Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship

Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship
Will you marry me?


__ADS_3

Esok paginya Citra berjalan keluar dari lobi hotel tempat dimana dia menginap dan sudah berdandan dengan cantik. Saat ini dia hendak menghadiri pernikahan David, tidak lupa dia juga membawa hadiah yang telah dia beli kemarin. Pikirannya kacau dan dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


Apakah David dan William akan menikah bersamaan? Dia bertanya demikian karena ini hari pernikahan David dan ini juga hari pernikahan William. Tapi apapun itu dia tidak perduli karena setelah menghadiri acara pernikahan David dia akan pergi menemui William untuk mengakhiri hubungan mereka berdua.


Begitu dia tiba, Citra menenangkan dirinya dan tersenyum. Dia tidak mau terlihat sedih saat di acara pernikahan David. Citra menuju ruangan dengan senyum di wajahnya. Pintu ruangan tertutup dia tampak bingung, apa ini pernikahan private?


Tanpa menaruh curiga sama sekali, Citra membuka pintu ruangan dan pada saat itu, lampu ruangan tiba-tiba gelap karena di matikan. Tentu hal itu membuat Citra terkejut. Sebuah lampu sorot, mengarah ke arah depan menyinari dua pria tampan yang sedang berdiri di depan seorang pendeta dan mereka terlihat gagah dengan tuxedo berwarna putih yang mereka pakai.


"David? William?" Citra tampak heran.


"A-apa perkawinan sejenis sudah diperolehkan?" tanyanya dalam hati. Pasalnya yang terlintas di otaknya hanya itu.


Citra kembali melihat mereka, apa-apaan ini?


Selagi dia tampak kebingungan sebuah lampu sorot mengarah ke arahnya. Hal itu membuat Citra kembali terkejut apalagi semua mata melihat ke arahnya dan dia semakin  terlihat tidak mengert


 


William segera turun dari atas panggung dan melangkah ke arahnya, sedangkan David mengikuti William dari belakang. Melihat William dan David berjalan bersamaan membuat nya berkeringat dan dia berpikir, sepertinya mereka ingin meminta restu darinya.


"Hai, Sayang," sapa William sambil tersenyum.


"Apa kalian mau menikah?" tanya Citra karena cuma itu yang terlintas di benaknya.


William dan David saling pandang dan setelah itu mereka berdua tertawa terbahak-bahak sampai membuat para tamu undangan kebingungan begitu juga dengan Citra. Apa dia sudah salah bicara?


"Hei, apa aku sudah gila mau menikah dengannya?" tanya Dvaid.


"Jadi? Kalian menikah bersamaan?" tanya Citra dengan wajah kebingungan.


"Tidak ... tidak, ini bukan hari pernikahanku," ucap David


"Lalu?" Citra semakin bingung dibuatnya.


William mengambil sebuah kotak dari sakunya dan membuka kotak itu, dari dalam sana tampak sebuah cincin berlian dan pada saat itu, William  berlutut di hadapan Citra dan menyodorkan benda itu di depannya.


"Citra Lestari Admaja, Will you marry me? Again?" tanya William dengan wajah serius.


Citra diam saja dan menatap William dengan tajam. Semua tamu undangan menatap ke arahnya menunggu jawaban darinya begitu juga dengan William.


"Tidak!" tolak Citra.

__ADS_1


"kenapa?" tanya William seraya bangkit berdiri.


"Kau mau menipu aku dan jangan harap kau bisa melakukannya lagi!"


Saat itu lampu ruangan dinyalakan dan semua tamu menyaksikan mereka sambil berbisik-bisik, tampak pula keluarga angkat Citra sedang memandangi mereka dan Caren sedang melihatnya dengan kebencian.


"Aku tidak menipumu, Sayang. Aku bersungguh-sungguh," ucap William.


"Tidak William. Aku tidak mau." tolaknya.


"Kenapa, Sayang? Coba jelaskan padaku?" pinta William.


"Kenapa William? Kenapa kau meninggalkan aku? Apa kau belum puas mempermainkan aku dan sekarang kau ingin mempermalukan aku di depan mereka semua?"


 


"Maaf, aku tidak bermaksud meninggalanmu. Aku ...," ucapan William terhenti karena saat itu kakeknya menyela.


"Aku yang meminta William kembali untuk membawaku ke Amerika, Nak. Karena penyakitku kambuh jadi aku yang memintanya kembali."


Citra memandangi kakek William dengan tatapan sendu, dia juga melihat ibu William dan ayahnya dan berusaha tersenyum.


