Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship

Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship
Antara cinta dan sahabat part 2


__ADS_3

David mengambil kunci mobilnya karena dia ingin menemui Citra, dia ingin menanyakan hal ini pada Citra dan setelah itu dia akan memutuskan apa yang harus dia lakukan. Dia memang mencintai Citra tapi William adalah sahabat baiknya, dia tidak mau mengambil tindakan yang salah untuk masalah ini.


Dia juga ingin tahu bagaimana perasaan Citra selama ini terhadapnya, apa Citra menyukainya atau tidak? Sungguh dia ingin tahu. Dia segera menuju rumah Citra dan dia harap wanita itu ada di sana.


Langit Surabaya semakin mendung, Citra berada di butik dan berdiri di depan jendela seraya menghela napas. Kepalanya terasa sakit dan pikirannya kacau. Dia tidak konsentrasi bekerja jadi sebaiknya dia pulang saja sebelum hujan turun.


Citra berjalan menuju meja dan merapikan kertas yang ada di atas meja. Setelah selesai dia segera keluar dari ruangan karena dia mau pulang dan dia harap William sudah pergi tapi dia tidak tahu jika David sedang menuju rumahnya saat ini.


David sudah tiba di rumah Citra, dia melihat rumah Citra yang tampak sepi dan tidak mendapati mobil Citra. Apa Citra sudah pergi? Atau William sudah membawa Citra kembali ke Jakarta?


Hujan mulai turun rintik-rintik, David memutuskan untuk turun dan berjalan menghampiri rumah Citra. Pagar tidak terkunci jadi dia masuk saja dan dia berharap Citra ada di dalam rumah. David berdiri di depan pintu dan terlihat sedikit ragu, dia ingin mengetuk tapi tampak dia urungkan.


David menghembuskan napasnya dan mengetuk pintu rumah Citra dengan perlahan, bagaimanapun dia tidak bisa menghindar dan harus menghadapi ini semua. Ketika mendengar suara pintu, William segera berjalan menuju pintu dan dia mengira Citra sudah kembali.


Pintu terbuka dan ketika melihat sahabat baiknya, David tampak terkejut. Mereka diam saja dan entah mengapa mereka jadi canggung. Selama persahabatan yang telah mereka jalin belum pernah mereka merasa seperti itu dan David tidak suka mereka jadi seperti itu.


"Maaf mengganggu," David membuka suara memecah keheningan di antara mereka.


David sangat maklum kenapa saat itu William ada di rumah Citra. Jika dia berada di posisi William dia pasti akan melakukan hal yang sama.


"Tidak apa-apa, masuk saja," ucap William.


"Tidak, aku hanya ingin bertemu dengan Citra."


"Istriku lagi pergi," jawab  William.


David berusaha tersenyum, hatinya sangat sakit mendengar ucapan William tapi dia harus bersikap biasa di depan sahabatnya.


"Jadi Citra istrimu yang kau sangka meninggal?" tanya David memastikan.


"Masuk, kita bicarakan hal ini di dalam," ajak William.


David mengangguk dan mereka segera masuk ke dalam. Mereka berdua duduk si sofa dan diam saja tanpa ada yang memulai pembicaraan terlebih dahulu. Lima menit berlalu dan akhirnya William mulai berbicara.

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak tahu jika dia masih hidup," ucap William.


"Aku tidak menyangka jika Citra adalah istrimu," ucap David juga.


"Aku juga tidak menyangka jika kau mengenalnya. Seandainya tiga tahun yang lalu aku tahu bahwa dia masih hidup maka aku pasti akan mencarinya dan memperbaiki hubungan kami."


David memandangi sahabatnya, dia mengerti karena dia sudah melihat sendiri bagaimana keadaan William saat dia mengira istrinya sudah tiada.


"Mungkin belum terlambat, Sobat," ucap David dengan berat hati.


David dan William bagaikan air dan api. William orang yang menggebu-gebu sedangkan David bagaikan air yang tenang. Itulah sebabnya mereka sudah bersahabat baik begitu lama karena mereka mengerti satu sama lain.


William memandangi wajah sahabatnya yang tampak kusut, sepertinya tebakannya benar jika David jatuh cinta pada Citra.


