Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship

Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship
Berharap


__ADS_3

William masih memandangi Citra dan setelah itu dia menutup pintu dan melangkah pergi. Dia tidak peduli wanita itu mau tidur di mana dan sebaiknya dia mandi karena dia sudah sangat ingin beristirahat. Lagi pula mereka tidak dekat dan dia akan membiarkan wanita itu tidur di sana sampai pagi.


William segera masuk ke dalam kamar mandi dan setelah selesai, dia segera merebahkan dirinya ke atas ranjang karena dia mau tidur tapi sayang, matanya enggan terpejam bahkan, pikirannya tertuju pada wanita yang ada di luar.


Sebaiknya dia membawa wanita itu masuk, jangan sampai dia mati di rumahnya dan merepotkan dirinya. William segera turun dari atas ranjang dan berjalan keluar. Dia berdiri di dekat Citra dan melihatnya sejenak. William menghembuskan nafasnya dan setelah itu, dia mengangkat tubuh Citra dengan hati-hati dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Dia bahkan membaringkan tubuh Citra di atas ranjang dan setelah itu, William menarik selimut untuk menutupi tubuh Citra, sedangkan dia berbaring di samping Citra dan memandangi wajahnya sejenak.


Biarlah mereka seperti ini untuk malam ini, lagi pula mereka akan berpisah nantinya dan kejadian seperti ini tidak akan pernah terulang lagi. William segera begitu juga Citra yang tidur dengan pulas. Itu karena dia lelah berjalan kaki dan staminanya sudah habis. Dia bahkan tidak tahu jika Wiliam sudah membawanya masuk ke dalam kamar dan ketika merasakan seseorang memeluknya, Citra terbangun dan sangat kaget mendapati William sedang tidur di sampingnya.


Citra diam saja, memerhatikan wajah tampan William. Dia tidak tahu kenapa pria itu membawanya masuk ke dalam padahal dia bisa meninggalkannya di luar sana tanpa harus memedulikannya. Citra menghela nafas dan bertanya dalam hati, Kenapa William begitu membencinya?


Keluarga angkatnya tidak menginginkannya dan menikahkannya dengan pria yang tidak menginginkannya dan sekarang, mereka membuangnya begitu saja dan pria yang dia nikahi tidak menginginkannya. Apa dia begitu tidak berharga?


Tapi dia tidak akan pernah menyerah begitu saja. Jika William tidak mau dengannya mungkin mereka bisa membuat kesepakatan dan mungkin dia bisa pergi dari sana. Lagi pula, apa yang harus diharapkan dari pernikahan seperti itu?


Citra segera bangun dari tidurnya dan turun dari atas ranjang dengan hati-hati agar tidak membangunkan William. Lebih baik dia pergi ke pasar dengan Mbak Siti dari pada memikirkan hal yang tidak-tidak. Dia ingin melewati pagi ini melihat sayur-sayur segar yang dijual oleh pedagang. Setidaknya dia harus mencari hiburan untuk dirinya sendiri.


Dia dan Mbak Siti segera pergi ke pasar dan tentunya, mereka membeli sayur dan bahan-bahan untuk membuat nasi uduk. Setelah mendapatkan apa yang diperlukan, mereka segera kembali karena mereka harus segera mengolahnya.


Walaupun memasak adalah sesuatu yang baru baginya, tapi dia sangat senang melakukan itu apalagi Mbak Siti membantu dan mengajarinya. Citra terlihat senang saat membuat makanan dan pada saat itu, Mbak Siti penasaran dengan sesuatu dan ingin mengetahuinya.


"Non," Mbak Siti mendekati Citra dan melihat sekelilingnya.


"Ada apa, Mbak?" Citra melihat Mbak Siti dengan heran.


"Bagaimana hubungan Non dengan Tuan muda?" tanya Mbak Siti.


"Biasa aja, kenapa memangnya?"


"Hm, Non dan Tuan udah ...." Mbak Siti ragu melanjutkan ucapannya.


"Apa sih?" Citra makin tidak mengerti.


"Itu loh, itu," Mbak Siti menggoyangkan kedua jempolnya tapi Citra tidak mengerti.

__ADS_1


"Apa sih? Dangdutan?"


"Iya maksudnya dangdutan di atas ranjang," ucap Mbak Siti.