"Kake," ucap Citra dengan lirih.


 


"Kami rindu denganmu, Sayang," ucap Sisilia.


"Maaf,aku tidak memberi kabar padamu, Ma," ucap Citra seraya membalas pelukan Sisilia.


"Jadi baji*ngan ini mempermainkan kamu?" tanya kakek William.


"Entahlah, Kakek," jawab Citra.


"Kami hanya salah paham, Kakek," ucap William.


"Salah paham seperti apa? Coba jelaskan pada Kakek?"


"Nanti saja!" jawab William dan dia kembali menghampiri Citra.


 

__ADS_1


"Jadi, maukah kau menikah denganku? Menghabiskan hari bersamaku dan menjadi ibu dari anak-anakku?" tanya William.


Citra belum menjawab dan memandangi keluarga William. Sisilia mengangguk sebagai tanda supaya Citra mau menerimanya karena dia ingin Citra kembali. Citra menghembuskan nafasnya dan pada saat itu David menyentuh bahunya dan mengangguk.


"Apa yang kau katakan,, bukankah kita sudah menikah?" ucap Citra.


"Tidak, dulu kita menikah karena terpaksa dan sekarang aku ingin kita menikah karena cinta," ucap William sambil memeluknya.


"Apa kamu mau menjadi istriku untuk yang kedua kalinya?"


 


Citra mengangguk, sedangkan William begitu senang begitu juga dengan keluarganya dan David. Mereka senang Citra mau kembali lagi dengan William. Saat itu para tamu bertepuk tangan kecuali keluarga angkat Citra. Caren mengajak ayah dan ibunya untuk pergi karena dia tidak ingin berlama-lama lagi di acara itu untuk menyaksikan kebahagiaan Citra.


Sebelum pergi tentu saja mereka menemui kakek William untuk berpamitan. Saat mereka berpamitan, Kakek William berkata akan menarik semua saham yang telah dia tanamkan di perusahaan Pratama. Tentu saja mereka menjadi pucat dan memohon kepada tapi kakek William sudah membulatkan tekad dan segera mengusir mereka pergi dari acara itu.


Citra dibawa ke dalam sebuah ruangan oleh Sisilia untuk mengganti pakaiannnya. Itu adalah pernikahan mendadak tapi sebuah gaun indah sudah disiapkan oleh William. Citra menatap kembali dirinya di cermin, kini dia tidak boleh salah melangkah lagi.


Dia sudah siap dan semoga keputusannya untuk kembali dengan William tidak salah. Sisilia memanggilnya dan membawanya keluar karena acara pernikahan sudah mau dimulai. Saat pintu ruangan terbuka, Citra mulai sedikit gugup tapi tiba-tiba tangannya dipegang oleh seseorang.


"Aku akan menjadi walimu," ucap Doni.


"Doni? kenapa kau ada di sini?" tanya Citra dengan pelan.


"Tentu saja Agnes mengajak aku datang," jawab Doni.


Mereka berjalan menuju altar dan diam saja tapi sebelum tiba Doni ingin meyakinkan sahabat baiknya terlebih dahulu.


"Jadi kau memilih kembali dengan William?"


"Apa keputusan aku salah, Don?" tanya Citra pulan.


"Tidak. Dia sudah berubah dan begitu tulus denganmu. Aku hanya senang kau sudah mengambil keputusan untuk dirimu sendiri."


"Terima kasih, Don. Terima kasih untuk nasehatmu."


"Jangan dipikirkan, sekarang pergilah dan semoga kali ini kau bahagia," ucap Doni karena mereka sudah tiba di altar.


 


Citra mengangguk dan tersenyum dan setelah itu dia menyambut uluran tangan William. Mereka berdua mengucap janji suci di depan pendeta, kali ini tidak ada lagi keraguan dan William bersumpah akan selalu mencintai istrinya begitu juga dengan Citra.

__ADS_1


Mereka bersumpah tanpa ada keraguan dan setelah itu William memakaikan cincin di jari manis istrinya dan mencium bibirnya dengan mesra. tepuk tangan untuk mereka terdengar dan para tamu undangan memberi mereka selamat.


David menghampiri mereka dan mengucapkan selamat untuk mereka dan dia juga bahagia menyaksikan kebahagiaan sahabatnya, Itulah kehidupan, tidak ada yang akan tahu apa yang akan terjadi tapi sebaiknya ketika ingin mengambil tindakan sebaiknya dipikirkan dengan baik karena jika kita sampai salah mengambil keputusan maka penyesalan yang akan kita dapatkan.


__ADS_2