Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship

Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship
Wanita yang dirindukan.


__ADS_3

Citra tersenyum dan segera berjongkok. Dia juga mengusap kepala anak kecil itu sambil tersenyum. Anak itu kira-kira berusia tiga tahun. Tiga tahu  lalu dia sangat takut hamil karena waktu William melakukan hal itu dengannya, William tidak menggunakan pengaman. Untungnya apa yang dia takutkan tidak terjadi karena jika sampai dia hamil, dia tidak tahu harus bagaimana.


"Dek, kamu kenapa?" tanya Citra dengan lembut.


"Ibuku hilang Tante," jawab anak kecil itu terisak.


"Ayo, Tante bantu cari mama kamu," Citra menggendong anak kecil itu dan segera menghampiri manajernya.


Dia meminta bantuan manajernya untuk mencari keberadaan ibu anak itu dan tidak lama kemudian, akhirnya mereka menemukan orang tua anak itu yang sedang sibuk mencoba-coba pakaian di ruang ganti. Citra tersenyum saat melihat mereka. Sejak dulu dia sangat menginginkan kasih sayang orangtua tapi sayangnya tidak dia dapatkan.


Pernah dulu dia berharap bisa hidup bahagia dengan William dan membangun keluarga bersama William tapi dia tidak menyangka jika William begitu membencinya dan memperlakukannya dengan begitu tidak adil. Jika saja William mencintainya mungkin saat ini mereka sudah punya anak.


Citra menggeleng, sudah tiga tahun berlalu sebaiknya dia melupakan pria itu. Dia berharap mereka tidak akan pernah bertemu lagi tapi tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi dengan mereka karena semua itu tidak akan selesai sampai di situ saja.


 


Hari begitu cepat berlalu, peragaan busana yang akan diselenggarakan di Jakarta akan dimulai besok. Citra telah berada di Jakarta saat ini dan dia begitu sibuk mempersiapkan pakaian-pakaian yang akan dikenakan oleh para modelnya. Dia berharap pertunjukkan kali ini akan banyak orang yang hadir dan menikmati hasil rancangannya.


Selagi dia sibuk dengan pakaian-pakaiannya, ponsel Citra berdering dan tanpa membuang waktu Citra menyambar benda itu dan menjawabnya.


"Halo," sapanya.


"Kak Citra," terdengar suara manja Agnes.


"Ada apa Nes?" tanya Citra.


"Undangannya sudah sampai, terima kasih ya Kak. Besok aku pasti ke sana dan mengenal kan Kak Citra dengan kakakku," ucap Agnes.


"Baiklah, Nona Agnes. Setelah pertunjukkan besok aku akan menyempatkan diri menemui kalian."


"Terima kasih ya, Kak. Aku mau membujuk kakakku dulu, bye,"ucap Agnes sambil mematikan ponsel-nya.


Citra menggeleng saat Agnes mematikan ponsel-nya tanpa mendengar jawaban darinya. Entah kenapa Agnes begitu bersemangat tapi sebaiknya dia tidak memikirkan hal ini karena dia banyak pekerjaan.


Sementara itu, Agnes berada di kantor dan ingin menemui kakaknya. Dia sangat ingin kakaknya mau menemaninya melihat peragaan busana yang akan diselenggarakan oleh Citra. Dia ingin kakaknya mengenal Citra dan mencoba membuka hatinya, siapa tahu mereka berjodoh?

__ADS_1


Agnes sangat ingat tiga tahun yang lalu kakaknya tiba-tiba mencari seorang wanita ke mana-mana yang tidak dia temukan. Saat itu Agnes sangat sedih melihat kakaknya yang seperti orang gila. Puluhan kali menghubungi nomor telepon yang sudah tidak aktif, membayar orang-orang handal untuk mencari sesosok wanita yang bahkan kakaknya sendiri pun tidak mempunyai fotonya. Kakaknya pernah bercerita jika mereka hanya bertemu dua kali dan anehnya wanita itu tiba-tiba menghilang.


Dengan perlahan Agnes mendorong pintu ruangan dan masuk ke dalam. Kakaknya terlihat sibuk dengan pekerjaan-pekerjaannya.


"Kakak," Agnes memanggil kakaknya dan menutup pintu kembali.


Seorang pria tampan melihat ke arah pintu, sebuah senyuman menawan menghiasi pria itu ketika melihat Agnes  dan dia adalah David.


"Anak kecil ngapain kemari?"


"Ck, aku bukan anak kecil lagi, Kak. Sebentar lagi aku akan menikah," jawab Agnes seraya menghampiri kakaknya.


"Iya, putri kecil sudah mau menikah. Terus di mana Doni tunangan kamu?"


"Doni di Surabaya, Kak. Aku kemari mau mengajak Kakak ke suatu tempat," ucap Agnes sambil memasang wajah memelas.