Citra masih belum paham dan mengernyitkan dahi, tapi tidak lama kemudian dia mulai mengerti dengan maksud ucapan Mbak Siti.


"Astaga, Mbak! Pagi-pagi pikirannya udah ngak beres ya!"


"Ya, 'kan Mbak pengen tahu, Non."


"Ck, kami mana mungkin berbuat seperti itu, Mbak. Mbak Siti 'kan tahu jika William tidak menyukai aku."


"Non ngak mau berusaha gitu buat dapatin Tuan Muda?"


"Ngak," jawab Citra sambil menggeleng.


"Ayolah, Non. Tuan Muda orangnya baik kok cuma sayang dia buta sama cinta dan mau aja sana nenek sihir kayak pacarnya."


"Stts," Citra meletakkan jarinya di bibir.


"Benar, Non. Mbak ngak bohong. Non jauh lebih cantik dan lebih baik dari pada pacar Tuan."


"Benarkah?"


"Tentu saja, Non. Jadi sebaiknya Non berusaha dapetin hati Tuan. Siapa tahu Tuan Muda jadi suka dengan Non," ucap Mbak Siti.


Citra tampak berpikir, sepertinya yang dikatakan oleh Mbak Siti tidak buruk dan sebaiknya dia mencoba. Lagi pula tidak mungkin bukan mereka harus bermusuhan sepanjang hari.


Mereka kembali berbincang dan tidak lama kemudian, makanan yang mereka buat sudah jadi. Citra berharap William akan menyukai makanan yang dia buat.


Dia segera menghidangkan makanan ke atas meja dan pada saat itu, William berjalan masuk ke dalam dapur dan mengambil segelas air hangat.


"Selamat pagi," sapa Citra tapi William cuek saja.


"Mau makan?" tanya Citra.

__ADS_1


William melirik ke arahnya dengan tajam, ada apa dengan wanita itu?


"Mau tidak?" tanya Citra lagi.


"Ada apa denganmu?" tanya William dengan dingin.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya menawarimu makan dan ini masakan pertama yang aku buat. Aku ingin kau mencobanya, apa salah?"


Dia akan berusaha agar William bisa menerima dirinya, memang perlu proses tapi dia percaya William pati akan melihat usahanya nanti.


"Berhentilah mencari perhatian dariku!" teriak William marah sambil meletakkan gelas dengan kasar.


Citra diam saja, sedangkan Mbak Siti segera pergi karena dia takut dengan situasi di sana.


"Aku katakan padamu! Sekalipun kau mau berusaha seperti apa, aku tidak akan memberikan perhatianku padamu! Kau boleh tinggal di sini dan melakukan apa pun yang kau suka tapi setelah bulan madu kita selesai, saat itu aku ingin kau pergi dari rumahku dan kita akhiri pernikahan konyol kita berdua!"


"Aku tidak bermaksud begitu," ucap Citra sambil menunduk.


Sepertinya ucapan Mbak Siti jika pria itu baik sangat salah besar dan sepertinya dia tidak perlu berusaha tapi, apa mereka akan terus bertengkar seperti itu setiap hari?


"Lalu apa?" William berjalan mendekati Citra, sedangkan Citra terus melangkah mundur sampai membuat tubuhnya menempel pada tembok.


"Kau ingin merayu aku dengan makanan? Jangan bermimpi! Tanpa perlu kau siapkan aku bisa membuat makan sendiri jadi jangan melakukan hal yang sia-sia lagi untuk menarik perhatianku!" ucap William dengan sinis dan setelah itu dia melangkah pergi.


Citra menghembuskan nafasnya dengan berat dan setelah William keluar, Mbak Siti masuk ke dalam dan mendekati Citra.


"Non ngak apa-apa bukan?" Mbak Siti tampak khawatir.


"Ngak apa-apa," jawab Citra sambil tersenyum.


"Tuan Muda memang mudah marah, jadi Non jangan masukkan ke dalam hati ya," ucap Mbak Siti.


Citra hanya mengangguk. Apakah dia masih harus berusaha?


Cerita banyak mengalami perbaikan dan jika ada yang sudah tidak sama dengan cerita awal mohon dimaklumkan tapi alur cerita tetap sama.

__ADS_1


__ADS_2