
Citra masih menangis dan ketakutan. Dia benar-benar tidak menyangka William akan melakukan hal seperti itu. William melepaskan bibir Citra dan menyelusuri leher Citra dengan bibirnya. Citra terus memohon agar William berhenti tapi William tidak perduli.
Akal sehatnya benar-benar sudah hilang apalagi dia melihat tubuh Citra. Ingatan tubuh Citra yang tidak memakai apapun kembali terngiang. William menelan ludahnya dengan kasar, dia benar-benar ingin mencicipi dan ingin memegang kedua dada Citra yang padat berisi.
"Please, Willy. Aku minta maaf," ucap Citra ketakutan.
"Kau menginginkan ini, bukan?" tanya William.
"Tidak! Aku tidak mau!" jawab Citra.
"Oh ya? Ayo kita cari tahu!"
William kembali mencium bibir Citra, sedangkan Citra tidak berdaya. Dia hanya bisa memberontak dan menangis, sedangkan William terus dengan aksinya. Tangan William merayap ke atas dan masuk ke dalam bra yang Citra pakai.
Citra kembali melotot saat tangan William merem*as dada kanannya dan memainkan ujung dadanya. Tanpa dia inginkan, sebuah erangan lolos dari bibirnya. Mendengar itu, api nafsu benar-benar menguasai William.
Dia segera menarik bra yang dipakai oleh Citra ke atas dan setelah itu, William menunduk dan meng*hisap ujung dada Citra, sedangkan satu tangannya masih mere*mas dan memainkan ujung dada Citra. Erangan Citra kembali terdengar, dia sungguh tidak mau diperlakukan seperti itu tapi reaksi tubuhnya menghianatinya.
William terus dengan aksinya, sial! Dia sungguh tidak bisa berhenti lagi apalagi si Anaconda sudah bangkit dari tidurnya.
"A-akh ... Willy," Citra memanggil namanya tanpa sadar.
Nafas Citra memburu, kepalanya terasa berputar dan dia tidak bisa memikirkan apa-apa lagi karena William terus mengulum dadanya dan mengh*sapnya sampai membuatnya menjerit. Itu pertama kalinya dia merasa sensasi nikmat seperti itu dan tubuhnya sudah terasa panas.
Tangan William mulai merayap ke bawah, dia ingin menyentuh sesuatu yang ada di balik celana Citra. Sepertinya malam ini akan mereka lewati dengan menyenangkan tapi sialnya, ponsel-nya berbunyi. William tidak perduli karena dia tidak ingin kesenangannya terganggu tapi suara ponsel membuat mood-nya jadi hilang.
William melepaskan Citra sambil memaki, sedangkan Citra segera merapikan bajunya yang berantakan dengan wajah memerah. Apa yang baru saja mereka lakukan? William mengambil handuknya dan memakai benda itu lagi dan setelah itu dia berjalan ke arah balkon sambil menjawab telepon dari seseorang.
__ADS_1
Citra segera turun dari atas ranjang dan berlari menuju kamar mandi. Dia diam sebentar di dalam sana untuk menenangkan diri dan setelah merasa lebih baik, Citra keluar menuju balkon hendak mencari William.
William terdengar sedang berbicara dengan seseorang, Citra pikir William sedang berbicara dengan kakeknya jadi dia membuka pintu balkon tanpa ragu tapi tangannya terhenti ketika dia bisa mendengar suara William dengan jelas dari balik daun pintu yang sedikit terbuka.
"Tenang saja Honey, aku sedang menjalankan rencanaku. Begitu kembali aku pasti akan menceraikannya jadi kau tidak perlu khawatir," ucap William.
Tubuh Citra membeku, apa maksud ucapan William? Rencana apa maksudnya? Lebih baik dia mendengar lebih jauh percakapan William.
"Bagus 'lah, Sayang. Aku tidak ingin berbagi dirimu dengannya," ucap Lena.
"Aku milikmu, Sayang. Tapi kau baru saja mengganggu rencanaku."
Citra menutup mulutnya dan menangis, jadi kejadian tadi adalah bagian dari rencana William? Betapa bodohnya dirinya karena sudah terjebak dan yang membuatnya kecewa pada diri sendiri adalah, dia menikmati permainan William.
