Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship

Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship
Sepakat


__ADS_3

Setelah selesai mandi dan membersihkan diri, Citra membaringkan dirinya ke atas ranjang nya,mata nya menerawang memandangi langit-langit kamarnya. Citra memejamkan matanya dan berpikir, apa dia menyukai David?


Dia sendiri tidak tahu bagaimana dengan perasaannya sendiri, apa dia tidak salah telah memberikan kesempatan untuk David? Jujur saja dia takut membuat David kecewa karena masa lalunya. Di lain sisi dia berharap bisa lepas dari William dan mengubur perasaannya dalam-dalam terhadap pria itu tapi di sisi lain dia juga tidak yakin apakah David mau menerimanya.


Citra memutar tubuhnya dan memeluk bantal guling, Sebelum terlalu jauh apa dia harus menceritakan masa lalunya terlebih dahulu pada David? Jika David sudah tahu dan tidak bisa menerimanya maka itu akan lebih baik.dan setidak nya, tidak membuat hubungan kami melangkah lebih jauh dan tidak saling menyakiti satu sama lain.


Tapi dia takut untuk jujur dan sebaiknya dia memikirkan hal ini baik-baik. Mungkin dia harus mengatakan hal ini pada David setelah pernikahan Doni dan dia harus memikirkan hal ini lagi. Malam itu Citra tidak bisa tidur karena banyak yang dia pikirkan.


Dia bahkan bangun lebih pagi dan segera pergi ke butik karena ada yang harus dia kerjakan. Nanti siang di sudah berjanji dengan Agnes untuk bertemu dan dia juga akan menemui klien pentingnya. Citra begitu sibuk hari ini dan tidak tahu jika David mendatangi butik-nya untuk mencarinya.


Ketika David tiba, dia tidak mendapati Citra. David berusaha menghubungi Citra tapi sayangnya, Citra tidak menjawab telepon darinya. Tidak ingin berputus asa, David kembali mencoba tapi sayangnya Citra tidak juga menjawab panggilan darinya.


David menunggu beberapa saat di butik dan dia harap Citra cepat kembali karena menurut karyawan-nya, Citra sedang pergi. David begitu sabar menunggu tapi Citra tidak juga kembali, dia juga sudah berusaha menghubungi ponsel Citra tapi sayangnya, Citra benar-benar tidak menjawab.


Ada apa dengan Citra hari ini? Apa dia menghindarinya? Tapi dia harap tidak dan sebaiknya dia pergi ke rumah Citra, mungkin saja wanita itu sudah pulang. David berharap demikian tapi sayangnya, rumah Citra kosong tidak -ada siapa-siapa.


 


David menghela napas, dia tidak tahu harus mencari di mana lagi jadi sebaiknya dia menunggu Citra di sana. Dia harap Citra cepat kembali tapi waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam tapi Citra tidak juga terlihat. David memukul stir mobilnya dan tampak kesal.


"Ada apa denganmu, Citra? Jika aku punya salah bicarakan padaku baik-baik dan jangan seperti ini," ucap David frustasi.


Sebaiknya dia menunggu sebentar lagi, siapa tahu Citra segera kembali dan benar saja, tidak lama kemudian sebuah mobil berhenti dan tampak Citra turun dari mobil itu dan membuka pagar rumahnya. David tampak lega, dia segera turun dari mobilnya dan berjalan mendekati Citra.


Ketika melihatnya, Citra tampak terkejut. Kenapa David ada di sana dan apa yang dia lakukan?


"David, kenapa kau ada di sini?" tanya Citra.


"Tentu Saja aku menunggu kamu. Kamu tidak ada di butik jadi aku terpaksa menunggu kamu di sini seharian. Kenapa tidak menjawab telepon dariku dan kau pergi kemana?" tanya David dengan wajah khawatir.


Citra membuka pintu pagar rumahnya dan berjalan masuk ke dalam, sedangkan David mengikutinya. Citra meletakkan tasnya di sebuah meja kecil yang ada di teras dan pada saat itu, David memegang tangan Citra karena Citra tidak mau menjawab pertanyaan darinya.


 

__ADS_1


"Kamu kemana, Citra? Kenapa tidak menjawab telepon dariku?" tanya David lagi.


"Aku kerja David, aku sibuk membantu adikmu," jawab Citra.


"Apa kamu begitu sibuk sampai tidak bisa menjawab telepon dariku?"


