Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship

Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship
Sebuah jawaban.


__ADS_3

Citra diam saja belum menjawab David dan pada saat itu, David langsung tahu jika Citra memiliki perasaan spesial untuknya. Mungkin selama ini dia yang terlalu memaksa Citra agar mau berhubungan dengannya. Seharusnya dia sudah tahu tapi rasanya benar-benar sakit, orang yang dia cintai selama tiga tahun tidak pernah mencintainya.


 


"Aku mengerti sekarang, maafkan aku karena aku sudah memaksa kamu untuk bersama denganku," ucap David seraya bangkit berdiri begitu juga dengan Citra.


"David, aku ...."


 


"Semoga kamu benar-benar bahagia dengan William," David menyela ucapan Citra.


Dia tersenyum dan setelah itu dia melangkah menuju pintu, Citra bagai orang linglung. Kenapa lagi-lagi David berkata seperti itu?


"David Tunggu!" Citra mengejar David dan David menghentikan langkahnya sejenak.


"David, aku memang tidak mengerti harus menjawab apa dan aku tidak tahu apa yang kau rasakan sekarang tapi tolong jawab aku dengan jujur sekali ini saja," pinta Citra.


"Apa yang ingin kau tahu? Aku pasti akan menjawabnya dengan jujur," ucap David,


"Terima kasih, David. Sekarang jawab aku, apa yang kau pilih? Aku? Atau sahabat baikmu?" tanya Citra sambil memandangi wajahnya.


David memikirkan pertanyaan Citra baik-baik, dia tahu ini akan sedikit sulit tapi seharusnya Citra tahu jawabannya.


 


"Maaf, aku memang mencintaimu tapi aku juga tidak mau kehilangan sahabat baikku. Aku ...," ucapan David terhenti karena Citra menyela ucapannya.


"Baiklah, David. Tidak perlu kau lanjutkan karena aku sudah tahu jawabannya," Citra berusaha tersenyum.


"Apa yang kau tahu, Citra?"


Wajah Citra terlihat sendu, tapi dia berusaha menahan air matanya. Padahal dia berharap pada David tapi sepertinya tidak mungkin karena David tidak mungkin memilih dirinya.

__ADS_1


"Seandainya William tidak muncul pada malam itu, seandainya saat ini aku menceritakan padamu yang sebenarnya terjadi, apa kau masih mau menerima aku saat kau tahu aku istri sahabat baikmu, David?" Citra menatap David dengan mata berkaca-kaca.


"Aku sudah mengatakan padamu akan mengatakan sesuatu yang penting setelah pernikahan Doni dan inilah yang mau aku katakan padamu, bagaimana? Apa keadaan akan berubah? Apa kamu tidak akan merasa ragu?" tanya Citra lagi sambil menghapus air matanya yang mulai mengalir dari kedua matanya.


"Aku sangat berharap kau mau menerima aku apa adanya dan mau membantu aku agar aku bisa bercerai dengan William dan setelah itu kita menjalin hubungan serius tapi ternyata?" Citra tidak mampu melanjutkan perkataannya dan menghapus air matanya yang masih mengalir.


David hanya diam, memang benar yang dikatakan oleh Citra. Seandainya William tidak muncul dan dia tahu kebenaran dari mulut Citra, lalu apa yang akan dia lakukan? Apa dia mau menerima dan membantu Citra bercerai dengan sahabat baiknya?


David menatap Citra tanpa bisa menjawab pertanyaannya karena dia pasti akan memilih sahabatnya William.


"Terima kasih, David. Kau sudah mau mencintai aku walaupun aku tidak pantas kau cintai. Mau bagaimanapun jawaban darimu hanya satu. Kau memang pria yang baik David tapi aku rasa kebaikanmu bukan untuk aku. Terima kasih sudah banyak membantu aku," ucap Citra dan dia berusaha tersenyum di balik tangisannya.


 


David melangkah mendekati Citra dan berusaha memegang tangannya tapi Citra segera menepis tangan David karena dia tidak mau terlihat begitu menyedihkan lagi.


"Maaf Citra, jika William bukan sahabat baikku tentu aku akan lebih memilih dirimu," ucapnya.


Citra tersenyum dengan getir mendengar perkataan David. Jadi mau William muncul atau tidak pada malam itu,jika David tahu kebenaran nya sudah dipastikan David tidak akan menerimanya dan akan lebih memilih sahabat baiknya.


