
Sisilia kembali setelah mengejar putrannya, dia ingin menghibur menantunya dan meminta maaf atas sikap kasar putranya tapi sayang, Citra sudah masuk ke dalam kamar dan mengunci diri di sana.
Sisilia tidak bisa melakukan apapun dan akhirnya dia memilih untuk pulang. Sebelum pulang, dia meminta Mbak Siti untuk menjaga Citra baik-baik dan melihat keadaannya.
Citra masih menangis dan merasa tidak ada yang menginginkannya. Sejak dulu sampai sekarang, tidak ada yang menginginkan dirinya bahkan dia sendiri tidak tahu siapa orangtua kandungnya.
Semua tidak menginginkanya, tidak ada yang menginginkannya. Dia bahkan tidak berhak atas kehidupannya sendiri. Dia bagaikan boneka yang tidak pernah diinginkan bahkan pria yang menjadi suaminya juga tidak menginginkannya.
Citra terus menangis dan tidak perduli dengan panggilan ibu William dan Mbak Siti. Dia butuh waktu sendiri, sangat membutuhkannya.
Hatinya benar-benar sakit mendengar ucapan William tadi, dia tahu pernikahan mereka terjadi tanpa ada rasa cinta di antara mereka berdua dan dia sangat sadar akan hal itu. Dia memang bukan siapa-siapa dan tidak layak untuk William tapi dia berharap William mau memperlakukannya dengan baik.
Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi karena William membenci dirinya bahkan, William pasti menganggapnya sebagai benalu yang membebani hidupnya.
Citra merasa dirinya tidak berguna bahkan dia merasa kematian lebih baik saat ini. Apa dia mati saja?
Di luar sana, Mbak Siti tampak modar mandir di depan kamar dan mencoba memanggil Citra tapi tidak ada jawaban. Dia juga berusaha membuka pintu tapi sayang, pintu kamar dikunci oleh Citra dari dalam.
Mbak Siti pikir Citra perlu waktu sendiri untuk menenangkan diri jadi dia pergi untuk membuat makan malam tapi Citra tidak juga keluar padahal saat itu sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Mbak Siti kembali memanggil tapi masih tidak ada jawaban dan entah kenapa saat itu, dia takut jika Nona Mudanya melakukan hal nekat. Bagaimana jika Nona mudanya bunuh diri di dalam kamar?
Jangan sampai hal itu terjadi dan sebaiknya dia menghubungi Tuannya untuk pulang karena dia benar-benar takut. Mbak Siti segera berjalan menuju telepon dan meraih gagangnya, dengan tangan bergetar Mbak Siti menekan beberapa angka di sana dan dia harap, William segera menjawab telepon darinya.
"Ada apa?" tanya William.
"Tu-Tuan, cepatlah pulang," pinta Mbak Siti.
"Ada apa memangnya?" tanya William lagi.
"Non Citra dari tadi di dalam kamar ngak keluar-keluar, Tuan."
"Memangnya Mbak ngak panggil apa?"
"Udah, Tuan. Semenjak Tuan dan Nyonya pergi, Non Citra mengurung diri di dalam kamar dan sampai sekarang tidak keluar juga."
William berdecak kesal, apa lagi yang dilakukan oleh wanita itu? Apa dia sedang berpura-pura untuk menarik perhatiannya? Sebainya tidak perlu melakukan hal yang sia-sia karena dia tidak peduli.
"Mbak Siti urus saja, aku sibuk!"
"Aduh, Tuan. Mbak takut Non Citra melakukan hal nekat jadi Tuan pulang sekarang ya. Mbak takut nih kalau ngak Mbak hubungi Nyonya jika Tuan ngak mau pulang."
"Apa sih, Mbak? Memang dia mau berbuat apa?"
"Kalau Non Citra bunuh diri di dalam kamar gimana, Tuan?" tanya Mbak Siti.
__ADS_1
"Mana mungkin sih!"
"Tuan cepat pulang ya, kamarnya juga dikunci, Mbak takut," ucap Mbak Siti.
"Baiklah, aku akan pulang."
"Buruan, Tuan," pinta Mbak Siti.
William meletakkan ponselnya dan menghela nafas, setelah cek cok dengan ibunya dia langsung datang ke rumah Lena dan rasanya dia malas pulang apalagi harus melihat wajah istrinya. Tapi sepertinya dia harus pulang, jangan-jangan yang diucapkan Mbak Siti ada benarnya, jangan-jangan wanita itu bunuh diri.
Saat Lena berjalan menghampirinya, William segera bangkit berdiri dan menghampiri kekasihnya.
"Sayang, aku mau pulang."
"Ada apa? Bukankah kau bilang ingin menginap?"
"Maaf sayang, lain kali ya," jawab William seraya memeluk Lena.
"Ada apa sih? Apa ada hal penting?"
"Tidak, hanya ada sedikit masalah saja."
"Pasti gara-gara istrimu, bukan?" tanya Lena seraya membuang wajahnya.
"Tapi besok kau harus menemani aku belanja," pinta Lena dengan manja.
