Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship

Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship
Menyesal


__ADS_3

Citra berjalan semakin masuk kedalam hutan, kegelapan di hutan dan suara burung hantu tidak dia pedulikan lagi karena yang dia inginkan saat itu adalah secepatnya menjauh dari William. Dia lebih takut dengan William ketimbang hantu atau semacamnya karena William lebih mengerikan dibandingkan mereka.


Dia terus berjalan sambil memegang tangan kanannya yang terasa mulai sakit, sedangkan tubuhnya bagai dipukul ribuan kali. Walaupun harus merasakan sakit yang luar biasa tapi Citra tetap berjalan dengan susah payah memasuki hutan.


Di sisi jalan, Wajah William tampak pucat, dia segera berlari menuju lokasi Citra melompat tadi. Menurut supir pribadinya tidak jauh dan mereka mulai mencari. Bermodalkan lampu senter dari ponsel mereka mulai mencari keberadaan Citra karena keadaan sudah gelap


Nafas William memburu, kenapa Citra begitu nekat melompat keluar? Bagaimana jika sampai terjadi sesuatu dengannya? Apa Citra menganggap ucapannya serius? Seharusnya dia tidak menakuti istrinya tadi, seharusnya tidak dan sekarang, ke mana Citra?


Supir pribadinya ikut membantu dan mereka menyelusuri pinggiran jalan tol. Mereka bahkan berpencar tapi sayang, mereka tidak menemukan keberadaan Citra. Hari sudah begitu larut tapi mereka tidak berhasil. Karena sudah lelah akhirnya William memutuskan untuk pergi.


Jika Citra Selamat dia pasti akan menemukannya lagi dengan mudah. Dia akan mengutus orang untuk mencarinya nanti dan dia harap Citra baik-baik saja. Mereka kembali ke dalam mobil dan sebelum pergi, William menoleh kebelakang. Semoga Citra baik-baik saja.


"Mau kemana, Tuan?" tanya supir pribadinya setelah mobil di jalankan.


William diam sejenak dan berpikir, jika kembali kerumah kakek, maka keluarganya pasti akan curiga dan banyak bertanya tapi jika dia kembali ke rumahnya, Mbak Siti  pasti akan melapor pada kakeknya. Akhirnya William memutuskan untuk pergi ke rumah Lena. Untuk sementara dia akan tinggal di rumah kekasihnya sampai dia mengetahui keadaan Citra dengan pasti. William berpesan kepada supir pribadinya untuk tidak memberitahukan kepada keluarganya jika dia sudah kembali ke Indonesia.


Sesampainya di apartemen Lena, William segera mengeluarkan kunci cadangan yang memang Lena berikan sehingga jika dia datang dia tidak perlu menunggu Lena membukakan pintu untuknya. William masuk ke dalam apartemen dan duduk di atas sofa yang ada di ruang tamu. William memijat pelipisnya dan menghembuskan nafasnya, kepalanya pusing memikirkan cara untuk menjelaskan pada keluarganya nanti jika Citra tidak dia temukan.

__ADS_1


William memejamkan matanya tapi saat itu, bayangan Citra yang menangis sambil memohon membayanginya. William bangkit berdiri dan mengumpat dengan kasar, dia segera menuju ke arah dapur dan mengambil sebotol minuman. Setelah mendapatkannya, William kembali ke sofa dan menjatuhkan diri di sana.


Dia mulai tertidur karena lelah tapi malam itu William bermimpi buruk. Dia bermimpi Citra mendatanginya dan memohon agar dia mau melepaskannya. Citra juga memeganginya kakinya dan terus memohon. Yang membuatnya kaget saat itu adalah yang keluar dari mata Citra bukan air mata tapi darah.


William berteriak dan dia tampak berkeringat. Nafas William memburu dan pada saat itu, seseorang mengguncang tubuhnya dan memanggil namanya.


"William, bangun! Ada apa denganmu?" panggil Lena. Dia sangat heran, kenapa William ada di sana?


William terbangun dan tampak terengah-engah, mimpi macam apa yang baru saja dia alami?


"William, kenapa kamu ada di sini? Bukankah kamu lagi bulan madu?" tanya Lena lagi.


"Ada apa denganmu, Sayang??" Lena sambil mengusap lembut kepala William.


William hanya diam dan entah kenapa ingatan saat bersama istrinya  muncul. Saat mereka pertama kali bertemu, saat dia mencium bibir Citra yang manis dan menggodanya. Entah kenapa rasa penyesalan tiba-tiba muncul di hatinya. William menepis tangan Lena karena dia tidak mau Lena menyentuhnya.


"Aku tidak apa-apa!" jawabnya malas.

__ADS_1


Lena benar-benar dibuat bingung oleh sikap William yang tidak biasanya. Dalam hati Lena penuh tanda tanya, kenapa William tiba-tiba jadi berubah dan kenapa William ada di rumahnya?


"Kamu kok gitu sih? Apa kau marah padaku?" Lena memeluknya dan tampak manja.


"Kau begitu cepat kembali, apa setelah ini kau akan menceraikan istrimu?" tanya Lena tapi William diam saja karena dia banyak pikiran


"Aku harap kau cepat bercerai dengannya sehingga wanita itu tidak mengganggu hubungan kita, Aku harap dia lenyap dari hadapan kita jika bisa dia mati saja supaya dia tidak mengganggu kita lagi!" ucap Lena tanpa pikir panjang.


William bangkit berdiri dan tampak marah mendengar ucapan Lena, sedangkan Lena tampak kebingungan apalagi William menatapnya dengan tajam.


"Jangan asal bicara kau!" teriak William marah.


Lena terkejut karena untuk pertama kalinya William seperti itu. Apa dia sudah salah bicara? Bukankah William memang ingin menceraikan istrinya lalu menikahinya? Tapi kenapa William begitu marah? Di mana letak kesalahannya? Untuk pertama kali William memarahinya dan dia tidak tahu di mana letak kesalahanya.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau begitu aneh?" Lena bangkit berdiri dan memandang William dengan heran.


Untuk kesekian kali, William menghembuskan nafasnya dengan berat. Saat ini dia benar-benar kacau dan lebih baik dia segera pergi untuk mencari keberadaan Citra. Dia harap dia bisa menemukan Citra hari ini.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, William keluar dari rumah Lena. Lena benar-benar heran dibuatnya. Dia berusaha mengejar William dan memanggilnya tapi William tidak perduli. William terus melangkah pergi dan mengabaikan suara Lena, dia benar-benar sudah kehilangan minat pada pacarnya.


Sepertinya ada yang aneh pada dirinya tapi sebaiknya hari ini dia fokus mencari keberadaan istrinya.


__ADS_2