 


"Tidak, David. Aku yang minta maaf karena tidak mengatakan padamu lebih cepat. Maaf aku tidak bermaksud menghancurkan persahabatan kalian karena aku benar-benar tidak tahu."


David memeluk tubuh Citra, itu adalah pelukan terakhir untuk wanita yang dia cintai.


 


"Terima kasih sudah hadir di hidupku dan memberi aku kebahagiaan," ucap David seraya melepas pelukannya dan setelah itu dia segera pergi dari sana.


Tangisan Citra semakin pecah melihat kepergian David yang menebus derasnya air hujan di luar sana. Sungguh dia tidak ingin mereka seperti ini tapi semuanya di luar keinginan mereka.


 

__ADS_1


"Maafkan aku, David. Maafkan aku," Citra menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.


 


David membawa mobilnya pergi menembus derasnya air hujan dan memukul stir mobilnya berkali-kali. Air mata yang dia tahan sedari tadi mengalir sudah. Kenapa mereka harus seperti ini? Kenapa takdir mempermainkan mereka? Dia bisa memilih Citra tapi dia tidak akan pernah mau menghancurkan persahabatan yang telah terjalin sejak lama dengan William hanya karena mereka mencintai wanita yang sama.


 


David menyalakan mesin mobil nya dan menginjak gas nya dengan kencang.dia meninggal kan rumah Citra dengan penuh penyesalan.kenapa dia tidak memilih wanita yang dicintai nya tadi??jauh didalam lubuk hati nya David sangat ingin memilih Citra tapi dia tidak bisa menghancurkan persahabatan nya dengan William hanya karena seorang wanita.David pun menyetir dengan kencang menebus deras nya air hujan.


David pergi dengan kepedihan karena dia tidak bisa memilih dan bersama dengan orang yang dia cintai tapi dia berharap, William bisa memperbaiki hubungannya dengan Citra dan dia juga berharap, Citra mau memaafkan perbuatan William. Bagaimanapun, setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya bukan?


Citra masih berdiri di depan pintu dengan perasaan kecewa, angin malam yang menerpanya tidak dia hiraukan. Sebenarnya dia sangat berharap David mau menerima dirinya tapi sepertinya David adalah sahabat yang setia, tidak mungkin dia akan menghancurkan persahabatannya dengan William hanya gara-gara dirinya dan dia terlalu berharap.


William berjalan ke arahnya dan mengusap air matanya dengan lembut, dia mendengar pembicaraan David dan Citra tadi dan orang yang seharusnya di salahkan adalah dirinya karena dia yang telah menyia-nyiakan Citra. Jika David ingin merebut Citra darinya, David pasti bisa mendapatkan Citra dengan mudah karena saat ini citra masih membencinya tapi dia tahu, David bukan orang seperti itu.


 


"Maaf ini semua karena aku," ucapnya sambil memeluk tubuh Citra.


 


"Pergi kau!!" teriak Citra marah sambil mendorong William.


"Jangan seperti ini, Sayang," William hendak memeluk Citra kembali karena pelukannya terlepas tapi Citra menghindar dan berjalan menuju pintu.


"Pergi!" teriak Citra penuh emosi.


"Di luar sedang hujan, Sayang. Aku akan pergi tapi besok," ucap William.


"Persetan dengan hujan dan aku tidak perduli! Jika kau tidak mau pergi, maka aku yang akan pergi!" teriak Citra lagi.


"Jangan, nanti kau sakit. Aku yang akan pergi jadi jangan marah lagi," ucap William sambil berjalan ke arah pintu.

__ADS_1


Citra membanting pintu dengan kencang setelah William keluar dan mengunci pintu itu. Dia tidak peduli dengan William dan segera masuk ke dalam kamar. Dia harap William pergi dari sana dan besok dia tidak melihatnya lagi. Dia tidak mau melihat wajah William lagi dan dia juga tidak mau melihat wajah David. Cukup sudah dan mereka akan menjadi kenangan yang tidak mudah untuk dia lupakan. Citra ingin seperti itu tapi sayangnya, William tidak akan menyerah dan dia akan tunjukkan pada David jika dia bersungguh-sungguh dan tidak akan mengecewakan sahabatnya yang rela berkorban.


__ADS_2