"Boleh, besok kau beloh membelikan apa saja yang kau sukai dan kau boleh berbelanja sampai puas."
"Benarkah?" Lena terlihat senang.
"Ya, apa kau tidak percaya padaku, Sayang? Besok aku akan memanjakanmu dan membelikan apa pun yang kau mau," ucap William seraya mengusap wajah Lena.
"Kau yang terbaik, William," Lena mendekatkan bibir mereka dan setelah itu mereka berciuman.
William segera pulang karena Mbak Siti kembali menghubunginya. Dia benar-benar kesal. apa tidak bisa menggunakan cara lain untuk menarik perhatiannya?
Ketika dia sudah tiba, Mbak Siti segera menghampirinya dengan terburu-buru dan tampak Khawatir. Mbak Siti juga terlihat menangis karena dia benar-benar takut. William benar-benar heran, memangnya apa yang telah terjadi?
"Tuan, akhirnya Tuan pulang juga," ucap Mbak Siti.
"Ada apa sih, Mbak?"
"Non Citra sudah di kamar sejak Tuan muda dan Nyonya pergi, Tidak keluar makan dan minum, Mbak takut Non Citra bunuh diri di dalam, Tuan," jawab Mbak Siti.
"Mana mungkin?" ucap William tidak percaya.
"Apanya yang tidak mungkin, Tuan? Semuanya bisa saja terjadi?"
__ADS_1
William diam saja, bagaimana jika yang dikatakan oleh Mbak Siti benar? Bagaimana jika Citra bunuh diri? Ini akan jadi masalah besar dan sebaiknya dia melihat keadaannya.
William segera berlari menuju kamar, dia harap apa yang diucapkan Mbak Siti tidak benar. Selama menuju kamar jantungnya berdegup dengan cepat dan dia jadi khawatir, jangan sampai mayat istrinya yang dia dapatkan di dalam kamar. Jika sampai hal itu terjadi, ibu dan kakeknya pasti akan sangat kecewa padanya.
Begitu tiba di depan kamar, William memutar handle pintu dengan cepat tapi sayang, pintu itu terkunci. Tidak ingin membuang waktu, William kembali berlari menuju sebuah ruangan karena dia ingin mengambil kunci cadangan di sana.
Setelah mendapatkannya, William kembali berlari menuju kamar dan membuka pintu dengan cepat, sedangkan Mbak Siti berada di belakangnya.
"Non, jangan bodoh, Non. Sayangi nyawa," gumam Mbak Siti.
Pintu terbuka dan William segera mencari keberadaan istrinya tapi sayangnya Citra tidak ada di dalam kamar. William semakin khawatir sedangkan tangis Mbak Siti semakin menjadi. Bagaimana jika sudah tergantung di luar sana dan tidak bernyawa?
Karena ingin melihatnya, William keluar melalui balkon. Semoga saja apa yang dia khawatirkan tidak terjadi. Ketika pintu balkon terbuka, William sangat kaget melihat Citra terbaring di atas sofa, apa dia mati minum racun?
Dia kembali berlari dan ketika melihat Citra sedang tidur, William langsung tampak lega.
"Sial! Membuat takut orang saja!" umpatnya kesal.
William menghembuskan nafasnya dan memandangi Citra kembali, masih terlihat sisa air mata di kelopak matanya dan dia tahu jika Citra habis menangis. Tanpa pikir panjang, dia segera menggendong tubuh Citra dan membawanya masuk ke dalam.
"Ketika melihatnya, Mbak Siti tampak lega. Padahal dia sudah mau menghubungi kakek William tadi tapi untungnya tidak jadi. Mbak Siti segera keluar ketika melihat William membaringkan Citra di atas ranjang dengan hati-hati.
Citra sungguh tidak tahu karena dia lelah setelah menangisi nasib yang menimpa hidupnya. Dia bahkan tidak menyadari jika William tidur di sampingnya dan ketika matahari sudah bersinar, Citra membuka matanya yang terasa berat dan diam saja melihat William. Tapi dia tidak peduli dan segera bangun dari tidurnya. Citra hendak pergi tapi pada saat itu, William menahan tangannya.
"Waktunya kita bicara," ucap William.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan," jawab Citra dengan dingin.
William bangun dari tidurnya dan duduk di samping Citra sambil menghela nafas, "Ada!" ucapnya.
"Tapi aku merasa tidak ada."
"Ayolah, aku minta maaf atas perlakuanku semalam. Tidak seharusnya aku memperlakukanmu seperti itu padahal bukan kau yang salah. Kita sama-sama korban jadi ayo kita bicara."
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Citra tanpa mau memandangi William.
"Ayo kita buat kesepakatan," ajak William.
"Maksudmu?" Sekarang dia harus memandangi William dan tampak tidak mengerti.
"Kita buat kesepakatan atas pernikahan kita. Kau tahu aku tidak menyukaimu dan kau juga tidak menyukaiku jadi ayo kita buat kesepakatan," ucap William.
__ADS_1
Citra diam saja, kesepakatan? Apa sebenarnya yang diinginkan oleh William?