
Saat ini di kantornya, William mencoba menghubungi Citra. Setelah kembali dari cafe, seorang petugas keamanan menyampaikan bahwa seorang wanita datang mencarinya. Semula dia bingung, tapi dia langsung ingat jika istrinya akan datang untuk mengantarkan makan siang untuknya.
William jadi merasa sedikit bersalah jadi dia akan meminta Citra untuk datang tapi sayangnya, Citra tidak menjawab panggilan darinya. Padahal dia tidak bermaksud ingkar janji apalagi dia sudah ada janji dengan David untuk bertemu siang ini tapi dia tidak menduga jika Lena memintanya untuk menemaninya ketika dia hendak datang ke kantor.
karena tidak mau mengecewakan kekasihnya, William tidak jadi datang ke kantor dan lupa jika dia sudah membuat janji dengan Citra jika mereka akan makan bersama.
William meletakkan ponselnya dan menarik nafasnya dengan berat, dia sudah berusaha menghubungi jadi jangan salahkan dia. Lagi pula seharusnya Citra sudah pulang sekarang dan dia harap Citra tidak kecewa.
Suara pintu diketuk dari luar sana dan terdengar suara sekretarisnya.
"Pak William, ada tamu."
"Masuk saja," jawab William.
Pintu terbuka dan tampak David masuk ke dalam dan entah kenapa dia tampak begitu senang. William melihat sahabatnya dengan heran bahkan David menghampirinya sambil bersiul, ada apa ini?
"Maaf aku terlambat," ucap David.
"Tidak apa-apa, aku juga baru kembali," jawab William seraya bangkit berdiri dan mengikuti sahabatnya yang berjalan menuju sofa.
"Habis dari mana?" tanya David.
"Makan siang dengan pacarku."
"Oh ya? Llau kenapa wajahmu kusut seperti itu? Apa pacarmu minta pesawat pribadi padamu?" goda David.
"Tidak, mana mungkin dia meminta hal seperti itu."
"Lalu?" tanya David seraya menjatuhkan bokongnya ke atas sofa.
"Hanya ada sedikit masalah, Kau sendiri? Aku perhatikan kau begitu senang seperti orang sedang menang lotre, ada apa?" tanya William penasaran.
Senyum David semakin mengembang apalagi dia teringat dengan Citra, entah kenapa wajah cantiknya tidak bisa lepas dari pikirannya sekarang.
"Hey!" William semakin penasaran dibuatnya.
"Hari ini aku begitu beruntung bahkan lebih beruntung dari pada menang lotre," jawab David.
__ADS_1
"Ck, aku tebak kau bertemu dengan wanita cantik!" dengus William dan dia duduk tidak jauh dari David.
"Yes, tepat sekali," ucap David sambil tersenyum.
"Wow ... wow ... wanita mana yang telah membuatmu seperti ini?" tanya William.
Selama ini dia sangat tahu jika David bukan orang yang mudah tertarik dengan seorang wanita tapi hari ini? Dia benar-benar seperti orang yang sedang jatuh cinta dan dia penasaran wanita mana yang telah membuat sahabat baiknya seperti itu.
"Dia sangat spesial, William. Apa kau masih ingat dengan ceritaku waktu itu?"
"Ya, apa kau bertemu dengan wanita itu lagi?" William semakin penasaran.
"Yes dan tanpa sengaja aku menabraknya tadi ketika aku mau datang ke sini."
"Lalu?"
"Ck, apanya yang lalu? Tentu saja aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berkenalan dan meminta nomor ponselnya," jawab David.
"Wow, selamat. Akhirnya kau bertemu lagi dengannya. Boleh aku tahu siapa namanya?"
"Sebaiknya kau tidak perlu tahu! kau playboy dan jangan sampai kau merebutnya dariku!" jawab David asal.
"Ck, aku tidak berminat dengan wanita incaranmu! Aku sudah punya dua, satu di rumah yang masih belum aku sentuh dan satu lagi pacarku yang selalu ada jika aku butuhkan!" ucap William bangga.
"Hahahahaha ...!" William tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan sahabatnya.
"Jangan sembarangan berbicara! Mana ada karma di dunia ini? Kau meminta aku untuk belajar mencintai istriku? Itu hal yang paling mustahil aku lakukan! Aku tidak mungkin jatuh cinta dengannya karena aku tidak tertarik dengannya!" ucap William dengan penuh percaya diri.
