Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship

Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship
Menyesal Bagian 2


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu, selama itu William menginap di hotel sambil mencari keberadaan istrinya tapi sayang, dia tidak menemukan Citra. Dia juga sudah menyebar orang untuk mencari tapi mereka tidak menemukannya.


William berdiri di depan jendela hotel sambil melihat bangunan yang ada di luar sana. Sepertinya dia harus mengatakan hal ini pada keluarganya karena dia tidak bisa terus menghindar. Cepat atau lambat mereka pasti akan tahu kebenarannya.


Sebaiknya dia pulang ke rumah keluarganya nanti malam dan dia harap, kakek dan ibunya tidak marah karena perbuatannya Citra telah pergi. William memutar langkahnya hendak membaringkan diri di ranjang tapi pada saat itu, ponsel-nya berbunyi.


"Ada apa?" tanya William karena saat itu yang menghubunginya adalah supir pribadinya.


"Tu-tuan, segera nyalakan Tv," ucap supir pribadinya.


"Ada apa memangnya?" tanya William tidak senang.


"Nyo-nyonya, dia ...,"


William langsung meraih remote televisi setelah mendengar ucapan supir pribadinya. Televisi menyala dan saat itu sebuah berita memperlihatkan sebuah kasus di mana para polisi juga warga sedang berkerumun di sisi sungai. Di dalam sungai juga terlihat beberapa orang sedang menarik mayat seorang wanita.


 


Seorang wartawan memberi laporan jika telah ditemukan mayat seorang wanita yang mati tenggelam di dalam sungai. Ciri-ciri wanita itu tidak ketahui karena sudah membusuk dan diperkirakan mati satu minggu yang lalu. William langsung terduduk karena lututnya lemas. Kejadian saat istrinya melompat keluar dari mobil kembali terngiang, tidak mungkin bukan?


"Ti-tidak, itu pasti bukan kau Citra," ucap William dan tanpa dia inginkan, air matanya mengalir.


Wajah Citra kembali terbayang, perbuatan buruk yang dia lakukan saat di Italia, ketika mereka akan pergi menonton dan perbuatan kasar yang dia lakukan kepada Citra menghantui pikirannya saat ini. Dia benar-benar menyesal, menyesal karena telah melakukan hal itu semua.


Tapi siapa yang menyangka jika dia akan hancur seperti ini? Padahal dia memang ingin menyingkirkan Citra tapi kenapa sekarang dia jadi seperti ini? Saat itu dia mulai menyadari jika dia sudah jatuh hati pada Citra. Itu sebabnya dia marah dan cemburu ketika melihat Citra bersama dengan lelaki lain. Dia marah karena ada yang memanggil Citra dengan sebutan sayang dan dia kesal bahkan ingin menunjukan jika Citra adalah miliknya tapi sekarang, semua itu sudah terlambat.


 


William membanting remot tv yang sedari tadi dipegangnya dan bangkit berdiri, dia butuh sesuatu untuk menenangkan diri saat ini. Dia segera keluar dari kamar dan menuju bar yang ada di hotel. Dia butuh minuman memabukkan dan dia harap semua ini hanya mimpi. Dia bahkan berada di hotel itu selama dua hari.


Kamar yang ditempati oleh William menginap sangat pengap. William hanya mengurung diri di sana dan hanya mabuk-mabukkan. Setiap pagi saat dia bangun dari tidurnya, tangan William tidak berhenti meraba sisi tempat tidur mencari sosok wanita yang dia rindukan. Setiap malam dia bermimpi Citra mendatanginya sambil menangis dan memohon padanya. Dia benar-benar kacau, mukanya kusut dan dia enggan melakukan apapun.


 

__ADS_1


Sedangkan saat itu di kediaman keluarga besar Alexanders sedang kacau. Begitu mengetahui jika William telah kembali ke Indonesia lebih awal dari rencana bulan madu mereka, Kakek William sangat marah besar. Keluarga besar Alexanders mengetahui kepulangan William dari supir pribadi William yang melapor. Supir itu sangat khawatir dengan keadaan William yang membuatnya terpaksa memberitahukan kepulangan majikannya kepada keluarganya.


Dua hari yang lalu, setelah supir pribadi  William memberitahukan bahwa telah ditemukan mayat seorang wanita di  sungai, sang supir langsung menghubungi keluarga besar bosnya dan menceritakan permasalahan yang terjadi antara bosnya dan istrinya. Kakek William sangat terpukul saat mengetahui William memperlakukan istrinya dengan kasar dan mengetahui jika cucu menantunya telah meninggal.