"Jangan berlebihan, David. Aku benar-benar sibuk dan tidak punya waktu untuk melihat siapa yang menghubungi aku."


David menghela napas, sebaiknya dia tidak bertanya lagi karena dia tidak mau membuat Citra marah.


"Baiklah, maafkan aku. Aku hanya khawatir saja," ucapnya seraya menarik Citra masuk ke dalam pelukannya.


"Maaf membuatmu khawatir tapi aku benar-benar sibuk," ucap Citra.


"Baiklah, tidak apa-apa," David melepaskan pelukan mereka dan memandangi wajah Citra sambil tersenyum.


"Yang penting kau baik-baik saja," ucapnya lagi.


 


 


David tampak kecewa karena Citra menolak ciuman darinya, apa dia terlalu terburu-buru?


"Maafkan aku, David," ucap Citra.


"Tidak. Aku yang terlalu terburu-buru dan tidak sabar."


"Aku sudah memikirkan hal ini David. Bagaimana jika Kita memulai hubungan kita pelan-pelan saja? Bukankah Agnes sebentar lagi akan menikah? Bagaimana jika kita mulai setelah pernikahan Agnes?" Citra memandangi David dengan serius ketika mengatakan hal itu.


 


"Kenapa harus setelah pernikahan Agnes? Kita bisa mulai dari sekarang, bukan?" David sangat heran dengan permintaan Citra. Apa Citra hendak menolaknya?

__ADS_1


"Jangan salah paham,David. Agnes adikmu dan tidak lama lagi dia akan menikah. Bukankah sebagai kakak kamu harus  membantunya? Lagi pula aku juga sedang sibuk membantu Agnes jadi waktu kita untuk bertemu juga akan semakin sulit," jelas Citra.


David tampak berpikir, yang diucapkan oleh Citra memang ada benarnya. Mungkin setelah pernikahan Agnes mereka akan lebih banyak punya waktu untuk berdua. Lagi pula pernikahan Agnes sudah tidak lama lagi akan digelar.


"Baiklah, apa yang kau katakan masuk akal. Memang kita akan sibuk dan akan sulit untuk bertemu," David menyetujui ucapan Citra.


"Terima kasih, David. Sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu tapi akan aku katakan setelah pernikahan Agnes selesai. Setelah kau mendengarnya dan jika kamu bisa menerimanya maka aku akan serius menerima kamu," ucap Citra.


"kenapa tidak kau katakan sekarang?" David melihat Citra dengan serius. Apa yang mau disampaikan oleh Citra?


"Aku belum siap, David."


"Baiklah, aku akan menunggu sampai kau siap," ucap David.


"Terima kasih, pulanglah. Ini sudah malam."


"Baiklah, aku pulang dulu dan kau segera masuk dan istirahat."


Citra mengangguk, sedangkan David mendekatinya dan mencium dahinya. Setelah mereka sepakat untuk memulai menjalin hubungan dengan serius setelah pernikahan Agnes, David segera pulang. Walau dalam hati dia sangat ingin tahu, apa yang sebenarnya ingin Citra katakan padanya? Sungguh dia sangat ingin tahu tapi dia harus bersabar.


.


.


.


Hari-hari mereka lalui dengan saling menyibukkan diri dengan pernikahan Doni dan Agnes. David menatap ponsel-nya sambil menghela napas, hari ini dia begitu rindu dengan Citra tapi dia tidak bisa bertemu karena Citra begitu sibuk.


Benar yang diucapkan oleh Citra, mereka tidak punya banyak waktu untuk bertemu saat ini. selain membantu Agnes, Citra juga harus mengurus butik-nya dan menyiapkan beberapa rancangan pesanan orang lain.


Setelah kesepakatan yang mereka setujui sebenarnya David sangat tersiksa. David sangat penasaran apa yang hendak diceritakan oleh Citra dan rasanya sudah tidak sabar. David berharap setelah pernikahan Agnes, Citra benar-benar bisa menerimanya dan dia bisa memiliki wanita itu sepenuhnya.


Sedangkan saat itu di Jakarta, William sedang melihat sebuah kartu undangan yang ditujukan untuknya. Setelah melihat kartu itu, William segera memerintahkan sekretarisnya untuk membeli tiket karena dia akan segera berangkat ke Surabaya.

__ADS_1


__ADS_2