Citra berlari menuju kamar mandi dan masuk ke dalam. Dia segera mengunci pintu dan mengurung diri di sana. Seharusnya dia tahu bahwa dia hanya sebuah penghalang, seandainya ponsel William tidak berbunyi mungkin dia sudah masuk kedalam perangkap pria itu dan kehilangan keperawanannya.
Setelah merasa dirinya sudah baik-baik saja, Citra keluar dari kamar mandi. Dia berjalan menuju ranjang untuk mengambil bantal dan selimut. Lebih baik dia tidur balkon walaupun dingin tapi itu lebih baik dari pada tidur seranjang dengan William.
"Apa tidak mau dilanjutkan?" goda William.
Citra menghentikan langkahnya dan mengcengkram selimut dengan erat, apa pria itu belum puas mempermainkan dirinya?
"Hei, mau di lanjut tidak?" tanya William lagi.
"Dalam mimpimu!" teriak Citra penuh amarah dan dia segera meninggalkan William.
Citra keluar balkon dan membanting pintu dengan kasar, sedangkan William melihatnya dengan heran. Kenapa Citra marah? Apa Citra marah karena dia menyudahi permainan mereka di tengah jalan? Mungkin saja dan lain kali dia tidak akan menghentikan aksinya lagi.
__ADS_1
William menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Dia berusaha memejamkan matanya tapi tubuh Citra terbayang. Sial! Sepertinya dia tidak akan bisa tidur malam ini, sedangkan di luar sana, Citra berjalan ke arah kursi dan menjatuhkan diri di sana.
"Tuhan, berikan 'lah aku sedikit kebahagiaan," pintanya dalam hati dan tanpa dia inginkan air matanya kembali mengalir.
Setelah bulan madu mereka selesai, apakah William akan benar-benar menceraikannya? Dia harap William tidak ingkar janji karena dia sudah tidak sabar untuk lepas dari pria itu. Walau ibu dan kakek William sangat baik tapi dia tidak mau hidup bersama dengan William terlalu lama.
Semoga dia bisa bertahan selama dua bulan dan sebaiknya sekarang dia tidur karena besok dia mau jalan-jalan. Dia mau menikmati kota Roma yang indah untuk melupakan kejadian hari ini. Dia harap William tidak mengganggunya dan dia juga berharap, William mengabaikannya sehingga mereka seperti orang asing.
Di dalam sana, William juga tertidur. Dia pikir Citra akan masuk ke dalam karena udara dingin tapi dia tidak menyangka, Citra tidur di balkon sampai pagi. Ketika sinar matahari menerpa wajahnya, Citra terbangun. Dia tampak enggan bangun tapi matahari sudah tampak tinggi.
Sebaiknya dia segera mandi dan pergi jalan-jalan. Dia tidak boleh melewatkan hari menyenangkan selama di sana dan tentunya, tanpa William. Dia akan pergi ke Venice dan mengunjungi banyak tempat menyenangkan dan sebaiknya dia bergegas.
Citra masuk ke dalam kamar dan tidak melihat William di sana. Ini sangat bagus karena dia tidak perlu melihat wajahnya. Citra segera mandi karena dia mau pergi tanpa bertemu dengan William. Dia tidak mau mengacaukan harinya karena bertengkar dengan pria itu.
Setelah memakai bajunya, Citra melihat beberapa potong roti di atas meja. Ini sangat kebetulan karena dia sedang lapar.
Citra mengambil sepotong roti dan hendak memakannya tapi pada saat itu, William masuk ke dalam dan begitu melihatnya, William segera menghampirinya.
Karena tidak mau berdebat, Citra berjalan pergi tapi William menangkap tangannya dan menariknya dengan kuat sampai membuat rotinya terjatuh.
"Mau apa lagi kau?!" teriak Citra kesal.
"Kita harus bicara!" jawab William.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi!"
"Ada! Ini mengenai kejadian semalam."
__ADS_1
Citra memutar bola matanya dengan malas, apalagi yang mau dibahas? Tidak bisakah pria itu membiarkannya walau hanya sebentar saja?