 


Pria tua itu sangat sedih karena dia begitu menyayangi Citra. Semula dia hendak mencari keberadaan William dan memberinya pelajaran tapi niatnya dihentikan Sisilia karena dia takut kesehatan kakek William menurun. Mereka mencari keberadaan William dan setelah tahu, Sisilia segera mendatangi hotel di mana William menginap. Dia dan suaminya saat itu sudah berdiri di depan kamar William.


 


Sisilia mengetuk pintu kamar hotel dan menunggu, dia kembali mengetuk dan tidak lama kemudian, pintu terbuka dan Sisilia sangat kaget melihat keadaan putranya. Untuk seumur hidupnya dia tidak pernah melihat keadaan William yang begitu berantakan.


 


 


"Ma ... Pa, untuk apa datang kemari?" tanya William malas.


"Jangan, Pa! Jangan pukul lagi, aku mohon," pinta Sisilia.


"Dia pantas mendapatkannya!" teriak David marah.


William meringis sambil memegangi bibirnya yang berdarah. Dia memang pantas mendapatkan pukulan itu bahkan dibandingkan dengan perbuatan jahatnya terhadap Citra pukulan itu tidaklah sebanding.


"Jangan, Pa!" Sisilia masih menahan tangan suaminya.


"Lepa kan aku, Ma. Aku akan memberikan pelajaran kepada anak ini!" ucap David.


"Jangan Pa, William pasti ada alasan melakukan itu. Lihat dia sudah sangat menderita," Sisilia mencoba mencegah suaminya.


David memandang wajah putra semata wayangnya dan mencoba meredam emosi yang sedang menguasai dirinya.


"Coba jelaskan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya David.

__ADS_1


William berjalan ke arah sofa dan duduk di sana sedangkan kedua orangtuanya mengikuti. William bersandar pada kursi, mengangkat kepalanya dan menutupi matanya menggunakan kedua tangannya Dia tidak mau kedua orangtuannya melihatnya menangis.


"Ini semua kesalahanku," ucap William dengan suara yang bergetar.


"Aku yang telah menyebabkan dia pergi," lanjut William. Air mata yang dia tahan tidak terbendung lagi dan mengalir begitu saja.


Sisilia jadi tidak tega melihat keadaan putranya. Dia segera duduk di samping putranya dan mengusap kepalanya dengan lembut.


"Kenapa kamu lakukan itu, Sayang?"


"Aku cemburu, Ma. Aku cemburu melihat dia bersama dengan teman laki-lakinya sehingga aku gelap mata tidak mau mendengarkan penjelasannya. Aku ...," William menghentikan ucapannya.


"Kenapa kamu cemburu? Apa kamu mencintai istrimu?" tanya Sisilia lagi.


"Iya, Ma. Taapi aku tidak menyadari perasaanku saat itu dan begitu aku sadar ternyata dia sudah ...," William kembali menangis.


Sisilia memeluk tubuh putranya dan mengusap kepalanya untuk menghiburnya. Jujur dia tidak pernah melihat putranya seperti itu dan dia sangat iba.


"Bukankah kau sangat mencintai pacarmu dan begitu membanggakan nya?" tanya ayahnya dengan nada marah.


"Dia tidak ada di hatiku lagi, Pa," jawab William sambil menggeleng.


"Jika kamu memang mencintai istrimu, mari kita pergi untuk mengambil jasadnya di rumah sakit. Setidaknya kau harus memperlakukan jasadnya dengan baik untuk menebus kesalahanmu," ucap ibunya.


William menatap mata ibunya dan mengangguk. Walau dia tidak sanggup untuk melihat Citra yang sudah tidak bernyawa tapi yang dikatakan oleh ibunya benar, setidaknya dia harus menebus dosanya dengan memakamkan tubuh Citra dengan layak.


Seandainya dia diberikan kesempatan kedua, William tidak akan menyia-nyiakan dan menyakiti Citra untuk yang kedua kalinya. Walaupun Citra membencinya pasti akan dia kejar sampai dapat tapi apalah daya bagi William, semua sudah terlambat baginya.


Setelah William membersihkan diri, mereka segera pergi ke rumah sakit. Tidak ingin membuang Waktu William segera menuju ke arah perawat dan menanyakan perihal mayat yang ditemukan di pinggir sungai dua hari lalu tapi perawat itu mengatakan jika tubuh wanita itu telah diambil dan di makamkan.


William sangat kecewa dan menghampiri kedua orangtuanya sambil menggeleng. Mungkin mulai sekarang setiap malam dia akan dihantui wajah istrinya. Mungkin dia akan selalu mencari sosok yang dia rindukan di atas ranjangnya. William mengusap wajahnya dan melangkah keluar ke arah pintu yang diikuti oleh kedua orangtuanya.


Mulai sekarang dia benar-benar akan dihantui rasa bersalah dan penyesalan yang teramat sangat.

__ADS_1


__ADS_2