"Sorry kita harus terjebak dalam situasi seperti ini," ucapnya.


"Ini bukan kesalahanmu, Sobat. Aku juga tidak menyangka. Tapi ...," David menghentikan ucapannya dan menatap William dengan tajam.


"Apa kau yakin mau istrimu kembali? Atau jangan-jangan kau mau mempermainkan Citra lagi?" tanyanya.


"Kau tahu, David. Selama tiga tahun aku menyesal karena telah memperlakukannya dengan kasar. Aku sangat menyesal karena telah membuatnya pergi. Aku selalu berharap aku diberi kesempatan kedua supaya aku bisa memperbaiki semuanya dan bersama dengannya lagi. Jadi bagaimana menurutmu?" tanya William.


"Tapi sekarang aku mencinta Citra. Lalu bagaimana menurutmu? David balik bertanya.


William diam saja dan mereka saling menatap satu sama lain. Di luar hujan turun dengan deras dan petir sedang menyambar-nyambar. Pada saat itu, pintu rumah tiba-tiba terbuka, Citra tiba di rumahnya dengan tubuh basah kuyup karena terkena air hujan saat dia membuka pintu pagar rumahnya. Melihat itu William segera bangkit berdiri dan menghampiri istrinya.


"Kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.


Citra menggeleng dan pada saat itu dia melihat David sedang menatapnya dengan tajam. Citra segera memalingkan pandangannya karena dia benar-benar tidak enak hati dengan David. Sekarang dia semakin tidak tahu apa yang harus dia lakukan apalagi ada William di sana.


"Kamu basah, sana mandi nanti kamu sakit," ucap William sambil mengambil tas yang sedang dibawa Citra.


Citra mengangguk dan segera melangkah menuju kamarnya. Dia melewati David begitu saja dan tidak berani memandanginya lagi. Citra segera membersihkan diri dan selama dia mandi, dia berpikir jika dia harus berbicara dengan David agar permasalahan di antara mereka selesai.

__ADS_1


Dia juga tidak suka mereka seperti itu jadi sebaiknya dia dan David membicarakan hal ini dan semoga mereka mendapat jalan keluarnya. Setelah mengganti pakaiannya, Citra segera keluar dan berjalan mendekati David dan William tanpa ragu.


"William, bisa tinggalkan kami berdua?" pinta Citra.


"Tidak!" tolak William tegas.


"William, please," Citra memohon sambil menatap William.


William menggeleng karena dia tidak mau meninggalkan Citra bersama dengan sahabat baiknya.


"Willy, aku memintamu untuk pergi dari rumahku tapi kenapa kau masih tetap di sini?" Citra mulai kesal.


"Tidak apa-apa, kita bisa bicarakan bertiga," ucap David menenangkan suasana.


Citra tidak percaya mendengar perkataan David. Apa David tidak mau berbicara berdua dengannya?


"Baiklah, aku pergi," ucap William sambil bangkit berdiri. Walau berat tapi dia tidak ingin Citra semakin membencinya


"David, aku minta maaf," ucap Citra setelah William pergi.


"Semua bukan kesalahanmu, Citra," David menatap Citra dengan lembut dan berusaha tersneyum.


"Aku ...," ucapan Citra tertahan.


"Aku mengerti, semoga kamu bisa bahagia bersama William," ucap David dengan berat hati.


Citra tercengang tidak percaya dengan perkataan David. Kenapa David berkata demikian? Mana cinta yang dia ucapkan saat itu?


"Apa maksudmu, David?"


David menghembuskan napasnya dan memandangi Citra dengan lekat. Apa Citra tidak mengerti?


"Jika kau berada di posisi aku, apa yang akan kamu pilih Citra?"

__ADS_1


David mengusap wajahnya dengan kasar, ini benar-benar sulit baginya, sedangkan Citra tidak mengerti dengan maksudnya.


"Katakan padaku, apakah aku harus memilih cintaku atau sahabat baikku dan apakah kau mencintai aku?" tanya David sambil memandangi Citra dengan lekat. Sekarang semuanya tergantung jawaban Citra dan dia sangat ingin tahu, apa Citra mencintainya?


__ADS_2