Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship

Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship
Ditolong


__ADS_3

Setelah William meninggalkannya, Citra berdiri di sisi jalan dan menggerutu kesal. Dia tidak tahu dia sedang berada di mana dan yang lebih membuatnya kesal adalah, bagaimana dia bisa kembali? Jujur saja dia tidak punya uang untuk membayar ongkos taksi dan jika dia punya dia rasa tidak akan cukup karena jarak dari tempat itu ke rumah William cukup jauh.


Citra menghembuskan nafasnya dengan berat dan melihat sekelilingnya, jalanan itu cukup sepi, apa dia harus jalan kaki?


"Sialan dasar pria tidak memiliki perasaan. Jika tidak ingin mengantarku kembali seharusnya kau memberi aku uang agar aku bisa pulang. Sekarang aku harus bagaimana? Tidak ada yang bisa menolongku dasar pria kejam, pelit dan penuh perhitungan. Awas saja kau nanti!" gerutu Citra kesal.


Sepertinya dia tidak punya pilihan selain berjalan kaki, semoga saja ada yang mau memberinya tumpangan. Dia mulai berjalan dan jika ada mobil yang lewat, Citra melambaikan tangannya agar mobil itu mau berhenti tapi naas, tidak ada yang mau memberikan tumpangan untuknya.


Dia sudah berjalan cukup jauh dan kakinya juga sudah terasa pegal. Rasanya ingin beristirahat sebentar tapi jika dia berlama-lama maka sampai matahari terbenam dia tidak akan sampai di rumah. Dia takut jika ada penjahat jika berjalan sendirian saat malam hari apalagi di tempat sepi. Sebaiknya dia segera bergegas agar dia cepat tiba.


Citra terus berjalan sambil menggerutu bahkan dia menendang rerumputan yang tumbuh di sisi jalan. Jika saja dia punya sayap mungkin sudah terbang tapi sayangnya dia bukan burung. Ck, sebaiknya tidak banyak bermimpi karena hal itu tidak mungkin terjadi. Dia bahkan enggan menghentikan mobil yang lewat karena dia merasa semua itu sia-sia. Untuk apa mengeluarkan tenaga untuk hal yang sia-sia?


Dari kejauhan, sebuah mobil sport berjalan dengan kecepatan tinggi dan seorang pria tampan mengemudikan mobil itu. Dia tampak sendiri dan entah kenapa matanya tertuju pada seorang wanita yang berjalan di sisi jalan. Wanita itu tampak menendang rumput dan terkadang menyanyi dan berputar karena memang itulah yang sedang dilakukan oleh Citra untuk mengusir rasa bosan dan lelahnya.


Pria itu mengernyitkan dahi, apa wanita itu gila? Tapi dilihat bagaimanapun tidak dan apa yang dilakukan oleh wanita itu tampak lucu. Mungkin mobil wanita itu rusak dan sebaiknya dia mencoba menawarkan tumpangan untuknya.


Citra masih menyanyi dan pada saat itu, sebuah mobil berhenti di depannya. Citra menghentikan langkahnya dan dari dalam mobil keluar seorang pria tampan. Pria itu tersenyum dan menghampiri Citra.


"Perlu tumpangan Nona?" tanya pria itu sambil tersenyum.


Citra melihat pria itu dengan teliti, dia tidak boleh sembarangan menerima tawaran dari orang yang tidak dia kenal karena bisa saja orang itu memiliki niat jahat. Pria itu masih menunggu jawaban darinya, apa wanita itu tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan?


"Nona, apa kau perlu tumpangan?" tanya pria itu lagi dengan sopan.


"Hm, iya," jawab Citra dengan cepat.


"Kenapa Nona berjalan kaki? Apa mobil Nona rusak?"


"Tidak, aku baru saja melarikan diri dari seseorang," ucap Citra bercanda.


"Wah jika begitu kita harus bergegas. Jangan sampai penjahat itu kembali."


"Kau benar," jawab Citra.


Dalam hatinya sangat bersyukur karena ada yang mau memberinya tumpangan. Setidaknya dia tidak perlu berjalan kaki sampai ke rumah karena kedua kakinya akan lepas jika sampai hal itu terjadi.


Pria itu tersenyum dan segera berjalan menuju mobilnya, sedangkan Citra mengikutinya dari belakang. pria itu bahkan membukakan pintu untuk Citra dan mempersilahkan Citra untuk masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


"Terima kasih karena kau mau memberiku tumpangan, Tuan," ucap Citra ketika mobil sudah mulai berjalan.


"Jangan memanggilku Tuan, panggil saja aku David," ucap pria itu sambil tersenyum.


"Terima kasih, panggil aku Citra."


"Ngomong-ngomong, kau melarikan diri dari siapa? Apa ada penjahat yang ingin menculikmu?"


"Tidak, dia hanya penjahat biasa yang begitu tega menelantarkan aku di tempat sepi dan tidak memberikan aku uang untuk naik taksi. Dia jahat bukan? Aku ingin menendangnya tapi sial, dia lebih dulu menendangku keluar dari mobilnya. Aku akan buat perhitungan dengannya nanti!" ucap Citra dengan perasaan mengebu-ngebu.