"Kakak sibuk, ajak Mama aja," tolak  David sambil mengambil kembali dokumen-nya.


"Kak, please. Kali ini aja. Siapa tau kakak dapat jodoh di sana," Agnes memohon sambil menyengir ke arah kakaknya.


"Kak, mau ya ... mau ya ... please," rengek Agnes memohon.


David menghembuskan nafasnya dan memandangi adiknya, seperti dia tidak akan bisa menolak jika tidak Agnes akan mengganggunya sepanjang hari sampai dia setuju untuk menemaninya.


"Memangnya mau ke mana sih, Nes?" tanyanya penasaran.


Agnes mengeluarkan sebuah kartu undangan dari dalam tasnya meletakkannya ke atas meja,sedangkan David hanya melihat kartu undangan itu tanpa menyentuhnya.


"Pertunjukkan busana, Kak. Ini teman aku yang ngadain dan dia undang aku. Teman aku bilang aku harus bawa pasangan, kakak 'kan tahu Doni lagi di Surabaya ngak bisa temenin aku. Mau ya, Kak? Siapa tau kakak dapat jodoh di sana biar ngak jadi perjaka tua lagi,"  Agnes sedikit berbohong sambil menyengir  ke arah kakaknya.


 


"Dasar sok tahu ngatain Kakak perjaka tua!" ucap David seraya menyentil dahi adiknya.


Agnes tersenyum dan menyentuh dahinya, kakaknya tidak pernah berhubungan dengan wanita mana pun tentu saja dia tahu.

__ADS_1


"kak, sudah tiga tahun Kakak tidak mau dekat dengan wanita mana pun. Papa sama Mama kira kakak Gay loh. Siapa tau di sini Kakak bisa suka sama modelnya."


David menghembuskan nafasnya dan bangkit berdiri, dia berjalan ke arah jendela dan melemparkan pandangannya keluar sambil mengingat wajah seseorang.


"kamu benar, Nes, mungkin aku harus melupakan wanita itu. Di mana Citra berada sekarang aku sendiri tidak tahu."


Agnes sangat kaget saat mendengar kakaknya menyebut nama Citra, apakah orang yang dicari kakaknya adalah? Tapi tidak ada kebetulan seperti ini bukan?


"Tunggu sebentar Kak, siapa tadi nama wanita yang kakak cari?"


"Namanya Citra, memang kenapa?" tanya David sambil memandangi adiknya dengan heran.


Agnes meraih undangan yang ada di atas meja dan membukanya. Dia segera menghampiri kakaknya dan memberikan kartu undangan itu kepada kakaknya. David tampak bingung karena dia tidak mengerti dengan maksud Agnes.


"Kenapa Nes?"


"Ih, Kakak mah, lihat nih nama di undangan, teman aku yang ngadain peragaan busana namanya juga Citra tapi namanya Citra Lestari Admaja. Nih orang yang Kakak cari bukan?" tanya Agnes sedikit kesal dengan kakaknya yang kurang peka.


David meraih kartu undangan itu dengan cepat dan melihat nama Citra tertera disana. Apakah mungkin? Tapi entah kenapa dia tidak yakin.


"Aku tidak tahu, Dek. Kakak cuma tahu nama depannya aja. Ngak tahu nama belakangnya. Memangnya yang nama Citra satu doang, banyak tahu!" ucapnya.


"Kakak aneh ya, dulu sampai membayar orang buat cari satu orang perempuan yang namanya Citra. Sekarang nih ada yang namanya Citra dan di depan mata tapi tidak mau mencoba mastiin," Agnes mulai kesal.


David hanya diam saja dan melihat kartu undangan itu kembali, apa yang dikatakan oleh adiknya memang benar tapi apa ada kebetulan seperti ini?


"Kak, Tiada ada salahnya bukan? Siapa tahu memang kebetulan teman aku ini adalah orang yang kakak cari selama ini. Kalau tidak dilihat tidak bakal tahu. Lagi pula teman aku  wanita yang mandiri, baik, hebat lagi. Kalau dia bukan Citra yang Kakak cari siapa tahu kakak berjodoh dengannya apalagi dia juga jomblo."


 


"Iya ... iya ... bilang aja kamu mau menjodohkan Kakak dengan teman kamu ini," ucap David sambil menyentil dahi adiknya kembali.


"Gitu dong, Kak. Cepetan cari kakak ipar buat aku," ucap Agnes sambil menggoda kakaknya.


"Itu sih maumu!" ucap David, sedangkan Agnes tertawa.

__ADS_1


David memandangi kartu undangan yang masih berada di tangannya kembali, tidak ada salahnya dan anggap saja dia sedang refresing dari pekerjaannya yang menumpuk. Tapi jujur saja, dia masih merindukan sosok Citra yang dia temui tiga tahun yang lalu. Kemana wanita itu sekarang?


__ADS_2