Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship

Antara Kau Dan Dia, Love And Friendship
Situasi yang menyebalkan


__ADS_3

Kurang lebih memakan waktu delapan belas jam perjalanan dari Jakarta menuju Italia. Selama di dalam pesawat, Citra berusaha menghindari William. Dia menghabiskan waktunya dengan tidur, walaupun tidak mengantuk dia berpura-pura tidur agar William tidak berbicara dengannya bahkan, Citra pindah tempat duduk agar tidak terlalu dekat dengan suaminya.


William benar-benar kesal karena setiap kali dia memanggil istrinya, Citra tidak mau menjawab. Beruntungnya di dalam ruangan itu hanya mereka berdua karena kakek William sudah memesan ruangan itu. William semakin gusar karena Citra sudah pindah tempat duduk.


Dia segera bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Citra dan begitu menyadarinya, Citra pura-pura tidur. William berdecak kesal melihat Citra, apa dia tidak lelah tidur di sepanjang perjalanan?


"Ck! Wanita ini seperti babi, apa tidak ada yang bisa dia lakukan selain tidur?" ucapnya kesal.


Karena Citra sedang tidur jadi William kembali ke tempat duduknya, dia tampak termenung memikirkan sesuatu. Tentu saja yang dia pikirkan adalah Lena, kenapa dia merasa Lena sangat asing sekarang?


Pada saat itu, seorang pramugari membawakan makanan untuk mereka. William melihat ke arah Citra dan dia tahu Citra belum makan siang. Dia segera membawa makanan yang diberikan oleh pramugari tadi dan menghampiri istrinya. William tampak kesal ketiak melihat tulisan yang tertempel di selimut yang saat itu sedang menutupi seluruh tubuh Citra.


"Tolong jangan ganggu aku, bangunkan saat makan malam," itu yang ditulis oleh Citra.


"Hey, bangun!" William meraih kertas itu dan membuangnya.


"Hm," Citra hanya bergerak dan menarik selimutnya.


"Ayo 'lah, kau belum makan. Jangan sampai lambungmu sakit," ucap William seraya duduk di samping Citra.


"Aku tidak mau makan," jawab Citra.


"Kau makan sendiri atau aku akan menyuapimu dengan mulutku!" ancam William.


"Aku makan!" Citra segera menyibak selimut dan duduk dengan tegak.


William tersenyum dan memberikan makanan yang dia bawa pada Citra. Citra mengambilnya dan tersenyum dengan malas tapi pada saat itu, William merapikan rambut Citra yang berantakan.


"Dari tadi kau hanya tidur, apa kau tidak lelah?"


"Tidak!" jawab Citra sambil memakan makanannya.


"Baiklah, aku tahu kau melakukan hal ini karena membenciku. Aku minta maaf tapi sebaiknya kita nikmati perjalanan kita."


"Hm," jawab Citra singkat.


Setelah selesai makan, mereka duduk bersama. William sangat kesal karena Citra tidak mau berbicara dengannya dan menjawab setiap pertanyaan dengan kata 'Hm' seperti orang sedang sakit gigi.

__ADS_1


Waktu delapan belas jam mereka lalui dan pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat di bandara Da Vinci, Italia. Mata Citra tampak berbinar melihat kota itu dan sebaiknya dia mencari tempat wisata yang bisa dia datangi besok.


William segera menggandeng tangan Citra setelah mereka mendapatkan barang-barang mereka. Dia segera membawa Citra menuju taksi yang terparkir tidak jauh dari mereka.


"Dove vai signore?" tanya supir taksi yang akan mereka tumpangi.


(Mau kemana, Tuan?)


"Rocco forte hotel de la ville," jawab  William sambil menyebutkan nama sebuah hotel di mana mereka akan menginap.


Taksi yang mereka tumpangi membawa mereka ke hotel dan begitu mereka tiba, mereka diantar menuju kamar yang akan mereka tempati selama dua bulan. Semua itu sudah diatur oleh kakek William dan ibunya dan tentunya mereka mendapat kamar terbaik yang ada di hotel itu.


Mereka segera menuju kamar dan ketika sudah tiba dan barang-barang mereka sudah dimasukkan ke dalam oleh pegawai hotel, William menarik tangan Citra yang saat itu sedang berdiri di depan jendela dan sedang melihat pemandangan kota. Citra berteriak kaget tapi William sudah menghimpitnya ke tembok dan membuat Citra tidak bisa bergerak.


"Ada apa sih? Lepaskan!" bentak Citra kesal.