"Kau yang jangan sembarangan berbicara, sobat. Ada waktunya nanti kau akan jatuh cinta padanya dan jangan sampai ketika kau menyadarinya, semua itu sudah terlambat karena dia sudah bersama dengan yang lain!"
"Aku tidak mungkin jatuh cinta dengannya, David. Lena jauh lebih baik darinya, mana mungkin aku jatuh cinta dengannya?" ucap William.
Dia sangat yakin jika dia tidak akan mungkin jatuh cinta pada istrinya apalagi mereka sudah sepakat untuk bercerai setelah mereka kembali dari berbulan madu. David hanya menggeleng mendengar ucapan sahabatnya. Entah kenapa dia jadi iba dengan wanita yang menikah dengan sahabatnya. Dia harap sahabatnya bisa berubah dan bisa mencintai wanita yang dia cintai tapi David tidak tahu jika wanita yang dinikahi oleh William adalah Citra.
Hujan mengguyur dengan deras di luar sana dan hal itu membuat David menghabiskan waktu di kantor William sampai pukul lima sore. Karena hujan mulai berhenti, David pamit pergi, sedangkan William juga kembali ke rumahnya. Selama di perjalanan pulang, William mengingat ucapan sahabat baiknya.
Jatuh cinta dengan istrinya? Dia rasa hal itu tidak mungkin terjadi. Sebaiknya dia tidak memikirkan hal ini dan segera pulang karena sepertinya hujan akan kembali mengguyur dengan deras.
__ADS_1
Setelah tiba di rumah, William segera masuk ke dalam. Yang dia cari pertama kali adalah Citra dan dia mendapati wanita itu ada di dapur. William bersandar di dinding sambil bersedekap dada dan memandangi wajah cantik istrinya.
"Jatuh cinta dengannya?" tanya William dalam hati sambil memandangi istrinya.
"Itu tidak mungkin terjadi!" ucapnya lagi.
Citra diam saja ketika melihat William di dalam dapur. Dia tidak perduli dengan pria itu jadi sebaiknya dia pura-pura tidak tahu. William segera menghampiri istrinya dan hal itu membuat jantung Citra berdebar. Apa yang mau dilakukan oleh William?
Citra masih diam dan pura-pura sibuk dengan pekerjaannya tapi tiba-tiba saja William memeluknya dari belakang dan hal itu membuat Citra sangat kaget dan tubuhnya membeku.
"Apa yang kau lakukan?" tanya William.
"Mem-membuat makan malam," jawab Citra.
Tangannya berusaha menyingkirkan tangan William yang berada di perutnya tapi William tidak mau melepaskannya karena dia ingin menggoda Citra dan melihat reaksinya.
"Kau wangi," ucap William ketika dia mengendus aroma di leher Citra.
Wajah Citra merah padam, ada apa dengan pria ini?
William memutar tubuh Citra hingga mereka berhadapan. Dia tersenyum melihat wajah Citra yang memerah dan dia semakin ingin menggoda istrinya.
Jantung Citra berdebar bahkan berdetak dengan cepat dan hal itu membuatnya gugup dan salah tingkah. William tersenyum dan yang membuat tubuh Citra membeku dengan nafas tertahan ketika jari William sedang mengusap bibirnya.
Dia sangat ingin bersuara dan protes tapi entah kenapa tidak bisa dia lakukan. Wajah Citra semakin panas tak kala William mendekatkan wajah mereka berdua. Citra semakin gugup ketika wajah William semakin dekat, dekat dan dekat.
"Ma-mau apa?" tanya Citra dengan nafas berat.
William tersenyum dan masih mendekatkan bibir mereka tapi sebelum bibir mereka saling bersentuhan, William berkata, "Mengerjaimu," ucapnya.
"Hah?" mulut Citra menganga.
"Hahahahaha!" William tertawa terbahak-bahak dan segera melepaskan istrinya dari pelukannya.
"Memangnya apa yang kau harapkan?" tanya William di sela-sela tawanya.
"Ka-kau sengaja?" tanya Citra tidak percaya.
"Benar," jawab William dan dia kembali tertawa.
__ADS_1
Citra kesal setengah mati. Dia segera melangkah pergi dengan amarah tertahan, sedangkan William masih menertawakan dirinya.