
Pagi itu, citra terbangun saat mendengar suara ketukan di pintu kamarnya dan tidak hanya itu, terdengar suara Doni sedang memanggil namanya. Citra segera bangun dari tidurnya dan berjalan menuju pintu dengan terburu-buru.
Pintu terbuka dan ketika melihatnya, Doni tersenyum. Citra memandangi sahabatnya dengan lekat karena Doni membawa sebuah koper bersama dengannya.
"Kamu mau ke mana, Don?" tanyanya.
"Aku sudah harus pergi ke bandara, Cit. Ini mau pamit sama kamu," jawab Doni.
"Mau masuk dulu, ngak?"
"Tidak usah, aku sedang terburu-buru. Aku hanya ingin pamit denganmu dan jaga dirimu baik-baik selama di sini. Kamu tidak apa-apa bukan sendirian di sini selama seminggu?"
Jujur saja dia merasa cemas meninggalkan Citra sendiri tapi dia harus kembali karena ada bisnis penting yang harus dia tangani.
"Tidak apa-apa, Don. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku dan sudah membantu aku," jawab Citra sambil tersenyum.
"Baiklah, aku sudah harus pergi. Jaga dirimu baik-baik dan hubungi aku jika kau sudah kembali ke Indonesia," ucap Doni.
"Pasti," Citra memeluk Doni sejenak.
"Hati-hati ya, Don. Sampaikan salamku untuk keluargamu," ucap Citra.
"Pasti, kau tidak perlu takut pada suamimu, okey? Selama satu minggu kau jangan pergi kemana-mana. Diam saja di hotel dan cari penerbangan untuk kembali. Jika kau bertemu dengannya segera lari, kau bisa naik taksi untuk mencapai stasiun kereta yang bisa membawamu ke kota lain. Aku juga akan berusaha mencarikan tiket untukmu agar kau bisa cepat kembali, jadi jangan takut karena aku pasti akan membantumu," ucap Doni seraya mengusap punggung sahabat baiknya.
__ADS_1
"Terima kasih, Don. Aku pasti akan membalas kebaikanmu."
"Sudahlah, kita teman jadi harus saling membantu. Aku sudah harus pergi jadi jaga dirimu baik-baik dan ingat pesanku," ucap Doni.
Citra mengangguk, dia segera melepaskan kepergian Doni. Walaupun dia takut William akan menemukannya tapi kali ini dia harus berani melawan. Dia tidak mau diperlakukan tidak adil lagi oleh William. Setelah kepergian Doni, Citra masuk ke dalam kamar. Dia harap dia bisa mendapatkan tiket dengan cepat agar dia bisa kembali ke Indonesia.
Sementara di hotel lain, William bangun drai tidurnya dan tampak kusut. William meraba sisi ranjang untuk mencari keberadaan Citra tapi dia tidak menemukannya. Dengan perlahan William bangun dari tidurnya dan melihat sisi ranjangnya yang kosong.
William mengumpat dan tampak kesal, untuk apa dia merasa bersalah? Dia tahu Citra pergi dengan laki-laki lain jadi buat apa dia merasa bersalah? Tapi tangisan Citra dan permohonannya kembali terngiang dan hal itu membuat perasaannya tidak menentu.
Ponsel-nya berbunyi dan tanpa membuang waktu William segera meraih benda itu karena dia pikir Citra yang menghubunginya. Wajahnya tampak kecewa setelah melihat nama Lena di layar ponselnya. William melempar benda itu ke atas ranjang dan membaringkan dirinya kembali, entah kenapa dia malas berbicara dengan Lena saat ini.
Lebih baik dia fokus mencari keberadaan Citra yang kabur karena dia tidak akan membiarkan Citra begitu saja. Dia telah berani lari darinya bersama dengan pria lain maka dia harus menerima kemarahannya. William meraih ponsel-nya dan mencoba menghubungi Citra tapi sayang, nomor ponsel-nya sudah tidak aktif.
"Ingin lari dariku? Jangan mimpi kau bisa! Sekalipun kau lari ke ujung dunia, aku pasti akan menemukan keberadaanmu! Sekarang larilah sejauh mungkin tapi jika aku sudah menemukan kamu, jangan harap kau bisa lari lagi karena aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" ucap William dengan kemarahan di hati.
William mengambil ponsel-nya kembali untuk menghubungi sekretarisnya karena ada yang ingin dia tanyakan, tidak lama kemudian terdengar suara seorang pria menjawab telepon darinya.
"Bagaimana? Apa ada berita terbaru?"
"Maaf, Tuan. Tidak ada, aku sudah membeli semua tiket sesuai dengan perintah Tuan selama satu minggu jadi sebaiknya kita lihat lagi dalam waktu satu minggu ke depan."
"Baiklah, terus cari tahu dan katakan padaku jika kau menemukan petunjuk!" perintahnya.
__ADS_1
"Baik, Tuan," jawab sekretarisnya.
Pembicaraan itu selesai dan William bangkit berdiri, dia berjalan menuju balkon dan melihat kota yang indah. Padahal dia mau mengajak Citra menikmati keindahan kota Roma tapi sayang, Citra menghianatinya dan pergi dengan pria lain.
Apa saat ini Citra sedang dengan pria itu? Entah kenapa saat membayangkannya saja sudah membuatnya emosi. William mengusap wajahnya dengan kasar dan memandangi kota kembali, Di mana Citra saat ini?
.
.
.
Waktu satu minggu di Italia bagaikan neraka bagi Citra. Bagaimana tidak, dia hanya mengurung diri di dalam kamar hotel, takut pergi kemana pun karena dia takut bertemu dengan William. Hari-hari dia lewati dengan ketakutan dan dia terus berusaha mencari tiket untuk pulang.
Pagi ini, dia sedang merapikan barang-barangnya karena dia sudah mendapatkan tiket untuk kembali ke Indonesia. Dia memakai nama kecilnya untuk membeli tiket dan dia harap William tidak mengetahui kepulangannya. Citra memasukkan semua barangnya dengan terburu-buru karena dia sudah harus berangkat ke bandara.
Sebuah taksi akan membawanya menuju bandara setelah dia cek out dari hotel, dia benar-benar berharap, dia bisa kembali tanpa ketahuan tapi sayangnya, William sudah mengetahui kepulangannya. itu berkat sekretarisnya yang memberi kabar jika ada seorang wanita bernama Citra Lestari Admaja memesan tiket kembali ke Indonesia.
Tidak perlu dia lihat atau tanya, dia tahu itu pasti istrinya. Tanpa sepengetahuan Citra, William juga menuju bandara bahkan mereka akan naik pesawat yang sama.
Taksi yang Citra tumpangi telah tiba di bandara, Citra segera berlari memasuki bandara dengan terburu-buru. Dia bahkan cek in dengan terburu-buru dan membawa barangnya karena semua itu akan dia simpan di bagasi pesawat. Barang bawaannya memang tidak banyak sehingga itu mempermudah dirinya.
Citra segera berbaur dengan penumpang lain dan tentunya dia menyamar. Semua itu harus dia lakukan karena dia harus waspada tapi dia tidak tahu jika saat itu William baru saja memasuki bandara sambil tersenyum. Setelah cek in, William melihat kerumunan orang sambil tersenyum.
__ADS_1
"Teruslah lari kucing kecil karena sebentar lagi aku akan menangkapmu," ucapnya dalam hati dan matanya semakin waspada mencari keberadaan Citra.