William semakin merapatkan tubuh mereka hingga dada mereka beradu. Citra sangat gugup dan dia tidak bisa bergerak bahkan William sedang memegangi kedua tangannya.


"Kenapa kau cuek padaku?"


"Tidak," sangkal Citra.


Citra ingin tertawa mendengarnya tapi dia berusaha menahannya. Dia memang malas berbicara dengan William tapi sebaiknya William tidak tahu agar dia tidak marah.


"Jangan salah paham, aku sedang malas berbicara. Sudah aku katakan bukan jika ini kali pertama aku naik pesawat? Aku takut jadi aku malas berbicara," jawabnya beralasan.


"Jangan pura-pura! Sejak dari rumah kamu sudah cuek. Tidak mau berbicara denganku dan berbicara seperlunya saja. Apa kau masih marah padaku?" tanya William.


"Tidak, kau terlalu banyak berpikir. Aku hanya sedang malas berbicara saja!"


"Benarkah?" William memandanginya dengan penuh selidik.


"Ya, jika aku marah dan tidak mau berbicara denganmu lalu kenapa sekarang aku berbicara denganmu?"


"Baiklah," ucap William seraya melepaskan Citra.


Citra berlalu pergi dan melihat kamar yang akan mereka tempati dengan teliti. Sebuah ranjang besar berada di dalam kamar dan beberapa kursi. Dia juga berjalan menuju balkon dan melihat keluar, di sana ada sebuah kursi malas tapi yang jadi masalahnya, di mana dia akan tidur? Jujur saja dia tidak mau tidur dengan William selama dua bulan ke depan, ini berbahaya bagi dirinya karena dia takut terjadi sesuatu.

__ADS_1


Setelah melihat balkon, Citra masuk ke dalam kamar dan melihat kamar mandi. Di dalam sana terdapat sebuah bathtub besar yang bisa dia gunakan untuk berendam nanti.


William duduk di sisi ranjang melihat Citra sedang sibuk. Citra sudah seperti ingin membeli rumah dan dia rasa dia tahu apa yang sedang dikhawatirkan oleh Citra.


"Hanya ada satu tempat tidur lalu aku akan tidur di mana?" tanya Citra.


"Ranjang, di mana lagi," jawab William. Sudah dia duga pasti ini yang sedang dikhawatirkan oleh Citra.


"Tidak! Aku tidak mau tidur denganmu!" tolak Citra.


"Ayo sini," William menepuk sisi ranjang.


"Apa ... apa kau tidak bisa memesan kamar lain?" tanya Citra.


"Tidak, hotel-nya penuh!" dusta William.


"Jangan bohong," ucap Citra tidak percaya.


"Ya sudah jika tidak percaya, sana cari kamar sendiri atau ...," William melemparkan selimut ke bawah.


"Kamu bisa tidur di sana," ucap William sambil tersenyum.


Mulut Citra menganga, teganya? Tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia segera memungut selimut yang dilemparkan oleh William dan meletakkannya ke kursi. Lebih baik dia berendam saja karena hari sudah malam. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Citra mengisi air bathtub dan setelah itu dia berendam untuk merenggangkan ototnya.


Aroma terapi yang dia tuang benar-benar membuatnya nyaman sampai dia melupakan waktu dan setengah jam kemudian, terdengar William sedang mengetuk pintu kamar mandi.kamar mandi itu


"Hei, sudah selesai belum?" tanya William sambil berteriak.


"Aku lagi mandi kata Citra," jawab Citra.


Sial! Dia lupa bawa handuk dan dia mulai panik sekarang. Biasanya ada handuk hotel di kamar mandi, tapi mana? Apa handuk ada di dalam lemari? Oh tidak, apa yang harus dia lakukan sekarang?


"Cepat!" pinta William.


"A-aku akan buka tapi kau harus menutup matamu!" pinta Citra.


"Astaga, bisa kau cepat membuka pintu sialan ini?" William sudah kesal karena dia sudah tidak tahan.

__ADS_1


Karena tidak punya pilihan, Citra segera membuka pintu dan dia sangat kaget ketika William mendorong pintu dengan terburu-buru dan masuk ke dalam. Citra berteriak karena tubuhnya terhimpit di belakang pintu. Dia juga meringis dan memegangi lengannya yang terbentur gagang pintu.


William tampak lega karena dia sudah selesai, dia segera memutar langkahnya karena dia mau keluar tapi langkahnya terhenti ketika melihat Citra tanpa sehelai benang pun. Citra berteriak dan sibuk menutupi bagian tubuhnya. Sial! Situasi menyebalkan macam apa ini?


__ADS_2