
Pagi itu cuaca di Surabaya sedang mendung seperti hati Citra. Setelah William mengantarnya pulang, Citra segera masuk ke dalam rumahnya tanpa mempedulikan William. Dia benar-benar lelah dan tidak mau berdebat dengan William.
Saat ini dia hanya tidur di atas ranjang dengan rasa bersalah kepada David. Citra benar-benar tidak tahu harus bagaimana mengatakan yang sebenarnya kepada David dan dia rasa David sangat kecewa dan membencinya sekarang.
Jika saja dia tahu William dan David saling mengenal maka dia tidak mau berhubungan dengan David karena dia tidak suka situasi seperti itu. Air mata Citra mengalir dan dengan cepat, Citra mengusap air matanya.
"Aku harus bagaimana? Apa David mau mendengarkan aku?" ucapnya pelan.
Dia benar-benar takut untuk bertemu dengan David sekarang dan entah kenapa rasanya dia sudah tidak mampu untuk memperlihatkan wajahnya kepada David lagi. Jika bukan gara-gara William mungkin David tidak akan membencinya sekarang.
Citra masih diam di atas ranjang dengan sejuta pikiran, dia malas melakukan apapun dan enggan beranjak dari tempat tidurnya tapi pada saat itu tiba-tiba pintu kamarnya diketuk seseorang dari luar.
"Siapa?" tanya Citra sambil berteriak tapi tidak ada jawaban.
Suara ketukan kembali terdengar dan Citra terpaksa bangun untuk membuka pintu. Pintu sudah hendak dia buka tapi pada saat itu dia teringat satu hal, bukankah selama ini dia tinggal sendiri? Lalu siapa yang mengetuk pintu kamarnya?
"Siapa di sana?" Citra berteriak dari dalam kamar tapi lagi-lagi hening tidak ada jawaban.
"Hey, jika tidak jawab maka aku akan lapor polisi!" teriaknya lagi dengan lebih kencang.
"Jangan, ini aku," terdengar suara William di luar sana.
Citra terkejut, William? Bagaimana bisa pria itu ada di dalam rumahnya? Tanpa membuang waktu, Citra segera membuka pintu dan menatap William dengan tajam.
"Kenapa kau ada di rumahku?" teriak Citra marah.
__ADS_1
William hanya tersenyum dan memberikan bubur yang dia buat.
"Jangan marah, aku buatkan bubur untukmu jadi makan buburnya selagi hangat," ucapnya dengan lembut.
Citra tampak tercengang karena dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, apa dunia sudah terbalik? Apa matahari sudah terbit dari arah barat? Sejak kapan William bisa memasak?
"Makan sendiri!" ucap Citra dengan sinis dan dia ingin menutup pintu kamarnya kembali tapi William menahan daun pintu itu dengan cepat dan masuk ke dalam.
"Kurang ajar, beraninya kau masuk ke dalam kamarku. Keluar!" bentak Citra marah.
"Aku akan keluar tapi makan dulu buburnya."
"William, kenapa kamu ada di sini? Tolong segera pergi dari rumahku sekarang juga!"
William hanya tersenyum dan berjalan melewati istrinya, dia menghampiri sebuah meja dan meletakkan bubur yang dia bawa ke atas meja itu. Citra memijit pelipisnya, pusing.
"Nanti saja kita bicara, sekarang habiskan dulu buburnya sebelum dingin," ucap William dengan lembuat dan setelah itu dia keluar dari kamar.
Citra enggan memakan bubur yang diberikan William, dia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelah selesai membersihkan diri dia segera keluar dari kamar. Citra kembali terkejut saat mendapati William sedang berada di ruang tamu sambil memainkan ponsel-nya.
"Apa yang kau lakukan di rumahku?"
William menyimpan ponsel nya ke atas meja dan segera bangkit berdiri. Dia menghampiri Citra sambil tersenyum.
"Buburnya sudah habis belum?"
"Aku tanya apa kau jawab apa!!" Citra semakin kesal.
William tersenyum melihat istrinya yang sedang marah, rasanya dia ingin memeluk Citra tapi dia tidak boleh gegabah karena dia takut Citra akan semakin membencinya.
__ADS_1
"Aku dari semalam tidur di sini," jawabnya.
"Apa? Aku tidak salah dengar, bukan?" tanya Citra sambil melotot ke arah William.
"Aku tidak punya rumah, juga tidak ada kenalan di sini. Semalam kau meninggal aku dan tidak berkata apa-apa jadi aku putuskan untuk tidur di sini," jawab William sambil tersenyum.
Citra menggeleng, dia benar-benar pusing menghadapi William. Seandainya dia bisa berkelahi, mungkin sudah dia tendang William keluar dari rumahnya.
"Tuan William, kau ini kaya sedangkan rumahku sempit. Pergi sewa hotel sana." teriak Citra kesal.
"Tidak, aku harus berhemat untuk biaya hidup kita nanti," jawab William beralasan.
"William, rumahku ini bukan tempat penampungan. Bagaimana jika nanti tetangga curiga dan mengira aku membawa laki-laki pulang kerumah?"
"Memangnya kenapa? Aku suamimu, apa salah tinggal bersama suami sendiri?"
"Oh Tuhan, aku bisa gila jika berbicara denganmu terlalu lama!" gerutu Citra kesal.
William tersenyum, sedangkan Citra benar-benar kesal. Dia segera berjalan menuju kunci mobilnya diletakkan karena dia mau pergi.
"Saat aku kembali kau sudah harus pergi!" ucap Citra dengan sinis.
William diam saja, dia tahu Citra masih marah dan ini adalah resiko yang harus dia tanggung. Citra keluar dari rumahnya karena dia ingin pergi ke butik. Dia juga tidak mau berduaan dengan William dan seharusnya semalam dia tidak membiarkan William mengantarnya pulang. Semoga William sudah pergi ketika dia sudah kembali. Dia benar-benar tidak suka ada William di rumahnya.
Sementara itu di tempat lain, David sedang termenung. Semalam dia telah mengetahui semuanya dari mulut Doni. Semula dia begitu kesal saat Doni menceritakan perlakuan William saat di Italia. Ingin rasanya David ada di sana dan memukul William. Seandainya tiga tahun lalu dia ada di sana dan membantu Citra mungkin dia sudah merebut Citra dari tangan William.
Rasanya dia kembali ketiga tahun lalu untuk menolong Citra dan membawanya pergi dari William tapi di sisi lain, dia juga sudah melihat bagaimana William begitu terpuruk dan sedih waktu mengira Citra sudah meninggal. David sangat paham, William dan Citra hanya salah paham. Dia juga sadar William sangat mencintai Citra sekarang.
__ADS_1
Mungkin ini yang mau diceritakan oleh Citra padanya tapi sebelum itu terjadi, William telah muncul dihadapan mereka. Citra pasti tidak pernah menyangka bahwa dia dan William adalah teman baik. Apa sekarang Citra membencinya?
Apa dia harus membantu William untuk mendapatkan istrinya kembali? Lalu bagaimana dengan dirinya? Bagaimana dengan perasaannya? Antara Cinta dan sahabat, yang mana yang harus dia pilih?