Dia akan membalasnya nanti, awas saja. Jangan sampai ada kesempatan itu karena dia akan mengingat kejadian ini dan memperhitungkannya. Semoga dia berani.


David terkekeh dan melirik ke arah Citra. Wanita yang begitu cantik siapa yang berani menyakitinya dan meninggalkannya seperti itu? Orang itu benar-benar baj*ngan dan jangan sampai dia bertemu dengannya karena dia akan menendangnya. Meninggalkan seorang wanita di jalan sepi itu sungguh keterlaluan.


"Jadi? Aku harus mengantarmu ke mana, Nona?" tanya David.


"Oh benar, jangan sampai kau menurunkan aku di tengah jalan," ucap Citra bercanda.


David kembali terkekeh, sedangkan Citra menyebutkan sebuah alamat untuknya. Dia sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang baik yang mau mengantarnya sampai ke rumah.


"Aku sangat berterima kasih karena Tuan David mau repot-repot mengantarku," ucap Citra sambil menunduk.


Citra tersenyum, "Lain kali aku akan membalas kebaikanmu," ucapnya.


"Tidak perlu, aku membantumu dengan ikhlas tanpa meminta imbalan," jawab david.


"Tidak apa-apa, jika kita bertemu lagi aku pasti akan membalas kebaikanmu."


"Baiklah jika memaksa, aku tunggu," jawab David..


Mereka berdua diam dan setelah hampir tiba, Citra meminta David untuk menghentikan mobilnya. Dia tidak mau ada yang melihat jika ada yang mengantarnya pulang. Jangan sampai ada yang salah duga dan menjadikan hal ini sebuah gosip karena dia tidak mau hal itu terjadi.


Sesuai dengan permintaan Citra, David menghentikan mobilnya. Walau dia merasa heran tapi dia tidak mau bertanya karena dia tahu, mungkin Citra memiliki alasannya sendiri.


"Terima kasih Tuan David, aku sangat berhutang budi padamu," ucap Citra.


"Tidak perlu sungkan, Nona," jawab David.

__ADS_1


"Mungkn kau bisa mentraktir aku makan jika ingin membalas kebaikanku."


"Baiklah, aku berhutang traktiran padamu," Citra tersenyum dan setelah itu dia pamit pergi.


David tidak beranjak pergi, dia terus melihat ke mana tujuan Citra karena dia ingin tahu di mana rumah Citra tapi sayang, Citra berbelok sehingga dia tidak bisa melihat Citra lagi.


"Semoga kita bisa bertemu lagi, Nona," ucap David dan setelah itu dia pergi.


Sementara itu, di tempat lain. William sungguh puas karena telah menurunkan Citra di tengah jalan. Dia sangat yakin Citra akan pulang dengan berjalan kaki dan dia tidak perduli.


Saat ini dia sedang mengajak Lena makan di luar dan Lena tampak heran melihat William yang tidak seperti biasanya.


"Ada apa, Sayang? Apakah kakekmu telah membatalkan pernikanmu sehingga kamu tampak bahagia seperti ini?"


"Tidak, jangan kau pikirkan!" jawab William.


"Bagaimana keadaan kakekmu? Apa yang dia rencanakan lagi dan apakah pesta pernikahanmu jadi dilaksanakan?" tanya Lena lagi.


"kakek baik baik saja. Kau tidak perlu khawatir karena tidak akan ada pesta pernikahan dan aku akan pastikan itu!"


"Bagus jika begitu. Kau milikku dan aku tidak mau membagi milikku dengan yang lain," ucap Lena.


"Aku sepenuhnya milikmu, Sayang. Tetapi kakeku merencanakan bulan madu untuk kami."


"Apa?" Lena sangat kaget mendengarnya.


"Bagaimana bisa? kenapa kau tidak menolak?"


"Kau tahu, Sayang. Aku sudah menolak pesta pernikahanku dan kakek tidak mungkin membiarkan aku menolak permintaannya yang lain. Lagi pula bulan madu bukan ide yang buruk karena selama dua bulan aku akan membuat istriku membenciku dan pergi meninggalkan aku. Setelah dia pergi, kita punya alasan untuk menikahi bukan?"


Dua bulan? Lena tampak frustasi. Kenapa begitu lama?


"Bagaimana jika selama dua bulan kamu jatuh cinta pada istrimu?" tanyanya.


"Tidak akan, kau yang paling tahu siapa yang aku cintai," jawab William dengan cepat.


"Baiklah, aku hanya takut kau berpaling dariku, Sayang. Kau harus berjanji kepadaku jika kau tidak akan mencintai wanita lain selain aku!" pintanya.

__ADS_1


"Tentu, aku berjanji padamu."


Lena tersenyum, yang sudah jadi miliknya tidak boleh ada yang memilikinya, tidak ada yang boleh!


__ADS_2