mejanya.
"Hai Cit, sibuk ngak?" tanya Doni saat dia masuk ke dalam ruangan Citra.
Citra tersenyum ketika melihat Doni bersama dengan tunangan cantiknya Agnes masuk ke dalam dan menghampirinya.
"Hai Don, hai Agnes. Ada apa berkunjung kemari?" tanya Citra seraya mempersilahkan mereka untuk duduk.
__ADS_1
"Biasa, ada yang mau minta dibuatkan gaun pengantin," jawab Doni.
"Rancangan aku kurang bagus, Agnes. Kenapa kamu tidak cari perancang yang lain aja?"
"Tidak, aku maunya rancangan Kak Citra. Aku suka dengan rancangan baju Kak Citra jadi buatkan aku baju pengantin ya," rengek Agnes dengan manja.
"Tolong 'lah Cit, jangan membuat kepala aku tambah pusing mendengar rengekannya."
"Enak saja!" Agnes memukul lengan Doni, sedangkan Doni terkekeh.
Citra tersenyum melihat sahabatnya, dalam hati dia mendoakan semoga Doni dan Agnes selalu bahagia. Di mata Citra mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Doni pemuda yang sukses sedangkan Agnes putri seorang pengusaha yang sukses pula. Mereka ingin menikah bukan karena perjodohan tetapi karena mereka bertemu dan saling jatuh cinta.
"Baiklah, aku tidak bisa menolak permintaan sahabat baik aku tapi, aku akan membuatkan-nya setelah aku kembali dari peragaan busana yang sebentar lagi akan digelar," ucap Citra.
"Emang peragaannya di mana, Kak?" tanya Agnes penasaran.
"Hanya peragaan busana kecil-kecilan di jakarta," jawab Citra.
"Minggu depan, aku hanya sebentar kok di sana. Begitu selesai aku akan langsung kembali," Ucap Citra.
Dia memang tidak ingin berlama-lama di jakarta karena jujur saja dia takut bertemu dengan William. Sudah tiga tahun berlalu dia harap William sudah menikah dengan Lena dan melupakannya. Dia juga tidak mau berlama-lama karena dia tidak ingin kenangan buruknya menghantui dirinya selama di sana. Oleh karena itu sebisa mungkin dia akan kembali ke Surabaya setelah semuanya selesai.
"Dimana, Kak? Nanti kabari aku ya. Aku akan mengajak kakak aku melihat peragaan busana Kak Citra" pinta Agnes.
"Emang kamu punya kakak, Nes?" tanya Citra penasaran.
Pasalnya selama ini Doni tidak begitu banyak menceritakan perihal latar belakang tunangannya. Citra pun tidak ingin banyak bertanya karena dia tidak enak hati.
"Ada perjaka tua di rumah. Mau aku kenalin?" tanya Agnes sambil tersenyum.
"Ngak selera sama perjaka tua!" ledek Citra sambil tertawa.
__ADS_1
Agnes dan Doni tertawa tapi pada saat itu, Citra teringat sesuatu.
"Aku punya beberapa rancangan dan kamu bisa liat-liat terlebih dahulu. Jika kamu tidak suka nanti kasi tahu aku, aku akan coba buatkan seperti yang kau mau," Citra mengeluarkan buku rancangannya dan memberikan buku itu pada Agnes.
Mata Agnes berbinar senang melihat gambar rancangan gaun yang indah. Dia benar-benar menyukai rancangan Citra walaupun tampak sederhana tapi rancangannya sangat berkelas dan setiap rancangannya juga tidak terbuka tapi tetap elegan.
Hari itu mereka menghabiskan waktu untuk melihat rancangan gaun pernikahan yang Agnes inginkan. Citra kembali sibuk kembali mencoret-coret buku sketsa-nya dan mencoba membuat gaun yang diinginkan oleh Agnes.
"Oke, aku sudah ada gambarannya. Setelah pertunjukan aku selesai aku akan menyelesaikan gaun ini untukmu dan aku jamin kamu pasti akan senang," kata Citra yang disetujui oleh Agnes dengan anggukan.
Hari sudah menunjukkan pukul lima sore ketika mereka sudah selesai, matahari sudah mulai membenamkan diri. Doni dan Agnes mengajak Citra makan bersama tapi Citra menolak dengan alasan masih ada pekerjaan. Dia tidak mau menggaggu kebersamaan mereka jadi Doni dan Agnes pulang.
Sebelum pulang Agnes memegang tangan Citra dan memastikan bahwa dia akan mengajak kakaknya ke pertunjukkan nanti.
"Kak, aku pasti datang dengan kakakku," ucap Agnes.
"Baik 'lah, Nes. Nanti aku akan kirimkan undangan vip untukmu," ucap Citra sambil tersenyum.
Mendengar itu tentu saja Agnes sangat senang. Dia berjalan ke arah Citra dan memeluknya, Citra pun membalas pelukan hangat Agnes.
"Terima kasih, Kak," ucap Agnes.
"Jangan sungkan, kamu pelanggan setia aku dan juga tunangan sahabat baik aku. Jangan lupa membawa perjaka tuamu. Siapa tahu dia dapat jodoh di sana," ucap Citra sambil bercanda.
Agnes terkekeh geli mendengar ucapan Citra, "Pasti, Kak. Siapa tahu berjodoh denganmu?" Agnes membalas candaan Citra.
"Ngaco kamu!" Citra tertawa begitu juga dengan Agnes.
Doni dan Agnes pamit pergi, sedangkan Citra membereskan sketsa yang ada di atas meja. Dia juga mematikan layar komputernya karena dia sudah hendak pulang. Citra meraih tasnya dan turun ke bawah. Ada beberapa orang tampak sedang memilih baju dan sebelum pulang, Citra ingin berbicara dengan manajernya.
Citra melangkah hendak mendekati manajernya tapi langkahnya terhenti ketika sebuah tangan kecil memegangi ujung rok yang dia pakai. Citra melihat ke bawah dan tersenyum melihat seorang anak kecil sedang berdiri di bawah kakinya. Siapa anak itu?
__ADS_1